Eden menghentikan langkahnya saat melihat sesosok gadis berwajah jelita tertidur di atas sofa kamarnya.
Lelaki itu berbalik, menutup pintu secara perlahan sebelum akhirnya mendekat ke arah gadis itu.
Eden melambaikan tangannya beberapa kali di depan wajah gadis itu untuk memeriksa apakah ia benar-benar tertidur lelap atau tidak. Namun, tak mendapati reaksi darinya, Eden simpulkan jika gadis itu benar-benar sedang tertidur pulas.
Tanpa sadar, Eden tersenyum tipis. Tangannya terangkat begitu saja, menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi sebagian wajah jelita itu. Kemudian, ia menegakkan tubuhnya. Ia merasa ada yang kurang enak dipandang, dan berusaha mengamatinya lebih dalam.
“Memangnya dia bisa nyaman tidur seperti ini? Aku pikir, putri dari kediaman Tuan Cottonbriss terbiasa tidur di kasur yang empuk dan mahal. Siapa sangka, ternyata dia bisa begitu mudah tertidur, bahkan dengan posisi seperti ini?” gumam Eden.
Namun, lama-kelamaan, ia merasa tidak tega melihat posisi tidur Varina yang tampak tidak nyaman. Ia pun kembali membungkuk. Ia mengangkat kaki Varina, meluruskannya di atas sofa, dan membenarkan posisi kepala gadis itu. Ia juga mengganjal kepala Varina dengan bantal sofa agar lebih nyaman.
Gadis itu sedikit menggeliat, membuat pergerakan Eden terhenti seketika. Saat ini, posisi wajah mereka begitu dekat. Bahkan, tangan kiri Eden masih berada di bawah kepala Varina, setelah ia menyisipkan bantal di sana.
Eden sempat menahan napas sebentar, khawatir jika pergerakannya akan mengusik Varina. Namun, ternyata Varina tetap terbangun. Ia menatap wajah Eden dengan mata mengejap lucu, seolah masih belum sadar dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Perlahan, mata itu terbuka semakin lebar. Hingga akhirnya membulat sempurna, diiringi gerakkan tiba-tiba Varina yang membuat kepala mereka berbenturan cukup keras serta dorongan kuat pada tubuh Eden.
“Aw!”
“Arrgh! Sial!”
Keduanya mengaduh kesakitan bersama. Apalagi, Eden yang yang punggungnya sampai terkantuk ujung meja pasca didorong oleh Varina.
“A- apa yang ingin kamu lakukan?” Varina sontak menarik diri menjauh dari Eden. Ia duduk di ujung kursi sambil tangannya waspada di depan d**a.
Eden sibuk memegangi keningnya. Ia heran dengan gadis di hadapannya. Bisa-bisanya Varina tidak mengeluh kesakitan setelah apa yang terjadi, dan malah fokus pada hal lain.
“Kenapa aku bisa berada di sini?” Varina menatap sekeliling, dan menyadari jika ini bukan kamarnya.
“Harusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana bisa kamu tertidur di kamarku?” balas Eden menatap kesal pada istri mungilnya itu.
Varina menatap Eden tidak suka. Namun, setelah mengingat semuanya, ia mendecak kesal dan langsung bangkit berdiri.
Eden melebarkan pupil matanya, semakin tidak menyangka jika Varina sama sekali tidak mengeluh kesakitan karena benturan kepala mereka tadi.
“Ini semua kan gara-gara kamu juga. Kamu memberiku hukuman berat yang bikin aku nggak sanggup lagi buat turun ke kamarku. Lagi pula, siapa suruh kamu harus menempatkanku di kamar yang berbeda lantai darimu?” sinis Varina.
Eden mulai berdiri dengan perlahan. “Apa kepalamu baik-baik saja?”
“Ya?” Varina tampak tidak mengerti dengan apa yang Eden sedang pertanyakan.
“Itu … kepalamu. Tadi kepala kita saling berbenturan,” balas Eden.
Varina tampak terkejut. Lalu, ia menyentuh keningnya dan meringis ngilu. “Pantas saja sejak tadi rasanya agak sakit.”
Eden semakin membeku di tempatnya. Jelas-jelas ia sampai meraung kesakitan seperti tadi. Bagaimana mungkin Varina hanya bereaksi demikian? Eden bukanlah pria lemah. Dia adalah salah satu lulusan terbaik dari sekolah militer khusus kenegaraan. Dia bahkan pernah mengikuti pelatihan pilot dan mendapat sertifikat terbang. Namun, bagaimana mungkin ada seorang gadis yang tampak lemah, ternyata memiliki ketahanan terhadap rasa sakit lebih hebat darinya?
“Ya sudah, lupakan saja,” kata Varina. “Lihat! Aku sudah merapikan dan membersihkan semua, sesuai perintahmu padamu. Jadi, sekarang aku akan kembali ke kamarku untuk lanjut beristirahat.”
Varina segera beranjak ke arah pintu. Namun, ketika tangannya menyentuh ganggang pintu, suara Eden menghentikannya.
“Tunggu dulu!”
Varian diam, tak bereaksi.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” lanjut Eden.
Varina menolehkan kepalanya, sementara tubuhnya masih menghadap ke arah pintu. “Sekarang? Di sini?”
Eden memutar tubuhnya menghadap ke arah Varina. “Ya. Kita bicara di ruang pribadiku.”
“Tapi-” Belum sempat Varina melontarkan penolakan, Eden sudah lebih dulu menjauh. Lelaki itu memasuki sebuah ruangan yang terhubung dengan kamar itu.
“Kemari dan tutup pintunya!” titahnya mutlak.
Varina menghela napas panjang. Ia tidak memiliki cukup keberanian untuk menentang pria itu. Ayolah … ia baru saja menyelesaikan satu hukuman dari pria itu. Dan ia tidak ingin menyambungnya dengan hukuman yang baru.
“Ada apa? Wajahmu tampak serius seolah apa yang akan kamu bicarakan kali ini adalah sesuatu yang penting,” tanya Varina.
Eden mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya. Sebuah map berwarna hitam, yang kemudian ia sodorkan pada Varina.
Ragu, Varina pun membuka isi map itu. Alisnya mengernyit saat ia membaca isi surat itu. Isinya adalah beberapa dokumen kepemilikan tanah yang tersebar di beberapa wilayah yang terdengar asing bagi Varina.
“Apa ini? Kamu mau menghadiahkan aku tanah sebanyak ini?”
Alis Eden menukik tajam. “Kamu benar-benar tidak mengenali semua itu?”
“Maksudmu?” bingung Varina.
Eden mendengus. Perlahan, kerutan di wajahnya mengendur. “Itu semua milik mendiang ayahmu, kan?”
“Hah? Apa?!” Varina tentu tidak tahu. Ia bahkan baru beberapa hari terlempar ke dimensi ini. Ia bukan Varina yang asli, yang akan mengetahui aset-aset keluarganya. Apalagi, begitu ia tersadar, ia langsung disuguhkan dengan kenyataan bahwa dia akan menikah. Varina tidak punya kesempatan untuk mencari tahu hal-hal detail tentang pemilik raga ini sebelumnya.
“A- aku tidak tahu. Aku tidak terlalu paham dengan masalah harta ayahku. Tapi kalau memang benar, bagaimana semua ini bisa ada pada dirimu?” selidik Varina. Hingga saat ini, ia masih belum tahu seperti apa karakter Eden sebenarnya. Varina tetap harus waspada, karena tidak ada jaminan jika pria itu akan berada di pihaknya.
“Untuk sekarang, aku harus mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya,” jawab Eden.
“Maksudmu?”
“Tentu aku membelinya. Aku bisa mengurus alih kepemilikan tanah-tanah itu secepatnya menjadi milikmu,” ucap Eden. “Tapi, ada syaratnya.”
Perasaan Varina semakin tidak enak. Melihat bagaimana sikap Eden hari ini, ia ragu jika pria itu adalah orang yang baik dan bisa ia andalkan.
“Apa? Kalau itu sulit, aku tidak akan melakukannya. Aku bukan manusia mata duitan, Tuan Eden. Jadi-”
“Aku pastikan kamu tidak akan bisa menolaknya. Karena empat lembar sertifikat itu barulah uang mukanya saja. Dan untuk yang lainnya, aku bisa memberikan hal-hal yang lebih menarik untukmu.”
Varina terdiam sejenak. Mendadak, ia merasa penawaran dengan penawaran seperti apa yang akan Eden berikan untuknya. “Katakan!”
“Jadilah istri yang patuh, dan selalu ada di pihakku! Maka, aku akan menjamin keamananmu dari para penjahat itu. Aku juga berjanji, akan mengembalikan semua harta milik Keluarga Cottonbriss yang telah mereka rampas darimu.”
Varian menahan napasnya. Sungguh, ia tidak tahu sejauh mana kejahatan yang telah dilakukan oleh orang-orang itu - Jocelyn, ibu serta saudarinya, dan juga Kevin. Namun, apapun itu, Varina yakin, mereka memang orang jahat dan memiliki niat buruk pada Varina.
“Aku ingin kamu bekerja sama denganku untuk mengungkap kebenaran tentang kematian orang tua kita. Bagaimana?” tawar Eden kemudian.
Varina masih tidak tahu harus membuat keputusan seperti apa. Namun, mengingat ini berkaitan dengan pengungkapan kejahatan, dan menuntut keadilan untuk pemilik asli raga ini, Varina merasa jika ia harus terlibat juga.
“Kamu berjanji?”
Eden mengulurkan tangannya. “Aku adalah seorang pria sejati yang tidak akan mengingkari ucapannya sendiri.”
“T- tapi … kenapa kamu ingin melakukan ini? Apa sebelumnya kita pernah saling mengenal? Maaf kalau ini terdengar konyol, tapi aku benar-benar tidak ingat apapun tentangmu,” kata Varina.
Eden tersenyum miring. “Untuk saat ini, semakin sedikit yang kamu ketahui tentangku, itu semakin bagus.”
“Kalau begitu, bagaimana cara aku bisa percaya padamu, kalau aku saja tidak tahu apa-apa tentangmu?” sentak Varina tidak terima. Ia tidak mau menanggung risiko jika suatu hari Eden menghianatinya.
“Seperti yang aku katakan, aku adalah seorang pria sejati yang tidak akan mengingkari ucapannya sendiri. Dan aku sudah berjanji akan melindungimu, jadi, aku pasti akan lakukan apapun untuk menepatinya. Bagaimana? Bukankah tawaranku ini seharusnya menjadi angin segar bagimu yang nyawanya selalu terancam oleh orang-orang itu?”
Varina menggigit bibirnya. Jantungnya berdebar kencang seolah dia berada di antara dua pilihan - hidup atau mati. Namun, melihat kesungguhan di sorot mata Eden, akhirnya, ia meraih uluran tangan Eden yang nyaris turun itu. Ia menjabat tangan Eden dengan kuat. “A- aku setuju. Selagi kamu bisa menjamin keselamatanku, maka aku akan ikuti apapun ucapanmu,” putusnya.