“Noah, apa kamu nggak suka tim Cendana?” tanya Ahsan setelah melewati proses pemilihan kata yang ia anggap paling sedikit damage-nya.
Noah terperangah beberapa saat sebelum menjawab, “Kok Kak Ahsan bisa mikir gitu?”
“Entahlah,” Ahsan mengangkat bahunya sekilas, “menurutmu?”
Noah tak yakin bagaimana ia harus menanggapi pertanyaan itu, akibatnya Noah hanya melongo tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Beberapa detik berlalu, Ahsan masih menunggu, sementara Noah masih belum mengatakan apa-apa. Hingga akhirnya Ahsan menghela napas dan memutuskan untuk tak terlalu menekan dan menyudutkan Noah.
“Ok. Lupakan aja pertanyaan tadi,” kata Ahsan, “aku cuma mau kamu ingat, ada banyak bakat di Cendana. Zikri, Bayu, Heru dan teman-temanmu yang lain berjuang keras untuk bisa bermain di lapangan. Tapi mereka terpaksa hanya bisa menonton dari tribun karena Coach Adam menganggap kamu dan Igris jauh lebih berbakat.”
Ahsan menghentikan kalimatnya sejenak saat sudut matanya melihat Dewa baru saja memasuki ruang ganti yang sudah mulai kosong itu, siswa kelas 12 berdarah panas itu melangkah cepat menghampiri Ahsan dan Noah yang berada di sudut ruangan.
“Cendana adalah rumahmu, Noah. Aku harap kamu nggak menganggap sepele tim ini.” Ahsan agak mempercepat ucapannya kali ini karena ingin memotong langkah Dewa sebelum ia sampai di hadapan Noah.
“Ngapain kamu?” tanya Ahsan sambil mengalungkan lengannya ke leher Dewa sambil agak mendorongnya mundur kembali menuju pintu. “Kami udah selesai bicara, kamu nggak perlu nyusul ke sini. Ayo cepat, busnya udah nunggu,” kata Ahsan lagi.
“Bentar! Ada yang mau aku bilang sama anak itu! Hei, Noah!” Dewa memanggil Noah di akhir kalimatnya. “Apa maksud permainanmu tadi, hah?! Kamu pikir boleh main kayak gitu?! Kamu nggak pernah nganggap tim ini penting, kan? Kamu kira bakatmu itu istimewa, hah?! Ada banyak anak SMA yang bisa main lebih bagus dari kamu! Ngerti, kamu?! … Apa-apaan, Ahsan! Aku masih mau ngomong!”
Saat Dewa memuntahkan seluruh kekesalan yang disertai sumpah serapah itu, Ahsan sama sekali tak berhenti menyeretnya keluar ruangan. Tapi Dewa masih saja terus mengomel meski ia dan suaranya semakin menjauh dari Noah.
Hanya tinggal Noah sendiri yang ada di situ. Segala perlengkapan tim dan sampah sudah dibereskan, ia hanya perlu membawa dirinya meninggalkan tempat itu dan menyusul ke bus, di mana rekan-rekan setimnya mungkin sudah menunggu dan siap melemparkan pandangan menghakimi ke arahnya, sepanjang perjalanan kembali ke sekolah nanti.
Noah menghembuskan napas perlahan sambil melangkah gontai, rasanya tak ada satu pun hal baik yang ia lakukan hari ini … semuanya terasa salah.
Bunyi notifikasi terdengar dari hp Noah di dalam tas, tepat saat ia baru selangkah meninggalkan ruang ganti itu. Ia memutuskan untuk mengecek notifikasi pesan di layar hp-nya sambil berjalan di koridor menuju pintu keluar GOR.
“Tas sekolah Rihan hilang, terus ketemu di tempat pembakaran sampah.”
Adalah pesan yang kembali dikirimkan Said saat Noah sedang berjalan menuju bus Cendana yang terparkir.
Lagi … di satu sisi Noah ingin berhenti mendengar semua berita buruk ini, tapi di sisi lain, ia harus mengetahuinya. Noah sendiri yang meminta Said untuk selalu update kondisi Rihan selama Noah tidak berada di sekolah. Untungnya Said sangat menyukai hal-hal berbau detektif-detektifan begini, melakukan investigasi, memata-matai dan sejenisnya.
Entah itu memang cita-citanya atau mungkin cuma sebatas hobi, yang pasti, Noah besyukur Said mau direpotkan seperti ini. Sebagai gantinya Noah hanya perlu sering-sering mentraktir Said di kantin.
Sepertinya Andi tahu bahwa ia sudah dilaporkan. Alih-alih menyadari kesalahan, ia malah merasa sangat marah kepada Rihan dan level bullying-nya pun semakin menjadi-jadi.
Disiram di toilet, tulisan menghina di papan tulis, kehilangan tas dan dibuang di tempat sampah, semuanya terjadi dalam satu hari. Seolah Andi sedang menunjukkan kepada Rihan bahwa percuma saja melawannya.
“Tolong temani Rihan terus, ya. Jangan biarin dia sendirian, dan jangan kasi dia kesempatan naik ke atap gedung atau lantai yang tinggi,” ketik Noah di dalam pesan yang ia kirimkan kepada Said.
Noah tak bisa berhenti cemas.
Ketika seseorang disudutkan sampai ia merasa tak ada lagi jalan keluar, hanya keputusasaan yang akan tersisa dalam dirinya.
Rihan mungkin akan menyerah untuk meraih masa depannya sebagai atlet, atau yang paling parah, ia bisa saja memutuskan untuk menyerah pada hidupnya sendiri.
Noah segera menepis pikiran-pikiran buruk di kepalanya. Ia menyimpan hp kembali ke dalam saku celana dan berjalan melintasi zona media yang sudah tak begitu ramai.
Hanya ada Coach Adam yang masih menjawab pertanyaan seorang wartawan, semua kontingen Cendana sudah berjalan ke bus yang terparkir.
Saat Noah melintas di belakang Coach Adam, ia menduga beberapa wartawan akan meminta waktunya, seperti biasa. Tapi tidak, mereka bahkan tak memanggil Noah dan membiarkannya berlalu begitu saja.
Meski situasi ini agak berbeda, tapi Noah tak keberatan. Ia malah merasa lega mendapatkan perhatian lebih sedikit dari yang biasanya.
Mata Noah menatap ke sekitar tanpa memelankan langkahnya, ia mencoba menemukan sosok Vito yang biasanya tak pernah absen menyapa.
Tapi kali ini, Vito tidak berada di zona media. Noah menemukannya di luar GOR, di dekat bus Cendana, sedang mewawancari Igris.
“Hari ini kamu bermain sangat luar biasa,” terdengar suara Vito memberi pendahuluan sebelum memulai pertanyaan, “tampil bersama tim dengan individu-individu hebat seperti Cendana sebenarnya bukan hal yang mudah. Seperti pedang bermata dua, kamu bisa bersinar cemerlang bersama mereka atau kamu juga bisa tertutupi sinar mereka. Bagaimana kamu mengatasi hal itu?”
“Ya … semua orang di Cendana saling membantu,” jawab Igris ramah, “saya bersyukur bisa bersinar bersama-sama dengan mereka. Selain berlatih dengan keras, juga dibutuhkan mental yang kuat untuk bisa …”
Noah tak begitu mendengarkan kelanjutan kalimat Igris karena ia memilih untuk melangkah cepat menuju pintu bus dan mengabaikan mereka.
“Ah … Noah!” Tanpa diduga, ternyata Vito melihat Noah yang melintas tak jauh di belakang Igris. “Boleh minta waktunya sebentar?” tanya Vito lagi.
“Sorry, wawancara yang main aja. Hari ini aku cuma bench warmer[1],” tolak Noah sopan. “Sampai ketemu di final besok,” pamitnya sambil lalu menaiki bus dan tak menoleh lagi.
Vito kembali mengalihkan perhatian kepada Igris yang berada di depannya. “Apa terjadi sesuatu dengan Noah?” tanyanya.
“Ng … dia baik-baik aja, mungkin …”
“Igris, ayo!” terdengar suara Dewa yang memanggil dari dalam bus.
Kalimat Igris pun menggantung dan ia tak melanjutkannya. Igris bersyukur Dewa menyela karena sebenarnya Igris juga tak tahu apa yang terjadi dengan Noah dan ia tak punya wewenang menjawab pertanyaan yang dilontarkan Vito tadi.
“Maaf, mungkin besok Bapak bisa tanya langsung aja ke Noah. Saya permisi dulu, ya.” Igris buru-buru pamit. Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Vito, ia langsung berbalik dan berlari kecil menuju pintu bus.
* * *
Noah berjalan menaiki tangga sebuah gedung, ia tak bisa melihat apa-apa selain langkah kakinya sendiri. Saat tiba di ujung tangga, ada sebuah pintu yang menunggu untuk dibuka.
Noah menguak pintu dan cahaya dari luar menyeruak masuk menyilaukan mata. Hanya butuh beberapa saat untuk membiasakan matanya, ia sudah bisa melihat siluet seseorang di depan sana.
Mata Noah memicing, berusaha memperjelas pandangannya, hingga kemudian ia melihat siapa pemilik bayangan siluet itu.
Fajar. Lelaki itu sedang berdiri membelakangi Noah, menopangkan kedua tangannya di atas pagar sambil memandangi matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat.
Noah ingin memanggilnya, tapi saat ia membuka mulut, tak ada suara yang keluar.
Namun anehnya, Fajar tetap menoleh, seolah ia sudah menunggu kedatangan Noah.
Lelaki itu berbalik, berdiri menatap Noah, memunggungi matahari senja dengan angin yang menerpa dari belakangnya. Kemeja dan rambutnya yang agak panjang berkelebat, seolah ia akan menghilang terbawa embusan angin.
“Noah …,” suaranya terdengar lirih, “aku nggak mau ditolong ….”
Noah hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia berteriak memanggil nama Fajar, tapi tetap saja tak ada suara yang keluar.
Noah berusaha melangkah mendekati sosok itu, tapi kakinya menempel di tempatnya berdiri.
Di saat yang bersamaan, Fajar kembali memutar tubuhnya dan membelakangi Noah. Ia lalu memanjat pagar dan berdiri di atasnya. Kedua tangannya membentang dan wajahnya menengadah ke langit, matanya terpejam dengan senyum yang terlihat bahagia.
Ia kembali bergumam, “Kamu nggak akan bisa menolongku, jadi diam aja di situ. Jangan lakukan apa-apa.”
Detik berikutnya, tubuh Fajar semakin condong ke depan, lututnya tak menekuk dan tangannya tetap membentang, matanya masih terpejam dan wajahnya pun masih tersenyum.
Lelaki itu … membiarkan tubuhnya jatuh dan menghilang begitu saja dari hadapan Noah.
Noah berteriak sekeras yang ia bisa, suaranya masih terdengar seperti diredam sesuatu, tapi Noah tak menyerah. Dengan air mata yang menganak sungai di pipinya, ia terus berteriak, tak peduli meski tenggorokannya terasa seperti terparut.
Hingga tiba-tiba seseorang menampar pipi Noah cukup keras.
Noah membuka mata dan menemukan langit-langit kamar asramanya yang remang, serta wajah Igris yang sedang menatapnya cemas.
“Noah, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Igris sambil membantu Noah duduk.
Sekujur tubuh Noah gemetar dan basah karena keringat, bahkan saat Igris memberinya segelas air minum, tangan Noah masih bergetar hebat hingga Igris harus membantu mengarahkan gelas ke mulutnya.
“Badan kamu agak panas. Kayaknya kamu demam,” kata Igris lagi. “Gimana? Mau ke rumah sakit aja?”
“Nggak … nggak usah,” balas Noah pelan, “aku cuma mimpi buruk. Sorry udah ganggu tidur kamu.”
Noah meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja di sebelahnya. “Thanks,” imbuhnya sebelum kembali berbaring dan menutupi selimut sampai ke kepalanya.
Bukan Noah tak menghargai perhatian Igris, ia hanya tak mau Igris melihatnya dalam keadaan seperti itu. Untungnya Igris mengerti. Ia melangkah kembali ke tempat tidurnya tanpa mendesak Noah.
“Kalau ada apa-apa, bangunin aku, ya,” pinta Igris. Tapi ia tak menunggu jawaban Noah, ia tahu Noah tak akan menjawabnya.
Igris pun berbaring di tempat tidurnya sambil lalu menoleh ke arah Noah. Teman sekelasnya itu masih menyelimuti diri tanpa bersuara … namun Igris bisa melihat, sosok yang berada di balik selimut itu masih menggigil meskipun ia tidak sedang kedinginan.
* * *
Pertandingan final akan berlangsung jam setengah dua siang. Sekolah menyediakan bus kedua untuk anggota tim basket Cendana yang ingin ikut ke venue, termasuk tim putri yang kemarin gugur di babak semifinal.
Semua yang ingin ikut dan memberi dukungan diminta untuk berkumpul di depan sekolah sebelum jam 9 pagi. Sementara skuad tim putra yang akan bertanding diwajibkan untuk berkumpul 1 jam lebih cepat karena akan diadakan briefing sebelum berangkat ke venue.
Masih ada waktu 15 menit sebelum waktu briefing jam 8 pagi, Noah sedang meminta Nina – staff kepala sekolah yang waktu itu – untuk mengizinkannya bertemu dengan kepala sekolah, meski hanya sebentar.
“Kepala Sekolah belum datang. Tapi wakilnya, Pak Beni, ada di dalam,” terang Nina, “tapi biasanya kami nggak terima tamu sebelum jam 8. Kamu balik aja nanti, agak siangan.”
“Nggak bisa. Ini penting. Lagipula jam 9 nanti saya berangkat ke pertandingan Liga Rookie,” tolak Noah. “Sebentar aja kok. Janji.”
Nina tampak berpikir keras sebelum akhirnya mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang. “Pak, ada siswa kelas 10-S yang ingin ketemu. Katanya penting. Dia mau berangkat ke pertandingan basket, jadi dia mau ketemu sekarang.”
Staff kepala sekolah yang selalu tampak rapi dan elegan itu sepertinya mendapat jawaban singkat dari seberang sana.
"Baik, saya mengerti, Pak,” ujarnya sebelum mengakhiri pembicaraan dan meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.
“Ya udah, kamu masuk sana,” katanya kemudian kepada Noah.
Noah pun tak mau membuang waktu dan langsung melangkah cepat menuju kantor wakil kepala sekolah. Ia mengetuk pintu sebagai formalitas dan langsung menguak pintu tanpa menunggu jawaban dari dalam.
“Kamu yang kemarin? Ada apa lagi?” tanya Pak Beni yang tak mau repot-repot menyembunyikan ekspresi jengkelnya.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Bench warmer atau benchwarmer, secara harfiah dapat diartikan “penghangat bangku”, adalah istilah yang digunakan untuk pemain olahraga yang tidak dipilih untuk bermain dan hanya duduk di bangku cadangan.