His Name is Abimana Ragnala (2)

2097 Words
“Kamu mau berhenti?” tanya Noah hari itu. Di suatu sore ketika ia dan Abi sedang bermain basket seperti biasa di depan garasi rumah Noah. Awalnya dulu memang sempat ada hoop yang dipasang di depan rumah Noah, sebelum akhirnya dilepas oleh Nirwan, ayahnya. “Iya, aku kayaknya nggak bakat. Nggak ada perkembangan,” ujar Abi sambil melempar bola ke arah ring, dan gagal. Noah menangkap bola yang membentur bibir ring, sambil lalu menjepit bola di bawah lengannya. “Siapa bilang? Kamu main bagus kok,” tukasnya ngotot. “Aku bahkan nggak yakin pelatih ingat namaku.” Abi tertawa getir. “Nggak apa-apa sih, aku ikut basket juga cuma iseng aja.” “Iseng apanya? Bukannya kamu yang dulu ngajak aku gabung di tim basket?” Noah masih mengingat dengan jelas, waktu mereka masih mengenakan seragam merah putih, Abi sering berkeliaran di lingkungan sekolah sambil membawa bola basket mini, dengan bangga memamerkan cita-citanya untuk menjadi pemain basket profesional. Basket bukanlah olahraga yang populer di kalangan anak SD waktu itu, tak ada liga, tak ada kompetisi. Khususnya di SD tempat Noah dan Abi berada, boro-boro pelatih basket, mereka bahkan tak punya tim resmi. Hanya Abi dan beberapa siswa yang sering iseng main lempar-lemparan bola di lapangan basket sekolah yang lebih seperti pajangan itu. Dua ring basket di lapangan itu bahkan sudah tak berjaring, dan seringnya lapangan itu malah digunakan untuk bermain futsal. Abi sudah menyukai basket, bahkan sebelum Noah mengenal olahraga itu. Saat mereka masuk di SMP yang sama, Abi sangat bersemangat waktu mengetahui bahwa SMP Pelita memiliki tim basket yang cukup solid. Ia sudah lama memimpikan bermain basket dalam sebuah tim, memiliki pelatih, memiliki jadwal latihan tetap, memiliki rekan untuk memberi dan menerima passing. Tapi kemudian dia malah bilang kalau dia gabung di tim basket SMP Pelita cuma karena iseng? Mana mungkin Noah percaya. “Aku akan bicara dengan Pelatih,” tegas Noah. “Eh … Jangan,” cegah Abi cepat. “Kenapa? Dia cuma belum lihat kemampuanmu aja. Dia nggak tahu kamu udah main basket bahkan sejak kita masih SD.” “Itu cuma basket mini. Ukuran bolanya beda dan tinggi ring-nya juga beda.” “Pokoknya kan kamu duluan yang main basket daripada aku. Masa’ kamu berhenti sekarang?” Setelah mengucapkan sebaris kalimat itu, Noah panik. Padahal sampai beberapa saat lalu Abi masih mencoba tertawa, tapi kini sudah ada air yang berkubang di matanya. Anak laki-laki itu kemudian tertawa lirih, tapi air mata mulai lolos dan bergulir di pipinya. “Noah, aku malu …,” ujarnya kemudian, “padahal kan harusnya aku yang ngajarin kamu. Padahal harusnya aku lebih jago … kamu baru aja mulai main basket … kenapa malah kamu yang duluan jadi pemain tetap bahkan masuk tim inti? Aku ngerasa kayak orang bodoh ….” Noah hanya bisa tertegun di hadapan teman baiknya itu, memikirkan apa yang harus ia katakan untuk membuat Abi merasa lebih baik. “A-aku juga nggak terlalu jago, kok …,” bujuknya kemudian. “Aku juga masih belajar. Kamu pasti bisa main lebih baik, sebenarnya orang-orang cuma belum tahu aja ….” “Jangan menghiburku kayak gitu,” sela Abi sambil mulai mengelap wajah dengan bagian depan baju kaosnya, “itu sama sekali nggak membuatku merasa lebih baik.” “Abi ….” “Dari dulu, kamu memang selalu gitu. Apapun yang kamu lakukan selalu lebih unggul. Kamu ngakunya nggak belajar, tapi nilai ujiannya selalu bagus. Bilangnya nggak berusaha, padahal ujung-ujungnya pasti kamu yang menang.” Abi mencoba menarik napas di akhir kalimatnya dan membuatnya terdengar seperti sedang pilek. “Kamu pasti senang, kan?” sambung Abi lagi. “Melihat orang-orang bodoh kayak aku berusaha mati-matian. Mungkin berteman denganku cuma sekedar hiburan bagi kamu, supaya semakin kontras, kamu bisa kelihatan semakin hebat kalau disandingkan sama pecundang kayak aku.” “Ngomong apa sih?!” Noah melempar bola di tangannya ke kepala Abi, hingga remaja SMP itu terhuyung. Waktu itu, Noah memang sangat marah, ia marah karena Abi memiliki pemikiran seperti itu. Abi tak mengangkat wajahnya lagi, ia terus menunduk bahkan saat ia meninggalkan perkarangan rumah Noah sore hari itu. “Aku yang terlalu besar kepala, mengira kita berteman baik,” gumamnya lirih sambil berlalu pergi begitu saja. Noah tak memanggilnya. Noah kesal, ia merasa Abi sangat konyol. Jika kemampuannya tak terlalu hebat, bukankah dia hanya perlu berlatih lebih keras? Noah juga melakukannya, Noah berlatih keras setiap hari. Dan kalau pada akhirnya permainan Noah menjadi lebih baik, kenapa itu malah jadi kesalahannya? Saat duduk di kelas 8, Noah dan Abi sudah tak sekelas lagi. Abi selalu menghindari Noah, dan mereka tak pernah bicara lagi sejak hari itu. Meski begitu, Noah tahu Abi di-bully. Ia pernah melihat beberapa teman sekelas Abi melemparnya dengan kain pel yang copot dari gagang, lalu mereka semua tertawa seolah itu adalah candaan biasa yang harusnya juga ditertawakan oleh Abi. Lalu, suatu hari Noah juga pernah melihat Abi pulang dari sekolah dengan tanda X besar di bagian punggung seragam sekolahnya. Waktu itu, sekolah memang sedang memperbarui warna cat pada satu sisi dinding koridor sekolah. Saat para tukang cat sedang beristirahat, ember cat dibiarkan berada di pinggir koridor, lengkap dengan kuasnya. Ketika jam pulang sekolah, Abi berjalan melalui bagian koridor itu. Lalu sekelompok anak yang suka mengganggunya mengendap-endap di belakangnya sambil membawa kuas yang sudah berlumuran cat berwarna merah. Dengan aba-aba dari rekannya dan senyum usil di wajah mereka, dalam sekejap tanda silang dibubuhkan serampangan di punggung Abi, sebelum kemudian mereka semua tertawa lepas sambil berhamburan untuk melarikan diri. Abi mencoba menarik seragam putih pada bagian punggungnya untuk memeriksa apa yang sudah dilakukan anak-anak itu barusan tadi. Tapi … hanya itu. Tak ada yang bisa dilakukannya untuk membalas perbuatan mereka. Mendengar apa yang dialami Abi, sebenarnya Noah sangat marah. Tapi, harga diri dan kesombongan seorang remaja SMP bernama Noah, tak mengizinkannya untuk ikut campur. Noah merasa tak melakukan kesalahan apapun, tapi sikap Abi seolah mengisyaratkan bahwa Noah telah berbuat salah kepadanya. Tentu saja Noah tak ingin menjadi pihak pertama yang mendekati Abi. Jika ia lebih dulu mencampuri urusan Abi, bukankah itu kelihatannya jadi seperti Noah yang sangat ingin kembali berteman dengannya? Dalam pikiran Noah, Abi yang seharusnya datang padanya dan menyambung kembali persahabatan mereka. Abi yang seharusnya menyapa Noah lebih dulu karena hubungan mereka renggang juga karena Abi yang lebih dulu menjauhinya. Dengan keyakinan seperti itu, Noah tak pernah lagi bicara dengan Abi. Sampai pada pertengahan semester kelas 8, Abi pun pindah sekolah. Saat itulah rasa penyesalan tiba-tiba muncul dari dalam diri Noah. Ia menyesal karena belum sempat bicara dan belum sempat menanyakan apa kesalahannya. Apapun itu, setelah Abi menghilang dari hadapannya, Noah merasa kalau mungkin memang seharusnya dia meminta maaf saja. Terlepas dari siapa yang sebenarnya salah, Noah menyesal ia tak mengalah untuk mempertahankan persahabatan mereka. Tapi sudah terlambat, ketika Noah sudah siap menurunkan gengsi dan bersedia meminta maaf, ia sudah kehilangan kontak dengan Abi. Hingga sore ini… di SMA Cendana, akhirnya ia bertemu lagi dengan teman lamanya itu. Tapi bahkan sampai sekarang pun, saat Abi bersama teman-teman Soetomo-nya berada di aula basket Cendana, Abi masih menghindari Noah. Ketika sesekali mata mereka bertemu, Abi langsung menunduk, seperti orang yang kalah setelah pertandingan. Padahal Noah tak pernah merasa bertanding apapun dengannya. Namun jika diingat-ingat lagi, Noah mulai bisa sedikit memahami perasaan Abi dan kenapa dulu Abi marah padanya. Apa yang dirasakan Abi adalah apa yang mungkin juga dirasakan Raka. Tapi bedanya Abi dan Raka adalah bahwa Raka bisa bersikap lebih dewasa. Raka memutuskan untuk lebih fokus pada dirinya sendiri daripada fokus kepada Noah. Ia memilih untuk jadi lebih baik lagi tanpa harus menjadikan Noah sebagai standar yang harus ia raih. Sementara Abi, ia tanpa sadar menjadi terlalu fokus kepada Noah. Sebagai orang yang lebih dulu berlari, ia menjadi panik ketika Noah mulai menyusul dan malah berlari lebih cepat darinya, bahkan melewatinya dengan mudah. Sebenarnya Abi juga sudah menyadari betapa dirinya di masa lalu itu sangat konyol. Tak seharusnya ia menuntut Noah untuk berhenti sejenak dan menunggunya, hanya agar ia bisa menyusul dan berdiri di tempat yang sama tinggi dengan Noah. Tapi tentu saja, Abi juga baru menyadarinya sekarang, dan ia merasa sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya. “Ahsan!” Terdengar suara Ilyas menggema di aula saat ia melihat Kapten Tim Cendana itu muncul di mulut pintu ruang loker utama. Ternyata para senior sudah lebih dulu berada di aula untuk menunggu kedatangan lawan latih tanding hari ini. “Ah … Ilyas, sorry. Aku kira karena udah pernah ke sini, kamu bisa nemuin lapangan basket kami dengan mudah,” sambut Ahsan sambil menghampiri Ilyas dan langsung menjabat tangannya. “Aku kan baru satu kali ke sini. Lagipula, kurasa aku nggak akan pernah terbiasa dengan sekolah kalian yang terlalu luas ini,” sahut Ilyas lagi. Keakraban mereka terlihat alami dan tidak kaku sama sekali. Meski saat ini Ilyas berada di kelas 11 dan Ahsan di kelas 12, tapi sebenarnya mereka seumuran. Karena beberapa hal, Ilyas pernah mengulang sekolah satu tahun. Itu sebabnya ia jadi lebih tua setahun dari rekan-rekan seangkatannya. “Tapi sepertinya semua pemain bagus lari ke Cendana, ya.” Ilyas mengedarkan pandangan ke beberapa anak kelas 10 yang sedang menyiapkan lapangan untuk digunakan latih tanding sore ini. “Aku ngelihat wajah-wajah yang nggak asing,” Mata Ilyas berhenti sejenak di Igris dan Noah sebelum akhirnya ia menghempas napas. “Tapi tahun ini kami juga nggak mau kalah. Jadi kalian jangan anggap remeh,” sambung Ilyas lagi. “Kapan kami pernah menganggap kalian remeh?” balas Ahsan tulus, tanpa nada mengejek sedikit pun. Kedua kapten itu masih melanjutkan obrolan mereka selama beberapa saat sebelum kemudian Pelatih Soetomo memanggil anak-anak didiknya untuk berkumpul. Sementara itu, Pelatih Cendana, Coach Adam, juga sudah muncul di aula. “Aku bermaksud mengeluarkan pemain lapis kedua di awal permainan, bagaimana menurutmu?” Seperti biasa, Coach Adam memang selalu meminta pendapat Ahsan dalam beberapa rencana ataupun strategi yang dibuatnya untuk tim basket putra. “Nggak ada masalah sih, Coach,” sahut Ahsan santai. “Semuanya, kumpul dulu sebentar.” Ahsan tak perlu bersuara keras untuk memanggil para pemain Cendana yang berada di sekitaran aula. Tak butuh waktu lama, Coach Adam sudah berada di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain inti Cendana, sementara para ju.nior kelas 10 termasuk Noah dan Igris berada di lingkaran terluar. “Dirga, kamu pimpin tim lapis kedua, main aja dulu kayak biasa.” Coach Adam memulai arahannya kepada Dirga dan beberapa anak kelas 11 lainnya. “Sampai kira-kira lima menit, kita lihat perkembangan kondisinya nanti bagaimana. Main santai aja, ini cuma latih tanding. Gunakan kesempatan ini untuk melihat potensi Soetomo sebagai lawan di Liga Rookie nanti,” terang Coach Adam lagi. “Tapi, meskipun cuma latih tanding, aku nggak mau kalian kalah. Jika nanti situasinya terlihat payah, aku akan memasukkan para pemain inti secara bergantian, Dan jika memungkinkan, aku ingin mengetes kemampuan anak baru yang kemarin udah kita pilih.” Ada beberapa orang dari kelas 10 yang dianggap berpotensi untuk dimasukkan ke dalam daftar pemain reguler atau pemain tetap Cendana, dan Coach Adam bermaksud untuk menyeleksi para anak baru itu di latih tanding kali ini. Walau bagaimana pun, ia harus segera menemukan formasi skuat tim Cendana, minimal 10 pemain terbaik, yang akan ia ajukan untuk kompetisi mendatang. “Noah, Igris, kalian mulai lakukan pemanasan di akhir-akhir kuarter kedua,” instruksi Coach Adam langsung kepada dua pemain kelas 10 itu. Saat nama mereka disebut, refleks para senior yang berada di lingkaran terdalam bergerak untuk memberi ruang, agar Noah dan Igris bisa langsung berhadapan dengan Coach Adam yang berada di tengah lingkaran. “Siap, Coach.” “Ok, Coach.” Noah dan Igris menjawab nyaris bersamaan, namun pilihan kata mereka berbeda. Noah terdengar lebih kaku dengan menggunakan kata “siap”, sementara Igris terdengar lebih santai menggunakan kata “OK”, lengkap dengan senyuman lebar di wajahnya. Keputusan Coach Adam untuk mengeluarkan tim lapis kedua di kuarter awal membuat Ilyas sedikit tersinggung. Sebelum pertandingan dimulai, ia masih sempat memberi celetukan ringan. “Wah … jadi begini kamu memperlakukan temanmu?” sindirnya kepada Ahsan yang hanya menaikkan bahu sekilas dari pinggir lapangan. “Keputusan Pelatih, sorry,” jawabnya memberi alasan, disertai cengiran yang rada memelas. “Lihat aja, aku akan membuatmu menyesal karena mengirim tim lapis kedua untuk melawan kami.” “Nggak usah banyak omong,” sambar Dewa yang sedang melakukan peregangan tak jauh dari tempat Ahsan sedang berdiri. “Pokoknya, kalau kamu bisa unggul dengan double score di akhir kuarter, kami akan keluar melawanmu.” “Ok, lakukan aja pemanasanmu dengan baik,” tekad Ilyas sambil lalu mengambil posisi, tepat sebelum peluit tanda dimulainya pertandingan ditiup oleh Luna; yang berperan sebagai wasit untuk dua kuarter awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD