Flora melangkah setengah maju, cukup dekat hingga Anita bisa merasakan bayangan tubuhnya jatuh di atas wajahnya yang masih tertunduk. Suara sepatu berhak Flora berhenti tepat di depan kaki Anita. Koridor yang penuh pegawai itu tiba-tiba terasa seperti ruang penyiksaan. Sunyi. Tegang. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Bahkan nafas para ART terdengar tertahan. Lalu Suara Flora terdengar. Tenang. Lembut. Tapi menyimpan ketegasan yang membuat tulang punggung siapa pun terasa kaku. “Bu Anita,” panggil Flora pelan namun menusuk. Detak jantung Anita melonjak. Ia mengangkat kepala sedikit, sekadar untuk menunjukkan bahwa ia mendengar. Tetapi ia masih tidak berani menatap langsung. Flora menatapnya lama. Sangat lama. Seolah mengukur. Menilai. Menguliti. “Di rumah ini,” ucap Flor

