“Masih mau mengeluh?”
Adam tersenyum menatap beberapa wajah muda yang tampak mulai gelisah di hadapannya. Tentu saja Adam sangat paham dengan apa yang mereka rasakan saat ini. Sebagian dari mereka mungkin mengira mereka bisa lolos dari pelajaran SMA hanya karena mereka sedikit lebih berbakat dalam olahraga dibandingkan siswa lainnya.
Tidak. Mereka tidak boleh diberikan rasa aman, karena rasa aman akan membuat mereka berhenti berkembang.
“Dengar,” Adam kembali menegaskan, “huruf S yang ada pada kelas ini bukan hanya untuk kata ‘spesial’. Kelas S juga bermakna kelas Superior, Sempurna, Spektakuler. Ekspetasi terhadap 25 murid di dalam kelas ini sangat tinggi. Karena memang pada dasarnya semua yang ada di sini adalah murid yang dianggap istimewa.”
Wali kelas itu kembali mengambil jeda untuk mengamati ekspresi wajah-wajah yang ada di hadapannya.
“Kalian pikir untuk apa SMA Cendana membiayai dan memfasilitasi kalian bersekolah di sini, jika pada akhirnya kalian tidak ada bedanya dengan murid kelas reguler? Perlu aku ingatkan sekali lagi, bahwa standar penilaian ujian Kelas S berbeda dengan kelas reguler, kami memberikan kalian banyak kelonggaran. Tapi jika dengan kelonggaran itu juga hasil ujian kalian masih di bawah standar dan jika di saat yang bersamaan kalian tersingkir dari Kelas S, maka dengan sangat menyesal, kalian harus mengulang satu tahun lagi.”
Keterangan Adam kali ini membuat suasana kelas kembali hening. Tapi ia memang sudah menduga reaksi seperti itu. Sejak awal Adam tak mau membuat anak-anak di Kelas S merasa diri mereka di atas angin, meskipun mereka memang spesial, tapi tentu saja mereka tak boleh menganggap remeh hal-hal di sekitar mereka.
Lelaki itu pun tersenyum sebelum kembali melanjutkan. “Kalian tak perlu khawatir. Saat kalian gagal berprestasi di bidang olahraga, tapi nilai akademis kalian bagus, maka kalian akan tetap naik kelas kok, meskipun harus pindah ke kelas reguler,” jelas Adam lagi.
“Aku tegaskan sekali lagi. Performa kalian akan dievaluasi tiap akhir tahun pelajaran. Jika bakat kalian tidak berkembang, maka posisi kalian bisa digantikan dengan siapa saja yang dianggap lebih menjanjikan. Intinya, Kelas S hanya akan mempertahankan mereka yang memiliki masa depan cemerlang sebagai atlet nasional hingga internasional.”
“Pak …”
Kali ini Rihan yang mengangkat tangan untuk bertanya, dan Adam langsung mengizinkannya untuk melanjutkan.
“Apakah quota Kelas S akan tetap 25 orang, atau bisa berubah sewaktu-waktu?”
Adam berpikir sejenak sebelum menjawab. “Sejauh ini, sepertinya jumlah siswa Kelas S di tiap angkatan tidak pernah berubah. Tetap 25 orang. Jika ditemukan siswa berbakat di luar Kelas S, maka ia akan menggantikan salah seorang siswa Kelas S yang dianggap tidak lebih baik dari dia. Persaingannya memang seketat itu.”
Wajah Rihan berubah pucat seolah ada beban berat yang baru saja diletakkan di pundaknya.
Sedikit banyak, Noah paham mengapa SMA ini tidak akan menambah kursi di Kelas S meski mereka menemukan siswa lainnya yang layak masuk ke kelas itu. Karena memang menanamkan rasa tidak aman di tiap siswa yang ada di Kelas S itu penting. Dengan begitu, mereka tak akan lengah dan akan terus berkembang karena posisi mereka bisa direbut kapan saja, dan satu-satunya cara untuk mempertahankan kursi di Kelas S adalah dengan tetap melakukan yang terbaik.
- - -
“Kamu lihat Kelas S tahun ini?” tanya seorang siswa baru bernama Zikri kepada temannya, saat mereka sedang berada di toilet pada jam istirahat hari pertama sekolah.
“Aku dengar banyak atlet muda terkenal yang masuk ke Kelas S. Termasuk idola kesayanganmu.” Seorang siswa lain yang sedang mengamati jerawat di keningnya menyahut setengah cuek.
“Benar sekali! Uwoh …! Aku nggak sabar pengen main basket bareng dia! Gila! Pokoknya aku bakal masuk Kelas S tahun depan.” Zikri mengepalkan tinjunya ke langit-langit meski urusannya di depan urinoar belum selesai.
“Bilang aja kamu mau masuk Kelas S karena malas belajar, kan?” balas temannya lagi.
“Heh. Jangan sembarangan, ya. Kamu kira anak Kelas S itu otaknya nggak mampu dalam pelajaran? Mereka juga pintar-pintar, tau?!”
“Halah. Paling juga kalau nilai tertinggi mereka dibandingkan sama kelas reguler, langsung kelihatan begonya.”
“Jangan sepele kamu,” Zikri lalu meninggalkan urinoar dan mencuci tangan di sebelah temannya, “kamu tau Noah itu peringkat berapa di ujian nasional waktu lulus SMP kemarin?”
Said – teman Zikri yang sejak tadi masih meratapi jerawatnya – hanya mengangkat bahu sekilas menandakan bahwa ia tidak tahu dan tidak peduli.
“Nilai ujian kelulusan Noah itu masuk peringkat 10 besar loh,” jelas Zikri lagi.
“Sepuluh besar di sekolahnya? Palingan anak-anak di sekolahnya juga pada di bawah rata-rata.”
“Sepuluh besar peringkat nasional, lah!” sambar Zikri tanpa ampun. “Dia itu top student, tau?! Jangan disama-samain sama rakyat-jelata kayak kita! Lagian, berani bener kamu bilang SMP Pelita itu di bawah standar. SMP itu terbaik di …”
Zikri langsung menghentikan kalimatnya saat pintu toilet tiba-tiba menguak terbuka, dan yang muncul dari baliknya adalah seorang siswa dengan tinggi mencapai lebih dari 180 cm dan berpenampilan bak tuan muda drama Korea, Noah, tokoh utama yang sampai beberapa saat tadi masih menjadi bahan pembicaraan dua orang di toilet itu.
Said harus agak mendongak ketika Noah melintas di dekatnya untuk menuju ke urinoar yang paling ujung.
Meski tinggi badan Said dan Noah cukup kontras, tapi tidak dengan Zikri. Ketika Noah melintas di belakangnya, Zikri terlihat lebih tinggi dari Noah dan tubuhnya juga terlihat lebih bongsor.
Semuanya terasa normal bagi Noah, sampai ia mendengar suara aneh dari arah yang baru saja ia lewati.
“N-N-N … No-No-Noah … Noah Di-Diaz …”
“Diaz Noah …” Merasa risih dengan namanya yang dibolak-balik dan suara Zikri yang terbata-bata, Noah berinisiatif untuk menyelesaikan penyebutan nama panjangnya dengan benar. “… Arakha,” tambah Noah di ujung.
“DIAZ NOAH ARAKHA!” Zikri berubah histeris dan refleks mengambil selangkah mundur menjauh dari Noah, seolah khawatir udara yang dihirup Noah akan terkontaminasi jika Zikri berada lebih dekat dengannya.
Noah mengernyit bingung, ia menoleh ke belakang dan menemukan Zikri yang berdiri kaku di dekat westafel. Lalu dengan sendirinya perhatian Noah beralih ke ritsleting celana Zikri yang masih belum ditarik naik.
“Celanamu belum dikancing tuh,” kata Noah datar sambil menyelesaikan urusannya di tempat itu dan melangkah ke westafel di sebelah Said untuk mencuci tangan. Sementara itu, Zikri tampak panik merapikan celananya, menghadap ke arah yang berlawanan dengan Noah dan Said sedang berada.
Namun, meski sudah selesai menutup ritsleting celananya, ia berpura-pura kembali mencuci tangan dan hanya berani sesekali mencuri pandang ke arah Noah dari sudut matanya. Sikapnya mirip dengan cewek yang berdebar-debar dan tak bernyali menatap langsung wajah gebetannya.
Noah tak berlama-lama berdiri di depan westafel, ia hanya sedikit merapikan rambutnya sebelum kemudian bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.
“Bro, berapa tinggimu?” Tanpa diduga, Said dengan santainya menyapa Noah lebih dulu.
“Terakhir kali aku cek, udah sampai 180 sih,” jawab Noah sambil membatalkan niatnya untuk melangkah menuju ke pintu.
“Berdiri di sebelahmu, aku jadi ngerasa makin mirip kentang,” keluh Said saat menatap penampakan dirinya yang terpantul di cermin toilet.
“Nggak usah khawatir, umur segini harusnya tinggimu masih bisa nambah.”
“Serius?”
“Mungkin.”
“Kamu memangnya biasa makan apa sih? Baru kelas 10 tapi udah bisa setinggi ini.”
“Tinggiku ini masih tergolong normal, ada yang seumuranku bahkan udah 190 cm.”
“Itu kasus yang lebih nggak normal lagi,” tukas Said. “Untuk ukuran orang Asia, tinggimu ini harusnya nggak normal.”
Noah diam sesaat sambil mengamati lawan bicaranya yang tampaknya punya isu dengan tinggi badan. “Kamu maksain banget tinggiku ini nggak normal, supaya tinggi badanmu dianggap normal, ya?”
Itu adalah kalimat offense. Setidaknya, bagi Said. Karena perkataan Noah barusan itu jadi bermakna bahwa bukan Noah yang terlalu tinggi, tapi Said yang terlalu pendek.
“Woi! Kamu ngatain aku?!”
Noah pun hanya tertawa menanggapi Said yang berang. “Memangnya aku ngatain kamu apa?” Ia masih agak tergelak saat mulai menggapai knop pintu keluar. “Eh, ngomong-ngomong, itu jerawat jangan dipegang-pegang, nanti malah makin parah.”
“Aku nggak perlu nasehatmu soal jerawat. Aku cuma perlu tahu rahasiamu supaya bisa nambah tinggi badan.”
“Nggak ada rahasia apa-apa. Lagian, apa nggak lebih baik kamu nanya ke temanmu itu. Dia bahkan lebih tinggi dari aku,” jawab Noah sambil mengedikkan dagunya ke arah Zikri.
“Dia itu besar badan aja, tapi nggak berguna,” celetuk Said disambut dengan tawa Noah.
“Wah … parah. Teman macam apa kamu ini?” canda Noah sambil lalu menguak pintu, tapi ia memutuskan untuk melempar pertanyaan lagi sebelum pergi. “Itu … temanmu, sebenarnya dari tadi dia ada masalah apa sih?”
Said menoleh menatap Zikri yang masih menghadap tembok dengan kedua pundak terangkat seperti orang sedang disetrap.
“Ah … nggak usah pedulikan dia,” balas Said cuek.
“Oh … ok. Duluan, ya.” Noah menutup obrolan itu sambil kemudian melambai singkat dan akhirnya benar-benar berlalu pergi.
Hanya setelah Noah meninggalkan toilet, Zikri berani membalikkan badan dan menghampiri Said.
“Bisa-bisanya kamu bicara seakrab itu dengan Noah.” Ia takjub, dan juga sedikit merasa iri.
“Tapi dia agak nyebelin sih.” Said setengah menggerutu.
“Nyebelin gimana? Aku aja nggak nyangka kalau ternyata Noah itu aslinya asyik.”
“Dia tadi ngatain aku loh, padahal kenal aja nggak.”
“Aku nyimak obrolan kalian dan Noah sama sekali nggak ngomong buruk soal kamu, cuma kamunya aja yang ngerasa.”
Bibir Said mengerucut tak puas, tapi dia tetap harus mengakui bahwa Noah lebih ramah dari yang ia bayangkan. “Iya sih… selama ini banyak yang ngira dia itu sombong, susah didekati dan selalu terkesan merendahkan orang lain. Padahal sekalinya diajak ngomong, dia fine-fine aja.”
“Iya, kan? Aku sempat kaget tadi waktu kamu sapa dia dan dia jawab dengan santai. Kayak ngalir aja gitu. Ternyata Noah itu orangnya baik.”
“Geh?! Cuma berdasarkan obrolan singkat tadi kamu udah ngambil kesimpulan itu?”
“Maksudku dia nggak kayak yang digosipin orang. Sombong, angkuh, sok hebat, nggak bisa akur sama rekan se-tim, nggak bisa diajak berteman dan sebagainya.”
“Iya aja deh. Susah memang ngomong sama fanboy.”
Said menutup pembicaraan tentang Noah itu sambil berlalu diikuti Zikri yang masih belum menyerah untuk meyakinkan Said, bahwa orang-orang sebenarnya hanya salah paham tentang Noah.
- - -
Bel pulang sekolah baru saja berdering dan berhasil membubarkan seisi kelas hanya dalam hitungan detik. Ketika murid kelas reguler sibuk membuat rencana kegiatan sepulang sekolah, anak-anak Kelas S yang otomatis sudah terdaftar dalam klub olahraga hanya punya satu tempat yang harus mereka tuju setelah jam pelajaran berakhir, yaitu klub olahraga mereka masing-masing.
Di hari pertama ini, Noah hanya mengenal dua nama teman sekelasnya, yaitu Rihan dan Igris. Sejauh yang Noah ketahui, 25 murid Kelas S sebagian besar berasal dari klub sepak bola, mungkin hampir 10 orang. Sisanya terbagi ke klub basket, bulu tangkis, voli, silat, renang, dan lain sebagainya.
Kelas sudah kosong, Noah adalah orang terakhir yang berada di ruangan itu. Namun, tepat sebelum Noah meninggalkan mejanya. Igris masuk kembali ke dalam kelas.
“Kamu lihat HP-ku?” tanya Igris sambil lalu menghampiri meja di hadapan Noah dan mulai mencari-cari ke dalam laci.
“Nggak,” jawab Noah tanpa menghentikan langkahnya menuju pintu keluar kelas.
“Eh… tunggu, boleh minta tolong misscall HP-ku, nggak?” pinta Igris memelas.