Pada awal kuarter ketiga, pemain Cendana yang ada di lapangan adalah tiga pemain inti; senior kelas 12 bernama Juan serta senior kelas 11, Yuda dan Wahyu. Lalu ada dua pemain baru dari kelas 10 yaitu Noah dan Igris.
Coach Adam meminta Noah untuk berperan sebagai playmaker. Menurut pengamatannya, Noah berbakat dalam menganalisa pertandingan dan memaksimalkan kemampuan rekan satu timnya, dia juga mampu berpikir cepat di lapangan dan memanfaatkan situasi. Singkat kata, Noah adalah anak yang cerdas dan bisa diandalkan. Jadi mungkin saja ia bisa menjadi Point Guard yang hebat.
Tiga menit pertandingan di kuarter ketiga sudah berjalan, skor saat ini mencapai angka 75 untuk Cendana dan 46 untuk Soetomo.
Noah menggiring bola dari area pertahanannya sambil melirik ke berbagai sudut lapangan untuk mengecek posisi anggota timnya. Sementara itu, tim Soetomo sudah siap di zona pertahanan mereka untuk melakukan defense.
Apa yang harus Noah lakukan?
Walau bagaimanapun, mereka sudah unggul. Tapi ia tetap merasa perlu menyajikan sebuah kejutan di awal agar bisa sedikit mengguncang mental para pemain Soetomo dan membuat Cendana bisa panen poin dengan lebih mudah di kuarter ini.
Jika melihat dari permainan Soetomo sejauh ini, kuarter keempat nanti pun akan menjadi pertandingan yang mudah bagi Cendana; mempertimbangkan jika Soetomo tidak memiliki sen.jata rahasia atau sejenisnya.
Tapi Coach Adam memberikan misi kepada Noah untuk memperlebar selisih skor, agar mereka bisa lebih santai melakukan pergantian pemain pada satu kuarter terakhir nanti.
Dengan target yang telah diberikan oleh Coach Adam itu, Noah mulai berlari menggiring bola ke daerah pertahanan lawan, keempat pemain Cendana lainnya juga melakukan hal yang sama; mencari posisi terbaik untuk menyerang sambil menghindari defense lawan.
Noah menusuk masuk ke bawah ring, sejenak Juan dan Wahyu merasa gerakan Noah sudah bisa ditebak, mengingat dia adalah pemain dengan ego yang cukup tinggi.
Noah masuk ke area 3 second dan melakukan lompatan seperti akan menembak, tapi ia sadar bahwa sudah ada telapak tangan pemain center Soetomo yang akan memblok tembakannya. Itu sebabnya Noah memutar bola ke belakang pinggangnya untuk mengirim no look pass[1] kepada Juan yang memang sudah berada di area low post.
Juan bahkan agak kaget saat operan yang tak diduga itu datang kepadanya. Tak ada yang mengira Noah akan melakukan gerakan berpura-pura menembak untuk menarik defense lawan kepadanya, lalu melakukan no look pass pada rekan yang berada di belakang.
Meski kaget, Juan bukan anak kemarin sore, passing dari Noah berhasil diterima dengan baik. Kemudian Juan langsung mengirim bola ke sisi seberang, di mana Yuda sudah menunggu di luar garis 3 point.
Bola yang dikirimkan Juan sangat kuat dan cepat, jika yang menerimanya bukan Yuda atau salah seorang dari tim inti Cendana, maka kemungkinan pass itu akan gagal ditangkap dan bola akan ke luar lapangan.
Tapi Yuda melompat dan menangkapnya dengan sempurna, lalu tanpa membuang waktu ia kembali melompat untuk melakukan tembakan 3 point. Sayangnya tembakan itu membentur papan tapi tak berhasil masuk, melainkan kembali membentur bibir ring hingga kemudian memantul meninggalkan keranjang. Menyebabkan para pemain harus bersaing untuk mendapatkan rebound.
Juan berhasil memenangkan persaingan di bawah ring dan mendapatkan rebound. Kali ini ia tak mengoper bola kepada rekannya, ia memilih langsung lompat kembali untuk melakukan jump shoot, nyaris tepat dari bawah ring. Dua angka kembali bertambah untuk Cendana.
Para pemain Cendana kemudian berlari kembali ke area pertahanan tanpa terburu-buru. Dengan sendirinya mereka memutuskan untuk tak terlalu memberi tekanan kepada Soetomo, karena sepertinya, shoot pemain Soetomo sering gagal meski tanpa diganggu dengan defense Cendana.
Akibatnya, suasana pertandingan mulai terkesan hambar. Pemenangnya sudah bisa ditebak dan Soetomo seolah tak memiliki cara untuk membalikkan keadaan.
Coach Adam menganggap ini adalah saat yang tepat untuk melakukan pergantian pemain. Ia lalu memanggil Yuda untuk digantikan dengan Dirga.
Yuda memberi semangat kepada Dirga dengan mengacungkan jempolnya, tapi senyum Dirga terlihat sangat kaku. Seolah setiap ototnya menegang dan menyebabkan malfungsi pada pengaturan ekspresi di wajahnya.
Pertandingan kembali berjalan tanpa hambatan dan Cendana masih berada di atas angin. Tapi bahkan saat kuarter ketiga hampir selesai, jika diakumulasikan sepanjang sisa kuarter tadi, Dirga hanya memegang bola selama kurang lebih satu menit.
Ia hampir putus asa untuk menunjukkan perannya dalam pertandingan ini. Mengingat bagaimana pedasnya komentar Noah kepada Ello – yang ia anggap hanya menonton pertandingan dari dalam lapangan – rasanya Dirga tidak rela. Ia harus melakukan sesuatu, paling tidak, ia harus bisa mencuri bola dan membuat satu turnover, belajar dari defense ngotot Ello yang tadi berhasil membuat lawan terkena pelanggaran backcourt.
Satu menit sebelum kuarter ketiga berakhir, Dirga memutuskan untuk mati-matian melakukan defense kepada pemain Soetomo yang sedang menggiring bola.
Ia bertekad untuk berbuat sesuatu yang akan menghindarinya dari sebutan ‘menonton dari dalam lapangan’. Dan untungnya, usaha itu tidak sia-sia.
Karena defense yang dilakukan Dirga, mudah bagi Igris untuk memukul bola dari belakang lawan yang sedang melakukan dribble di tempat.
Dalam sekejap, sebuah turnover pun tercipta. Noah mendapatkan bola liar dan langsung berlari cepat ke arah ring lawan yang kosong tanpa penjagaan, sementara Wahyu dan Igris berlari mengikuti di belakangnya.
Hampir 100 persen orang mengira Noah akan melakukan dunk, karena kekuatan larinya sudah sangat pas dan ia bebas tanpa ada satu pun pemain lawan yang berada di area pertahanan mereka.
Tapi, Noah yang sekilas melihat dua pemain Cendana lainnya juga berlari di belakangnya, memutuskan untuk mendapatkan poin dengan permainan yang lebih fancy dari sekadar dunk, sekaligus menunjukkan bahwa ia bisa menjalankan peran sebagai seorang playmaker.
Saat Noah melompat ke arah ring lawan, ia tidak melakukan tembakan, melainkan ia sengaja memantulkan bola ke papan dan berharap salah satu dari Wahyu atau Igris akan menyambut pantulan bola itu dengan alley oop.
Dan benar saja, Igris melompat di saat yang tepat untuk menangkap pantulan bola itu dan hanya perlu menempatkannya ke dalam keranjang, dengan melambungkan bola seperti gerakan lay up biasa.
Padahal jika Igris melompat sedikit lebih tinggi, tangannya akan mampu mencapai bibir ring dan bukan tidak mungkin ia bisa menciptakan alley oop dunk berlevel tinggi.
Meski begitu, tetap saja, sensasinya terasa sangat luar biasa. Igris bahkan setengah tak percaya bahwa ia baru saja melakukan alley oop dengan umpan dari Noah. Permainan Noah sangat halus, dan dia benar-benar menjalankan perannya sebagai Point Guard dengan baik.
Noah dan Igris meninggalkan area Soetomo tanpa selebrasi, seolah pertunjukkan alley oop yang menghasilkan dua angka barusan itu bukan apa-apa. Padahal Alley-oop itu membutuhkan kerja sama tim yang kompak, passing yang akurat, serta pemilihan waktu dan penyelesaian yang tepat. Siapa yang mengira Noah dan Igris bisa melakukan itu, bahkan ketika mereka tak saling bertukar kata.
Hanya tersisa 5 detik sebelum peluit yang menandakan berakhirnya kuarter ketiga ditiup, tapi Noah tampak berjalan santai sambil menggiring bola. Apakah ia akan mulai mengoper bola kepada Juan yang berbadan besar agar lebih mudah melakukan drive in? Atau ia akan memilih untuk mengoper bola kepada rekan se-tim yang mahir menembak dari luar?
Tiga detik sudah berlalu, tapi Noah tak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan penetrasi. Lalu dalam sekejap ia menghentikan dribble dan memegang bola. Dalam waktu yang sesingkat itu, tak mungkin ia akan mengoper bola. Satu-satunya hal yang mungkin dilakukan adalah langsung menembak dari jarak yang nyaris setengah lapangan itu.
Dan benar saja, Noah sudah mengambil posisi untuk menembak. Tak ada yang menghalanginya, pandangannya jelas sampai ke ring basket di depan sana. Ia sudah melakukan ini ratusan bahkan mungkin ribuan kali, Noah yakin presentasi keberhasilannya menembakkan bola dari tengah lapangan – tanpa ada yang menghalangi – nyaris 100 persen.
Buzzer Beater[2] adalah sesuatu yang paling menyebalkan bagi Noah, terutama jika skornya sedang tertinggal. Mengakhiri suatu babak dengan buzzer beater yang akan semakin melebarkan jarak skor mereka, akan membuat lawan semakin putus asa. Itu sebabnya Noah melakukan tembakan jauh itu untuk menutup kuarter ketiga ini.
Bola yang ditembakkan Noah tepat sebelum peluit ditiup itu, melayang sangat tinggi seolah akan menyentuh langit-langit aula, menuju ke mulut keranjang dan sama sekali tidak berubah arah, hingga akhirnya menghujam masuk tanpa menyentuh bibir ring.
Saat tembakan terakhir itu dilepaskan, Noah sudah berbalik untuk melangkah keluar lapangan. Ia sudah bisa merasakan saat bola lepas dari tangannya, bahwa tembakan itu adalah tembakan yang sempurna. Bola juga melayang cukup tinggi, jadi tak akan ada yang bisa membloknya.
Kuarter ketiga ditutup dengan skor 90 – 52.
Tentu saja masih untuk keunggulan Cendana. Semua pemain mulai meninggalkan lapangan dan berkumpul di satu sisi aula untuk mendengarkan pengarahan dari pelatih masing-masing.
“Noah, menurutmu di akhir kuarter ketiga, harusnya kita bisa dapat berapa angka?” tanya Ahsan tiba-tiba kepada Noah, saat Coach Adam sedang mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan arahannya di waktu istirahat yang singkat itu.
“Kalau melihat situasi dan gaya permainan Soetomo yang nggak berubah, harusnya kita bisa dapat angka lebih,” sahut Noah sambil mengelap keringat di lehernya, “ya … paling nggak … tiga digit bukannya nggak mungkin. Soalnya sepanjang tiga kuarter tadi permainan Soetomo sama sekali nggak ada perkembangan.”
“Jadi? Menurutmu kenapa kita nggak bisa nambah angka lebih banyak?” tanya Ahsan lagi.
Noah menatap wajah-wajah di sekelilingnya, di matanya mereka terlihat seperti sedang mempersiapkan perisai terbaik untuk menangkal kata-kata pedas yang kemungkinan akan memborbardir mereka.
Tak ingin bicara bablas tanpa filter lagi, Noah memutuskan untuk mengangkat bahunya sekilas, mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu dan tolong jangan bertanya padanya lagi.
“Kak, aku boleh ikut ngasi saran, nggak?” celetuk Igris tiba-tiba.
Mendapat anggukan dari Ahsan, Igris tak segan-segan lagi melanjutkan kalimatnya. “Untuk tim semacam Soetomo, aku rasa kita nggak perlu terlalu fokus ke defense. Bahkan jika dibiarkan pun, shoot mereka masih bisa gagal. Jadi, sebaiknya kita melakukan serangan cepat aja, fokus untuk menambah angka.”
Ahsan lalu mengangguk-angguk setuju untuk menanggapi Igris, sang Kapten itu pun kemudian mengerling Coach Adam yang hanya mengerucutkan bibirnya; sebuah tanggapan ambigu yang sulit dipahami, bahkan bagi seorang Ahsan.
___ ___ ___ ___ ___
[1] No look pass adalah teknik mengoper bola ke rekan tim tanpa melihat posisi rekan tim tersebut.
[2] Buzzer Beater adalah shoot/tembakan yang dilakukan saat waktu kuarter masih tersisa tapi bola baru masuk setelah waktu habis dan terdengar suara buzzer.