Random Chatter

1947 Words
“Noah! Sini!” Seseorang memanggil Noah saat ia sedang celingukan mencari meja kosong di kantin pada jam makan siang. Noah menoleh mengikuti arah suara yang memanggilnya dan menemukan wajah-wajah yang ia kenal di sudut kantin. Di meja panjang dekat jendela, paling ujung, ada Hamid; salah seorang anggota baru tim basket. Kemudian ada Zikri dan temannya yang pernah bertemu dengan Noah di toilet beberapa hari lalu, Said. Noah membawa nampan stainless yang berisikan paket makan siangnya menuju meja di paling sudut itu. “Thanks,” ujarnya sambil duduk di salah satu kursi yang kosong, berhadapan dengan Hamid. Hamid menyikut Said saat Noah tak melihatnya, mata Hamid mengisyaratkan protes karena Said sudah mengajak Noah bergabung dengan meja mereka. “Hari ini rame banget,” Zikri mencoba membuka obrolan dengan Noah, “untung masih ada kursi yang kosong.” Hanya berselang beberapa saat setelahnya, ada tiga orang lagi yang muncul di belakang Noah. Masing-masing mereka membawa paket makan siang di tangannya dan tampak melempar tatapan penuh tanda tanya ke arah Zikri, Said dan Hamid. Kenapa tiba-tiba Noah duduk bersama mereka? Noah menyadari bahwa Zikri dan dua temannya itu sedang memandang ke arah belakangnya, jadi ia menoleh dan matanya langsung bertemu dengan tiga anggota tim basket lainnya. Bayu, Muklis dan David. Sepertinya tadi mereka berenam duduk di situ, dan saat ketiga orang itu pergi memesan makanan, Said malah memanggil Noah untuk bergabung. “Oh, sorry, ini kursi kalian?” Noah agak merasa bersalah. Ia baru saja akan beranjak tapi Zikri buru-buru mencegahnya. “Eh … kamu nggak perlu pergi, nggak ada lagi meja yang kosong. Di sini aja,” kata Zikri sambil lalu melempar tatapan penuh makna kepada Said di sebelahnya. “Apa?” Said paham dengan tatapan itu, tapi ia tak mau terima. “Kamu mau ngusir aku? “Ya kan kursinya cuma 6, kamu juga kan udah hampir selesai makan,” balas Zikri. “Lagian kamu nggak ngerasa out of place gitu? Kamu sendiri yang bukan anak basket di sini.” “Gila, ya?! Ini meja kosong pertama kali aku yang nemuin, terus kamu sama Hamid gabung, sampai akhirnya kamu ngajak gabung 3 anak basket lainnya. Sekarang malah mau ngusir aku gara-gara ada Noah?” Said sudah mencengkram kerah seragam Zikri, tapi temannya itu malah balas cengengesan. Entah mungkin hal seperti ini sudah biasa bagi mereka. Meski Said tampak jengkel, Zikri tidak kelihatan khawatir. “Tenang, id … tenang. Jangan emosi, sorry …,” katanya sambil menepuk-nepuk pelan tangan Said yang memegangi kerah bajunya. Sementara Bayu, Muklis dan David sudah mengedarkan pandangan ke sekitar kantin untuk menemukan tempat lain yang kosong. Noah mengangkat nampannya, bermaksud untuk pindah, tapi lagi-lagi Zikri mencegahnya. “Noah … Noah … duduk, biar aku cari satu kursi kosong lagi,” katanya setelah lepas dari tangan Said. Akhirnya Noah tetap berada di sana, dengan Hamid, Said dan Bayu di hadapannya, lalu ada David dan Muklis di samping kirinya, kemudian Zikri di kanan depannya; Zikri menemukan kursi kosong di dekat kasir dan memutuskan untuk duduk di sisi ujung meja bak seorang pemimpin rapat. Saat semua orang mulai melahap makan siang mereka, suasana di meja itu cukup canggung. Zikri, Said dan Hamid adalah teman satu kelas, jadi sebenarnya mereka cukup akrab. Sedangkan Muklis, Bayu dan David berasal dari dua kelas yang berbeda, mereka menjadi akrab karena basket. Sebenarnya untuk mengakrabkan diri bukanlah hal yang sulit, jika hanya di antara mereka berenam saja. Tapi, memulai obrolan dengan seorang Noah di meja itu, rasanya mereka jadi sangat berhati-hati dan membuat mereka tak bisa menemukan topik yang tepat. “Kamu hebat juga.” Tak diduga, kalimat pertama yang memecah keheningan malah keluar dari mulut Noah, dan itu ditujukan kepada Said. “Kenapa?” tanya Said sembari menyeruput jus buah kemasan kotak di tangannya. “Punya teman kayak dia, kalau aku pasti udah nggak betah,” sahut Noah sambil mengedikkan dagunya ke arah Zikri. “Masa’ dia segampang itu mau ngusir temannya sendiri cuma gara-gara lagi ngumpul bareng teman main basketnya.” “Iya, kan?! Nyebelin, kan?!” Said langsung menyambar semangat karena merasa penderitaannya dimengerti oleh Noah. “Si Zikri ini memang anak kurang.ajar, nggak tahu diri. Padahal kami udah sahabatan lama, tapi dia rela ngebuang aku demi kamu dan teman-teman basketnya. Anjing banget nggak tuh?” “Ya maap …,” balas Zikri, “habisnya kapan lagi coba, bisa makan bareng Noah.” “Kapan aja bisa. Kan kita satu sekolah, satu tim basket juga. Gampang lah,” timpal Noah ringan. Pembicaraan di antara ketiga orang itu terlihat berjalan dengan natural, alami dan tanpa dibuat-buat. Bayu dan ketiga anggota baru tim basket yang ada di situ pun hanya bisa saling menatap satu sama lain. Mereka tak menduga obrolan dengan Noah bisa berjalan lancar tanpa ada ketegangan. Padahal kalau di klub, kesan yang ditangkap para anggota basket tentang Noah adalah si genius yang dingin dan sombong. Seolah Noah itu berasal dari kasta yang berbeda dengan mereka. “Eh, ngomong-ngomong,” Said memulai topik pembicaraan baru, “kamu punya pacar nggak?” Ia mencolek tangan Noah dengan ujung sudut minuman kotaknya. “Sorry, nggak minat pacaran sama cowok,” jawab Noah cuek. “Heh. Siapa juga yang mau pacaran sama kamu. Aku cuma nanya kamu udah punya pacar belum? Nggak usah mikir aneh-aneh,” omel Said. Noah tak langsung menjawab, ia masih tampak sibuk mengunyah makanan di mulutnya. Mengira Noah keberatan dengan pertanyaan seperti itu, Bayu menendang kaki Zikri di bawah meja. Zikri pun langsung menatap Bayu untuk meminta penjelasan. Bayu mengatakan sesuatu dengan hanya menggerakkan bibir tanpa suara, sambil menunjuk kepada Said menggunakan gerakan bola matanya. Ia sedang mengisyaratkan agar Zikri menyuruh teman sekelasnya itu untuk diam, sebelum Noah marah. Soalnya Said bukan bagian dari anggota klub basket, Bayu khawatir Said tidak tahu karakter Noah dan berisiko mengatakan sesuatu yang bisa membuat Noah tersinggung. Tapi ternyata Noah tak langsung menjawab karena ia ingin lebih dulu menghabiskan makanannya. Saat ia sudah selesai mengunyah, ia akhirnya menjawab sebelum meneguk air minumnya. “Memangnya kamu punya pacar?” Jawaban Noah adalah berupa pertanyaan balik kepada Said. “Nggak sih, hehe ….” Said menjawab sambil nyengir. “Ya, kalau aku jomblo sih wajar. Lah kamu? Nggak mungkin kamu gak punya pacar, kan?” “Nggak ada,” jawab Noah santai dan tanpa beban. “Serius?!” Said tampak takjub sambil melempar tatapan kepada Hamid di sebelahnya, mengharapkan orang-orang di sekeliling meja itu juga merasakan kaget yang sama dengannya. “Padahal kamu kayak gini, loh. Masa’ belum ada pacar?” sambung Said lagi. “Kayak gini gimana?” “Ya … kayak gini,” Said membuka telapak tangannya ke arah Noah, “tampang ok, tampilan keren, basket jago, isi dompet tajir, otak encer. Kalau kamu yang kayak gini aja belum punya pacar, gimana dengan kami?” “Nggak usah nyebut-nyebut ‘kami’, David udah punya pacar, tahu?!” sambar Hamid yang akhirnya mulai berani masuk dalam obrolan. Terdengar suara tarikan napas seperti orang tercekik dari sekeliling meja, dan semua mata langsung tertancap kepada David. Siswa kelas 10 yang penampilannya memang cukup menarik. Orang yang menjadi pusat perhatian itu pun langsung nyengir salah tingkah. Menit-menit berikutnya mereka lalui dengan obrolan yang mengalir begitu saja. Topik pembicaraan mereka juga sudah melebar sampai ke mana-mana. Siapa sangka, Noah yang dianggap tak bisa didekati itu, ternyata bisa diajak ngobrol santai sambil bercanda seperti ini. Memang benar kata orang bijak, jika tak ada yang memulai, maka tak akan ada yang tahu. “Kalau di anime olahraga, si Said ini tipe orang yang bakal nonton di pinggir lapangan sambil menjelaskan tentang teknik-teknik permainannya,” celetukan Muklis disambut dengan tawa Zikri dan yang lainnya. “Bener banget, dia nggak ikut main, tapi nempel terus sama tokoh utamanya,” tambah David lagi. “Biasanya kalau tipe seperti Noah ini bakal jadi tokoh utama kan, ya?” sambung Said yang sepertinya tak punya gambaran apapun tentang genre cerita olahraga yang sedang dibahas itu. “Nggak, kalau Noah biasanya bakal jadi rival tokoh utama,” sahut Hamid kemudian. “Tipe-tipe tokoh utama genre olahraga itu biasanya yang kayak Zikri, rada-rada polos agak.bego gitu.” “Woi, s****n!” protes Zikri sambil melempar botol minuman kosong ke arah Hamid. “Noah ini Rukawa-nya Slam Dunk atau Kageyama-nya Haikyuu.” Bayu mulai menyebutkan beberapa nama tokoh anime yang menurutnya cocok dengan image Noah. “Kalau gitu, tipe yang lebih cocok jadi tokoh utama itu Igris, dong,” celetuk Zikri kemudian. “Iya juga, ya. Tipe pemain kecil yang sering diremehkan, padahal jago.” “Orangnya juga ceria dan kelihatan baik hati.” “Terus nanti dia makin lama jadi makin jago, sampai bisa ngalahin rivalnya.” “Ngalahin aku maksudnya?” Sebaris pertanyaan yang dilontarkan Noah itu sontak membuat obrolan di sekitar meja jadi membeku. Senyum di wajah Bayu dan yang lainnya pun berubah kaku. Mereka mulai mengira-ngira, apakah barusan mereka sudah menginjak ranjau yang akan memicu kemarahan Noah. “Ngalahin gimana? Kalian kan satu tim,” celetuk Said lugu. “Haha … betul,” timpal Zikri berusaha mencairkan kebekuan, “kita semua kan sekarang satu tim. Nggak ada gunanya juga rekan satu tim mengalahkan satu sama lain.” Noah bukanlah orang yang peka, ia sendiri tak mengerti kenapa suasana berubah jadi canggung hanya karena sebaris pertanyaan singkat yang ia lontarkan. Padahal sebenarnya ia hanya ingin tahu apakah mereka menganggap Igris itu lebih jago darinya. Jika memang mereka menganggap begitu, tak masalah bagi Noah, itu berarti Noah harus berlatih lebih giat untuk meningkatkan kemampuan agar ia tak kalah dari Igris. Pemikiran Noah sesederhana itu. “Oh iya, Noah. Kudengar nilai pelajaranmu bagus, apa nggak sayang masuk kelas S?” Tiba-tiba saja Said sudah memulai pembahasan baru. Ia sama sekali tidak paham bahwa barusan tadi mereka baru saja berhasil melalui ranjau tanpa menyebabkan ledakan. “Sayang gimana?” tanya Noah lagi. “Ya kan itu buat calon-calon atlet. Setahuku, jarang ada atlet yang sekolahnya tinggi. Siapa juga yang butuh sekolah tinggi kalo jadi atlet pro bisa bikin tajir melintir,” jelas Said. “Cuma kan atlet ini nggak gitu menjamin masa depan. Iya kalo menang terus, kalau kalah gimana? Kalau cedera gimana?” “Ya jangan sampai cedera,” sahut Noah cuek, “jangan sampai kalah juga.” “Mana bisa nggak kalah. Namanya permainan pasti ada kalah menang.” “Kalau kalah ya udah, apa boleh buat,” timpal Noah lagi. Di saat yang bersamaan, mata Noah menangkap sosok yang ia kenal di counter makanan yang ada di bagian depan kantin; dekat pintu keluar. “Eh, aku duluan, ya,” pamit Noah sambil menyambar hp miliknya dari atas meja dan mengantonginya. Zikri tampak agak kecewa karena obrolan akrab mereka sepertinya akan berakhir. “Lho? Buru-buru amat?” keluhnya. “Aku lihat teman sekelas, ada yang mau kutanyakan sama dia,” jawab Noah sebelum kemudian beranjak dan berlalu pergi. “Sampai ketemu di aula basket.” Ia juga menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Bayu dan rekan setimnya yang lain. Beberapa saat sudah berlalu sejak Noah meninggalkan meja itu, tapi sepertinya Zikri dan yang lainnya masih butuh waktu untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. “Wow.” Muklis tiba-tiba berkomentar singkat sambil masih menatap punggung Noah yang sedang bicara dengan seseorang di depan counter makanan. Said yang bingung dengan reaksi teman-temannya itu, memutuskan untuk menyuarakan keheranannya. "Kalian kenapa, sih?” “Kita benar-benar baru aja ngobrol sama Noah kayak teman,” gumam David masih dengan ekspresi wajah bengong. “Memangnya kalian bukan teman? Kalian kan main basket bareng,” komentar Said lagi. Lima orang anggota baru tim basket Cendana itu pun kemudian menatap Said secara bersamaan, seolah mereka semua memikirkan hal yang sama. “Kamu beruntung nggak mengenal Noah melalui basket,” kata Bayu kemudian, dan diikuti dengan anggukan setuju empat orang lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD