Point Guard Soetomo sedang membawa bola untuk menyusun serangan. Tapi, alih-alih kembali ke area mereka untuk mempersiapkan posisi bertahan, para pemain Cendana malah melakukan 1 on 1 dari area tengah lapangan, untuk mencari kesempatan mendapatkan turnover dan kembali menyerang lagi. Mereka bermaksud memanfaatkan setiap detik pertandingan di kuarter terakhir ini untuk mencetak angka sebanyak-banyaknya.
Penjagaan Zikri terlalu lemah, Soetomo berhasil menemukan celah untuk menyerang masuk. Tapi Cendana sepertinya memang tak berniat melakukan penjagaan, mereka seolah membiarkan serangan Soetomo yang sudah terlanjur masuk dan hanya melakukan upaya blocking seadanya.
Untungnya, hanya dalam pertandingan kali ini, gaya permainan itu bisa diterapkan karena memang presentasi keberhasilan shoot Soetomo cukup rendah. Bahkan dengan penjagaan ogah-ogahan dari Cendana, jump shoot mereka tetap gagal dan Ahsan berhasil mendapatkan rebound.
Setelah Ahsan memegang bola, keempat pemain Cendana lainnya pun berlari secara bersamaan untuk kembali menyerang. Ahsan melakukan long pass dari bawah ring lawan, operan jauh yang dikirimkannya itu agak menurun di tengah lapangan dan kebetulan ada Igris di sana. Cowok itu melompat dan hanya perlu menyentuh bola dengan ujung jarinya untuk mengarahkan long pass sedikit lebih jauh ke depan, di mana ada Noah, Zikri dan Dirga yang sudah masuk ke area lawan.
Dirga mendapatkan bola yang sudah disentuh Igris tadi. Saat ini ada 3 pemain yang mendekati ring Soetomo, tapi para pemain Soetomo benar-benar sudah terlambat untuk menyusul. Ini saatnya Cendana show off lagi.
Dirga berada di paling kiri, sementara Zikri di tengah dan Noah di sayap kanan. Noah agak terlambat berlari tadi, jadi posisinya lebih ke belakang. Dirga mengoper bola kepada Zikri di sebelahnya, dan Zikri memutuskan untuk melambungkan bola tepat ke depan bibir ring, membiarkan Noah melompat dan menangkap bola yang seolah sudah menunggu dihujamkan ke dalam keranjang lawan.
Dengan kedua tangannya, Noah kembali menyelesaikan rangkaian serangan itu dengan sebuah dunk yang sangat keras hingga menimbulkan suara menggema ketika bola memantul ke lantai di bawah ring. Karena melompat dari jarak yang cukup jauh, tubuh Noah bahkan ikut mengayun saat ia bergelantungan di bibir ring, sebelum kemudian ia melompat dan menjejak kembali ke lantai lapangan basket itu.
Seisi aula menjadi hening mendadak, bahkan orang-orang yang menonton dari pinggir lapangan pun agak tersentak ketika mendengar teriakan time out dari pelatih tim Soetomo.
Semua pemain berjalan meninggalkan lapangan dengan pikiran mereka masing-masing. Tapi – meski tim Cendana juga sama kagetnya dengan Soetomo – berbanding terbalik dengan para pemain Soetomo yang terlihat kehilangan semangat, para pemain Cendana mendekati Coach Adam di pinggir lapangan, dengan senyum yang sangat lebar di wajah mereka.
“Sorry, Kak. Aku terbawa suasana.” Noah menghadap Dewa sambil menunduk dengan tampang menyesal.
“Ha …? So-soal apa?” Dewa tergagap bingung.
“Soal dunk tadi.”
“Kan udah aku bilang kamu nggak perlu minta maaf.”
“Tapi … aku kira Kakak marah …”
“Apa?!” Yuda tiba-tiba menimpali dari kejauhan. Ia lalu buru-buru menghampiri Dewa dengan wajah prihatin, “serius Kak Dewa marah karena Noah bulak-balik dunk?”
“Nggak, lah! Mana mungkin …,” Dewa mulai panik, “kamu juga ngapain ikut-ikutan pembicaraan orang?!"
“Ya … kan aneh aja gitu, orang main bagus kok malah dimarahi?”
“Nggak kok, siapa bilang?!” balas Dewa lagi. “Aku cuma khawatir aja, kalau dari awal dia udah pasang level setinggi gitu, mulai dari sini dia harus terus menanjak dan bakal jadi agak memalukan kalau performanya menurun. Lagipula, bukannya pamer dunk di pertandingan malah jadi bikin kamu gampang capek?”
“Oh … gitu ya, Kak?” Entah polos atau memang kurang peka, Noah malah bertanya untuk memastikan.
“Apanya yang ‘gitu ya kak’? Memangnya kamu nggak capek habis lompat tinggi gitu dan masukin bola sekeras itu?”
“Nggak sih, biasa aja.”
Bibir Dewa merenggang, tapi tak ada suara yang keluar. Ia terlihat cukup shock mendapat jawaban lempeng dari Noah.
“Ya ampun, Kak Dewa …,” Yuda kembali nimbrung, “aku tahu Kakak kecewa dengan tinggi badan Kakak di usia segitu, tapi jangan sampai membatasi adik kelas berekspresi cuma karena Kakak nggak bisa dunk, dong.”
“Heh! Apa maksudmu?!” Dewa siap melempar botol minumannya ke kepala Yuda, tapi cowok usil itu buru-buru ngacir sambil tertawa puas.
.
Pertandingan selesai dengan skor telak 128 – 73 untuk kemenangan Cendana. Coach Adam terlalu asyik menyaksikan anak didiknya mencetak angka hingga ia lupa melakukan rotasi pemain. Akibatnya, hanya sebagian anggota baru yang mendapatkan kesempatan bermain. Di antaranya adalah Noah, Igris, Zikri, Steven, dan Bayu. Padahal masih ada belasan anggota baru lainnya yang seharusnya bisa diberikan kesempatan untuk bermain.
Coach Adam jadi sedikit merasa bersalah.
“Ini kemenangan besar, aku bisa melihat masa depan seperti apa yang menanti tim basket putra Cendana,” seru Coach Adam girang di hadapan para pemainnya yang sedang duduk selonjoran di lantai sambil mengatur napas. Beberapa anggota kelas 10 yang tidak sempat ikut bermain, membantu Luna untuk membagikan minuman dan handuk.
“Gimana kalau aku traktir makan malam?” usul Coach Adam di ujung kalimatnya.
Tentu saja tawaran itu disambut dengan gegap gempita.
“Coach, yang benar? Ini kan cuma latih tanding, masa’ ada acara traktirannya juga?”
Meski bersemangat, tapi pertanyaan yang mengandung kecurigaan itu juga tetap dilontarkan oleh para anggota tim Cendana.
“Tentu saja, ini kemenangan besar. Jarang loh hasil pertandingan kita dapat 3 digit. Iya, kan?” terang Coach Adam lagi. “Sekalian kita ajak anak-anak Soetomo.”
Ahsan langsung paham dengan alasan yang melatarbelakangi traktiran ini. Pelatih tim Cendana itu sebenarnya sedang merasa bersalah. Walau bagaimanapun, pem-bantaian ini agak berlebihan.
Coach Adam sudah berbuat tidak adil terhadap anggota baru timnya yang sudah menunggu untuk diturunkan dalam pertandingan, Coach Adam juga sudah berbuat tidak adil terhadap lawan dengan tak memberikan mereka kesempatan sedikit pun; walaupun sebenarnya itu memang sudah seharusnya.
Menatap wajah-wajah lelah, kecewa dan putus asa anak-anak Soetomo, membuat Coach Adam merasa kalau sepertinya kali ini ia sudah agak keterlaluan. Memang, hal seperti ini adalah sesuatu yang biasa. Sebuah kekalahan itu bisa menjadi pelajaran atau tidak, tergantung pada mental para pemain itu sendiri.
Tapi ini adalah sebuah pertandingan latihan. Harusnya, sebuah latih tanding itu harus berakhir dengan memberikan manfaat kepada kedua tim. Tentu saja Coach Adam tak pernah berkeinginan menghancurkan semangat anak-anak SMA yang sangat menyukai basket.
Lagipula, Soetomo adalah sebuah tim yang berintregitas tinggi, attitude mereka selalu baik dan tak pernah neko neko. Sayang sekali jika mereka sampai tak bisa bangkit dari keterpurukan, jadi Coach Adam berpikir kalau ia bertanggung jawab untuk memberi sedikit wejangan kepada mereka.
“Pertandingan yang bagus,” puji Ahsan pada Ilyas yang sedang duduk merentangkan kaki di lantai, sambil meneguk minumannya.
Ilyas mendengus tertawa. “Bagus untuk kalian,” katanya kemudian.
“Yah … setidaknya ada pelajaran yang bisa diambil untuk Soetomo juga, kan?”
“Iya, sih,” aku Ilyas. “Terutama duo kelas 10 yang kalian punya itu. Kami harus mencari cara untuk menghadapi mereka.”
“Hei … kamu salah kalau terlalu fokus ke mereka,” protes Ahsan. “Kalian akan menyesal kalau mengabaikan triple kelas 12 yang masih ada di tim inti.”
Ilyas hanya menanggapi dengan tawa kali ini. Memang ia juga mengakui kalau kemampuan para pemain inti Cendana tak bisa diabaikan. Tanpa pasokan tenaga baru saja mereka sudah cukup hebat, ditambah lagi sekarang ada anak-anak kelas 10 yang akan membuat Cendana semakin sulit dikalahkan.
“Jadi …,” lanjut Ahsan lagi, “kalian nggak buru-buru, kan?”
“Kenapa?”
“Coach Adam mau traktir makan.”
“Serius?”
Ahsan hanya membalas dengan anggukan dan senyum lebar kali ini. Tapi Ilyas sangat menyukai kabar yang ia dengar itu. Ia langsung berseru ke arah kumpulan pemain Soetomo yang lainnya.
“Hei … kita mau ditraktir makan!” katanya setengah berteriak.
“Beneran nih?!” Para pemain Soetomo pun menyambut dengan bersahut-sahutan.
“Kapten yang traktir?”
“Tumben amat. Padahal kita kalah.”
“Tapi apa nggak kesorean? Perjalanan kita kan jauh.”
Di antara komentar bersemangat itu, ada juga di antara mereka yang mengkhawatirkan jalan kembali. Karena memang letak SMA Cendana cukup terpencil, jalan lancar tanpa macet saja masih membutuhkan waktu minimal 2 jam untuk kembali ke perkotaan.
“Perkiraannya, paling lambat jam 10 malam kalian semua udah di antar ke depan rumah masing-masing,” tutur Ilyas menenangkan. “Kita nggak berhenti di sekolah, bus akan mengantar kalian satu per satu ke rumah, jadi tenang aja.”
“Kalau gitu sih, nggak masalah,” balas salah seorang dari pemain Soetomo yang sempat mengutarakan kekhawatirannya tadi.
“Jadi OK, ya? Semua setuju, ya?” tanya Ilyas lagi untuk memastikan, ia lalu mengerling ke arah pelatih Soetomo yang sepertinya juga sama sekali tak keberatan.
Ahsan berinisiatif untuk meminjamkan shower di Ruang Loker Utama jika ada pemain Soetomo yang ingin menggunakannya, sebelum mereka berangkat ke warung favorit Coach Adam yang tak jauh dari lokasi sekolah.
Soetomo menggunakan bus mereka sendiri, sementara Coach Adam harus memberikan sediki “sesajen” kepada supir bus Cendana agar ia mau mengantarkan tim ke warung yang dimaksud. Karena ini adalah kegiatan yang tidak resmi, sebenarnya Coach Adam harus meminta izin terlebih dahulu kepada Reza untuk menggunakan fasilitas tim.
Tapi, mengingat mereka hanya akan keluar sebentar, Coach Adam merasa tak akan ada masalah bergerak tanpa sepengetahuan Reza. Lagipula, ia paling malas jika harus berhadapan dengan si Pelatih Utama itu.
Ahsan memberi tepukan pelan di punggung Coach Adam saat mereka akan masuk ke bus. “You okay, Coach?” tanyanya setengah bercanda. “Aku bisa pinjamkan simpananku kalau pengeluaranmu melebihi budget.”
“Haha… nggak apa-apa, semuanya aman terkendali,” balas Coach Adam sambil mengacungkan jempol.
Ia tidak sedang berbohong untuk meredakan kekhawatiran Ahsan, Coach Adam memang sudah memperkirakan berapa banyak ia akan membayar malam ini. Jika tak ada hal-hal di luar kendali, harusnya pengeluaran Coach Adam untuk acara makan-makan ini tak akan melebihi budgetnya yang hanya berprofesi sebagai seorang guru merangkap pelatih basket.
Ada dua belas orang dari Soetomo, termasuk manager dan pelatih. Ditambah dengan belasan orang juga dari tim Cendana. Sebenarnya anggota tim Cendana mencapai sekitar 30an orang, tapi sebagian memutuskan untuk langsung kembali ke asrama karena satu dan lain hal.
“Ya …,” Coach Adam bergumam sambil mengangguk kepada dirinya sendiri, “kurasa … bulan ini aku akan baik-baik saja.”
Meski ia berpikir begitu, Coach Adam tetap menghampiri Ahsan yang duduk tepat di belakang supir bus, sambil lalu berbisik. “Nanti sampai di sana, tolong bilang sama semuanya, mereka cuma boleh pesan air putih atau teh manis.”
“Siap, Coach,” balas Ahsan sambil berusaha mencegah tawa, tapi tetap saja senyumnya terlalu lebar, membuat Coach Adam memberinya lirikan dengan tampang cemberut.
“Dengar, ya. Uangku cukup, aku cuma nggak mau …”
“Iya, iya, paham …,” sela Ahsan sambil tergelak ringan. “Sini duduk,” tambahnya lagi.
Ahsan beringsut ke dekat jendela dan memberikan kursi di sebelahnya untuk Coach Adam. Coach Adam pun duduk di kursi yang barusan ditepuk-tepuk Ahsan.
“Mana Juan?” tanyanya sambil menoleh ke belakang kiri dan kanan, karena biasanya center tim Cendana itu sering duduk bersama Ahsan setiap kali mereka berada di bus.
“Di belakang,” jawab Ahsan sambil lalu.
Kemudian mereka pun melewati perjalanan singkat menuju ke warung favorit Coach Adam, sambil membicarakan berbagai macam hal yang temanya tak pernah jauh-jauh dari basket.