Suara mesin mobil berhenti di halaman depan. Flora yang sedari tadi menunggu bersama Kaindra di ambang pintu utama refleks melangkah sedikit maju. Pintu putih tinggi dengan ukiran elegan itu terbuka lebar, menampilkan pemandangan foyer rumah yang berkilau—lantai marmer pucat memantulkan cahaya lembut dari lampu-lampu gantung kristal. Kaindra berdiri tegak di sisi Flora, senyumnya hangat namun tetap tenang seperti biasanya. Flora menelan napas kecil, hatinya berdebar bahagia sekaligus gugup. Mobil hitam yang ditumpangi keluarganya berhenti tepat di depan anak-anak tangga marmer. Pintu mobil terbuka, dan ayahnya—Naren, turun lebih dulu. Disusul Maureen, ibunya. Lalu Almer keluar belakangan, terlihat memandang sekeliling dengan mata membesar. Mereka bertiga terdiam selama beberapa detik.

