Mission: Save Rihan (2)

1771 Words
Rihan sudah menyelempangkan tasnya dan siap meninggalkan ruangan, namun di saat yang bersamaan Andi dan tiga orang temannya memasuki ruangan klub itu. Pada rekaman, tampak Rihan yang melangkah mundur sambil diam-diam menyalakan rekaman video pada hp-nya. “Rihan … belum pulang?” Andi bertanya ramah. Meski suara yang terekam dalam kamera CCTV itu tak terdengar begitu jernih; karena agak bergema. “Belum, Kak. Baru aja selesai,” jawab Rihan sambil memasukkan hp-nya kembali ke dalam saku kemeja seragam sekolahnya. “Wah … kebetulan, ini kami ada empat orang, tolong beliin minuman ke kantin dong. Nanti uangnya diganti.” Andi merangkul Rihan sambil tersenyum lebar. Dengan gerakan yang penuh respek, Rihan mengambil jarak untuk lepas dari rangkulan Andi. “Maaf, Kak. Kebetulan uang saya juga lagi nggak ada. Belum dapat kiriman dari keluarga saya,” elaknya. “Minuman yang murah aja nggak pa-pa kok, gih sana, nanti uangnya diganti.” Andi tak peduli dengan alasan Rihan dan malah semakin memaksa. “Maaf, Kak. Yang kemarin-kemarin juga Kakak belum ganti uang saya.” BRAK! Salah seorang teman Andi menendang lemari kayu di samping pintu masuk ruang klub itu. “Hitung-hitungan amat sih ni anak?!” geramnya kemudian. “Ini akibatnya kalau kamu terlalu lunak sama anak-anak baru, Ndi,” tambah seorang lainnya. Andi menghela napas sambil melipat tangan di depan dadanya dan menatap Rihan prihatin. “Rihan … padahal aku peduli banget loh sama kamu. Aku lagi berusaha supaya kamu dapat kesan yang bagus di depan Kakak-Kakak senior.” “Heh. Kalau seniormu lagi baik itu harusnya kamu bersyukur.” Siswa kelas 12 yang tadi menendang lemari itu kini melangkah mendekati Rihan sambil lalu memukulkan area senar raketnya ke kepala Rihan. Tapi ia sedikit meleset dan mengakibatkan bagian head raket juga mengenai kepala Rihan dan menimbulkan suara yang cukup keras. Rihan meringis sambil mengusap-usap kepalanya. “Wah … digetok.” “Lumayan keras juga suara ‘pletak’nya.” “Jangan berlebihan, Wan. Nanti kamu kena masalah.” “Biar aku didik dulu ni bocah.” Para senior klub itu saling bersahut-sahutan sambil tertawa. Kepala Rihan pun ditoyor ke sana kemari. Hingga kemudian Andi mengibas-ngibaskan tangan untuk menghalau teman-temannya dari Rihan. Ia lalu meletakkan tangan di bahu Rihan sambil agak menunduk menatapnya; karena memang tubuh Rihan lebih kecil darinya. Sepertinya Andi mengatakan sesuatu, tapi ia bicara tepat di depan wajah Rihan dan suaranya sama sekali tak terdengar di rekaman CCTV. Andi terlihat bicara sambil tersenyum, tapi senyum itu tak membuat Rihan terlihat tenang. Ekspresi Rihan malah berangsur gelap, seperti orang yang dibawa ke pinggir jurang dan dipaksa melompat. Ia lalu menggeleng dan mengatakan sesuatu yang kembali luput dari rekaman video CCTV. Namun apa yang dikatakan Rihan sepertinya berhasil membuat Andi kehilangan senyumnya, ia langsung mencengkram kerah kemeja Rihan dan membenturkannya ke rak besi tempat mereka meletakkan berbagai macam peralatan klub. Rekan-rekan Andi pun bersorak menimpali. “Akhirnya Andi kehabisan kesabaran juga.” “Main-main sama Andi, rasain!” “Makanya kalau disuruh tuh nurut, anj*ng!” “Kasi pelajaran, Ndi!” Mereka bertepuk tangan, mengacungkan tinju ke udara, membentuk corong di depan mulut untuk meneriakkan kata-kata provokasi. Andi terlihat cukup kesal, dadanya naik turun menahan emosi, senyum di wajahnya pun sudah berubah menjadi seringai bengis. “Kamu pikir berbakat aja bisa bikin kamu hidup tenang di Cendana?” Andi berkali-kali menampar bagian samping kepala Rihan dengan keras, hingga Rihan harus membentuk tameng dengan tangan terkepal untuk melindungi wajahnya dari pukulan Andi yang pedas dan bertubi-tubi. “Jangan besar kepala kamu, bocah s**l!” cecar Andi lagi, “terlalu cepat 10 tahun bagimu untuk mengungguliku. Nggak ada tempat buatmu di sini. Kenapa kamu nggak nyerah aja? Pulang dan bantu orang tuamu di rumah.” Melihat pemandangan itu, teman-teman Andi merasa terdorong untuk ikut meramaikan suasana. Saat bagian kiri wajah Rihan sudah terasa panas menerima tamparan Andi, pukulan dengan tangan terbuka lainnya kembali datang dari arah yang berlawanan. “Hei, ngomong! Kok diam aja? Kamu bangga banget bisa akrab sama anak basket? Kenapa nggak pindah klub aja, ha?” Salah satu dari temannya Andi mulai melibatkan diri. “Jangan pukul wajahnya, pukul di tempat lain yang nggak kelihatan.” “Kalau kakinya ditendang sampai patah aja gimana?” Mereka semua tertawa di setiap akhir komentar yang mereka lontarkan, namun tangan mereka tak berhenti melakukan sesuatu untuk memberikan rasa sakit di tubuh Rihan. “Kayaknya dia ngerasa udah bisa ngelawan kita karena ada teman-teman basketnya itu,” timpal Andi lagi. “Ha?! Kalau mau cari backing-an minimal yang kuat dikit lah.” Dan situasi pun semakin parah ketika serangan-serangan fisik mereka berubah jadi lebih agresif. Salah seorang dari mereka mencengkram lengan Rihan dan melemparnya ke sisi lain ruangan hingga menabrak sapu, kain pel, ember dan alat bersih-bersih lainnya yang memang diletakkan di sana. Rihan meraba hp di saku kemejanya, dan ternyata benda itu masih aman. Ia pun kembali berusaha bersikap normal, membetulkan posisi tali ransel di bahunya sambil berdiri di hadapan empat seniornya itu. “Kenapa Kakak bisa sebenci ini sama aku? Memangnya aku ada salah apa?” tanyanya kemudian. “Masih nanya?!” Andi terlihat semakin kalap dan langsung mengambil kursi di sampingnya untuk dihantamkan ke bagian samping tubuh Rihan. Kejadian itu membuat Rihan terhuyung dan jatuh, teman-teman Andi pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menendang dan menginjak Rihan beberapa kali. Noah menghentikan video rekaman yang ditontonnya sampai di situ, ia tak sanggup melanjutkan. Tapi setelahnya, Noah mengecek video rekaman dari kamera yang dikantongi Rihan waktu itu. Hasilnya memang tidak jelas, wajah Andi dan teman-temannya tak terlihat, hanya berhasil menampilkan bagian leher ke bawah saja. Rekaman dari hp Rihan memang hanya menunjukkan gambar-gambar random, seperti lantai ruang klub, dinding dan sepatu-sepatu para bully ketika mereka menggunakan kaki untuk menghajar Rihan yang sudah terjatuh di lantai. Meski begitu, rekaman dari hp itu yang berhasil menangkap seluruh pembicaraan mereka. Ternyata saat Andi meletakkan tangan di bahu Rihan dan mengatakan sesuatu dengan suara yang tak terekam CCTV, ia mengatakan: “Kamu berbakat nggak, kaya nggak, keluargamu nggak punya nama, koneksi orang dalam juga nggak ada. Apa yang kamu andalkan? Berani melawanku?” Dan waktu itu, kalimat balasan Rihan yang membuat Andi jadi naik pitam adalah: “Tapi pelatih pernah bilang, waktu Kak Andi masih kelas 10, Kakak nggak lebih berbakat dari aku. Dengan kata lain, aku punya bakat yang jauh lebih besar dari Kakak.” Noah tak bisa mencegah senyum bangga di wajahnya saat mendengar rekaman itu. Rihan akhirnya berhasil mengumpulkan nyali untuk mengatakan apa yang memang seharusnya ia katakan, sebuah fakta yang selama ini mungkin ingin dipungkiri oleh Andi. . "Hei." Seseorang memberikan sapaan ramah saat Noah sedang duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang kantor kepala sekolah. Saat Noah mengangkat wajahnya, ia menemukan wajah menyebalkan yang tidak asing. Andi. Tanpa ragu, kapten klub bulutangkis itu pun langsung duduk di sebelah Noah dan memulai obrolan sok akrab. "Kamu juga ada urusan dengan kepala sekolah?" tanyanya. Noah memutar bola matanya, malas menanggapi. Tapi Andi pantang menyerah. "Kenapa? Asramamu kurang nyaman?" Meski tak mendapatkan jawaban, Andi masih saja mengajukan pertanyaan. "Kudengar kamu ditempatkan sekamar dengan rivalmu waktu di SMP. Aku bisa bayangin rasanya pasti nggak nyaman banget." “Nggak nyangka kamu ternyata tahu banyak tentang aku.” Noah akhirnya menanggapi, walaupun tanggapannya itu terdengar sinis. “Aku sebenarnya cukup tertarik sama kamu, cuma sayangnya aku nggak tahu kenapa kamu nggak suka sama aku.” “Thanks, tapi aku sukanya masih sama cewek.” “Bukan, maksudku bukan suka yang kayak gitu.” Andi tertawa pelan sambil lalu meluruskan. “Maksudku, aku ngerasa kita agak senasib, jadi harusnya kita bisa saling mengerti satu sama lain.” Noah menatap Andi dengan alis berkerut seolah mengisyaratkan: “Ngomong apa ni orang?” "Siapa namanya? Igris?” Andi sepertinya tak peduli bahkan jika obrolan ini berkembang menjadi obrolan satu arah. “Orang-orang nggak berhenti memujinya, bahkan selalu menyandingkan namanya setiap kali namamu disebut. Walaupun sekarang kalian satu tim, tapi tetap aja, dibanding-bandingkan dengan rekan satu tim itu rasanya pasti menyebalkan." Oh … akhirnya Noah paham, apa yang dimaksud Andi saat ia tadi mengatakan bahwa Noah senasib dengannya. "Tapi minimal aku nggak nge-bully dia." Tanggapan Noah yang singkat dan tajam membuat cengiran Andi memudar, namun detik berikutnya ia berusaha mengontrol kembali ekspresinya. “Tunggu dulu, maksudmu aku bully siapa?” Andi mengajukan pertanyaan yang terkesan ingin menantang Noah. Noah menarik napas dalam sebelum kemudian menghempasnya sambil melempar tatapan ke sudut lain. Ia tak ingin berada dalam obrolan ini sekarang, karena rasanya ia tak akan bisa menahan emosi jika nama Rihan disebut secara acuh tak acuh oleh Andi. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Noah dari dalam ruangan. Noah pun beranjak sambil merapikan seragamnya. “Aku nggak perlu menjawab pertanyaan itu,” balasnya kemudian, “kamu tahu jawabannya.” Andi – yang masih duduk di kursinya – harus sedikit mendongak untuk menatap Noah yang berjalan menuju ke pintu ruang kepala sekolah dengan lewat tepat di depannya. “Rihan?” Andi seolah menebak-nebak untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Rahang Noah mengetat saat nama itu akhirnya keluar dari mulut Andi, tapi ia sama sekali tak merasakan ada penyesalan di sana. Apa orang di hadapannya ini benar-benar merasa tak bersalah atas apa yang sudah ia lakukan kepada Rihan? Melihat reaksi Noah, Andi kembali berkomentar, “Kamu nggak nganggap candaan aku sama junior-juniorku itu serius, kan?” “Candaan?” Noah merasa seakan-akan seseorang sedang menyalakan api di dalam pembuluhnya sehingga darahnya mendidih. “Iya … hal-hal kayak gitu tuh biasa di mana-mana,” tambah Andi lagi, “adik kelas beliin minum atau makanan untuk kakak kelas atau kakak kelas nge-prank adik kelas dan semacamnya. Masa kamu nggak tahu, sih?” Noah mendengus dan mengeluarkan suara tawa untuk menyamarkan kemarahannya. Ada banyak hal yang ingin ia muntahkan di hadapan Andi, mencekokinya dengan 1001 alasan tentang kenapa perbuataannya kepada Rihan itu tak pantas disebut sebagai candaan normal. Tapi Noah mengurungkan niatnya. Percuma saja, Andi tak akan pernah paham sampai seseorang memberikan tamparan keras di wajahnya dan membuatnya menyadari kesalahannya sendiri. “Jadi kamu sama sekali nggak menyesal atau merasa bersalah?” tanya Noah lagi, memastikan bahwa apa yang akan ia lakukan sebentar lagi – mengadukan perundungan yang dilakukan oleh Andi kepada kepala sekolah – adalah memang hal yang seharusnya. “Untuk apa?” Ya, itu adalah jawaban Andi, sebuah pertanyaan yang menggambarkan betapa ia sama sekali tak menyesali perbuatannya. Dan Noah bersyukur atas tanggapan yang diberikan Andi. Itu artinya Noah tak perlu merasa bersalah walaupun mungkin masa depan Andi akan berantakan setelah Noah membeberkan rekaman di dalam flashdisk yang ada di tangannya saat ini. “Ok,” pungkas Noah sebelum kemudian membuka pintu di hadapannya dan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah tanpa mengharapkan interaksi apapun lagi dengan Andi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD