“Kelas 10 tolong bantu siapkan bola dan papan skor,” ujar seorang siswi berkacamata bersuara alto. Noah tidak mengenalinya; dia tidak ada saat tes kemampuan kemarin.
“Oh … Ok, Kak Luna.” Berbeda dengan Noah, sepertinya Zikri sudah mengenali siswi berkacamata yang ternyata bernama Luna itu.
Menyadari bahwa Luna adalah seorang senior, Noah memutuskan untuk mengaktifkan mode sopan.
“Ok, Kak,” balas Noah kemudian. “Kak Ahsan dan Pelatih udah datang?”
Luna mengerutkan dahinya sambil melempar tatapan jengkel kepada Noah. “Kalau udah waktunya latihan ya harusnya kalian udah bersiap, jangan malah ngobrol di ruang loker. Kak Ahsan dan Coach Adam ada keperluan di TU (Tata Usaha). Kalian nggak dengar tadi Kak Juan udah nyuruh nyiapin lapangan dan lanjut pemanasan?”
Zikri dan Noah hanya bisa terdiam sambil melongo, menghadapi emosi Luna yang tiba-tiba meledak.
“Anak baru tahun ini pada nggak punya kesadaran, semuanya merasa istimewa dan nggak bisa diharap….” Sambil menggerutu, cewek itu berlalu pergi tanpa menoleh lagi.
Noah membuka jaket dan earphone-nya, menyimpan semua barang-barang yang tak berhubungan dengan basket di dalam loker sebelum kemudian meninggalkan ruangan itu, diikuti Zikri.
“Itu tadi Kak Luna, senior kelas 11, dia manager klub basket putra.” Sambil berjalan agak di belakang Noah, Zikri memberi informasi tanpa diminta. “Dia sempat berada di Kelas S waktu kelas 10, tapi …”
“Terlalu banyak informasi,” sela Noah, “tolong agak dikurangin kebiasaan ngomongin orang saat yang diomongin itu nggak ada di sini.”
Zikri refleks membekap mulutnya sendiri sambil menatap Noah dengan rasa bersalah.
“Biar aku yang ambil bola, kamu urus papan skor aja,” kata Noah lagi sambil mulai menyibukkan diri ketika mereka sudah tiba di gudang.
Ia membiarkan Zikri mendorong papan skor berukuran sedang yang sudah dilengkapi roda pada kaki-kakinya, sementara Noah menarik sebuah cart besi portable berisi puluhan bola-bola basket untuk dibawa ke lapangan.
Luna sudah menunggu pada satu sisi aula dan melambaikan tangan agar Zikri dan Noah menghampirinya. Suasana aula pagi ini agak ramai karena sepertinya tim putri sedang menyambut anggota baru mereka.
Sementara tim putra tampak sedang membagi lapangan, dengan menurunkan ring basket hidrolik di sisi kiri dan kanan lapangan. Tampak beberapa anggota tim putra yang baru saja kembali memasuki aula, setelah selesai berlari mengelilingi area Sport Section atas instruksi Juan sebagai wakil kapten.
Di antara mereka, tampak Igris sedang bersenda gurau dengan Steven, Heru dan beberapa anggota kelas 10 lainnya sambil menyeka keringat.
Igris sempat bertemu mata sesaat dengan Noah, ia lalu melempar senyumnya yang biasa, tapi Noah tidak suka senyum itu.
Ia membencinya.
“Hei, fokus.” Luna mengetuk kepala Noah dengan ujung pulpennya dan berhasil membuat Noah kembali menatap ke arahnya. “Kamu dengar nggak yang barusan aku bilang?” tanya cewek itu lagi.
“Sorry, Kak.”
Luna menghela napas. “Lain kali kalau senior lagi ngomong tolong diperhatikan.”
“Kalau senior lagi ngomong aja? Kalau yang bukan senior, aku boleh nggak perhatiin?”
“Heh!” Luna kembali mengetuk kening Noah dengan pulpennya, cukup keras hingga bunyinya terdengar jelas. “Ya nggak gitu juga!”
Noah mengusap-usap keningnya yang sebenarnya tak terasa sakit. Jika boleh jujur, saat ini bukan perlakuan Luna yang membuat Noah merasa kurang nyaman, melainkan beberapa pasang mata milik senior kelas 11 yang sesekali mencuri pandang menatap Noah sambil berkasak-kusuk.
Ada kata yang cukup mencolok dan berhasil ditangkap telinga Noah dari kasak-kusuk mereka, yaitu kata dominant alpha dan ultimate alpha.
Noah tak mengerti mengapa istilah alpha itu jadi dikait-kaitkan dengan dirinya, tapi yang pasti, kesimpulan yang bisa diambil Noah saat ini adalah bahwa Luna cukup populer di kalangan anggota klub basket. Dan para senior kelas 11 itu sedang melampiaskan ketidaksukaan mereka terhadap kedekatan Luna dan Noah.
“Aku bilang, minggu depan udah mulai ada jadwal piket untuk persiapan awal dan akhir latihan,” Luna kembali mengulangi rentetan penjelasannya, “dan jadwal piket ini cuma untuk anak kelas 10. Selama jadwal piket belum disusun, siapa yang lebih dulu datang, dia yang harus bantu-bantu menyiapkan perlengkapan latihan termasuk menaikkan dan menurunkankan Ring. Dan karena pagi ini, kamu, dan beberapa anak kelas 10 lainnya sudah membantu, jadi nanti pas selesai latihan kalian nggak perlu lagi bantu beres-beres, paham?”
“Paham, Kak,” jawab Noah bersamaan dengan Zikri.
Noah tak tahu bahwa sesaat setelah ia tiba tadi, Juan mengumpulkan semua orang untuk mengumumkan beberapa hal. Karena Noah dan Zikri masih berada di ruang loker, mereka jadi ketinggalan informasi.
Itu sebabnya, Luna mengulangi beberapa poin yang tadi sempat disampaikan oleh Juan kepada anggota lainnya.
“Hari ini akan ada latih tanding dengan SMA Soetomo, barusan Kak Ahsan mendapat konfirmasi bahwa mereka akan datang sore nanti,” terang Luna lagi.
“SMA Soetomo, the fallen powerhouse?” celetuk Zikri.
“Hush! Jaga omonganmu.” Luna memukul lengan Zikri, kali ini dengan gulungan kertas di tangannya.
Sebenarnya Zikri hanya refleks mengucapkan julukan yang kini melekat pada SMA Soetomo. Hanya saja, mungkin Luna menganggap itu sebagai bentuk ketidaksopanan terhadap tim basket legend seperti SMA Soetomo.
Sekolah itu, bersama dengan SMA Amal Bakti, adalah yang memprakarsai diadakannya Liga Rookie untuk basket SMA.
Soetomo pernah sangat ditakuti di tiap pertandingan karena mereka langganan masuk final, dan pernah menjadi juara bertahan di Liga Rookie selama lima tahun berturut-turut.
Tapi itu dulu, sudah lama sekali. Akhir-akhir ini, tak satu trofi pun berhasil mereka angkat. Bahkan Liga Rookie yang dulu menjadi panggung mereka kini malah didominasi oleh Cendana.
Terakhir kali Soetomo mendapatkan prestasi yang cukup baik adalah sekitar empat tahun lalu, ketika tim basket putranya berhasil lolos sampai ke babak semifinal di SOG.
“Mereka pernah menjadi salah satu yang terbaik. Saat Tim Soetomo tiba sore nanti, aku nggak mau ada satu pun di antara kalian yang bersikap nggak sopan terhadap mereka.” Luna kembali memperingatkan Noah dan Zikri di hadapannya.
“Sekarang kalian siap-siap lari, tanya rutenya sama Kak Juan. Mungkin dia bakal nyuruh kalian lakukan double, dua kali porsi lari yang lainnya. Anggap itu sebagai hukuman karena terlambat,” lanjut Luna.
“Tapi kan kami nggak terlambat.” Noah setengah menggumam, masih ingin membela diri. “Kami cuma nggak tau aja kalau Kak Juan mengumpulkan semua orang di lapangan.”
“Makanya lain kali kalau udah jam 6 teng, kalian tuh udah harus ada di lapangan. Bukan malah berpencar ke sana kemari.” Lagi-lagi Luna mau menggeplak ubun-ubun Noah dengan gulungan kertas di tangannya.
Melihat Noah yang mengernyit sambil mengangkat kedua bahu dan menunduk; seolah hendak mempersiapkan diri menerima pukulan Luna, cewek itu jadi merasa tidak tega.
“Pokoknya, lain kali kalau udah tiba di aula, jam 6 pas kalian udah harus standby di lapangan. Karena senior pasti akan menyuruh kalian berkumpul untuk menyampaikan beberapa informasi penting, seperti menu latihan dan sebagainya. Ngerti?!”
“Ngerti, Kak,” sahut Noah pelan. Melalui ekor matanya, ia menangkap Igris dan gerombolannya tadi sedang saling berbisik sambil lalu tertawa dan sesekali menatap ke arah Noah dan Zikri.
“Jadinya kalau mereka lari keliling Sport Section satu kali, kami harus lari keliling dua kali, Kak?” Sementara Zikri menanyakan detail, perhatian Luna teralihkan.
Ahsan dan Coach Adam baru saja muncul di pintu aula. Cewek itu refleks merapikan rambut dan seragamnya sebelum kemudian meninggalkan Noah dan Zikri dengan hanya berkata singkat, “Tanya sama Kak Juan.”
Ia lalu berjalan cepat menghampiri Ahsan. Wajahnya yang sejak tadi jutek saat berhadapan dengan Noah dan Zikri, kini tampak sangat berbinar ketika ia sedang mengobrol dengan Ahsan.
Noah memutar bola matanya sambil menghela napas, ia tak butuh waktu lama untuk memahami apa yang sedang terjadi di klub basket Cendana ini. Manager cantik, judes, idola para pemain yang menyukai sang Kapten.
Noah sampai harus meyakinkan dirinya bahwa skenario ini memang benar terjadi, dan dia tidak sedang masuk ke dunia komik ber-genre sport yang dulu sering ia baca.
.
Berbeda dengan para senior yang bisa langsung mandi di ruang loker setelah latihan, Noah dan anggota kelas 10 lainnya harus kembali ke asrama untuk mandi setelah selesai latihan pagi, kalau tidak mau terlambat mengikuti pelajaran di kelas.
Hanya ada empat shower di Ruang Loker Utama, makanya antrian untuk menggunakan shower jadi panjang. Soalnya ada tiga orang senior kelas 12 yang diutamakan, dan ada sekitar delapan orang senior kelas 11 yang tentu saja akan mendapat giliran berikutnya.
Jadi, para anggota kelas 10 harus rela balik ke asrama dan bersih-bersih lalu kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
Sebenarnya tidak ada peraturan tertulis yang mengatur soal prioritas atau giliran dalam menggunakan shower, tapi tentu saja, menghormati senior dalam klub olahraga di Cendana sudah menjadi hal yang lumrah.
“Kamu pakai aja dulu kamar mandinya, aku masih ada PR yang belum selesai.” Igris menawarkan kepada Noah untuk mandi lebih dulu saat mereka sudah kembali ke kamar asrama.
“Thanks,” ujar Noah sambil menyambar handuknya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Terdengar bunyi notifikasi dari smartphone Igris, itu adalah sebuah file foto yang dikirimkan oleh Steven. Karena posisi colokan listrik yang agak jauh dari tempat Igris sedang duduk, kabel charger-nya tidak sampai, jadi dia harus melepaskan charger dari hp yang dayanya tinggal 15% itu, membiarkan adapter tetap berada di stop kontak agar ia bisa kembali mengisi daya setelah selesai melihat pesan yang dikirimkan Steven.
Foto yang dikirimkan Steven adalah foto lembaran tugas Bahasa Inggris yang sudah diisi jawabannya. Itu adalah contekan untuk menyelesaikan PR (Pekerjaan Rumah) Igris.
Tidak butuh waktu lama bagi Steven untuk menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan mata pelajaran itu. Steven, siswa kelas 10 reguler yang mengaku pernah satu tim dengan Noah waktu SMP itu, adalah anak blasteran. Ibunya berasal dari Inggris, itu artinya Bahasa Inggris adalah bahasa kedua baginya. Sementara Igris paling lemah dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
Itu sebabnya, ia merasa bahwa dekat dengan Steven akan cukup menguntungkan baginya, setidaknya untuk satu mata pelajaran itu saja.
Apa boleh buat, Igris bukan anak orang kaya, keluarganya biasa-biasa saja, kemampuan akademisnya juga biasa-biasa saja. Dengan kata lain, dia cuma berbakat main basket. Agar bisa bertahan di Kelas S dan mempertahankan beasiswa selama 3 tahun, Igris harus bisa melakukan apa saja, termasuk mencontek PR milik temannya.
Saat Noah selesai mandi, Igris langsung meninggalkan kegiatannya di meja belajar dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Masih ada sedikit jawaban yang belum selesai ia salin, dan ia tak mau terlambat masuk kelas, jadi ia bermaksud mandi kilat lalu kembali melanjutkan mengerjakan PR.
Sambil mengeringkan rambutnya, sudut mata Noah mengerling meja belajar Igris, di mana buku tulisnya sedang tergeletak berdekatan dengan layar hp yang masih menyala.
Tanpa sengaja Noah melihat apa yang ada di layar hp milik Igris; bahwa itu adalah contekan pelajaran, dan Igris menyalin semua jawaban di foto itu ke buku tugasnya.
Noah tak ingin menghakimi Igris, ia sudah terbiasa menghadapi anak sekolahan yang datang pagi-pagi hanya untuk menyalin tugas milik teman sekelasnya.
Waktu SMP dulu, buku tugas Noah bahkan sudah seperti benda pusaka yang diletakkan di tengah meja, sementara teman-teman sekelasnya menggerubungi buku itu untuk menyalin jawaban.
Noah tidak keberatan, selama itu bukan ujian. Baginya, itu tidak penting. Masa depan seperti apa yang menanti mereka setelah tamat sekolah, Noah tidak peduli.
Mereka punya kesempatan untuk belajar dan mengumpulkan ilmu selama duduk di bangku sekolah, anggap saja itu bekal sebelum mereka memulai perjalanan. Sebanyak apa bekal yang mereka persiapkan, seenak apa bekal yang akan mereka nikmati nantinya, semua itu adalah tanggung jawab mereka masing-masing.
Bahkan jika mereka lulus dan keluar dari sekolah tanpa membawa “bekal” sama sekali, itu bukan urusan Noah.
Jadi jika mereka ingin mencontek, selama nilai Noah tidak berkurang, tidak masalah bagi Noah.
Sesaat setelah Noah menyandang tas ranselnya dan bersiap untuk memakai sepatu di depan pintu, perhatiannya terfokus pada pemberitahuan yang muncul di layar hp Igris.
Baterai Lemah. Hubungkan Pengisi Daya.
Mata Noah beralih ke adaptor charger yang masih menempel pada stop kontak, tapi ujung kabelnya tidak terhubung ke hp Igris. Teman sekamarnya itu tak akan punya banyak waktu untuk mengisi daya hp, jika benda itu baru di-charge saat ia keluar dari kamar mandi.
Itu sebabnya Noah berinisiatif menyambungkan kabel charger ke hp Igris di atas meja, sebelum kemudian melangkah ke pintu untuk memakai sepatu dan berangkat ke sekolah.
- - -