Yeonsoo menjadi was-was karena tahu ada orang yang mengenal salah satu dari model pasangan gaynya selain dirinya. Minkyu dan Jungmyeong mungkin hanya akan marah-marah sebentar lalu kembali berteman dengannya. Tapi bagaimana kalau yang dikenal 'Giraffe' itu adalah Jaehoon dan Woojin?
Woojin pasti akan langsung menendang Yeonsoo ke jalanan tanpa pikir panjang. Saat ini saja hubungan mereka canggung berkat ciuman Woojin. Mengingat bagaimana panasnya ciuman mereka membuat Yeonsoo kembali merona sendiri.
"Pulang sekolah?" Minkyu terdiam sebentar.
"Eum, antarkan aku ke kafe itu! Kumohon!" pinta Yeonsoo.
"Tapi untuk apa? Kau ingin menambah kerja paruh waktumu lagi?" tanya Minkyu menyelidik.
"Tidak! Aku hanya ingin ... Hanya ingin ...," Yeonsoo memikirkan alasan yang masuk akal, "Berkencan! Aku ada janji kencan buta di kafe itu."
Jungmyeong yang berada di dekat mereka hanya bisa mengernyit ngeri melihat aura yang menguar dari tubuh Minkyu. Seperti ada petir yang menyambar di sana sini di atas kepala Minkyu saat mendengar Yeonsoo ikut kencan buta.
"Berkencan?" Minkyu tertawa, pura-pura mengejek, "Siapa yang cukup gila untuk berkencan denganmu?"
Yeonsoo cukup tersinggung dengan perkataan Minkyu. Begini-begini, Yeonsoo adalah mantan ratu sekolah. Itu berarti ia cukup cantik dan bisa membuat semua pria ingin mengajaknya berkencan.
"Bukankah sudah kukatakan padamu ini kencan buta? Aku mana tahu!" Yeonsoo mendelik.
"Baiklah-baiklah kalau Minkyu tidak mau mengantarmu biarkan aku yang mengantarmu." ucap Jungmyeong berniat menengahi.
"Jangan!" Minkyu mencegah, ia menatap Yeonsoo tajam, "Biar aku yang mengantarnya."
Jungmyeong merinding di tempatnya. Jungmyeong berharap siapapun yang menjadi pasangan Yeonsoo harap berhati-hati. Karena dari bibir Minkyu, terukir senyum licik yang membuat siapapun merinding. Ah, bodoh sekali Yeonsoo yang tak sadar akan senyuman itu. Padahal Minkyu tersenyum seperti itu tepat di depannya.
***
Woojin sadar ia dan Yeonsoo semakin menjauh karena ciuman kemarin. Woojin sebenarnya ingin meminta maaf pada gadis itu. Sayang, egonya melarangnya untuk itu. Lagipula menurutnya Yeonsoo yang salah karena terus saja mengatainya gay.
"Kang Yeonsoo?" Seungwan mengernyit membaca apa yang diketik oleh Woojin di laptopnya.
Woojin tersadar dari lamunannya dan terkejut karena tanpa sadar ia mengetik nama Yeonsoo. Ia segera menghapusnya. Namun karena terlalu kikuk, ia bukan hanya menghapus nama Yeonsoo melainkan menghapus paragraf yang sejak tadi ia tulis untuk bab kesimpulannya.
"Astaga!"
Ia segera mengklik undo dan menyebabkan paragraf dan juga nama Yeonsoo tadi kembali. Seungwan terkekeh melihat wajah Woojin yang memerah.
"Siapa Kang Yeonsoo? Apa Yeonsoo yang kau tulis namanya itu sama dengan Yeonsoo yang kukenal?" tanya Seungwan.
"Ah ini ... bukan seperti itu." ucap Woojin
"Kau menyukai adik Yebin, ya?" Seungwan tersenyum, "Dia memang cantik. Pantas saja kau menyukainya."
Oh baiklah, setelah dituduh gay sekarang ia dituduh menyukai Yeonsoo. Bahkan oleh gadis yang disukainya? Malang sekali nasibnya.
"Ini bukan seperti itu!"
"Sudahlah, tidak perlu malu." Seungwan terkekeh.
"Ah iya, bagian paragraf yang ini salah. Seharusnya—"
Woojin berusaha fokus dengan apa yang Seungwan katakan. Walau dalam hati ia kesal sekali.
Woojin menoleh, berniat memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya. Tanpa sengaja ia melihat Yeonsoo masuk ke kafe dan duduk di kursi yang tak jauh darinya. Untuk apa gadis itu ada di sini? Mengapa Seulgi tidak langsung pulang ke apartemen? Bukankah gadis itu harus segera bersiap-siap untuk bekerja?
Seungwan yang heran dengan ekspresi Woojin pun ikut menoleh.
"Itu Kang Yeonsoo bukan? Mengapa ia ada di sini?" tanya Seungwan.
"Entahlah," mata Woojin tak lepas dari Yeonsoo yang mulai memesan pada pelayan, "Apapun yang ia lakukan tak ada urusannya denganku."
***
Yeonsoo menunggu 'Giraffe' itu di meja yang sudah dipesan oleh orang itu. Astaga Yeonsoo gugup sekali. Minkyu berhasil ia tipu tadi. Ia tak ingin mengambil resiko bila yang dikenali oleh 'Giraffe' itu adalah Minkyu.
Ia tahu tadi Minkyu akan memaksa ikut dengannya menemui sang 'Giraffe'. Tapi Yeonsoo berhasil membohonginya membuat Minkyu mengantarnya ke kafe lain yang tak jauh dari kafe ini sebelum kabur. Sekarang Minkyu pasti sedang menunggunya yang berpura-pura ke toilet di kafe itu.
"Mengenai Minkyu bisa kuurus nanti. Astaga, aku gugup sekali!"
"Kang Yeonsoo?"
Yeonsoo menoleh dan terkejut setengah mati. Ia ketahuan? Identitasnya ketahuan oleh orang ini? Arrgghhh, Yeonsoo ingin mati saja rasanya!
"S-senior?"
"Jadi selama ini kau adalah pemilik akun 'RedVelvet'?" Jongchan terlihat sama terkejutnya.
"Senior juga pemilik akun 'Giraffe'?" Seulgi terdiam sebentar, "Tunggu! Berarti Senior itu fudanshi! Senior juga suka hal-hal berbau gay? Ah tidak, apa Senior juga gay?"
"Ya, aku gay."
Pernyataan itu membuat Yeonsoo terkejut setengah mati. Wajahnya memucat. Keningnya mengernyit kala mendapati Jongchan tertawa terbahak-bahak.
"Mengapa ekspresimu begitu? Aku hanya bercanda? Aku sama denganmu. Aku hanya suka hal-hal yang berbau gay. Tapi aku bukan gay. Aku lebih memilih gadis cantik dibanding pemuda manis." Jongchan masih tertawa.
Yeonsoo memukuli lengan Jongchan. Kesal karena pemuda itu hampir membuat jantungnya copot.
"Leluconmu tidak lucu sama sekali, Senior! Kukira kau benar-benar gay! Kalau kau benar-benar gay para gadis yang menyukaimu akan patah hati." Yeonsoo tertawa garing.
'Termasuk aku.' tambahnya dalam hati.
Sehun duduk di depannya. Mata pria itu berbinar.
"Jadi ... pria yang dulu bersamamu itu gay? Ah tidak, maksudku yang kau gunakan menjadi tokoh dalam fanfictionmu, Park Woojin. Apa ia benar-benar gay?" ia berbisik.
Yeonsoo mencondongkan wajahnya ke arah Jongchan agar mereka tetap bisa saling mendengar walau berbicara sambil berbisik.
"Eum! Aku yakin seratus persen! Mereka bahkan pernah berciuman."
"Astaga! Jadi foto-foto yang kau kirim ke blogmu itu benar?" Jongchan berdecak, "Hebat!"
Yeonsoo tersenyum. Senang karena Jongchan sejenis dengannya. Ah, kalau tahu begini ia takkan menyembunyikan hobinya dulu pada Jongchan. Pasti menyenangkan mencari pasangan gay dan membaca fanfiction bersama Jongchan yang merupakan orang yang ia sukai.
"Kau tahu apa yang lebih hebat lagi?" Yeonsoo terdiam sebentar untuk menambahkan efek dramatis. Ia tahu Jongchan menunggu, "Ukenya agresif, semenya tsundere."
"Ah iya juga! Kau pernah menulis yang duluan mencium Woojin itu Jaehoon bukan?"
Jongchan terlihat sangat tertarik dengan kisah mereka. Yeonsoo tersenyum dan mulai menceritakan mengenai Jaehoon dan Woojin. Sesekali mereka tertawa. Membuat seseorang di meja lain terus saja menahan diri untuk tidak melabrak mereka.
"Senior, aku harus pergi bekerja sekarang." pamit Yeonsoo.
"Ingin kuantar?" tawar Jongchan.
Yeonsoo ingin sekali berteriak dan mengatakan 'Tolong antar aku pangeran! Antar aku dengan kuda putihmu.' Tapi ia harus menjaga image di depan senior yang disukainya itu. Ia menggeleng sambil tersenyum.
"Tempat kerjaku jauh, Senior. Lagipula aku biasa diantar oleh Kak Woojin."
"Beritahu padanya kalau aku yang mengantarmu. Ya? Kumohon! Aku masih ingin bicara padamu."
Yeonsoo berpikir sebentar. Mungkin tidak apa-apa. Lagipula Woojin mungkin malah akan bersorak gembira kalau tahu ia tak perlu repot mengantar Yeonsoo.
Gadis itu mengangguk, "Baiklah."
Ia mengirim pesan pada Woojin sebelum keluar dari kafe. Pesannya langsung dibaca oleh Woojin. Dan jujur saja pesan itu membuat Woojin kesal setengah mati.
"Sialan!"
Kang Yeonsoo
Kak Woojin, hari ini kau tak perlu mengantarku ke tempat kerja. Temanku berbaik hati mengantarku. Nikmati waktumu dengan Kak Jaehoon. Minta maaf padanya karena kau sudah menciumku, mengerti?
***
Jaehoon merasakan aura membunuh Woojin yang sangat pekat. Biasanya sahabatnya ini memang selalu diselubungi dengan aura seperti itu. Tapi tidak sepekat ini.
"Jadi kau cemburu karena Yeonsoo dekat dengan pria lain?" gumam Jaehoon menarik kesimpulan.
"Bukannya begitu!" protes Woojin.
"Lalu bagaimana?" Jaehoon mencibir, "Kau tahu dengan jelas bahwa Yeonsoo menyukai seniornya itu. Kalau kau tidak cemburu, seharusnya biarkan saja mereka!"
Woojin berdecih. Ia menyadari apa yang dikatakan oleh Jaehoon benar. Tapi tetap saja ada rasa tidak rela dalam hatinya.
"Kak Woojin aku pulang!"
Yeonsoo masuk ke apartemen Woojin dengan perasaan bahagia. Jongchan bahkan menjemputnya juga tadi. Kalau begini pendekatannya dengan Jongchan akan berjalan lancar.
"Astaga! Ada Kak Jaehoon juga!" Yeonsoo menyengir.
"Mengapa tiba-tiba kau menyapaku?" tanya Jaehoon heran. Biasanya Yeonsoo selalu bersikap ketus padanya.
"Mulai sekarang aku akan bersikap baik pada Kak Jaehoon. Aku pernah memperkenalkan Kak Woojin dengan pria lain. Tapi Kak Woojin malah marah-marah dan berakhir dengan berbuat sesuatu yang aneh," pipi Yeonsoo memerah, "Karena itu tolong jaga Kak Woojin baik-baik. Aku akan mendukung kalian mulai sekarang."
Tak bisa berkata-kata, untuk pertama kalinya Jaehoon bertemu dengan gadis bebal seperti Yeonsoo.
"Ah Kak Woojin, apa boleh aku mengundang temanku ke sini?" tanya Yeonsoo.
"Terserah." Woojin pura-pura tak peduli.
"Hore! Kalau begitu aku ke kamarku dulu!"
Gadis itu bersorak dan pamit masuk ke kamarnya. Setelah kepergian Yeonsoo, Jaehoon menepuk bahu Woojin.
"Hei, yang dimaksud Yeonsoo tadi sebagai temannya bukan pemuda yang membuatmu cemburu bukan?" tanya Jaehoon.
Sontak mata Woojin melotot. Sial! Ia lupa tentang hal itu.
****
Makassar, 28 Agustus 2016