Telapak tangan Luna yang mendarat di kening Noah menimbulkan suara “plak!” yang renyah. “Kemana aja, sih? Dicariin dari tadi, malah keluyuran!” bentak Luna.
“Hei!” Lisa yang melihatnya pun tak tinggal diam. “Kamu ini siapa?! Sembarangan aja main pukul orang!” omelnya jengkel.
Luna yang baru menyadari bahwa ternyata Noah tidak sedang sendirian tampak sedikit terkejut. Tapi belum sempat ia berkomentar, Noah langsung menegur Lisa.
“Ini Kak Luna, seniorku sekaligus manajer klub,” katanya menerangkan.
“Ya senior juga nggak gitu dong caranya! Ringan tangan amat jadi orang.” Lisa masih sewot.
“Sshht!” Noah akhirnya menyodorkan jari telunjuknya ke dekat bibir Lisa untuk menyuruhnya diam. “Kak, sorry, aku lupa waktu.” Ia lalu meminta maaf kepada Luna.
“Oh … sorry, aku nggak tahu temanmu datang.” Luna malah jadi ikutan meminta maaf.
“Nggak pa-pa kok, Kak. Kenalin ini temanku, Lisa, kami tetanggaan. Kalau yang ini kakak kandungku, Raka.” Tak lupa Noah juga mengenalkan Raka yang sejak tadi tampak jinak di belakangnya.
Luna mengangguk kepada Lisa dan Raka, “Halo, aku Luna.”
“Halo, maaf ya kami yang ngajak Noah sampai lupa waktu,” sahut Raka tak kalah sopan.
“Oh … nggak pa-pa, pertandingannya juga belum mulai kok. Cuma tadi kami agak panik aja karena Noah hilang tiba-tiba dan telponnya juga nggak diangkat-angkat.”
“Hei, Noah, kamu matiin hp-mu?!” Raka berlagak menjadi seorang kakak bijaksana yang sedang memarahi adiknya.
“Bukan dimatiin, tapi karena di sini berisik, ramai orang, jadi nada deringnya nggak kedengaran.” Noah membela diri. “Ya udah, kami masuk duluan, ya,” pamitnya kemudian.
“Ok, menang ya?!” Raka menyodorkan kepalan tangannya, menanti Noah untuk saling membenturkan tinju mereka.
Noah menatap kepalan tangan Raka yang masih menggantung sebelum tatapannya berpindah ke wajah Raka yang sumringah.
“Nggak usah sok akrab, baru juga sekali doang datang ke pertandinganku.” Meski menggerutu, tapi Noah tetap melakukan apa yang Raka mau; membalas tos tinjunya.
Noah memang tak memperlihatkan emosinya dan malah cenderung terlihat sedang jengkel, tapi Raka tahu, itu adalah Noah yang sedang terharu dan malu-malu. Saat ini, adik satu-satunya itu sedang merasa senang karena kehadirannya.
“Habis nonton pertandingan, jangan keluyuran sendiri. Antar Lisa sampai ke rumah!” kata Noah lagi sambil lalu agak terburu-buru ingin mengajak Luna meninggalkan tempat itu, membuatnya refleks menarik lengan Luna untuk segera pergi. “Kak, aku belum terlambat banget, kan?”
Raka dan Lisa masih bisa mendengar obrolan dua orang yang sedang melangkah tergesa-gesa itu.
“Belum terlambat apanya? Kamu ini masih kelas 10, kapten dan seniormu udah pemanasan di lapangan, kamu malah baru muncul. Menurutmu itu sopan?!”
“Ya maaf ….”
“Minta maaf sama Kak Ahsan dan Coach. Dasar anak badung!”
Suara kesal Luna menjadi yang terakhir terdengar seiring dengan langkah mereka yang semakin menjauh meninggalkan keramaian, di mana Raka dan Lisa masih terpaku diam di tempat mereka berdiri.
“Cantik, ya,” celetuk Raka kemudian.
“Ha?” Lisa masih butuh waktu untuk memahami ke mana arah pembicaraan Raka.
“Manajer klubnya Cendana, cantik.”
“Cantik apanya?! Cewek jutek gitu. Kasar lagi.”
Raka melirik Lisa dari ekor matanya. Dengan bibir yang melengkung menahan senyum, ia ingin memperjelas kecurigaannya dengan meluncurkan kalimat untuk memancing Lisa, “Jangan-jangan Noah lagi dekat sama cewek itu. Mereka kelihatan cocok dan akrab banget.”
“Apaan sih, Kak Raka?! Itu kan seniornya.”
“Ya emang kenapa kalau dekat sama seniornya?”
“Masa Noah sama cewek yang lebih tua?”
“Cuma lebih tua setahun juga.”
“Nggak cocok ah!” protes Lisa semakin ngotot dan Raka hanya tertawa menanggapinya.
“Si bocah lagi cemburu,” pikir Raka dalam hati.
Tak berniat untuk menggoda Lisa lebih jauh lagi, Raka pun akhirnya mengajak gadis itu masuk ke GOR dan menonton pertandingan SMA Cendana yang akan melawan SMA Amal Bakti.
.
“Membosankan.”
Kata itu mulai meluncur keluar dari mulut para penonton match kedua hari ini, yaitu match antara SMA Cendana vs SMA Amal Bakti.
Hanya tersisa 2 menit sebelum kuarter kedua berakhir, tapi Amal Bakti bahkan belum bisa membuat dua digit di papan skor mereka. Sementara Cendana sudah mengumpulkan 35 pts, itu juga karena mereka bermain dengan tempo lambat.
Hasil pertandingan memang nyaris sudah bisa ditebak. Meski SMA Amal Bakti rutin mengikuti Liga Rookie setiap tahunnya, tapi mereka nyaris selalu early exit – gugur di match pertama atau kedua.
Ditambah lagi saat ini lawannya adalah juara bertahan, SMA Cendana. Dari menit pertama sampai kuarter kedua berakhir, Coach Adam sama sekali tak melakukan pergantian pemain. Kapten Ahsan, bersama empat pemain inti lainnya, bertahan sampai bel tanda berakhirnya kuarter kedua berbunyi.
“Hhh … ini sih sama aja kayak nonton pemain pro lawan anak SD,” komentar salah seorang penonton saat para pemain dari kedua tim mulai mengosongkan lapangan untuk istirahat halftime.
“Cendana sengaja main lambat buat nyelamatin muka anak-anak Amal Bakti atau gimana?”
Selain mengeluh dan mencibir, beberapa penonton juga saling mencetuskan spekulasi mereka.
“Iya, kayaknya itu skor bisa lebih banyak lagi kalo Cendana lebih bermain menyerang.”
“Lah … ngapain mereka main menyerang kalau main santai aja udah bisa dipastikan menang?”
“Nggak ada perlawanan sih dari Amal Bakti.”
“Kayaknya di kuarter ketiga nanti Cendana bakal nuruin pemain lapis kedua deh. Pasti Pelatihnya mau mengistirahatkan pemain utama mereka, ini kan masih match pertama, nggak perlu juga buang-buang tenaga lawan tim yang udah pasti kalah.”
Sadis dan tanpa ampun. Nyaris semua orang yang menyaksikan pertandingan kedua itu memiliki pendapat yang sama; Amal Bakti sedang apes karena harus bertemu Cendana di match pertama Liga Rookie.
Tapi memang komentar-komentar para penonton bisa dikatakan wajar, melihat besarnya gap antara skor Cendana dan Amal Bakti di akhir kuarter kedua; 42 – 5 untuk keunggulan Cendana.
Amal Bakti dibuat benar-benar tak berkutik.
“Dirga, sisa dua kuarter lagi kamu yang pimpin,” instruksi Coach Adam kepada anggota kelas 11 Cendana itu, “kita ganti semua pemain. Biarpun skornya jauh, tetap main yang serius. Target tiga digit, bisa?”
“Coach, yang benar aja?!” protes Yuda tiba-tiba – padahal sejak tadi ia hanya diam mendengarkan sambil mengelap keringat.
“Fokus saja main yang bagus, nggak perlu fokus ke skor lawan,” tukas Coach Adam. “Kalau bisa dapat 3 digit, kenapa nggak? Kamu yakin mau jadi penerus Ahsan? Mental begitu nggak pantas jadi Kapten Cendana.” Coach Adam tertawa pelan menggoda Sang Kapten wanna-be.
“Ini masih match pertama, ngapain kita main full power? Nanti lawan malah bisa baca permainan kita dan kita bisa kesulitan di match-match berikutnya,” balas Yuda lagi.
“Yuda …,” sela Ahsan tenang, “Coach belum mengeluarkan strategi apa-apa. Kita cuma main seperti biasa, kayak latihan, jadi nggak ada yang perlu dibaca dari permainan kita hari ini. Coach cuma mau kita mengeluarkan kemampuan terbaik dan nggak malas-malasan, siapapun lawannya. Lagipula menyimpan tenaga dalam pertandingan itu bisa menjadi kebiasaan buruk. Selama nggak maksain diri, ada baiknya kita selalu main maksimal.”
“Iya sih, asalkan nggak kehabisan stamina aja di ujung-ujung,” gumam Yuda yang masih setengah tak setuju.
“Kalau kehabisan stamina, masih banyak pemain di kursi cadangan yang bisa gantiin,” sahut Juan yang kebetulan berada di belakang Yuda.
“Makanya jaga stamina,” timpal Dewa kemudian, “main maksimal dan mengeluarkan kemampuan terbaik itu bukan berarti main grasak-grusuk sampai cedera. Kamu ngerti nggak sih sebenarnya?”
Dewa dan intonasi ketusnya.
Kalau Dewa sudah buka suara dan kelihatan kesal, tak akan ada lagi yang berani menyangkalnya. Itu sebabnya Yuda hanya mengangguk patuh sambil menjawab, “Paham, Kak.”
Lima belas menit berlalu tanpa terasa, pemain dari kedua tim pun memasuki lapangan. Dan tebakan sebagian besar penonton benar, semua pemain inti Cendana diistirahatkan dan pemain lapis kedua mengambil alih.
Trio kelas 11 yaitu Dirga, Ello dan Evan, diikuti duo kelas 10 yaitu Noah dan Igris, memasuki lapangan tanpa beban, mereka sudah unggul jauh. Berbanding terbalik dengan Amal Bakti, tak ada ekspresi tertekan di wajah setiap pemain Cendana.
“Sudah diduga, babak kedua bakal jadi giliran tim lapis kedua buat buang keringat,” celetuk Vito yang langsung fokus menonton pertandingan saat melihat Noah keluar di kuarter ketiga.
Tak ada yang spesial meski permainan sudah nyaris sampai ke ujung kuarter ketiga. Tak jauh berbeda dengan dua kuarter sebelumnya, Cendana masih menggedor dengan serangan-serangan dua angka yang biasa, sementara Amal Bakti – meski berhasil mencapai angka belasan – tetap saja kesulitan mengejar.
Dalam sekejap, Cendana sudah menyentuh skor 60.
Serangan Amal Bakti melambat, seperti sudah kehilangan semangat. Para pemain Cendana pun tak bisa menyembunyikan ekspresi mereka yang tampak mulai bosan.
Amal Bakti masih berkutat di area mereka sendiri, sementara Cendana sudah kembali ke area mereka untuk bertahan. Cendana sudah siap menghadang Amal Bakti, dari arah manapun mereka ingin menyerang.
Tersisa 10 detik lagi sebelum Amal Bakti terkena pelanggaran 24 second violation[1], tapi mereka terlihat seperti menemukan jalan buntu dan hanya bisa mengoper bola ke sana kemari.
Noah yang berjaga di area low post nyaris tidak ada kontak langsung dengan pemain Amal Bakti, karena sejak tadi mereka tak berani melakukan penetrasi dan hanya mencoba serangan dari luar.
Noah sempat melirik ke tribun penonton, karena merasa sangat senggang saat menunggu serangan datang. Sudut mata Noah menangkap beberapa penonton yang asyik mengobrol, ada yang malah fokus main hp, ada yang matanya menatap kosong ke arah lapangan seperti sedang melamun. Noah bahkan menemukan seorang penonton yang menguap ngantuk sambil duduk bersandar di kursi tribun itu.
Dalam hati Noah berpikir, “Oh … ternyata kalau ada penonton yang menguap, kelihatan juga dari lapangan.”
Dia jadi agak merasa bersalah karena di match pertama tadi ia juga menguap ngantuk di kursi tribun, mengira kalau pemain di lapangan tak akan pernah tahu jika ada penonton yang terlihat bosan dan mengantuk atau bahkan menunjukkan jari tengah dari kursi tribun.
"Noah!"
Sebuah panggilan keras membawa pikiran Noah kembali fokus ke lapangan. Ia agak tersentak ketika menyadari bahwa salah seorang pemain Amal Bakti baru saja menggiring bola melewatinya, di tiga detik terakhir sisa waktu serangan mereka.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Dalam peraturan basket, setiap tim memiliki 24 detik untuk menyerang. Dalam kurun waktu tersebut, tim yang menyerang harus melakukan tembakan, baik masuk keranjang ataupun membentur tepi keranjang, jika tidak maka akan terjadi 24 second violation dan bola akan diberikan kepada lawan.