Rihan is not Fajar: This Time It'll be Different

1659 Words
“Rihan dilarikan ke Rumah Sakit X. Setelah pertandingan, nyusul ke sini, ya.” Begitu pesan yang dikirimkan Said kepada Noah, sejak setengah jam yang lalu. Seketika organ-organ tubuh Noah seolah kehilangan fungsinya. Tak ada udara yang sampai ke paru-parunya, lantai di bawahnya seolah amblas dan pandangannya kehilangan fokus. Berbagai macam spekulasi negatif merajalela di benak Noah, tentang apa yang mungkin saja sedang terjadi kepada Rihan. Dan image yang paling jelas muncul di pikirannya saat ini adalah kenangan tentang sosok Fajar yang terbaring kaku tak bernyawa. Noah bernapas terlalu cepat, namun ia malah merasa semakin sesak. Saat tersadar, ternyata ia sudah berlari menuju ke pintu keluar venue, melewati semua orang termasuk para wartawan di zona media; ia bahkan mengabaikan panggilan Vito, lebih tepatnya ia tak mendengar suara apapun saat ini. Saat tiba di luar, Noah tak mendatangi bus Cendana, ia langsung menuju ke gerbang depan sambil mencari-cari kendaraan apapun yang bisa membawanya lebih cepat ke rumah sakit di mana Rihan sedang berada. “Noah!” Luna memanggilnya saat ia melewati bus, namun tentu saja, Noah tak mendengarnya. “Kenapa dia?” Ahsan juga ikut bingung melihat Noah yang berlari melintasi bus Cendana begitu saja. “Mungkin dia dapat kabar buruk dari rumahnya,” Luna meletakkan tas P3K dan beberapa barang lainnya di pintu masuk bus, “tolong ini diberesin ya. Aku mau nyusul Noah dulu,” katanya kepada Wahyu yang kebetulan berada di kursi paling dekat pintu. Tanpa menunggu jawaban dari Wahyu, Luna setengah berlari mengejar Noah. Ia kemudian berpapasan dengan Lisa dan Gilang yang sepertinya juga melihat gelagat aneh Noah. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Luna yang langsung mengenali Lisa dari pertemuan mereka sebelumnya. “Itu harusnya pertanyaanku,” jawab Lisa ketus sambil berlari mendahului. Gilang sebenarnya ingin memperkenalkan diri kepada manager klub Cendana itu, tapi ia sadar ini bukan saat yang tepat. Jadi, tanpa mengatakan apapun, Gilang menyamakan langkahnya dengan Luna untuk menghampiri Noah yang masih celingukan di gerbang depan sambil sesekali mengecek layar hp-nya. “Noah, ada apa? Kamu nggak apa-apa, kan?” Lisa memegangi lengan Noah, berusaha bertemu mata dengan Noah yang sepertinya sedang mengalami serangan panik. Alih-alih menjawab pertanyaan Lisa, saat Noah menoleh dan menemukan Gilang sedang berjalan menghampiri, ia langsung mendatangi rekan Red Phantom-nya itu. “Antarin aku ke rumah sakit,” pintanya dengan tangan yang refleks mencengkram lengan t-shirt yang dikenakan Gilang. “Rumah sakit? Kenapa? Kamu cedera?” tanya Gilang, mulai agak cemas. “Bukan …,” perhatian Noah kembali beralih ke layar hp, “ … teman sekelasku.” Tanpa menyelesaikan penjelasannya, ia lalu berbalik dan kembali mengamati tiap ujung jalan, mencari kendaraan umum yang bisa mengantarnya ke rumah sakit dengan cepat. Gilang dan dua gadis yang mengikuti Noah itu pun saling bertukar tatapan bingung. “Noah, kita bisa drop kamu ke rumah sakit pakai bus kok.” Luna berusaha menenangkan Noah dengan memberi solusi. “Nggak bisa,” bantah Noah, “aku harus cepat.” Ia kembali mengutak-atik layar hp-nya sambil bergumam sendiri. “Gimana nih …? Aku yang suruh dia melawan Andi … ini salahku. Aku harus gimana?” Kata-kata itu yang berhasil tertangkap indra pendengaran Gilang; yang kebetulan berada paling dekat dengan Noah. Noah tampak sibuk mundar-mandir, celingukan, menggigit jarinya dan berulang kali melihat layar hp. Ia terlihat kalut hingga wajahnya berangsur pucat. Gilang sangat ingin melakukan sesuatu untuk membantunya, tapi ia bahkan tak bisa menanyakan apapun kepada Noah yang seperti itu. “Kupikir aku membantunya … tapi mungkin itu bukan solusi … gimana kalau dia loncat dari atap gedung … lagi?” Mendengar Noah menggumamkan kata “loncat” dan “atap gedung”, Gilang langsung menyadari bahwa apapun yang membuat Noah seperti ini, pastilah sesuatu yang berhubungan dengan Fajar. “Noah!” Gilang menangkap tangan Noah dengan gerakan yang menyentak, untuk membuatnya kembali fokus. “Kamu harus tenang! Jelaskan pelan-pelan!” hardiknya lagi, mencoba menyaingi apapun yang saat ini sedang berkecamuk di pikiran Noah dan membuatnya tak bisa berpikir jernih. Seketika Noah menghentikan semua gerakannya, napasnya mulai kembali normal dan perlahan ia bisa kembali fokus pada apa yang ada di hadapannya. Tapi matanya sama sekali tak berkedip menatap Gilang, ada kengerian yang amat sangat terpancar dari sana. Seolah Noah baru saja dipertontokan suatu adegan yang begitu traumatis di dalam kepalanya sendiri. Jika terjadi sesuatu kepada Rihan … jika apa yang menimpa Fajar terulang lagi, Noah tak tahu bagaimana ia akan menghapus trauma ini seumur hidupnya. Trauma yang membuatnya nyaris tak bisa membedakan, apakah yang sedang menghadapi tindakan bullying dan terbaring di rumah sakit saat ini adalah Rihan atau Fajar. Hanya sesaat setelahnya – entah sadar atau tidak – air mata yang sejak tadi berkubang mulai lolos dari sudut mata Noah, bergulir di pipi hingga kemudian jatuh ke tanah. Wajah Noah semakin kehilangan warna dan sekujur tubuhnya mulai bergetar hebat. Sadar bahwa ia tak boleh berlama-lama membiarkan Noah larut dalam kepanikannya sendiri, Gilang langsung merangkul Noah sambil lalu mengajaknya meninggalkan tempat itu. Kondisi Noah memang tidak pernah baik-baik saja sejak kepergian Fajar. Permasalahan ini terdengar sepele dan terlalu berulang-ulang. Orang yang tidak paham mungkin tak akan sabar menghadapi ketidakstabilan mental Noah, setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan Noah kepada Fajar. Meski begitu, orang yang paham akan tahu bahwa berurusan dengan yang namanya trauma memang tidak pernah mudah. Saat mental Noah selemah ini, Gilang bertekad untuk tidak akan pernah membiarkan Noah merasa sendirian, karena Gilang tak mau kehilangan orang terdekatnya dengan cara yang sama lagi. “Biar saya yang antar Noah pulang,” ujar Gilang kepada Luna yang masih terlihat bingung. Dan meskipun Lisa – sedikit banyak – menyadari situasinya, ia sama sekali tak berniat menjelaskan apapun kepada manager tim Cendana itu. Perhatian orang-orang di sekitar mulai terarah kepada mereka, Gilang berinisiatif untuk segera membawa Noah masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di halaman GOR, sebelum publik berasumsi liar tentang apa yang sedang terjadi dengan Noah. “Maaf, Anda …?” Meski Luna tak menyelesaikan kalimatnya, Gilang tahu apa yang ingin ditanyakan gadis berkacamata itu. “Saya temannya Noah. Nama saya Gilang, mahasiswa Fakultas Teknik di Arajaya. Saya bisa dipercaya kok.” “Ya udah sih, Kak. Ayo buruan. Repot amat pake minta izin segala,” celetuk Lisa sambil menatap Luna jengkel. “Kamu tenang aja, sampein ke anak-anak Cendana yang lain kalau Noah gak ikut pulang bareng di bus.” Lisa menarik ujung baju Gilang dan berjalan menuju salah satu mobil yang terparkir, meninggalkan Luna yang masih bengong, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. . Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tak ada yang bicara di dalam mobil itu. Gilang tetap fokus menyetir mobil sementara Noah yang duduk di sampingnya masih terlihat sangat tidak tenang dan terus menerus membuat gerakan kecil yang berulang; mengetuk-ngetuk dashboard dengan ujung jarinya, bertanya berapa menit lagi mereka akan tiba di rumah sakit, dan kakinya tak bisa berhenti bergerak seperti sedang tremor. Meski Gilang dan Lisa ingin mengatakan sesuatu untuk sekadar menenangkan Noah, tapi mereka khawatir apapun yang mereka katakan hanya akan semakin membuat Noah panik. Gilang menghela napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara. “Noah …,” panggilnya pelan. “Ha? Kita udah mau sampai?” tanya Noah cepat. “Belum, masih sekitar 5 menit lagi, kalau jalan lancar dan nggak macet.” “Oh … ok.” “Siapa teman yang sedang di rumah sakit itu?” tanya Gilang lagi. “Rihan ...” jawab Noah dengan gumaman yang nyaris tak terdengar. “Rihan siapa?” “Teman sekelasku.” “Dia kenapa?” “Dia … di-bully kakak kelas …” “Siapa nama temanmu itu?” “Rihan.” “Rihan siapa?” “Teman seke …” Noah tak melanjutkan kalimatnya, menyadari bahwa Gilang menanyakan pertanyaan yang sama. “Siapa namanya?” Tapi Gilang masih tak merubah pertanyaannya. “Ri … han,” jawab Noah lagi. Ia lalu menunduk dan mengusap wajahnya. “Benar,” timpal Gilang, “namanya Rihan. Teman sekelasmu. Bukan anggota Red Phantom. Bukan pemain basket profesional. Bukan mahasiswa Arajaya. Bukan … Bukan Fajar.” Lisa, yang duduk di kursi belakang Noah pun mulai menyadari alasan di balik pertanyaan Gilang yang berkali-kali. Namun detik berikutnya, terdengar suara tarikan napas sengau dari kursi di depannya, dari Noah … yang kini mulai tertunduk sambil menopang wajahnya sendiri. Lisa ingat, ia pernah melihat kondisi Noah seperti itu, seperti ranting rapuh yang habis terbakar dan akan hancur hanya dengan sedikit sentuhan saja. Sekitar setahun yang lalu … saat Noah mendengar kabar tenang senior kesayangannya mengakhiri hidup dengan cara melompat dari atap gedung. Waktu itu, Lisa mengira Noah akan menjadi gila. Noah terlihat kacau, kadang ia hanya duduk diam sambil menatap jauh, lalu tiba-tiba saja air mata sudah menganak sungai di pipinya. Meski begitu, ia tak pernah mengatakan apa-apa. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan Noah saat itu, tak ada yang mengira Noah akan sangat terpukul atas kepergian orang lain yang seharusnya bukan siapa-siapa baginya. Sampai saat ini pun, Noah tak pernah membicarakan tentang Fajar kepada orang rumahnya, termasuk juga Lisa. Mungkin ... ia merasa percuma saja, karena tak akan ada yang mengerti. Suasana beku selama beberapa saat tadi mulai mencair ketika Gilang – tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depannya – mengulurkan tangan untuk memberi tepukan pelan di pundak Noah. “Temanmu itu namanya Rihan … dia bukan Fajar. Dia akan baik-baik saja …,” ujar Gilang menenteramkam. . Saat tiba di rumah sakit, Noah langsung menuju ke kamar yang sebelumnya sudah diinformasikan oleh Said melalui pesan text, dan betapa leganya ia ketika menemukan Rihan sedang duduk di tempat tidurnya. Ya, dia sedang duduk, tidak sedang berbaring dengan mata tertutup. Noah yang sejak tadi berada dalam stage panik dan menegangkan, akhirnya merasakan sekujur tubuhnya lemas seolah seluruh energinya menguap begitu saja. Lututnya sudah menyerah menopang tubuhnya, sampai-sampai Noah harus berpegangan pada bingkai pintu untuk menahan dirinya agar tak terjatuh. Tak ada yang bisa menggambarkan betapa leganya Noah melihat keadaan Rihan yang sangat jauh berbeda dari apa yang ia takutkan. “Noah …,” sapa Rihan dengan senyum kaku yang agak dipaksakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD