Kebetulan warung makan yang mereka tuju menyediakan berbagai jenis makanan, mulai dari bakso, mie ayam, sate dan sebagainya. Jadi, tak ada yang akan dikecewakan hanya karena masalah menu makanan. Harganya juga sangat terjangkau karena warung itu bukan type warung elit.
Tempat makan itu juga menyediakan lantai dua yang merupakan sebuah teras terbuka dan mejanya pun berupa meja lesehan, jadi tidak mungkin mereka akan kekurangan kursi. Jarang ada pengunjung yang menggunakan lantai dua itu, makanya ketika ada dua bus kecil berisikan tim basket anak SMA yang muncul bersamaan, otomatis lantai dua warung itu menjadi tempat yang ideal untuk mereka.
Semua orang makan dan minum dengan suasana yang ceria. Coach Adam juga terlihat mengobrol santai dengan pelatih tim Soetomo. Tidak ada penyekatan, pemain Soetomo dan Cendana duduk bersama-sama tanpa membedakan asal sekolah mereka.
Ahsan duduk di antara Ilyas dan Juan, satu meja dengan Dewa yang duduk bersebelahan dengan Point Guard dan Center tim Soetomo. Di meja lain, Yuda dan Wahyu juga duduk bersama para pemain Soetomo dan bicara banyak tentang basket, sesekali mereka juga membahas tentang pertandingan barusan.
Noah mendapati dirinya tidak bisa masuk dalam obrolan mana pun. Ia duduk di antara para pemain kelas 10 tim Cendana, di hadapannya juga ada para pemain muda SMA Soetomo. Tapi, obrolan mereka hanya sekadar melintas saja di telinga Noah, ia bahkan berharap mereka tak mengajaknya bicara karena ia akan bingung memikirkan jawaban yang menarik dan tak me-rusak suasana.
Di sisi lain, Igris membaur dengan sempurna. Nyaris semua kalimat yang ditujukan padanya adalah kalimat pujian. Tentu saja, bukan hal yang mengherankan jika semua orang menyukainya. Tapi Noah tidak merasa iri perkara itu, kelebihan Igris yang mampu menarik perhatian orang adalah kelebihan yang tak akan pernah membuatnya iri.
Noah tidak keberatan jika ia tidak disukai oleh orang yang tidak ia kenal. Ia merasa tak bertanggung jawab untuk meluruskan pandangan orang terhadapnya. Noah tidak peduli. Toh, mereka tidak saling kenal.
Lain cerita jika Noah mengenal mereka, seperti Abi, yang saat ini sedang duduk di pojokan sambil terlihat sesekali menanggapi obrolan di sekitarnya dengan senyum tipis.
Noah beranjak tiba-tiba, membuat beberapa pasang mata yang ada di sekitarnya menatapnya bingung. Mengira-ngira apakah mereka sudah mengatakan sesuatu yang menyinggung si prodigy yang pelit senyum itu.
“Ah … kalian lanjut saja, aku mau ngobrol sebentar dengan teman lama,” ujar Noah pada mereka yang sejak tadi duduk satu meja dengannya.
Sekilas, sudut mata Noah menangkap Steven sedang berbisik kepada Igris. Dia mungkin tahu soal hubungan pertemanan Noah dan Abi waktu di SMP dulu. Tapi Noah tak peduli, terserah mereka mau bergosip apa.
Noah melangkah menghampiri meja Abi di paling ujung. Saat ia sudah berada di hadapan orang-orang yang duduk di meja itu, mereka refleks menghentikan obrolan dan mendongak menatap Noah.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Noah sambil menatap lurus ke arah Abi yang tampak mulai gelisah, berusaha menghindari tatapan Noah.
Meski begitu, Abi tetap beranjak sambil meminta izin untuk meninggalkan meja. Noah mengajaknya ke sisi depan rooftop lantai dua itu, di pinggir pagar yang letaknya agak berjarak dari lokasi lesehan.
“Apa kabar?” tanya Noah tanpa ekspresi yang eksplisit di wajahnya.
“Baik. Kamu?” Abi menjawab dan bertanya balik, tapi ia tak menatap Noah sama sekali. Cowok seumuran Noah itu masih saja menundukkan pandangannya, dan kedua tangannya tampak saling meremas satu sama lain, seperti orang yang sedang meriang.
“Baik,” jawab Noah lagi.
Berbanding terbalik dengan Abi, sejak tadi Noah tak melepaskan pandangan dari sosok teman lamanya itu. Dalam hati, ia tak habis pikir, apa yang membuat Abi bersikap seperti itu di hadapannya.
“Tadi, kenapa kamu nggak main?” Noah memutuskan untuk menanyakan itu sebelum bertanya mengenai hal lainnya yang mungkin akan lebih sulit untuk dijawab oleh Abi.
“Aku memang bukan bagian dari pemain,” balas Abi pelan.
“Ha?”
“Aku bukan pemain. Aku cuma manager.”
“Apa?!” Noah bahkan tak menyadari bahwa intonasi suaranya cukup tinggi hingga terdengar sampai ke barisan meja lesehan yang paling dekat dengan posisi mereka.
Noah sampai harus memberi anggukan sekilas sambil menunjukkan telapak tangannya sebagai isyarat bahwa tak terjadi apa-apa di situ; jadi sebaiknya mereka mengabaikan Noah dan Abi.
“Kamu cedera atau gimana?” tanya Noah lagi, dengan suara yang lebih terkendali kali ini.
“Nggak sih, aku cuma ngerasa nggak bakal bisa bersaing aja kalau ikut main basket. Aku suka basket, tapi karena nggak berbakat, ya minimal aku bisa tetap terlibat dengan basket walaupun cuma jadi manager.”
“Ini konyol. Kenapa kamu berubah jadi seperti ini?”
Abi tertawa getir. “Berubah gimana? Dari dulu kan aku memang begini.”
Noah tak langsung menbalasnya kali ini. Ia sebenarnya sangat kesal, rasanya ingin sekali ia meninju wajah pecundang yang ada di hadapannya itu.
Kenapa Abi selalu terlihat seperti orang yang kalah? Apa yang harus dilakukannya untuk membuat Abi kembali menjadi Abi yang percaya diri? Abi yang dengan mantap mengatakan kepada orang lain bahwa ia sangat menyukai basket dan bercita-cita menjadi pemain basket profesional.
Tapi lihat dia sekarang. Kemana Abi yang dulu ia kenal? Sekarang Abi bahkan tidak sekali pun menatapnya, ia terus mengalihkan pandangan ke berbagai sudut untuk menghindari mata Noah.
“Mau sampai kapan kamu seperti ini?” tanya Noah akhirnya.
“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa.”
“Waktu SMP dulu, bahkan sampai SMA pun, kamu memutuskan untuk lari, bersembunyi dan menyerah tanpa perlawanan.”
Abi hanya membalas ucapan Noah dengan membisu, mungkin ia juga merasa kalau perkataan Noah ada benarnya. Tapi Noah tidak puas dengan respon hening yang diberikan Abi.
“Aku nggak ngerti, apa yang kamu takutkan? Apa semua ini salahku?”
“Bukan,” potong Abi cepat.
“Kalau gitu kenapa kamu berhenti main basket? Padahal aku sempat senang ngelihat kamu ada di antara pemain Soetomo. Kupikir kamu bakal main basket lagi …”
“Noah …,” Abi menyela berat, “aku memang nggak berbakat. Dan melihat kamu yang sekarang membuatku semakin sadar kalau sebenarnya selama ini memang aku cuma halu sendiri.” Ia lalu kembali menertawakan dirinya.
Noah sangat kecewa.
Abi yang ada di hadapannya saat ini, bagaikan benang basah yang tak akan pernah bisa ia tegakkan. Apa pun yang Noah katakan tak akan ada gunanya kalau orangnya sendiri sudah memutuskan untuk menghindar dari lampu sorot dan diam di pojok panggung. Merasa dirinya tak berharga, seolah ia bahkan tak pantas memperjuangkan apa yang ia sukai.
Noah mendengus sinis. “Loser,” ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya, karena kesal, ia sudah tak peduli jika kalimatnya akan menyakiti perasaan Abi.
“Nggak punya tekad, nggak punya pendirian,” gerutu Noah lagi, “kalau kamu memang udah milih jadi orang yang kalah, ok. Tetap diam aja di situ sementara aku akan berlari semakin jauh dan kamu nggak akan pernah bisa lagi menyusulku.”
Abi memaksakan senyum di wajahnya. “Ya … pada akhirnya memang bakal jadi seperti itu,” lirihnya dengan mata yang menatap ke arah titik yang jauh. “Orang seperti kamu, Noah, nggak akan pernah ngerti.”
Kembali, Noah menerima kalimat seperti itu lagi. Ia kesal sekali, rasanya ia harus mengerahkan banyak tenaga untuk menahan diri agar tak mendaratkan tinjunya ke wajah Abi.
“Orang seperti aku?” Noah menuntut penjelasan lebih. “Memangnya aku orang seperti apa? Kamu kira aku lahir dan langsung bisa main basket? Kamu kira aku nggak latihan keras kayak semua orang, ha!?”
“Apa kamu pernah membentur tembok?” sela Abi dengan suara yang mulai bergetar. Ia akhirnya menoleh dan menatap Noah dengan mata yang putus asa. “Apa kamu pernah merasakan gimana sesaknya melihat orang-orang terus berlari mendahuluimu?”
Pundak Abi naik turun demi menahan emosi yang mulai meluap dari dalam dirinya. “Kamu kira aku nggak pernah nyoba bertahan dan berusaha? Aku pindah sekolah karena kupikir aku bisa mulai lagi dari awal. Aku nggak diam aja, Noah.”
Punggung tangan Abi bergerak cepat mengelap pipinya sebelum kembali melanjutkan.
“Tapi nggak peduli sehebat apa aku berusaha, bahkan sampai tiap sendi dan ototku kejang … lagi-lagi aku melihat punggung orang lain di depanku. Semuanya bisa menyusulku, mereka selalu bermain lebih baik dan aku selalu tertinggal. Mau gimana lagi? Aku juga berlatih, aku juga berusaha, tapi aku memang nggak istimewa …”
Abi tercekat di akhir kalimatnya, seketika setetes air bening tampak lolos dari matanya dan menetes langsung ke lantai. Ia buru-buru memalingkan wajah lagi, berusaha mengatur kembali napasnya sambil mengusap pipinya dengan gerakan kasar. Seolah ia tak rela mengakui bahwa saat ini ia sedang menangis.
“Mana mungkin kamu paham,” lirihnya kemudian, “mana mungkin kamu tahu gimana rasanya berada di lapangan selama beberapa menit, tapi nggak pernah ada pass yang datang. Cuma berlari kesana kemari, tapi nggak ada yang bisa dilakukan. Mana mungkin … seorang Noah … bisa mengerti perasaan orang-orang yang memang udah ditakdirkan untuk kalah.”
Noah terdiam di tempatnya berdiri. Ia merasa harus mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Mungkin ini pertama kalinya Noah mulai mempertanyakan diri sendiri, apa benar ia kurang peka terhadap sekitarnya?