“Kamu yang kemarin? Ada apa lagi?”
Wajah Pak Beni muncul dari balik layar laptopnya yang terbuka di atas meja. Ia tampak super jengkel.
“Saya mau menanyakan follow up kejadian yang saya adukan waktu itu,” sahut Noah tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak duduk di kursi dan tetap berdiri di depan pintu.
“Masuk dan tutup pintunya,” kata Pak Beni lagi, “duduk.”
“Nggak perlu, Pak. Saya buru-buru,” tukas Noah sambil lalu menutup pintu di belakangnya. Tapi ia tetap berdiri di titik yang sama. “Saya cuma mau mendengar alasan kenapa Andi masih bebas berkeliaran di Cendana tanpa ada tindak lanjut apapun dari sekolah.”
“Saya kan udah bilang, ini bukan masalah kecil. Pihak sekolah harus berhati-hati dalam mengambil tindakan. Semuanya harus didiskusikan dengan seksama.” Intonasi suara Pak Beni mulai meninggi.
“Sementara Bapak menunggu dan diskusi di sini, apa Bapak tahu apa yang terjadi dengan teman saya?” Noah mulai terpancing menggunakan intonasi yang sama tingginya.
“Berani-beraninya kamu meninggikan suaramu di depan saya!” Pak Beni menggebrak meja sambil beranjak dari kursinya.
“Saya juga mau didengar, Pak. Bukan cuma Bapak!” balas Noah lagi. “Kayaknya Andi udah tahu kalau dia diadukan, tapi anehnya dia tenang-tenang aja walaupun udah ketahuan. Malah gangguannya ke korban semakin intens, seolah menertawakan kami, seolah dia tahu dia akan baik-baik aja. Melihat reaksi Bapak seperti ini, saya jadi paham kenapa dia begitu.”
“Apa maksud omonganmu?! Kamu pikir pihak sekolah melindungi orang yang melakukan perundungan?!”
“Bukannya Bapak memang melindunginya?!” cecar Noah tak gentar. “Saya nggak tahu ada hubungan apa Bapak dengan dia, tapi yang pasti saya bisa melihat dengan jelas bahwa Bapak sedang melindunginya!”
“Jaga bicaramu, anak kurang ajar!”
Kepala Noah rasanya semakin berdenyut-denyut dan pandangannya mulai berputar, tapi itu bukan cuma karena ia sedang tidak enak badan, melainkan karena emosi yang sudah naik sampai ke ubun-ubunnya.
Rasanya Noah siap meledak saat itu juga. Ia membayangkan dirinya melempar vas bunga, membalikkan kursi dan meja, lalu memecahkan semua kaca yang ada di ruangan itu.
Namun, pada akhirnya itu hanya akan memperburuk keadaan. Makanya Noah bermaksud untuk tak memperpanjang perdebatan. Lagipula ia sudah hampir kehabisan waktu.
“Saya masih menyimpan bukti rekaman itu,” Noah lebih mengontrol emosi dan nada bicaranya kali ini. “Daripada menunggu respon dari pihak sekolah, mungkin bakal lebih cepat dapat respon kalau video ini saya upload ke media sosial. Kebetulan followers saya juga lumayan banyak.”
“Sebaiknya kamu hati-hati dengan tindakanmu.” Pak Beni memberi peringatan yang lebih seperti ancaman. “Kamu sendiri tahu, kan? Kepala sekolah sedang nggak di tempat, beliau baru kembali hari ini, jadi wajar kalau saya belum mengambil tindakan.”
“Kalau gitu harusnya Bapak nggak ngasi tahu Andi tentang pengaduan yang saya buat. Masa’ Bapak nggak mikir, kalau Andi tahu dia diadukan, teman saya bisa berada dalam bahaya.”
“Saya memberi peringatan kepada Andi dan menyuruhnya berdamai sebelum masalah jadi tambah besar.”
Betapa naifnya. Noah nyaris tak percaya dengan jawaban yang ia dengar. Wajahnya sampai memerah menahan emosi, tapi ia kembali diingatkan bahwa yang ada di hadapannya itu adalah orang kedua di sekolah ini, jadi Noah hanya bisa menghempas napas kesal.
“Bapak Beni yang terhormat,” panggilnya kemudian dengan gigi menggeretak, “kalau masalah ini bisa diselesaikan hanya dengan ngasi peringatan dan menyuruh Andi berdamai, untuk apa saya repot-repot menyediakan rekaman bukti video segala?”
“Saya hanya melakukan apa yang perlu di –”
“Bapak masih aja memandang sepele persoalan ini! Tolong sekali aja pikirkan dampaknya ke korban!” Noah kembali kehilangan kendali pada suaranya. Tapi kali ini reaksi Pak Beni berbeda. Ia hanya terdiam menatap Noah dengan sorot mata marah bercampur cemas.
“Sudahlah! Percuma ngomong sama Bapak,” pungkas Noah akhirnya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa pembicaraan ini sia-sia. “Terima kasih atas waktunya. Permisi,” pamit Noah sambil lalu berbalik dan memutar knop pintu.
“Tiga hari …”
Perkataan Pak Beni menghentikan langkah Noah, ia mengurungkan niat untuk menguak pintu dan menoleh kembali untuk mendengarkan lanjutan kalimat lelaki itu.
“Beri saya waktu tiga hari, saya janji akan menyelesaikan masalah ini,” sambungnya lagi.
“Tiga hari itu terlalu lama,” sanggah Noah, “bahkan satu hari aja udah cukup bagi Andi untuk menghancurkan masa depan teman saya. Bapak malah minta waktu tiga hari?”
Pak Beni menghela napas panjang untuk menenangkan diri. “Kamu masuk dan duduk dulu, kita bicarakan baik-baik,” pintanya kemudian.
“Maaf, Pak. Saya udah bilang kan saya buru-buru. Tim kami akan bertanding di partai final dan kami sedang bersiap-siap berangkat,” tolak Noah lagi. “Saya rasa nggak ada lagi yang perlu kita diskusikan. Kalau besok saya nggak dapat kabar dari pihak sekolah, saya akan memastikan semua orang tahu tentang kejadian ini.”
Noah menganggap pembicaraan sudah selesai, ia bahkan tak memberi kesempatan pada Pak Beni untuk mencegahnya lagi.
“Permisi,” pamit Noah. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
.
“Biasanya di hari pertandingan final, bakal ada lebih banyak wartawan,” terang Coach Adam saat ia mengumpulkan anggota timnya di samping bus pagi ini. “Apapun pertanyaan mereka, nggak usah diladenin. Kadang ada yang bakal sembunyi-sembunyi nyamperin salah satu dari kalian, tetap hati-hati dan jaga sikap. Salah bicara satu kata aja bakal dipelintir sejadi-jadinya. Makanya lebih baik kalian nggak usah ngomong apa-apa.”
“Siap, Coach!” seru para anggota tim serempak dan tegas.
Coach melirik jam tangannya. “Kalau semuanya lancar, kita mungkin akan tiba di venue lebih cepat dari waktu pertandingan. Itu lebih baik daripada terlambat,” sambungnya lagi. “Waktu menunggu pertandingan nanti, jangan berkeliaran jauh-jauh, jangan lakukan aktivitas yang terlalu berat. Jogging atau pemanasan boleh, tapi jangan terlalu dipaksakan. Dibawa rileks aja,” imbuhnya.
“Siap, Coach!” jawab tim Cendana masih dengan energy yang sama.
Namun, dari dua jawaban yang diberikan secara serempak tadi, Noah tidak termasuk di dalamnya. Ia tampak masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya, mimpi yang dialami Noah semalam masih sangat mengganggunya dan sempat membuatnya ragu. Ia bertanya-tanya, apakah memang langkah yang diambilnya sudah tepat untuk membantu Rihan?
Mempertimbangkan apa yang dikatakan Fajar dalam mimpinya, Noah takut kalau perbuatannya ini akan berakibat fatal bagi Rihan. Bagaimana kalau sebenarnya Rihan tidak butuh bantuannya? Bagaimana kalau campur tangan Noah malah akan membuat Rihan semakin kesulitan?
Sementara Noah masih sibuk dengan pikirannya, Coach Adam membubarkan briefing pagi itu dan meminta mereka untuk membantu Luna menaikkan barang-barang ke dalam bus.
Sudut mata pelatih Cendana itu sejak tadi memperhatikan gelagat Noah, sepertinya Noah masih memiliki masalah yang belum diselesaikan. Ia merasa kalau Noah tidak ditegur, anak itu akan bikin ulah lagi seperti pertandingan kemarin.
“Ahsan, sini sebentar.” Coach memanggil kapten timnya. Meski Noah adalah anak didiknya, tapi pelatih sekaligus wali kelas itu selalu memilih untuk berdiskusi dengan Ahsan, sebelum mengambil keputusan apapun untuk tim Cendana.
Noah yang sedang menjadi bahan pembicaraan tampak mengeluarkan hp, karena mendengar notifikasi pesan masuk dari aplikasi chatting. Pesan yang baru saja masuk itu ternyata dari Rihan.
“Noah, hari ini pertandingan final, ya?”
“Dengar-dengar kemarin kamu bermain nggak kayak biasa.”
“Kamu udah banyak bantu aku. Kalau kamu punya masalah, aku siap dengarin kamu.”
Baris demi baris pesan yang dikirimkan Rihan, muncul di layar hp Noah dalam waktu singkat, bahkan saat Noah belum sempat mengetik balasannya.
Namun, terlepas dari apa yang disampaikan Rihan, saat ini Noah hanya ingin meminta maaf kepadanya. Karena bantuan yang tak optimal, ia malah membuat Rihan semakin menjadi bulan-bulanan Andi.
Di saat Noah baru mengetik satu kata untuk membalas Rihan, terdengar suara Ahsan memanggilnya.
“Noah,” panggil Ahsan yang sedang berdiri di belakang bus bersama Coach Adam dan Luna.
Noah menoleh dan menemukan Ahsan menggerak-gerakkan kelima jari tangannya sebagai isyarat agar Noah datang menghampiri.
“Iya, Kak?” Noah menyimpan hp-nya kembali ke saku celana dan berjalan cepat mendatangi mereka dengan harap-harap cemas. Entah kenapa Noah bisa merasakan udara di sekitar ketiga orang itu cukup berat, seperti ada hal serius yang ingin mereka bicarakan.
“Katanya kamu lagi nggak enak badan, benar?” tanya Coach langsung.
“Ha? Nggak kok, siapa bilang?”
Tepat saat Noah tiba di ujung kalimatnya, sudut mata Noah menangkap sosok Igris – yang sudah duduk di dalam bus – diam-diam mengamati dari kaca jendela. Ia langsung membuang muka setengah panik, berpura-pura mengobrol dengan orang yang duduk di sebelahnya. Tapi tetap saja kamuflase itu kelihatan canggung dan mencurigakan.
Ekspresi Noah langsung berubah kesal, tapi baru saja ia mau membantah, tangan Luna sudah lebih dulu menyentuh kening Noah.
“Kayaknya memang agak demam sih ini,” ujar Luna kemudian.
Coach Adam menghempas napas sambil melipat tangan di depan dadanya seolah ingin mengatakan: Sudah kuduga.
“Cuma tadi malam kok, Coach. Pagi tadi pas bangun udah sembuh.” Noah berusaha memberi penjelasan dengan nada memelas.
“Kamu hari ini nggak usah main,” putus Coach Adam akhirnya.
Noah sangat shock dan hampir tak percaya sang pelatih langsung mengambil keputusan itu. Ia memang disibukkan dengan urusan Rihan belakangan ini, tapi Noah sangat menanti-natikan pertandingan final, apalagi waktu tahu Soetomo yang akan menjadi lawannya hari ini. Noah sudah tak sabar ingin bermain bersama Abi lagi, meski bukan di dalam tim yang sama.
“Coach, minimal biarin saya main satu kuarter.” Noah memohon, bahkan nyaris mendesak.
“Kamu nggak fit, jadi duduk aja di pinggir lapangan, amati dan pelajari …”
“Saya bisa main!” sanggah Noah lantang dan cukup keras, hingga beberapa orang yang sudah duduk di dalam bus mulai menjulurkan leher mereka untuk melihat apa yang terjadi. “Coach … saya bisa main, saya pengen main, saya janji nggak akan bikin kesalahan lagi.”
“Hei, Noah!” Sebuah panggilan keras tiba-tiba menyela. Sontak semua mata menoleh ke pemilik suara yang sedang berdiri di pintu bus.
Dewa.
Ia melangkah turun, bermaksud menghampiri Noah dengan ekspresi yang sangat tidak ramah. Untungnya Juan muncul dari belakang dan langsung menarik lengan Shooting Guard andalan Cendana itu.
“Lepasin, Juan! Dari kemarin aku mau ngomong sama dia selalu dihalang-halangin!” Dewa menyentak tangannya lepas dari Juan, tapi kemudian Juan langsung membentuk screen[1] dengan berdiri di hadapannya untuk menutup akses Dewa ke Noah.
Perbedaan tinggi badan mereka cukup mencolok, akibatnya Dewa cuma bisa ngomel sambil berusaha bertemu mata dengan Noah dari balik tubuh Juan. “Kalau sakit kamu duduk diam aja di pinggir! Jangan sok mau main, terus nggak fokus dan malah nyusahin orang lain! Kamu kira kami nggak bisa main bagus tanpa kamu, ha!”
Sambil terus berusaha menyingkirkan Juan, Dewa melanjutkan omelannya, “Cendana ini tim yang hebat walaupun kamu nggak ada! Paham kamu?! Kami nggak butuh orang yang gak serius dan gak mau menjadikan tim sebagai prioritas! Nggak ada kamu pun kami bisa menang! Nggak usah sok penting! Kamu merasa hebat, hah?! Kalau cuma iseng-iseng, sana cari aja tim sekolah lain! Memangnya kamu pikir… hmph!”
Kalimat Dewa terhenti saat Yuda muncul dari belakangnya dan langsung membekap mulut Dewa. “Kak … tolong tenang dulu,” pintanya setengah berbisik.
“Apa?! Jangan suruh aku tenang! Dari kemarin –”
“Sshhtt … Kak Dewa …” Yuda berbisik pelan sambil menunjuk kepada Noah yang berjarak beberapa meter dari mereka. Dan meski Dewa memberontak di sela rentetan kata-kata ofensifnya, namun ia tetap melihat ke arah yang ditunjuk Yuda.
Seketika Dewa menyudahi semua ucapannya dan menghentikan usahanya untuk menghampiri Noah, saat ia melihat sosok adik kelas yang selama ini selalu terlihat dingin dan angkuh itu sedang terdiam mematung dengan ekspresi yang hampir menangis.
Entah karena kondisi fisik yang sedang tidak fit atau memang kondisi mental Noah juga sedang sangat kacau, ia bahkan tak tahu sejak kapan air matanya mulai menggenang dan membuat matanya berkaca-kaca,
Hingga akhirnya setetes air berhasil lolos dari sudut matanya, dan Noah langsung mengusapnya sambil menunduk dalam.
Ini pertama kalinya Noah terlihat serentan itu.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Screen dalam bola basket adalah upaya memperlambat gerakan/arah laju lawan tanpa bola dengan memasang badan saat permainan berjalan.