SMA Cendana vs SMA Soetomo

1853 Words
Dirga dan anggota kelas 11 lainnya bermain dengan cukup baik, tapi sepertinya Ilyas dan timnya memang sedang on fire. Entah apa yang mereka gunakan untuk membakar semangat para pemainnya, anak-anak Soetomo itu bermain seolah mereka sedang berada di babak final sebuah turnamen penting. Mereka bahkan tak segan-segan melesat dan menjatuhkan diri untuk menyelamatkan bola yang nyaris keluar. Kurang dari lima menit, skor sudah menjadi 12 – 19 untuk keunggulan Soetomo. “Lima angka lagi dan kalian semua harus masuk ke sini!” teriak Ilyas saat ia sedang berlari kembali untuk melakukan defense. Ia sengaja melewati sisi di mana Ahsan dan anggota kelas 12 lainnya sedang berdiri untuk menonton pertandingan dari pinggir lapangan. Dirga merasa harus melakukan sesuatu, ia tak rela dipandang rendah oleh para pemain Soetomo, dan lebih parah lagi, di hadapan para j.u.n.i.o.r Cendana. Bukan hanya Noah dan Igris, beberapa anak kelas 10 lainnya juga berbakat dan cukup mengancam posisinya sebagai pemain reguler. Jika tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin Dirga akan tersingkir, bahkan dari kursi pemain cadangan. Giliran Cendana menyerang. Dirga ingin segera menambah angka dan saat itu ia melihat Ello sudah mengambil posisi di luar garis three point. Ello cukup mahir melakukan tembakan dari jauh dan dia juga sudah mengangkat tangan untuk meminta bola. Tanpa pikir panjang, Dirga mengoper bola padanya, tapi tentu saja gerakan itu terlalu mudah ditebak. Salah seorang pemain Soetomo memotong operan Dirga dan langsung menggiring bola ke wilayah Cendana. Turnover[1] yang terlalu cepat dan tak terduga, sehingga Cendana belum sempat melakukan defense. Bola sampai ke tangan Ilyas, ia melakukan jump shoot ringan tanpa ada seorang pun yang melakukan blocking. Dua angka lagi berhasil ditambahkan untuk tim Soetomo. Dirga panik. Sudut matanya melirik ke arah Coach Adam, lalu Ahsan dan pemain inti lainnya, hingga kemudian terhenti di wajah para pemain baru di pinggir lapangan. Di antara mereka, ada Noah dan Igris yang terlihat begitu mengintimidasi, padahal saat ini lawan Dirga bukanlah mereka. Dirga tersentak saat peluit tiba-tiba ditiup, ternyata di pinggir lapangan Coach Adam meminta time out[2] setelah sekali lagi bola yang digiring pemain Cendana berhasil ditepis hingga keluar lapangan. Time out saat kuarter awal baru berjalan beberapa saat. Begitu dini? Apakah itu karena kesalahan Dirga? Dengan gontai, Dirga dan empat pemain kelas 11 lainnya melangkah keluar lapangan. Ahsan menepuk bahu Dirga, tapi ia bahkan tak berani mengangkat wajah untuk menatap kaptennya itu. “Maaf, Kak …,” ujarnya pelan. “Maaf apa? Ini baru permulaan, wajar kalau kalian belum panas,” hibur Ahsan dengan senyum ramahnya sambil lalu mengalihkan kalimatnya kepada Coach Adam. “Coach, aku masuk di kuarter akhir aja.” “Ok.” Coach Adam langsung setuju dengan permintaan Ahsan. “Dewa, Yuda, kalian masuk gantikan Dirga dan Evan,” instruksinya kemudian kepada dua pemain inti Cendana. “Sepertinya Dirga perlu mendinginkan kepala,” tambah Coach Adam lagi. “Jangan mengira hari ini sudah berakhir, aku mungkin akan memasukkan kalian lagi, jadi kalian harus siap kapan saja untuk dipanggil,” tambahnya sambil lalu menatap Evan dan Dirga bergantian. “Saat kuarter pertama berakhir, aku ingin situasi sudah berbalik. Jadi kita bisa lebih santai memasukkan anak kelas 10 secara bergantian di tiga kuarter berikutnya, tanpa perlu khawatir dikalahkan oleh Soetomo,” tegas Coach Adam. “Bisa?” “Tenang aja, Coach. Serahkan pada kami,” jawab Yuda sembari menyambut permintaan tos dari Dewa di sebelahnya. Mereka pun berbalik dan langsung memasuki lapangan saat Luna meniup peluit, pertanda waktu time out sudah berakhir. Kuarter pertama berakhir dengan tim Cendana yang berhasil membalikkan keadaan dengan skor 26 – 23. Itu berarti, dalam waktu kurang dari 5 menit di kuarter awal tadi, Cendana berhasil menambah 14 angka, sementara tim Soetomo hanya mampu menambah 4 angka. Di kuarter kedua, tim Soetomo mencoba untuk bangkit dengan memasukkan seluruh pemain inti mereka. Ketika Yuda dan Dewa tampak mulai sedikit kesulitan, Coach Adam memutuskan untuk menurunkan Wahyu dan Juan. Dengan begitu, kecuali Ahsan, seluruh pemain inti Cendana sudah berada di lapangan untuk menghadapi kekuatan penuh tim Soetomo. Yuda menggiring bola menuju area lawan, saat ia tiba di tengah lapangan, Ilyas menghadangnya. Yuda langsung mengirim bola kepada Juan di sisi kiri sebelum Ilyas sempat menekan. Setelah mengoper, Yuda berlari meninggalkan Ilyas, lalu Juan mengembalikan bola kepadanya sambil lalu masuk ke low post. Yuda menghentikan dribble-nya tepat di luar garis 3 point, dua pemain Soetomo langsung menghadangnya, mengira ia akan melakukan tembakan 3 angka. Yuda memang melompat, tapi ia tak melempar bola ke arah ring, melainkan memantulkan bola tepat di antara dua pemain Soetomo yang juga ikut melompat untuk menghalanginya. Bola yang terpantul itu adalah bounce pass[3] keras yang berhasil disambut oleh Wahyu. Tanpa membuang waktu, Wahyu melakukan penetrasi ke bawah ring, tapi saat ia melompat, lagi-lagi itu bukanlah untuk melakukan tembakan ke ring, melainkan sebuah operan kepada Juan yang menerimanya dengan baik sambil kemudian mengoper bola kembali ke luar garis 3 point, di mana Dewa sudah menunggu. Dewa tersenyum sangat lebar ketika menyadari bahwa teman-temannya sudah mempercayainya untuk mengambil spotlight serangan kali ini. Jump shoot Dewa adalah yang paling sempurna di antara pemain inti yang lain, persentase keberhasilan tembakan 3 angkanya juga merupakan yang paling tinggi di tim Cendana. Itu sebabnya, Ahsan dan yang lainnya sering mempercayakan tembakan 3 angka kepada Dewa. Bola masuk ke keranjang tanpa menyentuh bibir ring. Tiga angka lagi berhasil ditambahkan ke papan skor tim Cendana. Yuda melakukan tos kasual dengan Dewa sambil berlari kecil meninggalkan area lawan. Sementara itu, Ello yang tak sempat berperan dalam serangan yang barusan, memutuskan untuk menahan serangan Soetomo dari tengah lapangan. Ia adalah pemain kelas 11 yang sering disebut-sebut akan menggantikan peran Dewa di tim inti Cendana setelah anggota kelas 12 lulus nanti. Mengingat banyaknya pemain berbakat lain yang muncul tahun ini, Ello juga merasakan hal yang sama dengan Dirga. Ia harus melakukan sesuatu. Serangan Soetomo berhasil ditahan dengan defense ngotot Ello, Point Guard lawan kesulitan untuk bergerak maju atau pun mengoper bola kepada temannya. Hingga akhirnya Ello berhasil memukul bola yang sedang digiring lawan, sang Point Guard buru-buru mengejar bola yang terlepas dari tangannya. Namun tanpa ia sadari, ia sudah kembali ke area pertahanannya sendiri. Itu adalah sebuah backcourt violation[4]. Pelanggaran itu tak luput dari mata Luna. Cewek itu pun langsung meniup peluit dan menyatakan bahwa saat ini, bola sudah berpindah menjadi milik Cendana. Ilyas tak percaya timnya dipaksa melakukan pelanggaran backcourt. Pelatih Soetomo di pinggir lapangan akhirnya memutuskan untuk meminta time out, setidaknya itu bisa sedikit meredakan tekanan yang sedang dirasakan tim-nya. Di sisi lain, para pemain Cendana kembali ke pinggir lapangan dengan ekspresi puas di wajah mereka. Saat tim Soetomo sibuk menyusun strategi, tim Cendana tampak santai menghabiskan waktu untuk minum dan menyeka keringat sambil mengobrol ringan antara satu sama lain. “Kalian tahu apa yang dibilang Noah tentang penampilan kalian tadi?” tanya Ahsan tiba-tiba. “Apa? Dia ngomongin apa tentang kami?” sambar Dewa yang tampak sangat tidak nyaman, mengetahui bahwa adik kelasnya menggibah bersama sang kapten selama mereka berjuang di lapangan. “Aku minta pendapatnya di pertengahan pertandingan tadi, dan aku dibuat kaget. Nggak nyangka ada anak baru yang berani ngomong segamblang dia.” Ahsan mengatakan itu sambil agak terkekeh. Ia lalu menatap Noah sebelum kemudian mempersilakan anak kelas 10 itu untuk bicara langsung di hadapan para seniornya. “Noah …” Ahsan menyambung kalimatnya dengan mengedikkan dagu ke arah empat pemain inti, ditambah Ello, yang tampak menunggu dengan penuh antisipasi. “Kak Ahsan meminta saran dan kritik berdasarkan apa yang aku lihat, jadi aku benar-benar hanya menyampaikan pendapatku saja.” Noah memulai prolog. “Iya … ngerti … langsung aja. Apa?” desak Yuda lagi. “Kamu pasti mikir, ‘wah … ternyata senior-seniorku sehebat ini’. Gitu, kan?” tambahnya sambil lalu menyikut Noah sok akrab. “Cepat! Waktunya udah mau habis nih!” Dewa ngomel sambil menyeka keringat di lehernya. “Ok,” balas Noah. “Kak Juan, Kakak terlalu banyak lemak, tolong diet. Kak Yuda, terlalu banyak omong. Kak Wahyu, Kakak lamban, memangnya Kakak kira karena punya tubuh tinggi nggak perlu lompat? Kak Ello, main basket itu lima orang, tolong bergerak dan jangan cuma nonton aja. Kak Dewa …” Mulut Noah langsung dibekap dari belakang oleh Dirga yang mendadak panik. Wajahnya cemas menatap ekspresi orang-orang yang namanya disebutkan oleh Noah tadi tampak sudah sangat tidak santai. Sementara Juan dan Wahyu terlihat shock seperti telah kehilangan jiwa, Ello tampak menunduk malu seolah sedang mengharapkan ada lubang besar di bawahnya yang akan menelannya hingga menghilang dari muka bumi. Yuda cuma cengengesan salah tingkah, dan Dewa terlihat sudah siap meledak dalam hitungan detik. Untungnya, Luna memanggil para pemain untuk kembali ke lapangan dan Coach Adam langsung mendesak mereka semua untuk melanjutkan permainan di sisa kuarter kedua itu. “Noah … itu tadi berbahaya banget,” keluh Dirga setelah berhasil mengamankan situasi, “tadi kayaknya tanduk dan taring Kak Dewa udah keluar. Kamu bisa mati, tahu?!” “Aku kan udah bilang, itu cuma pendapatku. Lagian Kak Ahsan yang nyuruh buat disampaikan langsung, kan?” sahut Noah tanpa beban. “Iya, tapi minimal agak di-filter sedikit lah …” “Nggak apa-apa,” sambar Ahsan yang berada tak jauh dari mereka. Sang Kapten Cendana itu sedang berdiri di sebelah Coach Adam di pinggir lapangan, tapi ia mendengar pembicaraan Noah dan Dirga. “Sekali-sekali, mereka perlu dapat terapi semacam itu. Iya kan, Coach?” tambah Ahsan lagi, meminta persetujuan Coach Adam. Pelatih tim basket putra itu pun tertawa cukup keras sambil mengangguk puas. “Kalau saya dan Ahsan yang ngomong, mereka udah pada kebal,” sahut Coach Adam. Dan Noah hanya mengangkat bahunya sekilas, mengisyaratkan bahwa apa yang sudah ia lakukan tadi sepertinya memang tidak salah. Kuarter kedua berakhir dengan skor 56 – 37, masih untuk keunggulan Cendana. Tapi itu bukan keunggulan yang diinginkan Coach Adam. Selisih angkanya belum terlalu jauh. Skor itu masih rawan terkejar dan belum bisa dikategorikan sebagai skor aman untuk misi coba-cobanya. Coach Adam menginginkan skor yang bisa membuatnya bisa melakukan pergantian pemain dengan tenang, karena ia ingin memanfaatkan latih tanding ini untuk melihat kemampuan anggota baru tim basketnya. Itu sebabnya pada kuarter ketiga, Coach Adam memutuskan untuk memasukkan Noah dan Igris, lalu menarik keluar Ello dan Dewa yang memang sudah terlalu lama bermain hari ini. Jika formasi ini berhasil, ia berencana untuk mengistirahatkan Yuda juga, dengan mengirim kembali Dirga ke lapangan, sebelum pertengahan kuarter ketiga nanti. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Turnover merupakan istilah yang diberikan bagi situasi perpindahan bola di dalam permainan bola basket. Para pemain yang melakukan kesalahan, baik kehilangan bola maupun salah oper, maka akan tercatat sebagai sebuah turnover. [2] Time out adalah waktu istirahat yang diminta oleh satu tim ketika pertandingan sedang berjalan. Durasi yang diberikan dalam satu kali time out adalah 1 menit, biasanya digunakan untuk mengatur kembali strategi permainan ataupun untuk beristirahat sejenak. Setiap tim yang bertanding dapat mengajukan time out sebanyak lima kali. Rinciannya, dua kali time out di babak pertama dan tiga kali di babak kedua. [3] Bounce pass adalah salah satu teknik operan yang dilakukan dengan cara memantulkan bola dengan dua tangan ke lantai. [4] Backcourt violation adalah jenis pelanggaran di mana seorang pemain melakukan dribble kembali ke area pertahanan sendiri setelah melewati garis tengah lapangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD