*Trigger Warning//Suicide (Chapter ini mengandung topik yang sensitif bagi sebagian orang)*
.
Noah menghampiri sosok yang tak asing itu. Ia terlihat sedang berdiri di depan counter makanan sambil membawa selembar kertas. Teman pertama Noah di SMA Cendana, Rihan, sedang memesan seluruh makanan sesuai daftar yang ada pada kertas di tangannya.
“Kamu sedang apa?” tanya Noah saat ia sudah berdiri di sampingnya.
Rihan agak terperanjat karena Noah yang muncul tiba-tiba dan menyapanya, ia tampak gelisah sambil berusaha menyembunyikan lembaran kertas itu ke saku celananya.
“Apa itu?” tanya Noah lagi.
“Oh … bukan apa-apa. Oia, katanya tadi pagi kamu main ke klub badminton ya?” Rihan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nggak. Cuma kebetulan lewat aja,” jawab Noah sambil mengamati pesanan Rihan yang sudah selesai dibungkus dan siap dibawa.
Ada dua kantong plastik makanan yang diserahkan ke tangan Rihan. Cowok itu lalu bergerak ke kasir untuk membayar, sambil masih berusaha menghindari tatapan Noah.
“Kamu di-bully di klub?” Akhirnya Noah memutuskan untuk langsung ke inti pertanyaannya.
Wajah Rihan memerah, dan ia hanya tertunduk tanpa mengatakan apa-apa. Noah pun tak mendesaknya lagi. Tapi ia memutuskan untuk mengajak Rihan bicara sebelum ia pergi mengantarkan seluruh pesanan makan siang itu.
“Kamu udah makan?” tanya Noah lagi.
“Nanti, setelah semua ini diantarkan,” jawab Rihan agak tergagap.
Meski saat ini mereka sedang berdiri di koridor yang tak seramai kantin, tapi tetap saja suara Rihan nyaris tak tertangkap indra pendengaran Noah.
Ia bicara sangat pelan seolah takut terdengar orang lain.
“Ini jam makan siang, dan waktu istirahat kita nggak lama. Jadi harusnya kamu mendahulukan makan sebelum mengurus orang lain,” ketus Noah sambil melipat kedua tangan di depan dadanya, menatap Rihan dengan mata yang cukup menghakimi.
“Yang mana punyamu?” tanya Noah lagi. Ia mengamati isi kantong plastik yang penuh dengan bungkusan makanan. Ada sekitar belasan porsi makan siang yang sekarang sedang berada di tangan Rihan, tapi Noah curiga kalau tak satu pun dari bungkusan itu miliknya.
“Nggak ada,” jawab Rihan pelan.
“Ha?!”
Rihan agak bergidik mendengar intonasi suara Noah yang meninggi.
“Kamu beliin makanan orang lain tapi kamu sendiri nggak beli makananmu?” Noah mulai tak bisa mengendalikan rasa kesalnya.
“U-uangnya nggak cukup.”
“Gimana mungkin nggak cukup? Memangnya kamu yang bayar semua makanan ini?”
“Nggak, mereka udah titip uang kok.”
“Terus karena nggak cukup, kamu yang nombok gitu?” sambar Noah jengkel. “Kamu mau jadi atlet, kan? Badan kamu itu aset penting, makanan juga harus dijaga. Masa’ demi nombokin uang makan orang, kamu malah nggak makan? Kamu memang suka di-bully atau gimana?”
“I-ini kayaknya udah biasa bagi para anggota baru, jadi bukan bully-an.”
Noah mendengus dengan ujung bibir yang berkedut, seolah sedang menahan diri agar tak meledak. “Bukan bully-an katamu?”
Ia kembali teringat bagaimana para senior itu bicara meremehkan Rihan bahkan membuang tas yang diduga tas Rihan ke tempat sampah pagi tadi. Ia juga ingat bahwa foto dan video yang dia ambil pagi tadi – meski sudah dihapus dari galeri – masih tesimpan pada folder “recently deleted” di hp-nya.
Dengan kata lain, Noah masih bisa mengembalikan file-file itu ke galeri sebelum terhapus secara permanen.
“Dengar, ini terakhir kalinya aku melihatmu membelikan makanan mereka, ngerti?!” ancam Noah akhirnya.
“Eh … ta-tapi ….”
Noah menatap wajah di hadapannya dengan pikiran yang bergejolak. Ia tidak suka mencampuri urusan orang lain, ia juga tidak suka dibuat repot dengan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya.
Tapi anehnya, entah kenapa Noah merasa situasi yang sedang dialami Rihan tak boleh dibiarkan, rasanya ia harus berbuat sesuatu untuk menghentikan perundungan yang sedang dialami Rihan.
Meski begitu, saat ini Noah sedang merasa luar biasa jengkel dengan sikap cowok itu.
“Kamu ini memang sengaja minta di-bully, ya?” omel Noah lagi.
“Mana mungkin. Kenapa kamu ngomong gitu?”
“Ya, makanya jangan nurut aja disuruh-suruh orang!” Nada bicara Noah kembali meninggi. “Dengar ya, mereka jadi bully itu memang masalah, tapi sifatmu yang lembek kayak gini juga masalah, tahu?! Memangnya kalau kamu nurut-nurut aja, suatu saat mereka akan sadar dan berhenti gitu? Yang ada malah mereka makin ngelunjak!”
“Aku cuma nggak mau bikin masalah …”
Mendengar jawaban lemah dari Rihan, Noah memutar bola matanya sambil menghempas napas tak habis pikir. Saking jengkelnya, Noah mulai berpikir untuk membiarkan Rihan. Walau bagaimana pun ini bukan urusan Noah, jadi kenapa dia harus repot-repot?
“Kamu nggak akan pernah paham, Noah,” lirih Rihan kemudian. “Kamu yang punya segalanya ….”
“Ok, stop!” bentak Noah keras, beberapa orang yang sedang melintas di koridor itu pun sampai menghentikan langkah mereka, mengira Noah dan Rihan sedang bertengkar.
“Terserah kau saja,” kata Noah akhirnya.
Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Bukannya membantu, Noah malah menjadi bagian dari orang-orang yang membuat Rihan susah. Tentu saja itu bukan maksud Noah yang sebenarnya. Jadi dia memutuskan untuk meninggalkan Rihan daripada menambah runyam keadaan.
Lagipula, barusan tadi Rihan hampir saja mengatakan kalimat yang selama ini selalu ingin dihindari Noah.
Orang seperti kamu … yang punya segalanya … kamu nggak akan paham.
Kalimat-kalimat seperti itu, Noah sudah muak mendengarnya. Pemikiran yang beranggapan bahwa Noah adalah spesies yang sudah istimewa sejak lahir, bisa mendapatkan semuanya tanpa perlu berusaha keras, dan Noah tak akan pernah paham bagaimana sulitnya kehidupan yang harus dialami orang lain.
Orang-orang dengan seenaknya menganggap Noah tak berhak mengatakan apapun, karena Noah menjalani hidup yang berbeda dengan mereka. Seolah penderitaan dan kesulitan itu adalah sebuah privilege, dan Noah tidak memiliki itu.
Pemikiran yang konyol.
Noah memelankan laju langkahnya di koridor menuju ke ruang Kelas S. Pikirannya melayang pada seseorang yang dulu sempat sangat ia idolakan. Seorang mahasiswa bernama Fajar yang membuat Noah tertarik menonton, bahkan ikut-ikutan, street basket[1].
Pada awalnya, Fajar hanya bermain basket bersama teman-teman kampusnya. Tapi ketika ia mulai sering mengikuti liga 3 on 3, ia berhasil mencuri perhatian banyak orang. Lalu namanya pun semakin dikenal ketika ia menjadi bagian dari skuat tim nasional, ia bahkan sudah menandatangani kontrak dengan sebuah klub basket profesional.
Fajar bukan seorang pemain basket sembarangan.
Di antara semua kesibukan itu, ia juga seorang mahasiswa Teknik Sipil di Universitas Arajaya, universitas swasta milik keluarga Noah. Dan nilai-nilai mata kuliahnya tak pernah mengecewakan.
Apapun yang dilakukan Fajar, tidak pernah biasa-biasa saja. Ia selalu luar biasa.
Bagi Noah, Fajar adalah target yang ingin ia capai. Sosok ramah bermata teduh yang pantang menyerah. Jika ia tersenyum, maka orang yang melihatnya akan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tapi … ternyata dia tidak baik-baik saja.
Tanpa peringatan, tanpa tanda-tanda atau isyarat apapun, setahun sebelum Noah tamat SMP, tubuh Fajar ditemukan tergeletak di belakang gedung apartemennya.
Tiba-tiba saja, Noah mendengar berita bahwa Fajar telah melompat dari atap gedung dan hanya meninggalkan sebuah catatan di kamarnya.
“Setiap kali terbangun, aku selalu merasa sedang tenggelam.
Tapi anehnya, semua orang di sekitarku bisa bernapas seperti biasa.
Apanya yang salah?
Aku sudah berusaha semampuku.
Percayalah …
Aku sudah berusaha.”
... ... ...
Noah masih tak mengerti, kenapa Fajar harus mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.
Padahal ia begitu hebat, begitu baik, dan Noah sangat mengidolakannya.
Padahal sore hari itu, sehari sebelum kepergian Fajar, Noah masih bicara dengannya. Mereka masih bermain basket di kampus seperti biasa. Fajar juga masih tersenyum dan tertawa seperti biasa, masih mendengarkan semua cerita dan keluhan Noah seolah semuanya baik-baik saja.
“Sampai jumpa besok, Kak ….”
Adalah kalimat terakhir yang Noah ucapkan padanya. Sore itu, Fajar memang tak menjawab salam perpisahan Noah, sosok lelaki itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
Tapi Noah berpikir itu adalah hal yang biasa. Noah tak pernah mengira bahwa bagi Fajar, tak ada lagi besok.
Sampai hari ini pun, masih ada pertanyaan di kepala Noah yang belum bisa ia temukan jawabannya.
Kenapa Fajar memilih jalan itu? Kenapa Fajar selemah itu? Jika memang kesulitan, kenapa Fajar tak pernah mengatakan apapun kepada Noah, kepada teman-teman ataupun keluarganya? Memangnya seberat apa beban hidupnya hingga ia memilih untuk mengakhiri segalanya?
Bukankah selama ini ia baik-baik saja?
Dan ...
Andaikan Noah menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Fajar ... andai saja Noah mengurangi curhatannya dan lebih banyak mendengarkan Fajar, apakah Fajar akan mengurungkan niatnya untuk melompat hari itu?
.
Tiga puluh menit sebelum kegiatan klub dimulai, bel pulang sekolah berdering dan Noah segera meninggalkan kelas tanpa bertukar kata dengan siapapun. Ia sebenarnya ingin bicara lagi dengan Rihan, tapi melihat sikap dan mentalnya yang melempem itu, Noah jadi ragu apakah ia bisa bicara dengan Rihan tanpa marah-marah.
Rihan juga sepertinya berusaha menghindari Noah. Jadi Noah memutuskan untuk membiarkannya mengurus masalahnya sendiri. Setidaknya Noah sudah mencoba membantu, tapi selama sifat Rihan masih lemah seperti itu, maka Noah merasa semua yang ia lakukan akan sia-sia.
Untuk mencapai Sport Section di belakang sekolah, Noah harus melewati beberapa koridor terbuka yang membelah taman tengah sekolah. Jika ingin mengambil jalan pintas agar lebih dekat ke aula basket, ia harus melewati lorong atau celah kecil antara gedung perpustakaan dan kantor guru.
Sebenarnya celah itu bukan untuk akses jalan, itu sebabnya ada pagar besi pada masing-masing ujung celah antara dua bangunan itu. Tapi pagar besinya hanya setinggi pinggang, tentu saja mudah bagi Noah untuk melompatinya.
Noah tahu ia tak seharusnya melakukan itu, tapi ia merasa konyol jika harus mengambil jalan memutar, padahal ada jalan yang lebih dekat. Berbeda dengan para siswa Cendana lainnya yang biasa berkeliaran di area sekolah sambil berjalan bergerombol, berdua atau bertiga bersama teman-teman se-geng, Noah tak punya orang yang akan berjalan di sebelahnya kemana pun ia pergi di lingkungan sekolah itu.
Jadi, untuk apa ia menghabiskan waktu dengan mengambil jalan memutar? Bagi Noah, akan lebih baik jika tak membuang-buang waktu dan menyingkat perjalanan. Karena semakin cepat ia tiba di lokasi tujuan, semakin baik.
Pagar besi itu bergeretak saat tangan Noah bertumpu pada bagian atas pagar dan melompatinya. Tak ada bagian tubuh lain yang menyentuh pagar selain telapak tangannya. Noah mendarat dengan mulus di seberang pagar, ia pun membersihkan telapak tangannya sambil lalu melanjutkan langkah.
Tepat saat keluar dari ujung lorong kecil itu, ada jalan berlapiskan conblock yang mengarah langsung ke Sport Section dan bercabang di beberapa bagian untuk menuju ke lapangan outdoor milik klub tenis dan voli.
Suasana saat itu cukup ramai karena kelas baru saja bubar dan banyak siswa yang masih berada di sekolah, tapi semakin jauh Noah meninggalkan area sekolah menuju ke Sport Section, semakin redam suara ingar-bingar yang didengarnya.
Ketika ia mengira suasana mulai hening, saat itulah ia mendengar suara musik yang cukup keras dari arah depannya. Ia menemukan seorang cewek yang ia kenal bernama Luna, manager tim basket putra, sedang berjalan tak jauh di hadapannya.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Street basket biasanya dimainkan dengan struktur dan penegakan aturan permainan yang kurang formal. Meski tidak terkekang pada peraturan, tapi aturan-aturan dasar permainan bola basket tetap diterapkan. Street basket yang dibicarakan Noah adalah liga basket 3 on 3 yang sering diikuti para pemain dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiwa, karyawan, bahkan pemain profesional.