Karena risih dengan tatapan mata dari sampingnya yang masih belum juga lepas, akhirnya Noah memutuskan untuk bertanya, “Ng… sorry, ada sesuatu di wajahku?”
“Nggak… aku cuma nggak nyangka aja bisa ketemu kamu di SMA, satu kelas lagi,” balas Rihan dengan wajah sumringah.
“Segitunya? Kita ini kan seumuran, selalu ada kemungkinan buat ketemu di SMA, kan?”
“Maksudku, kesan pertamaku saat melihatmu di final Kejurnas basket j.u.n.i.o.r itu benar-benar seperti melihat seorang bintang yang bersinar. Apalagi waktu kamu dapat gelar MVP dan orang-orang mulai membicarakan kamu. Sama sekali nggak pernah terlintas di benakku, kalau kita akan bertemu dan mengobrol seperti ini.”
Sudut bibir Noah terangkat kaku. “Kayaknya kamu agar berlebihan deh.” Ia setengah memelas.
“Serius,” Rihan menatap Noah lekat-lekat untuk meyakinkannya, “kamu kan sempat bikin heboh waktu itu. Karena pertandingan final itu lebih seperti 1 lawan 5. Gara-gara rekan satu tim kamu yang udah kelelahan duluan di kuarter akhir, kamu jadi terlihat sangat menonjol karena cuma kamu sendiri yang berjuang di lapangan. Pertandingan itu sangat berkesan, makanya kan setelah pertandingan final itu, foto kamu bahkan muncul di majalah olahraga, lengkap dengan artikel interview. Benar-benar sudah seperti atlet pro.”
Rasanya wajah Noah sedang dihadapkan dengan rice cooker yang baru dibuka dan mengeluarkan uap panas. Ia tak bisa mengendalikan pipinya yang mulai memerah karena malu. “Udah lah nggak usah dibahas lagi, biar dipuji begitu juga … aku benci pertandingan final itu,” gerutunya kemudian.
“Kenapa? Padahal itu seru loh. Awalnya aku sama sekali nggak tertarik sama basket, tapi setelah melihat pertandingan final hari itu, aku jadi paham kenapa orang-orang sangat menyukai basket.”
Noah tak tahu bagaimana ia harus menanggapi pujian beruntun yang diluncurkan oleh Rihan. Akibatnya, ia jadi mengeluarkan celetukan yang tidak perlu. “Tapi kamu main bulu tangkis, kan?”
“Iya, terus?” tanya Rihan bingung.
“Kenapa nonton basket?”
“Lho? Memangnya kalau main bulu tangkis nggak boleh nonton pertandingan basket?”
“Y-ya… bukan gitu juga maksudku.”
“Kakakku penggemar basket dan aku dipaksa buat nemanin dia waktu itu,” jelas Rihan. “Jujur, memang awalnya aku nggak gitu tertarik, aku bahkan nggak ngerti soal basket. Tapi waktu lihat kamu di lapangan. Entah kenapa, rasanya…” Rihan mengakhiri kalimatnya tidak dengan kata-kata melainkan dengan ekspresi mengepalkan kedua tangan, mengulum bibir sambil mengeluarkan suara menggeram sampai urat-urat di tangan dan lehernya menonjol.
“Rasanya apa? Kebelet boker?”
“Bukan…!” bantah Rihan bernada protes. “Rasanya kayak… urgh… apa ya… kayak… aku tuh bisa ngerasain panasnya pertandingan itu. Semangatmu yang pantang menyerah, jadinya kayak ada sesuatu yang memenuhi dadaku, terus membuncah sampai aku tuh ikut nangis waktu tim kalian kalah.”
Lagi-lagi Noah dibuat bingung menghadapi pengakuan yang menggebu-gebu itu. Ia hanya bisa mematung berusaha memahami rentetan kalimat Rihan.
“Noah, aku yakin kamu udah bosan mendengarnya. Tapi, kamu memang luar biasa. Semua yang ada padamu adalah impian atlet di seluruh dunia.”
“Heh. Jangan berlebihan.”
“Aku serius,”
Baru saja Noah ingin membantah perkataan Rihan, kelas mendadak dipenuhi kasak-kusuk saat seorang siswa lainnya memasuki ruangan itu.
Igris Mahesa.
Pemain basket berbakat lainnya yang juga cukup menyita perhatian saat kemunculan pertamanya sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya setahun setelah debut Noah..
Tubuh seorang Igris tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dikatakan pendek untuk kategori pemain basket, mungkin sekitar 170an cm. Tapi namanya selalu muncul setiap kali nama Noah disebut.
Seperti lampu yang dikerumuni laron, Igris tampak nyaman dengan orang-orang yang mendekatinya dan mengajaknya mengobrol. Lalu, tiba-tiba saja, matanya bertemu dengan tatapan Noah, dan dia tersenyum. Bibir Noah pun melengkung canggung untuk membalas senyuman Igris.
Noah menunjuk ke arah Igris sambil berkomentar kepada Rihan. “Itu. Harusnya kamu lebih suka sama tipe pemain kayak gitu, dibandingkan aku.”
“Eh? Kenapa?” tanya Rihan bingung. “Maksudku, iya dia juga main bagus. Tapi tetap aja, aku lebih suka melihatmu beraksi di lapangan. Lebih panas aja gitu rasanya.”
“Kamu ini sebenarnya ngerti basket nggak sih?”
“Minimal aku tahu lah… dia tipe pemain lincah berbadan kecil, Tapi fisikku dan dia hampir sama, jadi rasanya kurang istimewa aja bagiku. Aku lebih kagum dengan permainanmu. Dengan postur tubuh ideal begitu, kamu percaya diri, main tabrak, maju terus pantang mundur. Metode-mu itu memang sangat efektif. Kamu bahkan menghasilkan angka lebih banyak dari siapapun di pertandingan itu.”
Noah tak langsung menanggapi pernyataan Rihan, ia sedang menimbang-nimbang apakah ia harus menjelaskan kepada Rihan tentang fisik dan bakat seorang atlet.
“Ng … Rihan … begini,” Noah memutuskan untuk memberi sedikit pengertian, “sebenarnya nggak masalah postur tubuhmu seperti apa, yang penting…”
“Eh… kayaknya wali kelas kita udah datang.” Rihan menyela kalimat Noah sambil lalu membenarkan arah duduknya menghadap ke depan.
Noah pun mengurungkan niatnya untuk bicara panjang lebar soal apa yang ingin ia jelaskan tadi. Mungkin sebenarnya itu tidak penting, mungkin sebenarnya Rihan pun sudah tahu bahwa dalam olahraga, soal postur tubuh itu hanyalah salah satu faktor pendukung saja. Tapi sebenarnya itu bukan hal yang utama. Tak peduli ideal atau tidaknya bentuk tubuh seorang atlet, ia akan selalu bisa menutupi kekurangan itu dengan kerja keras dan bakatnya.
Terdengar klise, tapi memang begitulah kenyataannya.
Seorang pria berpenampilan rapi, khas seorang guru, baru saja memasuki kelas dan langsung menyapa semua murid dengan senyum lebar di wajahnya.
“Kalian sudah menemukan meja masing-masing?” tanya guru itu tanpa memperkenalkan diri. Ia meletakkan buku absensi di atas meja dan mulai memutar pandangan ke sekeliling kelas. Matanya berhenti pada Noah yang mengambil tempat duduk paling belakang, tepat di sebelah Rihan.
“Sepertinya kita harus membuat penyesuaian… sedikit,” ia menyatukan jempol dan jari telunjuknya sebagai gesture, “jika kalian duduk di barisan belakang dan merasa pandangan ke papan tulis terhalang oleh teman di depan, maka kalian harus pindah, OK? Ada banyak orang berbadan tinggi besar di kelas ini, jadi aku tak mau pelajaran kalian terganggu hanya karena masalah posisi tempat duduk.”
Setelah kalimat pembuka wali kelas, beberapa menit setelahnya hanya dihabiskan untuk mengatur posisi tempat duduk 25 orang siswa di kelas itu. Rihan berakhir di meja paling depan bagian sudut sebelah kanan, sementara Noah tetap di posisinya. Tapi sekarang yang ada di depannya adalah Igris.
“Hai, roomie…,” sapa siswa berwajah ramah itu. Tampilannya khas group idol, dengan rambut bowl cut yang ber-layer.
Noah hanya mengangkat dagu sekilas sebagai anggukan untuk membalas salamnya. Senyum Igris berangsur kaku sebelum akhirnya ia kembali membelakangi Noah untuk menghadap ke arah wali kelas di depan sana.
Saat masuk ke kelas tadi, guru laki-laki itu masih tampak sangat rapi. Tapi sekarang ujung kemejanya sudah keluar dari celana, lengannya digulung sampai ke siku dan dia me-rusak tatanan rambut yang tadinya sudah rapi dengan gel. Tampaknya ia sangat tidak betah dengan penampilan necis itu dan sudah tak sabar ingin masuk ke mode santai.
Dengan sebelah tangan berada di saku celana, sang wali kelas itu pun mulai menuliskan namanya di papan tulis putih.
Adam Sanjaya.
“Aku akan menjadi wali kelas kalian selama satu tahun ke depan.” Ia mengambil jeda sejenak sebelum memulai penjelasan panjang. “Jika masih ada yang belum paham, akan kujelaskan lagi. Kelas ini hanya untuk orang-orang terpilih. Secara garis besar, Kelas S tak begitu berbeda dengan kelas reguler. Hanya saja, kalian akan mendapat lebih banyak kelonggaran, selama itu berhubungan dengan kegiatan olahraga sesuai cabang yang kalian ikuti. Dan tentu saja, kalian semua yang ada di sini adalah para penerima beasiswa penuh. Jadi kalian tak perlu khawatir dengan biaya apapun selama bersekolah di sini.”
“Pak!”
Seorang siswi bertubuh jangkung mengangkat tangan untuk bertanya. Setelah Adam mempersilakannya, siswi itu melanjutkan, “Saya dengar ujian tengah dan akhir semester kami juga berbeda dengan kelas reguler. Apa itu artinya pelajaran yang kami terima sehari-hari juga berbeda dengan mereka?”
“Tidak, kalian tetap akan mendapatkan kurikulum pelajaran yang sama. Hanya saja, ujian kalian akan dibuat lebih mudah. Seperti tugas berkelompok, membuat paper atau pun makalah dan sejenisnya. Intinya, nilai kalian tidak hanya ditentukan dari nilai akademis, tapi juga dari prestasi kalian di bidang olahraga masing-masing.”
“Wah… jadi walaupun kita bodoh dalam pelajaran, itu nggak masalah, dan kita tetap dijamin naik kelas selama kita jago main bola!”
Sekelompok siswa di sudut kelas tampak bersemangat sambil mengepalkan tangan penuh antusias.
“Tapi…!” Adam meninggikan suaranya untuk meredakan antusiasme mereka. “Jangan kira 3 tahun masa sekolah kalian di sini terjamin kalau kalian bersantai-santai. Akan ada evaluasi pada setiap akhir tahun, jadi ada kemungkinan kalian akan ditendang dari Kelas S. Kursi kalian di Kelas Special ini bisa direbut oleh orang yang lebih jago dari kalian. Dan tentu saja, jika itu terjadi, beasiswa juga otomatis akan dihentikan.”
Noah mengangkat tangan tanpa suara, tapi Adam melihatnya. Ia mengangguk, memberi kesempatan kepada Noah untuk berbicara.
“Bagaimana menentukan siapa lebih jago dari siapa, sedangkan kita semua di sini berasal dari bidang olahraga yang berbeda-beda?” Pertanyaan Noah segera mendapat banyak anggukan dari seluruh penjuru kelas.
“Tentu saja dari performa kalian di klub olahraga,” jawab Adam. “Contoh, kalau ada murid di luar Kelas S yang main sepak bola dengan baik, maka pemain sepak bola di kelas ini harus waspada. Begitu juga dengan cabang olahraga lain. Jadi, bisa saja kursi kalian di kelas ini direbut oleh rekan se-tim kalian di masing-masing cabang olahraga. Sebagai informasi, setiap tahun sekolah ini akan mengadakan Class Meeting[1]. Ini lebih seperti festival dan pada dasarnya adalah kegiatan bersenang-senang untuk para siswa setelah menjalani ujian akhir semester genap, tapi tidak untuk kalian.”
Adam menambah kesan menegangkan dengan mengedarkan pandangannya ke wajah-wajah 25 siswa di kelas itu.
“Khusus untuk kalian, Class Meeting adalah salah satu cara untuk mempertahankan kursi di Kelas S. Di situlah kalian harus bisa menunjukkan bahwa kalian masih pantas dan tidak bisa digeser oleh siapapun. Tentu saja, jika kalian memenangkan suatu turnamen atau misalnya mendapatkan medali ataupun trofi penghargaan dalam suatu kejuaraan, maka kalian boleh bersenang-senang di class meeting karena kursi kalian sudah dijamin aman. Tapi, jika performa kalian buruk dalam berbagai kejuaraan resmi, maka Class Meeting mungkin adalah satu-satunya cara untuk bisa menyelamatkan kalian agar tetap berada di Kelas S.”
“Pak, gimana kalau salah satu dari kami tersingkir dari Kelas S waktu kenaikan kelas, apakah kami otomatis tetap naik ke kelas 11 dan hanya dipindahkan ke kelas reguler saja?” Seorang siswi berambut bob sebahu, mengangkat tangan dan langsung bertanya meski ia belum dipersilakan.
Tapi sepertinya Adam tak mempermasalahkan itu selama ia tidak disela saat sedang berbicara. “Nah… dalam kondisi seperti itulah nilai ujian akademis kalian jadi berguna.”
“Eeeehhhh…?”
“Maksudnya?”
“Katanya kami harus fokus ke kompetisi dan kejuaraan. Tapi bisa tinggal kelas juga?”
“Ini terlalu berat… mustahil.”
Terdengar nada protes nyaris dari seluruh siswa di kelas itu.
“Lho? Ini sekolah, kan? Tempatnya para pelajar.” Adam tak mau kalah dari arus yang sedang dibuat para siswa di kelas. “Meskipun kalian boleh menomor-duakan pelajaran dan ujian kelas, tapi bukan berarti itu tidak dinilai. Tentu saja kemampuan belajar di bidang akademis tetap memegang peran penting jika kemampuan olahraga kalian buruk. Jadi jangan anggap sepele pelajaran kelas.”
“Tapi kan, Pak…”
“Masih mau mengeluh?” Adam langsung menyela si calon atlet sepak bola yang di awal tadi sempat sangat bersemangat.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Class meeting adalah kegiatan yang dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Kegiatan ini berupa pertandingan antar kelas yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengeluarkan semua bakat dan minat siswa dalam bidang tertentu seperti olahraga, kreativitas dan lain-lain.