SMA Cendana vs SMA Soetomo (3)

1578 Words
“Ok, di babak akhir ini, Ahsan akan memimpin serangan. Kita coba strategi yang disarankan Igris. Kita akan babat habis dan kumpulkan angka sebanyak mungkin. Target kita adalah skor 3 digit di akhir pertandingan sekaligus memperlebar selisih angka.” Coach Adam terlihat bersemangat, seolah ia baru saja menemukan permainan yang sangat seru. “Aku ingin melihat kemampuan menyerang kalian,” sambungnya lagi. “Ahsan kamu masuk gantikan Wahyu. Zikri gantikan Juan, Dirga kamu tetap di lapangan. Buktikan padaku bahwa pemain dari kelas 11 masih mampu menjadi bagian dari skuat pemain reguler tim Cendana. Aku akan terus melakukan rotasi di berbagai kesempatan, jadi jangan sia-siakan waktu kalian di lapangan. Kumpulkan angka sebanyak-banyaknya.” Abi, yang berperan sebagai wasit dan menggantikan Luna sejak kuarter ketiga, meniup peluit tanda dimulainya kuarter terakhir. Coach Adam masih menyempatkan diri untuk menyampaikan instruksi terakhirnya. “Kita coba pakai serangan cepat, jangan buang-buang waktu, pass and run, jangan berikan mereka kesempatan untuk defense. Usahakan untuk dapat turnover sebanyak-banyaknya, curi bola mereka, potong pass-nya. Pokoknya, jadikan setiap detik kuarter terakhir ini sebagai kesempatan untuk menambah angka, mengerti?” “Tim Cendana, tolong masuk ke lapangan.” Abi mulai memperingatkan tim tuan rumah untuk tidak membuang-buang waktu. “Sorry.” Ahsan meminta maaf sambil buru-buru memasuki lapangan, diikuti oleh Noah, Igris, Dirga dan Zikri. Ahsan mengangkat kepalan tangan kirinya tinggi di atas kepala, sambil tetap mendrible bola dengan tenang. Ia ingin semua pemain Cendana berlari masuk ke area lawan secara bersamaan. Aba-aba dimulai saat kepalan tangan itu terbuka, kelima pemain Cendana berlari menuju area pertahanan Soetomo dan cukup membingungkan lawan. Karena dari keempat pemain Cendana yang berlari secara bersamaan itu, Ahsan bisa memberikan operan ke pemain mana saja tanpa bisa ditebak. Kapten tim Cendana memulai aliran bola dengan mengirim bola kepada Igris, saat bola sudah berada di tangannya, seorang pemain Soetomo langsung datang untuk menghalangi pergerakan Igris. Igris melompat seolah nekat melakukan tembakan ke ring meski sedang berhadapan dengan defender lawan. Tapi sebenarnya lompatan Igris itu dilakukan untuk mengirimkan no look pass dengan memantulkan bola ke lantai di sampingnya, di mana Noah sudah berlari dan siap menerima bounce pass dari Igris. Noah langsung menusuk masuk ke dekat ring, tapi ia tak bermaksud melakukan shoot karena ada terlalu banyak pemain Soetomo di sekitarnya. Saat gerakannya terhenti di area 3 second, Noah membalikkan tubuhnya membelakangi ring untuk memberikan bola kepada Zikri yang berada di area high post[1]. Pass yang dikirimkan Noah sampai ke tangan Zikri. Melihat posisi Dirga sedang bebas di sayap kanan, Zikri pun langsung mengirim bola kepada Dirga di sana. Dengan begitu, dalam satu serangan barusan, kelima pemain Cendana sudah menyentuh bola dan menyerahkan finishing-nya kepada Dirga. Seolah para pemain Cendana tahu bahwa sejak awal pertandingan tadi Dirga terlihat berusaha sangat keras untuk membuktikan dirinya, dan mereka ingin memberikan kesempatan itu. Jika Dirga tak mampu mengakhiri serangan itu dengan mendapatkan tambahan poin untuk Cendana, maka dengan berat hati ia harus rela tersingkir dari formasi pemain reguler tim Cendana. Meski ia adalah seorang senior kelas 11, jika kemampuannya payah, maka mau tidak mau ia harus merelakan posisinya diambil oleh adik kelasnya yang bermain lebih baik. Dirga melakukan jump shoot saat waktu serangan yang mereka miliki tersisa kurang dari 10 detik. Tembakan Dirga membentur ring, dalam sejekap ekspresinya terlihat seolah ia akan menangis. Tapi Noah mendapatkan rebound, dan kembali melempar bola kepada Dirga yang masih berdiri di posisinya semula. “Kalau shoot-mu payah, bawa bolanya!” Noah setengah membentak sambil melakukan screen kepada seorang pemain Soetomo yang akan menghalangi Dirga. Dirga seolah baru tersadarkan, ia pun mulai menggiring bola untuk masuk ke low post. Tapi saat ia berhasil menarik defense lawan kepadanya, Dirga mengirim bola kembali ke luar, ditangkap oleh Ahsan yang kemudian langsung mengoper kepada Igris di bagian sudut pojok lapangan. Lemparan 3 poin dengan sudut 180 derajat terjadi begitu cepat, bahkan saat para pemain Soetomo belum sempat bereaksi. Rasanya Igris baru memegang bola yang ia terima dari Ahsan, tapi bola itu sudah melayang ke arah ring lawan. Lalu … Blush! Tembakan 3 point yang mulus tanpa menyentuh bibir ring. Igris mengepalkan tinjunya sambil berlari bersama pemain Cendana yang lain, bersiap menghadapi serangan berikutnya dari Soetomo. Di saat yang bersamaan mereka tetap mengamati pergerakan bola, untuk mencari kesempatan melakukan turnover. Coach Adam mengirim sebuah kode dengan jari tangannya kepada Ahsan, dan meski kode itu tak dimengerti oleh Noah dan para pemain j.u.n.i.o.r lainnya, Ahsan terlihat tak punya kesulitan untuk memahami instruksi yang diberikan Coach Adam dari pinggir lapangan. Ia mengangguk sambil lalu menghampiri Igris dan berbisik padanya. Ketika Soetomo berhasil memasukkan satu bola dengan jump shoot yang hanya menambah 2 angka untuk skor mereka, Cendana pun terkesan membiarkan dan hanya melakukan defense seadanya. Bola kembali masuk ke lapangan dan Ahsan membiarkan Igris yang menggiringnya. Sepertinya Coach Adam baru saja meminta Ahsan agar memberi kesempatan kepada Igris untuk menyusun permainan Cendana. Tepatnya, menyerahkan posisi playmaker kepada Igris. Cendana benar-benar memanfaatkan latih tanding ini untuk coba-coba. Bak seorang gamer di depan komputer, Coach Adam terlihat sangat bersemangat ketika menyadari bahwa ia memiliki banyak skill dan weapon dengan level tinggi di dalam ruang penyimpanannya. Baginya, ini sangat menarik, ia jadi bisa mencoba gaya permainan yang bermacam-macam. Dan saat ini, ia sedang uji coba strategi permainan yang sangat cepat dan bersifat menyerang. Dengan tipe permainan seperti itu, ia bisa lebih mudah melihat pola serangan masing-masing dari anggotanya di lapangan. Ia juga ingin melihat, apa yang terjadi dalam pertandingan ini jika timnya hanya berfokus pada serangan dan cenderung mengabaikan pertahanan. Igris mulai berlari sambil menggiring bola, dan keempat pemain Cendana lain pun mengikuti pergerakannya. Igris melakukan penetrasi dari sayap kanan, seolah ia akan shoot sendiri, tapi lagi-lagi itu hanya trik untuk menarik defense lawan. Lalu, tanpa menghentikan dribble dan larinya, Igris mengayunkan bola ke belakang tubuhnya untuk mengirim pass kepada Dirga di luar garis 3 point. Itu adalah permainan yang sama dengan yang ditunjukkan Noah di kuarter ketiga tadi. Dirga kemudian menerima back pass dari Igris tanpa kendala. Ia melihat Ahsan di posisi yang tak memungkinkan untuk menerima pass, dan ada Noah yang berdesakan dengan para pemain lawan di area low post. Akhirnya Dirga memutuskan untuk melempar bola ke arah ring. Tapi lemparan itu lebih mirip dengan passing daripada shooting. Ya, itu memang sebuah operan yang dimaksudkan untuk disambut di udara, Ahsan langsung melompat untuk menyambut umpan itu, tapi Noah juga melakukan hal yang sama. Menyadari hal itu, Ahsan mengalah dan membiarkan Noah menangkap bola tepat di depan ring. Saat Noah menangkap bola itu, ia sedikit memutar tubuhnya untuk menghindari blocking dan membuatnya jadi membelakangi ring saat ia masih berada di udara. Lalu dengan sekuat tenaga Noah mengayunkan tangannya dengan keras ke belakang dan memasukkan bola tepat dari atas ring. Terjadi begitu saja, tak ada yang merencanakannya dari awal, bahkan Noah sendiri baru sadar kalau dia sedikit terbawa suasana dan jadi terkesan berlebihan. Itu adalah sebuah reverse dunk alley oop. Sebuah alley oop yang diselesaikan dengan dunk, itu pun bukan dunk biasa, melainkan sebuah reverse dunk[2] atau back dunk atau backwards dunk, apapun itu namanya, yang pasti teknik yang barusan ditunjukkan Noah bukanlah hal yang biasa dilihat dalam sebuah latih tanding anak SMA. Dua point yang baru saja ditambahkan ke papan skor Cendana itu didapatkan dengan cara yang tak biasa, hingga waktu seolah terhenti sejenak saat bola dijebloskan sekeras itu oleh Noah. Bukan hanya para pemain dan pelatih dari Soetomo, bahkan Coach Adam dan sesama pemain Cendana yang menyaksikan permainan Noah barusan juga kesulitan untuk mengatupkan mulut mereka. “Coach … wajah Anda mulai terlihat mengerikan.” Dewa mencoba mengingatkan Coach Adam agar sedikit mengendalikan ekspresi wajahnya. Karena saat ini ia terlihat seperti seorang chef lapar yang dihadapkan dengan seporsi daging segar. Coach Adam tak sabar ingin segera mengolah daging itu untuk dijadikan makanan lezat yang bisa dinikmati semua orang. “Kejurnas ini akan menjadi milik kita,” gumam Coach Adam tanpa melepaskan tatapan liarnya dari Noah yang sedang berlarian di lapangan. Padahal kalau soal tinggi badan – untuk ukuran pemain basket – masih banyak yang lebih tinggi dari Noah. Tapi, karena memang lompatan Noah yang tergolong tinggi, ia bisa melakukan hal-hal yang biasanya hanya dilakukan oleh pemain yang bertubuh lebih tinggi darinya. Noah, dengan tinggi badan dan lompatan supernya, seolah membuat slam dunk menjadi trik yang sangat mudah dan umum dilakukan oleh para pemain basket level SMA. Sebenarnya Noah tak bermaksud untuk pamer dunk, tapi ia terlalu terbiasa dengan suasana pertandingan street basket 3 on 3 yang sering ia ikuti bersama para mahasiswa di kampus ayahnya. Noah memang sering diundang untuk ikut menjadi pemain keempat sebuah tim bernama Red Phantom; tim itu terbentuk dari 3 orang mahasiswa yang sering menjadi teman bermain Noah selama ia menggunakan lapangan basket di kampus itu. Ketika para pemain Cendana setengah berlari menuju ke area mereka, Dewa berteriak dari pinggir lapangan. “Bocah, apa kau harus selalu melakukan dunk dalam setiap pertandingan, ha!?” Senior itu menyempatkan diri menyembur Noah dengan omelan saat para pemain Cendana sedang giliran defense. “Sorry,” gumam Noah sambil lalu. “Siapa yang nyuruh kamu minta maaf?” Dewa malah semakin kesal menghadapi respon Noah. Noah masih tak mengerti, apa yang sebenarnya ingin disampaikan Dewa. Tapi ia memutuskan untuk mengabaikan seniornya itu dan bersiap menghadapi serangan Soetomo. ___ ___ ___ ___ ___ [1] High post area adalah wilayah setengah dari lingkaran area lemparan bebas. Dimulai dari free throw line sampai elbow (daerah sekitar lingkaran free throw line). [2] Back dunk adalah jenis slam dunk yang dilakukan dengan posisi badan membelakangi ring.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD