“Noah …,” sapa Rihan dengan senyum kaku yang agak dipaksakan. Entah bagaimana ia jadi merasa bersalah melihat Noah yang muncul dengan tampang panik dan napas yang terengah.
“Kenapa? Pertandingannya pasti berat, ya? Kamu kelihatannya capek banget.” Said beranjak dan menawarkan kursinya untuk Noah.
Gilang pun memberi tepukan pelan di punggung Noah agar ia bisa kembali menguasai diri di hadapan teman-temannya. Noah, diikuti Gilang dan Lisa, melangkah masuk ke kamar rawat inap yang dihuni 4 pasien itu. Masing-masing ada satu kursi yang disediakan di samping tempat tidur untuk menunggui pasien.
Duduk di sebelah Rihan, Noah tak sengaja mengabaikan pertanyaan Said karena terlalu fokus dengan kondisi Rihan, ia bahkan gagal menyadari bahwa saat ini yang menemani Rihan di ruangan itu bukan hanya Said, tapi juga ada Muklis dan David.
“Rihan … kamu nggak apa-apa, kan? Gimana kejadiannya?” Noah akhirnya mampu mengeluarkan kalimat utuh yang tak terbata-bata.
“Tulang lengannya mengalami fracture, luka terbuka di pelipis mata, juga ada beberapa luka dan memar lain.” David menjelaskan kondisi Rihan.
“Tanganmu patah?” Sontak perhatian Noah pun beralih ke tangan kanan Rihan yang di-gips. “Tapi nggak parah, kan? Kamu masih bisa main badminton, kan?”
Rihan tertawa pelan sambil menepuk-nepuk pelan pundak Noah. “Tenang aja, masih bisa main kok. Kata dokter, kemungkinan gips baru bisa dilepas sebulan lagi, dan setelahnya aku harus menunggu sampai 2-3 bulan … sampai benar-benar pulih dan bisa main lagi.”
“Tapi gimana dengan pertandingan? Kalian juga ada turnament, kan?” Noah masih belum bisa meredakan rasa cemasnya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai begini?”
Rihan menghela napas, berpikir dari mana ia akan mulai menjelaskan. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Muklis sudah mengambil alih.
“Waktu kami datang ke ruang klub badminton untuk menjemputnya kembali ke asrama, dia sudah meringkuk sendirian di lantai,” terangnya.
“Kami udah periksa rekaman CCTV yang kita pasang di ruang klub, Rihan juga merekam dengan kamera hp-nya – walaupun hasil rekamannya nggak terlalu fokus karena ia menyimpan hp-nya di saku seragam kemeja,” tambah Said.
“Tapi kenapa kamu nggak hubungi salah satu dari teman kita?” tanya Noah lagi. “Kalau sempat bikin rekaman video, harusnya kamu juga sempat nelpon Said atau yang lainnya.”
Rihan tak langsung menjawab, sepertinya ia sedang memikirkan bagaimana cara memberi penjelasan yang akan membuat mereka memakluminya. “Soalnya kupikir … semakin banyak bukti, semakin bagus,” gumamnya kemudian.
“Ha? Jadi maksudmu kamu sengaja dipukulin mereka gitu? Biar bisa ngerekam bukti?” Noah nyaris tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
“Bukan sengaja dipukulin juga. Awalnya tuh mereka mau nyuruh aku beliin minuman setelah latihan, aku bilang kalau aku nggak ada duit dan aku benar-benar nolak permintaan mereka. Terus mereka ngerasa kok aku udah berani melawan gitu … waktu salah satu dari senior mukul aku pake raket, yang lain mulai ikut-ikutan. Makanya, kupikir ya … sekalian aja aku ngumpulin bukti.”
Suara Rihan terdengar semakin pelan di ujung kalimatnya. Ia juga sadar kalau caranya ini salah dan terlalu nekat, tapi mau gimana lagi? Kalau memang mau melawan Andi, sekalian saja habis-habisan, pikirnya begitu.
Noah menghempas napasnya, seolah merasa kalau mau tak mau ia harus setuju dengan keputusan Rihan. Matanya lalu bertemu dengan Said yang hanya mengangkat bahu sekilas, mengisyaratkan; “ya … mau bagaimana lagi?”
Muklis dan David pun sepertinya menghargai tekad Rihan itu.
“Ini sebenarnya ada apa sih? Ada yang mau jelasin, nggak?” Lisa yang sejak tadi mengikuti sambil mengamati dari pinggir pun akhirnya membuka suara, setelah merasa kalau situasi tegang dan panik tadi sudah mulai terkendali.
Sontak semua mata tertuju pada Lisa. Said dan yang lainnya tentu saja tak mengenali siapa gadis itu, mereka juga tak diperkenalkan dengan Gilang yang sejak tadi sudah mengikuti Noah.
Menyadari hal itu, Gilang berinisiatif memperkenalkan diri. “Aku Gilang, temannya Noah. Ini Lisa, dia juga temannya Noah.”
“Oh … teman,” sahut Said dan yang lainnya lumayan serempak.
Gilang paham kalau pikiran teman-teman sekolah Noah itu nyaris tergiring ke hal yang lain. “Kenapa? Kalian kira dia pacarnya Noah?” Ia pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk mencairkan suasana dengan sedikit candaan.
Alih-alih mempengaruhi Noah, celetukan Gilang tadi malah lebih berdampak ke Lisa. Wajah gadis itu langsung merona merah tak terkendali.
“Kak Gilang apaan, sih?” Lisa memukul lengan Gilang berlagak kesal sambil lalu menggerak-gerakkan tangan seperti sedang mengipas-ngipas wajahnya sendiri.
“Oh ….” Said manggut-manggut sambil melempar tatapan kepada Muklis dan David yang sepertinya juga menemukan fakta yang sama.
Tidak salah lagi, gadis bernama Lisa itu menyimpan perasaan suka kepada Noah.
.
“Kamu kemana tadi habis pertandingan?”
Hal pertama yang ditanyakan Igris saat Noah kembali ke Raven-27, kamarnya di asrama Cendana.
“Ke rumah sakit,” jawab Noah sambil lalu membuka sepatu dan berjalan masuk ke kamar.
“Ke rumah sakit? Kenapa? Keluargamu ada yang sakit?”
Noah menunda jawabannya dan hanya sibuk berbenah, mengeluarkan barang-barang dari tasnya dan memasukkan pakaian kotor ke keranjang laundry, lalu menyambar handuknya saat berjalan ke kamar mandi.
“Teman sekelasku.” Ia menyempatkan diri menjawab sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu di belakangnya.
“Hei, maksudmu teman sekelas kita?” Igris agak mengeraskan suaranya di depan pintu yang baru saja ditutup Noah, mengantisipasi kalau-kalau Noah tak mendengarnya. “Kamu lupa? Kita kan sekelas. Teman sekelas kita yang mana yang masuk rumah sakit?”
Mood Noah sedang sangat buruk, ia tak ingin meladeni pertanyaan-pertanyaan Igris kali ini. Itu sebabnya Noah menyalakan shower dan air kran di bak mandi, untuk meredam suara Igris agar tak terdengar lagi.
“Memangnya kau peduli?” pikir Noah dalam hati, “untuk apa nanya siapa yang masuk rumah sakit? Selama ini juga nggak ada yang merhatiin Rihan. Kalian semua cuma akan ngasi perhatian kalau udah ada yang masuk rumah sakit atau bahkan mungkin masuk ke liang kubur.”
Noah merasa sangat kesal … pada dirinya sendiri, dan juga pada semua orang yang selama ini tak pernah bertindak meski tahu sedang ada orang yang di-bully.
Mereka yang hanya menonton saja, menganggap perundungan itu tak ada hubungannya dengan mereka selama itu tidak mereka alami sendiri … orang-orang seperti itu … meski tak melakukan apa-apa … tapi mereka sama bersalahnya dengan para pem-bully.
“Jangan berlagak peduli sekarang,” gumam Noah sambil menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin, “kamu nggak ada waktu dia menderita. Di mana kamu waktu dia sedang terpojok dan membutuhkan bantuan?”
Noah mengatakan itu tak hanya untuk Igris, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Karena sosok Fajar yang terbujur kaku tak bernyawa, lagi-lagi, memenuhi isi kepala Noah. Di saat ia menyalahkan orang-orang seperti Igris yang baru muncul hanya setelah Rihan masuk rumah sakit, mau tak mau Noah juga dipaksa mengingat bahwa dirinya dulu juga tak menyadari keadaan Fajar, dan hanya muncul ketika Fajar sudah mengakhiri hidupnya.
Noah nyaris larut kembali ke dalam kubangan rasa penyesalan, kalau saja ia tak mengingat perkataan Gilang sore tadi:
“Temanmu itu namanya Rihan … dia bukan Fajar. Dia akan baik-baik saja …,”
Noah menguatkan dirinya. Ia mencengkram erat pinggiran wastafel sambil menatap ke dalam matanya sendiri di permukaan cermin itu.
Benar, kali ini akan berbeda. Kali ini Noah ada di samping Rihan, ia tak akan pernah membiarkan Rihan merasa terpojok dan sendirian.
Said sudah menyimpan semua rekaman bukti-bukti yang bisa mengekspos perbuatan Andi dan teman-temannya. Noah hanya perlu memikirkan bagaimana ia akan mengeksekusi rencananya, supaya Andi berhenti mengganggu Rihan atau kalau perlu … Andi harus menghilang dari kehidupan Rihan untuk mencegahnya mengulangi perbuatan yang sama.
.
Tepat setelah bel istirahat siang berdering, Noah memantapkan hatinya. Flashdisk yang berada dalam genggaman Noah saat ini sudah dipenuhi dengan semua bukti-bukti yang dibutuhkan untuk mengekspos kejahatan Andi. Ia pun beranjak dan melangkah meninggalkan kelas untuk menuju ke ruangan Kepala Sekolah.
Noah berjalan melintasi salah satu kursi kosong di barisan depan ruangan kelas. Rihan, pemilik kursi kosong itu masih berada di rumah sakit, dan meskipun beberapa hari lagi ia sudah akan kembali ke kelas, ia masih membutuhkan waktu untuk pemulihan sebelum bisa kembali mengikuti kegiatan latihan di klub badminton.
Tadi malam, saat Igris sudah tidur, Noah mengecek sendiri rekaman video yang diserahkan oleh Said. Waktu itu, saat Noah sedang bertanding dan merasa puas setelah menjatuhkan mental Dharmawangsa dengan skor yang memalukan, Rihan sedang berjuang sendirian mempertahankan diri dari serangan Andi dan teman-temannya, baik serangan fisik maupun verbal.
Di rekaman video itu terlihat, awalnya Rihan tampak bersama dengan empat anggota klub badminton lainnya sedang beres-beres setelah latihan selesai. Mereka sepertinya juga masih kelas 10, seangkatan dengan Rihan.
Tak lama setelahnya, seorang senior masuk ke ruangan klub dan mengatakan kalau net belum dibereskan. Lalu Rihan bersama seorang anggota ju.nior lainnya pergi ke luar ruangan untuk melepaskan net dan menggeser tiang net ke pinggir lapangan yang mereka gunakan tadi.
Aula yang digunakan klub badminton adalah Aula Serbaguna. Selain klub badminton, Aula itu juga digunakan oleh klub futsal dan beberapa klub lain yang tak begitu aktif kegiatannya. Itu sebabnya, setiap kali selesai latihan, net dan semua barang-barang milik klub badminton harus disimpan kembali ke dalam ruangan klub.
Rihan terlihat kembali sendirian ke dalam ruangan klub sambil membawa net yang sudah rapi dan siap disimpan. Rekan-rekan sesama kelas 10 yang sebelumnya piket bersama Rihan sudah pulang lebih dulu; karena memang sudah tak ada lagi tugas yang perlu dikerjakan.
Rihan sudah menyelempangkan tasnya dan siap meninggalkan ruangan, tapi ia tampak mundur kembali karena Andi dan tiga orang temannya masuk ke ruang klub tepat saat Rihan akan keluar.