Noah mulai mempertanyakan dirinya sendiri, apa mungkin selama ini ia memang kurang peka terhadap sekitarnya?
Bagaimana rasanya membentur tembok? Atau melihat orang lain satu per satu berlari mendahuluinya? Atau berlari di lapangan tanpa ada seorang pun yang mengoper padanya? Apakah Noah pernah mengalami semua itu?
Apa benar di dunia ini ada yang memang sudah ditakdirkan untuk kalah? Tak peduli sekeras apa seseorang berusaha, jika ia sudah ditakdirkan untuk menjadi biasa, maka selamanya bakatnya tak akan pernah berkembang dan dia tak akan pernah menjadi luar biasa.
Apa memang begitu peraturannya?
“Kupikir selama ini aku yang sudah berbuat salah sama kamu, sampai kamu mundur dari basket,” ujar Noah memecah keheningan sesaat tadi. “Tapi ternyata ini cuma masalah kamu yang insecure. Kamu sebenarnya masih suka basket, tapi karena nggak pede, kamu milih jadi manager. Lucu sekali, padahal cedera aja nggak.”
Ini gawat, Noah jadi ingin sekali mengata-ngatai Abi, saking kesal dan kecewanya dia kepada teman lamanya itu.
“Semuanya balik ke dirimu sendiri. Ditakdirkan kalah apanya? Kamu ini sebenarnya baik-baik aja, yang bermasalah itu mentalmu.” Suara Noah mulai kembali meninggi, ia tak ingin Abi melewatkan satu katapun yang akan ia ucapkan.
“Aku benar-benar kecewa sama kamu,” lanjut Noah lagi. “Ok, anggap aja aku nggak pantas ngomong macam-macam karena aku nggak tahu gimana rasanya berdiri di posisimu. Anggap aja aku sok tahu. Tapi harusnya kalau membentur tembok, ya kamu lompat lah, atau ambil jalan memutar kek, atau coba hancurin aja temboknya. Iya, kan?”
Noah mengharapkan respon dari Abi, tapi ia tak mengambil jeda untuk menunggu dan malah langsung melanjutkan omelannya. “Kamu ingat kan apa kata Pak Teguh dulu? Jangan takut bergerak lambat, yang harus ditakutkan itu kalau kamu nggak bergerak.”
Noah mengulangi sebaris kalimat yang selalu dikatakan oleh penjaga kantin di SMP mereka dulu, Pak Teguh. Dulu, kantin adalah tempat yang paling sering digunakan Abi untuk mengeluhkan berbagai macam hal, mulai dari sulitnya ujian sekolah hingga tentang sulitnya latihan basket yang harus ia lalui. Menurut Abi, ia sudah mematuhi semua program latihan yang diberikan pelatih, tapi Abi merasa ia tetap tak bertambah jago.
Itu adalah masa-masa di mana Abi mulai merasa cemas dan ragu. Rasa percaya dirinya menurun drastis sehingga ia selalu menanyakan pendapat orang lain tentang dirinya, atau bahkan membandingkan dirinya dengan orang lain. Di masa itu juga rasa cemburu terhadap Noah mulai tumbuh di dalam diri Abi.
“Ingat?” Noah kembali mendesak Abi. “Jadi ya nggak apa-apa kan kalau kamu makan waktu lebih lama dibandingkan orang lain, yang penting kamu nggak diam. Lagian, memangnya kenapa kalau melihat punggung orang di depan? Semuanya juga begitu. Makanya jangan cuma fokus ke depan, sesekali lihat ke belakang, bisa jadi kan selama ini kamu nggak sadar ada banyak orang yang juga sedang berlari sambil melihat punggungmu,” tambah Noah lagi.
“Kalau nggak ada pass yang datang, ambil sendiri bolamu. Rebut, potong passing-nya, ambil rebound-nya, defense yang ngotot, desak sampai ke ujung, sampai bolanya lepas dari tangan lawan. Bikin kesempatanmu sendiri. Jangan bilang kamu udah kalah cuma karena melihat orang lain lebih jago. Memangnya kamu mau tunggu sampai semua orang di dunia ini nggak bisa main basket lagi, baru kamu berani main? Supaya kamu nggak pernah kalah dari siapapun, gitu? Konyol, kan?”
Noah tiba di ujung kalimatnya, dan napasnya agak terengah seolah ia baru saja menjalani satu kuarter pertandingan basket.
Selama beberapa saat Abi masih tak merespon apa-apa, wajahnya tampak bingung menghadapi Noah dengan rentetan ocehannya. Setahu Abi, Noah bukan tipe orang yang banyak bicara. Tapi barusan tadi, ia mengeluarkan beberapa baris kalimat dengan sangat menggebu-gebu. Bahkan orang yang mendengarnya mungkin bisa curiga, jangan-jangan Noah mengucapkan itu semua dalam satu napas.
Walau bagaimana pun, ini bukanlah Noah yang ia kenal. Noah yang Abi kenal adalah Noah yang selalu datar, miskin ekspresi, hemat kosakata, dan tak akan mau bersusah payah ngomong panjang lebar. Dia bahkan malas meluruskan pendapat orang tentangnya dan malah cenderung membiarkan. Karena bagi Noah, menerangkan dirinya kepada orang yang tidak ia kenal itu sama sekali nggak penting, cuma buang-buang waktu dan tenaga.
Tapi kali ini, Noah mau repot-repot bicara panjang lebar demi memotivasi Abi. Mau tak mau, Abi jadi merasa sedikit tersanjung. Mungkin bagi Noah Abi adalah orang yang cukup penting, sehingga ia rela keluar dari karakternya demi menyampaikan semua ini.
“Pfft …” Tanpa sadar, Abi bersuara saat ia ingin menahan tawa.
“Kenapa? Kenapa ketawa?” Noah setengah panik bercampur malu. “Apa ada yang salah dengan yang aku bilang?”
“Nggak, nggak …,” timpal Abi buru-buru. “Nggak ada yang salah, semuanya benar.”
Noah pun menegakkan punggungnya dan mulai menguasai diri kembali. “Kalau nggak ada yang salah, kenapa ketawa?”
Pundak Abi tampak bergerak naik saat ia mengisi penuh udara dalam paru-parunya, sebelum kemudian menghempas napas sambil tersenyum tipis. “Padahal dulu waktu awal-awal main basket, aku yang suka omong besar, ya.”
Noah baru saja membuka mulut untuk mengatakan sesuatu tapi Abi menghentikannya dengan sebaris kalimat. “Kita hanya akan disebut kalah, kalau kita sudah menyerah.”
Itu adalah quote favorit Abi. Dulu, saat ia merasa lebih superior dari Noah, ia suka berlagak menasehati Noah tentang semangat olahragawan. Abi yang dulu memang Abi yang suka halu, mengira dirinya adalah tokoh utama dalam komik-komik Jepang bergenre olahraga yang ia baca. Ia terlalu terpengaruh dengan tokoh-tokoh from zero to hero seperti di cerita Eyeshield 21, Slam Dunk, ataupun cerita-cerita sejenis lainnya.
Lagi-lagi Abi menghela napas dalam, seolah ia baru saja diingatkan kembali kepada kebodohannya dulu. Padahal Noah selalu menganggapnya teman dan tak pernah menuntut apapun. Tapi, hanya karena Noah berhasil mengungguli Abi … hanya karena Abi merasa telah dikalahkan, persahabatan mereka jadi tersia-siakan seperti ini.
Abi pun akhirnya menoleh dan membalas tatapan Noah dengan senyum lega. “Terima kasih sudah mengingatkan aku lagi,” tuturnya.
Noah masih bengong sesaat sebelum kemudian ia agak tergagap membalas Abi. “Sa-sama-sama,” katanya masih dengan tampang bingung.
Abi mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Noah, tapi karena respon Noah yang agak lambat, Abi langsung mengambil tangannya dan menjabatnya erat.
“Mulai sekarang kamu nggak perlu pusing mikirin hal yang nggak perlu,” Abi memberi tepukan pelan pada punggung tangan Noah, “aku senang bertemu lagi denganmu.”
Itu bukan kalimat basa-basi, Abi memang merasa sangat beruntung bisa bertemu lagi dengan Noah. Ditambah lagi, sahabat lamanya itu ternyata masih sangat peduli padanya.
“Di pertemuan selanjutnya antara Soetomo dan Cendana, kita akan bertemu di lapangan,” tambah Abi tanpa ada keraguan di dalamya. Suaranya terdengar tegas, penuh tekad dan rasa percaya diri.
Sebelum Noah sempat membalas ucapannya, Abi sudah berbalik dan melangkah menuju ke meja-meja lesehan yang sudah mulai ditinggalkan oleh para anggota tim basket kedua SMA itu. Sepertinya mereka memutuskan untuk menyudahi acara makan-makannya, agar tim Soetomo tidak kemalaman tiba di pusat kota.
“Abi …” Noah masih belum mendapat kejelasan tentang hasil akhir pembicaraan mereka tadi. Ia hanya ingin memastikan, apakah Abi masih ingin main basket sekaligus kembali menjadi temannya.
Abi menghentikan langkahnya sesaat untuk menoleh menanggapi panggilan Noah.
“Kalau butuh sesuatu, hubungi aku,” kata Noah akhirnya.
Kalimat itu adalah kalimat yang tak pernah sempat ia katakan dulu, pada masa-masa sulit yang harus dilalui Abi waktu di SMP Pelita. Noah cukup merasa bersalah karena ia tak pernah menawarkan bantuan kepada Abi waktu itu, akibat egonya yang terlalu tinggi.
Abi tersenyum sambil lalu mengacungkan jempolnya, sebelum agak tergesa-gesa menyambung langkah karena ia ingin menyusul pelatih Soetomo yang sedang mengobrol dengan Coach Adam di depan sana.
“Coach …”
Panggilan Abi masih terdengar oleh Noah, dan di saat yang bersamaan, dua orang pelatih tim basket SMA yang berada di bagian paling belakang rombongan itu menoleh berbarengan.
“Coach Bobby, bisa bicara sebentar?” sambung Abi lagi. Lanjutan kalimat Abi menyadarkan Coach Adam bahwa pelatih yang dipanggil barusan adalah pelatih Soetomo, tentu saja bukan dirinya.
“Ok, sampai bertemu lagi di Liga Rookie. Hati-hati di jalan.” Coach Adam memberi tepukan pelan di punggung Coach Bobby sambil berjalan mendahuluinya, untuk memberi ruang kepada Abi yang katanya ingin membicarakan sesuatu kepada sang pelatih.
“Thanks. Sampai ketemu lagi,” balas Coach Bobby kemudian.
Noah yang berjalan di belakang mereka, samar-samar mendengar isi pembicaraan antara pelatih dan manager tim Soetomo itu. Abi mengutarakan keinginannya untuk masuk ke dalam barisan pemain Soetomo, dan ia meminta Coach Bobby untuk menguji kepantasannya menjadi salah satu pemain reguler.
Selain itu, Abi juga menawarkan untuk mencari manager baru yang akan menggantikan tugasnya jika ia berhasil masuk ke dalam skuat pemain tetap di tim Soetomo.
Noah tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Hari ini ia merasa satu beban telah terangkat dari pundaknya.
Komunikasi. Ya, seandainya orang-orang bisa berkomunikasi dengan baik antara satu sama lain, ada banyak permasalahan yang bisa terselesaikan tanpa perlu berlarut-larut.
Tak mungkin ada benang kusut yang tak bisa diurai. Karena sesungguhnya sebagian besar permasalahan yang terjadi dalam hubungan manusia disebabkan oleh absennya komunikasi yang baik di antara mereka.
* * *
“Noah.”
Suara yang tidak asing memanggil Noah dari belakang, saat ia sedang dalam perjalanan menuju ke aula basket sore ini.
Noah berbalik dan menemukan Luna sedang berlari kecil menghampirinya.
“Sore, Kak,” sapa Noah sambil mengamati Luna yang tampak sibuk merogoh tasnya ketika ia sudah berada tepat di sebelah Noah.
Cewek yang lebih tua satu tahun dari Noah itu kemudian mengeluarkan sebuah kepingan CD di dalam kotak persegi bening.
“Nih, aku nggak bawa jaket albumnya, soalnya agak gede dan aku takut rusak. Jadi aku bawa CD-nya aja,” ujar Luna sambil menyerahkan kotak CD itu kepada Noah.
“Oh … yang lagu K-Pop kemarin itu?” tanya Noah memastikan sembari mengambil kotak bening dan pipih itu dari tangan Luna.
Luna membalas pertanyaan Noah dengan anggukan kecil bersemangat, dibarengi dengan senyum antusias.
“Nanti aku dengarkan, kalau udah di asrama,” kata Noah lagi. Ia lalu memasukkan benda itu ke dalam tasnya dan kembali melanjutkan langkah menyusuri jalan setapak menuju ke aula basket, kali ini ditemani dengan Luna yang melangkah di sampingnya.
“Nanti kasih tahu aku, lagu mana yang paling kamu suka, ya,” pinta Luna lagi.
Kurang lebih, Noah paham perasaan Luna saat ini.
Manusia cenderung butuh teman untuk bicara tentang sesuatu yang ia sukai, baik itu musik, film, hobi atau apapun. Mereka akan sangat senang jika apa yang mereka sukai itu juga dipahami oleh orang lain, walaupun hanya satu atau segelintir orang saja. Itulah sebabnya orang suka membentuk sebuah grup atau fandom sebagai wadah berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama.
Luna dan Noah harus melintasi bagian belakang aula serbaguna jika ingin mengambil jalan pintas menuju ke aula basket yang memang letaknya agak di ujung. Kebetulan, di bagian belakang aula serbaguna itu ada sebuah ruangan yang dijadikan sebagai ruangan klub bulu tangkis. Noah sempat berharap agar ia tak bertemu siapa pun dari klub itu.
Namun, sayangnya, orang yang paling tidak ingin ia temui malah muncul di hadapannya.
Andi, sang Kapten klub bulu tangkis.