Raka menjitak kepala Noah lumayan keras. “Anak sombong s****n!” hardiknya murka.
“Jangan pernah berpikir buat ngelakuin itu. Mau sejauh apa kamu ngejatuhin harga diriku, ha? Jadi kamu harus lari lambat supaya aku bisa nyusul gitu? Itu sama aja dengan penghinaan. Awas kalau berani ngomong gitu lagi, aku bakal benar-benar marah!”
“Sorry … habisnya …”
“Udah pokoknya kamu nggak usah mikirin yang aneh-aneh. Lakuin aja apa yang kamu suka. Selama itu kegiatan yang positif, aku bakal selalu dukung kamu,” tegas Raka sambil kembali melakukan shoot dan lagi-lagi bola membentur papan tanpa menyentuh ring. Tapi ia langsung berlari untuk menangkap bola dan mengulangi hal yang sama.
Selama Raka sedang mencoba memasukkan bola ke keranjang dengan tembakan asal-asalannya, Noah hanya berdiri di tempatnya sambil mengamati Raka. Dari sekian banyak percobaan yang ia lakukan, Raka hanya berhasil memasukkan satu bola. Hingga akhirnya lelaki itu menghentikan usahanya dengan napas yang sudah tersengal-sengal.
Ia menjepit bola di bawah lengan sambil mengelep keringat dengan punggung tangannya. “Nggak usah drama. Jangan ngelihatin aku kayak gitu. Risih tahu,” katanya berlagak ketus.
“Ternyata kamu memang kakak yang baik.” Noah tersenyum sambil mengutarakan apa yang terlintas di benaknya.
Raka tergagap dan ia mendadak jadi salah tingkah. Karena tak tahu harus bagaimana memberikan tanggapan yang natural, akhirnya Raka membuang bola di tangannya dan langsung memiting leher Noah.
"Baru sadar kalau aku ini kakak yang baik, ha? Udah dibilang nggak usah drama,” gerutunya dengan perasaan haru yang sengaja ia samarkan.
“Hei …!”
Tiba-tiba suara yang tidak asing memanggil dari kejauhan. Saat Noah dan Raka menoleh, mereka menemukan Lisa muncul dari ujung jalan sambil mengendarai sepeda.
Gadis itu menambah kecepatan, mengayuh dengan full energi demi menghampiri dua bersaudara di lapangan basket itu.
Lisa mencagak sepedanya sambil protes. “Kok nggak bilang hari ini ada rencana main basket bareng?” kesahnya saat ia sudah tiba di hadapan mereka.
“Eh … anak voli nggak usah ikut-ikutan.” Raka mengibas-ngibaskan tangannya dengan gesture mengusir Lisa.
“Heh! Gini-gini juga basketku masih jauh lebih baik dari Kakak,” klaim Lisa ngotot.
“Wah … nantang nih.”
“Ayo sini 1 on 1 kalau berani.”
“Nggak usah banyak gaya, main aja masih berantakan,” potong Noah sambil mejentikkan jarinya ke kening Lisa dan gadis itu pun langsung meringis sambil mengusap-usap keningnya. “Peraturan basket aja masih belum paham, sok nantang 1 on 1. Udah berapa kali aku bilang kalau dribble jangan sampai double[1]. Shoot itu bukan kayak ngelempar mangga di pohon tetangga, ada caranya.”
“Cerewet ah … pokoknya bolanya masuk, kan?!”
“Ya basket bukan cuma soal masukin bola ke ring.”
“Bodo amat. Aku kan pemain voli.”
“Hishh… anak ini.”
* * *
Jarum jam bahkan belum menunjukkan pukul 6 pagi, tapi Noah sudah meninggalkan asrama menuju ke sport section untuk latihan pagi yang akan dimulai dua setengah jam sebelum bel masuk sekolah berdering.
SMA Cendana mewajibkan tiap klub ekstrakurikuler, termasuk semua klub cabang olahraga, untuk menentukan jadwal pertemuan setiap minggunya. Tapi khusus untuk klub olahraga, sebagian besar akan memperketat jadwal latihan. Tim basket Cendana, baik putra maupun putri, menjadwalkan latihan setiap hari. Mulai dari Senin sampai Jumat, setiap jam 6 pagi dan jam 3 sore dengan durasi masing-masing 2 jam.
Jadi jika ditotalkan, dalam sehari tim basket harus meluangkan waktu selama 4 jam untuk latihan. Namun, tentu saja jika ada yang ingin latihan di luar jam itu akan diperbolehkan, selama mendapat persetujuan dari kapten, wakil kapten, atau pun langsung dari pelatih.
“Jangan lama-lama, sebentar lagi Coach datang.”
Terdengar suara seseorang dari dalam sebuah ruangan klub yang baru saja dilalui Noah. Noah menoleh untuk membaca tulisan di bagian depan pintu ruangan itu.
Badminton Club.
Di saat yang bersamaan, pintu menjeblak terbuka dan seseorang yang Noah kenal keluar dari dalamnya. Itu Rihan. Ia tampak sedang sibuk mencatat sesuatu bahkan sampai tak menyadari ketika ia melintas di hadapan Noah.
“Hoi,” panggil Noah sambil melepas salah satu earphone yang sedang ia kenakan. Rihan berbalik, tapi ia tak menghentikan langkahnya.
“Eh, Noah, sorry aku buru-buru. Sampai ketemu di kelas, ya.” Ia hanya mengatakan itu sebelum berlari kecil meninggalkan Noah.
Saat Noah sedang menduga-duga mengapa Rihan harus tergesa-gesa seperti itu, terdengar suara beberapa orang yang tertawa dari dalam ruangan klub yang baru saja ditinggalkan Rihan.
“Si bodoh itu, dia pikir cuma gara-gara masuk di Kelas S dia bisa dapat posisi enak di klub ini.”
“Paling juga akhir tahun nanti kursinya direbut orang lain.”
“Anak gembel aja belagu.”
Hanya dari beberapa kata yang berhasil didengar Noah, ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Rihan dirundung di klubnya.
Noah baru saja berniat untuk melanjutkan langkahnya menuju gedung aula basket, dan di saat yang bersamaan, beberapa orang keluar dari ruang klub badminton itu. Mereka mengobrol sambil bercanda satu sama lain, lalu salah seorang dari mereka memasukkan sebuah tas raket ke dalam tempat sampah yang mereka lalui.
“Hei,” panggil Noah hampir seperti reaksi refleks.
Ada empat orang dari mereka yang menoleh, tapi yang menghentikan langkah hanya satu orang saja.
“Siapa?” tanya seseorang yang berjalan paling depan.
“Nggak tahu, anak basket kayaknya.”
“Ah. Olahraga cuma buat gaya-gayaan. Bisa ditebak sih, cuma anak basket yang penampilannya kayak dia,” sahut seorang lainnya disambut tawa teman-temannya.
“Ha? Bukan salahku kan, kalau kalian nggak mampu beli peralatan olahraga mahal.” Noah, dengan kedua tangan di dalam saku celana traningnya, sengaja menghentak-hentakkan ujung tapak sepatu bermerek miliknya ke tanah; pose sombong yang sudah biasa baginya jika ingin nge-mock orang.
“Mau apa sih anak ini?! Kalian kenal?” Salah seorang dari anggota klub bulu tangkis itu pun mulai terprovokasi.
“Nggak tahu ini, tiba-tiba muncul nyari masalah,” timpal temannya lagi.
“Kalian duluan yang mulai ngatain anak basket.” Noah setengah bergumam sebelum memutuskan untuk menyudahi provokasinya. “Padahal aku cuma penasaran, itu tasnya kelihatan masih bagus, kenapa masuk tong sampah?”
“Bukan urusanmu,” tukas salah satu dari mereka yang sejak tadi terlihat paling kesal.
“Oh … itu tas kalian?” tanya Noah lagi.
“Aku bilang bukan urusanmu, kan?! Minta dihajar nih anak songong.”
“Ok.” Noah mengerucutkan bibirnya sambil mengeluarkan hp dari saku celana, dan langsung mengambil foto tas di tempat sampah itu; satu frame dengan rombongan anggota klub bulu tangkis yang ada di hadapannya.
“Ngapain kamu?!” Mereka tampak cukup kaget dan tak menduga Noah akan mengambil foto.
“Ngambil barang bukti,” jawab Noah sambil mulai melakukan zooming ke wajah sekelompok anggota klub di hadapannya. “Kalau ada yang kehilangan tas, kan aku tinggal tunjukin foto ini.”
“Apa sih, b******k!” Salah seorang dari mereka sudah mulai menjatuhkan tas raketnya dan tampak sangat ingin menyerang Noah.
“Oh … mau berantem? Nggak apa-apa sih, aku bisa rekam dari awal, biar kelihatan siapa yang lebih dulu memulai perkelahian.” Noah masih mengarahkan kamera hp-nya ke arah anggota klub bulu tangkis yang kini mulai ciut nyalinya.
Sekelompok orang itu pun saling bertatapan sebelum akhirnya salah seorang dari mereka memutuskan untuk mengambil kembali tas raket dari dalam tempat sampah, lalu melangkah cepat kembali ke ruangan klub dan langsung melemparnya masuk dari ambang pintu.
Seseorang yang berdiri paling jauh di depan, kini melangkah menghampiri Noah dengan senyum yang tampak sangat alami.
“Aku Andi, Kapten klub bulu tangkis,” tuturnya memperkenalkan diri, namun kedua tangannya masih tersimpan di dalam saku celana dan sepertinya ia tak berniat mengulurkan tangan untuk menawarkan jabat tangan.
“Anak-anak cuma bercanda aja, biasalah …” tambah Andi lagi. “Ini masih semester awal, sebaiknya kita nggak nyari sensasi yang nggak perlu, iya kan?”
Noah menatap Andi tanpa menurunkan dagunya. Sebenarnya ia paling benci berurusan dengan orang yang senyumnya mirip rubah seperti ini.
Karena Noah tak mengatakan apa-apa; meskipun ia sudah berhenti mengarahkan kamera kepada anggota klub bulu tangkis, Andi berinisiatif untuk kembali meyakinkan Noah bahwa tak ada gunanya klub basket mencari masalah dengan klub bulu tangkis.
“Aku juga siswa Kelas S, tepatnya Kelas 12-S. Aku kenal baik dengan Ahsan, dia juga pasti udah paham dengan situasi semacam ini.” Andi kembali melanjutkan kalimatnya dengan menyebut nama kapten tim basket. “Jadi boleh tolong hapus dokumentasi barusan?”
Noah mendengus menahan tawa, seolah melecehkan sang kapten yang akhirnya menunjukkan maksud dari kata-kata persuasifnya sejak tadi. Ia lalu menghapus foto dan video yang berhubungan dengan kejadian tadi dari galeri hp-nya, sebelum kemudian menunjukkan layar hp itu kepada Andi.
“Aku juga malas bikin masalah,” tuturnya kemudian. “Sudah kuhapus semua. Kamu boleh periksa lagi kalau nggak percaya.”
“Oh … nggak perlu. Aku percaya kok, kamu orang yang bijak.” Andi tersenyum lebih lebar kali ini. Noah bersumpah, orang ini adalah orang yang sangat licik, ia tak mau berurusan dengannya.
Rombongan klub bulu tangkis itu pun akhirnya berlalu pergi; dengan beberapa di antara mereka terlihat masih mengirimkan tatapan kesal sekaligus mengancam ke arah Noah.
Tapi Noah tak mau ambil pusing, ia berbalik dan langsung meninggalkan tempat itu.
.
Noah tidak terlambat saat ia tiba di aula. Meskipun seluruh anggota tim basket sudah datang dan waktu sudah menunjukkan jam 6 lewat lima menit, tapi sepertinya Ahsan belum mengumpulkan para anggota untuk memulai menu latihan yang biasanya memang sudah disiapkan.
Saat latihan, biasanya lapangan di aula akan dibagi dua, masing-masing untuk tim putri dan tim putra. Tapi jika ada pertandingan, maka akan digunakan satu lapangan penuh. Tim yang tidak bertanding, dengan terpaksa harus mengungsi atau melakukan latihan yang tidak menggunakan lapangan basket, seperti misalnya latihan fisik.
Di dalam aula itu sendiri disediakan 6 buah ring, dua ring utama dan empat ring portable hidrolik yang bisa digeser dan dipindah sesuai kebutuhan.
Entah ini termasuk diskriminasi atau apa, tapi memang Cendana hanya menyediakan ruangan klub dengan fasilitas lengkap khusus untuk klub-klub olahraga yang berprestasi, seperti basket dan sepak bola.
Untuk klub basket sendiri, diberikan satu aula atau gelanggang olahraga dengan dua ruang ganti yang lebih sering disebut ruang loker, yaitu Ruang Loker Utama dan Ruang Loker Kedua yang letaknya saling berseberangan.
Dan saat ini Noah baru saja memasuki ruang loker utama, sudah ada beberapa orang di dalamnya. Ada tiga barisan loker di tengah ruangan dan dua baris lagi yang menempel pada dinding sisi kiri dan kanan ruangan. Jadi totalnya ada 5 baris loker di ruangan itu dengan sebuah bangku panjang pada tiap lorong yang memisahkan barisan unit loker.
Noah menemukan namanya berada di loker nomor tiga dari ujung. Masing-masing loker sudah ditandai dengan papan nama pemiliknya, meski papan nama anak-anak baru masih berupa sticker yang bisa dicopot; karena umumnya anak baru sering mundur dari klub setelah mengikuti beberapa hari kegiatan latihan.
Ruang loker utama ini memiliki interior yang lebih mewah bernuansa biru langit dan dilengkapi dengan beberapa bilik shower. Sedangkan ruang loker kedua, ukurannya memang lebih kecil, tapi levelnya sudah melebihi standar ruang loker klub olahraga anak SMA pada umumnya.
Meski tanpa fasilitas shower, tapi ruang loker kedua tergolong luas dan nyaman, lengkap dengan dispenser minuman dingin dan panas yang selalu tersedia, serta air conditioner dan unit-unit loker vertikal yang tingginya mencapai 183 cm dan masih berfungsi dengan baik.
Karena fasilitas ruang loker utama lebih baik, maka diputuskan bahwa tim yang berhak menggunakan ruang loker utama adalah tim yang lebih berprestasi. Akibatnya, saat ini ruang loker utama digunakan oleh tim basket putra, sementara ruang loker kedua digunakan oleh tim basket putri.
Pembagian ruang loker itu belum pernah berubah satu kali pun, karena sejak dibentuk sampai saat ini, prestasi tim basket putri belum pernah berhasil mengungguli tim basket putra.
Untuk tahun ini saja, tim basket putri seperti diambang pembubaran. Setelah pemain kelas 12 “pensiun”, hanya tersisa enam anggota saja di tim putri, dan hanya ada dua anggota baru yang bergabung dari kelas 10. Saat tiba waktu latihan, kadang hanya tiga atau empat orang saja yang muncul.
“P-Pagi … No-Noah … Noah … Diaz … “ Zikri, yang kebetulan letak lokernya bersebelahan dengan Noah, memberanikan diri untuk menyapa, meski ia cukup shock mengetahui bahwa loker Noah berada di sebelahnya.
“Pagi,” sambar Noah yang mulai kesal menghadapi reaksi Zikri setiap kali bertemu dengannya. “Panggil Noah aja, nggak perlu sebut nama lengkap,” tambahnya lagi.
Zikri baru saja membuka mulut untuk meminta maaf, tapi ia disela oleh seorang siswi berkacamata yang muncul tiba-tiba di pintu ruangan itu.
“Kelas 10 tolong bantu siapkan bola dan papan skor,” ujar gadis itu dengan suara altonya.
Noah tidak mengenalinya; dia tidak ada waktu tes kemampuan kemarin.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Pelanggaran double dribble adalah kembali menggiring bola setelah berhenti dan menyentuh bola dengan kedua tangan secara bersamaan. Untuk menghindari pelanggaran ini, setelah menggiring bola, maka seharusnya bola diumpan atau ditembakkan.