“Yuda!” teriak Yuda menyela obrolan sekelompok mahasiswa yang duduk tak jauh di depan mereka. Suaranya cukup keras menggema di hall yang masih setengah kosong itu.
Menyadari bahwa teriakannya lebih keras dari yang ia perkirakan, Yuda jadi agak salah tingkah.
“Small forward yang masuk First Team tahun lalu itu namanya Yuda,” sambungnya dengan suara yang lebih stabil kali ini.
Lalu sambil melirik ke kiri dan kanan dengan rasa bersalah ia kembali duduk di kursinya.
Dari belakang, Dewa menepuk tengkuknya sebagai hukuman ringan, sementara Ahsan dan Juan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum memaklumi. Sisanya, termasuk Coach Adam, tertawa cekikikan melihat ekspresi Yuda yang berubah kikuk.
.
Pertandingan antara SMA Wahidin dan SMA Global berjalan cukup alot. Kuarter kedua akan berakhir, tapi sejak awal pertandingan skor Wahidin belum pernah mengungguli Global.
Sebenarnya bukan karena Global bermain terlalu baik, tapi lebih karena Wahidin yang bermain buruk. Bahkan sampai melakukan pelanggaran-pelanggaran paling mendasar seperti double dribble, hingga kehilangan bola cuma karena dribbling yang mengenai ujung sepatunya sendiri.
Noah menguap di kursinya dan Dewa langsung menyikut Noah sambil melotot. “Nggak sopan!” gerutunya.
Tapi Noah benar-benar bosan dan itu membuatnya mengantuk. Lagipula, memangnya menguap saat menonton dari tribun itu nggak sopan sama siapa?
Tim yang sedang bertanding tidak akan sempat memperhatikan ekspresi penonton di tribun satu per satu, jadi hampir tidak mungkin mereka bisa melihat Noah yang sedang menguap bosan.
Sebagai pembelaan diri, jujur saja, Noah hampir tidak pernah menonton pertandingan basket antar pelajar. Sejak SMP, Noah terbiasa menonton liga basket klub profesional karena ia adalah pendukung setia tim basket di mana Fajar bermain dulu – sebelum ia tahu bahwa Fajar dirundung di tim itu.
Selebihnya, Noah hanya ikut-ikutan Red Phantom menonton Street Basket atau pertandingan resmi antar kampus. Karena memang teman nontonnya dulu cuma anak-anak Red Phantom.
Akibatnya, Noah hampir tak tahu peta kekuatan tim-tim basket SMA daerah, maupun luar daerah. Ia juga tak terbiasa menonton pertandingan yang temponya lambat seperti ini.
“Kak, aku izin ke toilet, ya?” pamitnya pada Dewa.
“Izin sama Coach sana,” perintah Dewa kemudian.
Noah pun beranjak dan berjalan miring untuk keluar dari barisan kursi tribun itu. Ia lalu menghampiri Coach Adam dan sedikit membungkuk agar bisa bicara pelan di dekat telinga Sang Pelatih.
Coach Adam mengangguk dan Noah pun melanjutkan langkahnya menuruni tribun, menuju pintu keluar sebelum kemudian Coach Adam memberi sedikit peringatan kepadanya.
“Jangan lama-lama,” serunya tanpa perlu berteriak, “kalau ketemu wartawan jangan keluarkan statement apa-apa.”
Noah mengacungkan jempolnya sambil menggerakkan bibir tanpa suara untuk mengisyaratkan: “Siap, Coach!”
.
Berkeliaran sendirian di sekitaran lounge, hanya membuat Noah semakin bosan. Lounge bagian belakang GOR itu memang tidak diperbolehkan untuk umum, hanya panitia dan kontingen peserta liga saja yang ada di sana – bahkan wartawan pun tidak diizinkan berada di area itu.
Hp Noah berdering tepat saat ia baru saja tiba di depan pintu toilet. Nama Lisa tertera pada layar hp tersebut, teman masa kecil Noah yang tak pernah absen mendukungnya hampir di tiap pertandingan.
“Aku udah di GOR, pertandingan kalian jam berapa?” tanya Lisa langsung saat Noah mengangkat teleponnya.
“Nggak tahu, match pertama baru masuk kuarter ketiga,” jawab Noah sambil mengurungkan niatnya untuk masuk ke toilet. “Kamu di mana?” tanyanya lagi.
“Aku di depan. Kamu ke sini dong,” pinta Lisa kemudian.
“Di luar venue?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Sama seseorang … ada deh … pokoknya kamu pasti kaget kalau ngeliat aku datang bareng siapa.”
“Ya udah, di mana? Biar aku samperin.”
“Di samping area body checking,” Lisa tampak seperti sedang memandang berkeliling untuk mendeskripsikan sekitarnya, “di sini ada banyak booth games, aku di dekat booth photo challenge.”
“Bentar, aku ke sana. Tapi aku nggak bisa lama-lama, ya.”
“Iya, ngerti kok. Udah buruan sini,” desak Lisa lagi.
Noah mengakhiri panggilan telepon dan menyimpan hp-nya kembali ke dalam saku celana, lalu melangkah menuju pintu keluar.
Tadinya ia ke toilet bermaksud cuci muka untuk menghilangkan kantuk. Tapi, berhubung Lisa ada di sini, itu sudah cukup untuk mengusir rasa bosan dan kantuknya.
Pintu yang digunakan para atlet dan panitia berada di belakang gedung, jadi Noah masih harus berjalan memutar untuk bisa ke bagian depan. Tak hanya Noah, tampak beberapa peserta liga juga berkeliaran di area hiburan untuk para pengunjung, semuanya bisa dikenali dari seragam training/tracksuit yang mereka kenakan.
“Noah …!” Sebuah suara yang familiar berteriak semangat dari kejauhan. Noah pun menoleh untuk menemukan sang pemilik suara. Namun seperti yang sudah diduga, panggilan itu cukup menyita perhatian, terutama bagi para peserta liga.
“Noah?”
“Cewek itu barusan manggil Noah, kan?”
“Yang mana?”
“Noah yang itu bukan sih?”
“Gak tau.”
Beberapa di antara mereka saling bertanya satu sama lain, apakah Noah yang dipanggil barusan adalah Noah yang mereka duga, si pemain muda dan berbakat yang juga terkenal sombong.
Meski nama Noah cukup dikenal, tapi jarang ada yang mengenali wajahnya. Makanya, wajar saja orang-orang tak begitu memperhatikannya kalau bukan karena Lisa yang – secara tak langsung – mengumumkan namanya.
Untungnya, selama tidak mengganggu, Noah cukup terbiasa dengan situasi itu dan ia memang cenderung tak peduli dengan pendapat orang yang tidak ia kenal.
Mengabaikan pandangan mata yang mengarah padanya, Noah berjalan ke arah di mana Lisa sedang melambaikan tangan bak baling-baling di atas kepalanya. Cewek yg lebih muda setahun darinya itu terlihat sangat bersemangat sampai-sampai Noah khawatir tangannya akan terkilir.
Saat sudah semakin dekat, seseorang di samping Lisa yang tadinya terhalang keramaian, kini mulai tampak jelas. Itu adalah Raka.
“Yo!” sapanya sambil menawarkan telapak tangan untuk di-tos, sementara tangannya yang lain tersimpan nyaman di dalam saku celana.
Noah menyambut tawaran tos Raka dengan gerakan yang tak begitu antusias. “Tumben,” sinisnya kemudian.
Tapi Raka hanya tertawa menghadapi wajah jutek Noah. “Jam berapa pertandinganmu mulai? Main yang bener, ya. Jangan bikin aku sia-sia datang ke sini.”
“Aku main bagus juga emangnya kamu ngerti?” balas Noah lagi.
“Ngerti lah! Jangan sepele kamu. Oia, ngomong-ngomong …,” Raka mendekatkan wajahnya ke telinga Noah, “ini cuma perasaanku aja, atau memang orang-orang pada merhatiin kita?”
“Cuma perasaanmu aja,” jawab Noah sambil lalu mulai melangkah lebih dulu menuju ke booth terdekat, “kalian lapar, nggak? Mau beli camilan?”
“Masa’ sih?” Raka lumayan risih menatap berkeliling sebelum akhirnya ia sadar – saat mengikuti arah pandangan beberapa orang – bahwa yang menjadi pusat perhatian saat ini adalah adiknya, Noah.
“Hei, aku nggak nyangka kamu se-terkenal ini,” bisik Raka lagi dari samping Noah.
“Bukan aku, tapi seragam yang kupakai,” sahut Noah cuek, “SMA Cendana kan juara bertahan di liga ini, wajar kalau terkenal.”
Noah berhenti di depan booth jajanan Jepang dan tampak sangat tertarik dengan camilan berbentuk bola-bola kecil yang sedang dimasak di dalam cetakannya, takoyaki.
“Kamu belum makan?” tanya Raka.
“Udah sih, cuma pengen ngemil aja.”
“Emangnya atlet boleh makan sembarangan? Gimana kalau kamu sakit perut sebelum pertandingan?” celetuk Raka sambil memutar pandangan untuk mencari keberadaan Lisa.
“Aku ini cuma main basket di klub sekolah,” jawab Noah sebelum mulai bicara kepada seorang wanita muda yang menjaga booth. “Beli seporsi ya, Kak.”
“Lisa!” Raka yang tak mau kehilangan kesempatan langsung memanggil Lisa yang ia temukan di tengah keramaian sedang asyik merekam live video untuk media sosialnya.
“Mau takoyaki? Noah yang traktir,” sambung Raka lagi.
Noah mengirim tatapan jengkel dari ekor matanya kepada kakak laki-laki yang suka bicara seenaknya itu. Ia baru saja ingin mengatakan bahwa tak ada yang mengundang Raka ke sini, jadi kalau mau beli apa-apa seharusnya dia bayar sendiri.
Tapi, niat untuk protes itu ia urungkan. Karena sebenarnya Noah cukup senang dengan kedatangan Raka hari ini. Makanya ia tak membantah perkataan Raka dan bermaksud untuk benar-benar mentraktir mereka.
.
Tanpa terasa, Noah menghabiskan waktu cukup lama bermain di sekitaran tempat itu bersama Raka dan Lisa.
Tak hanya mencoba beberapa camilan, mereka bahkan ikut mencoba bermain di booth games. Mulai dari games memasukkan bola basket ke hoop, main lempar gelang hingga ke photo challenge.
Hingga hp Noah bergetar di dalam saku celananya – karena suasana yang ramai, suara nada dering hp jadi tak terdengar.
Cukup kaget melihat nama Kapten Ahsan muncul di layar hp-nya, Noah langsung mengoper gelang-gelang yang ada di tangannya kepada Raka dan mengisyaratkan agar Raka meneruskan permainan lempar gelang menggunakan token miliknya itu.
“Kamu di mana?” sambar Ahsan bahkan saat Noah belum sempat mengucapkan halo.
“Sorry, Kak. Aku otw[1] ke hall sekarang.” Setengah panik, Noah terpaksa berbohong.
“Kamu keluar venue?” tanya Ahsan lagi.
“Di depan, Kak. Tadi ketemu teman.”
“Ya udah, cepat balik. Pertandingannya udah selesai dan sekarang giliran kita. Semuanya udah mulai masuk ke lapangan untuk pemanasan.”
“Siap, Kak,” jawab Noah sigap sambil kemudian menyudahi panggilan dan menyimpan hp kembali ke sakunya. “Aku masuk duluan, ya. Pertandingan kami udah mau dimulai,” pamitnya kemudian kepada Raka dan Lisa.
Di saat yang bersamaan, seorang siswi berkacamata mengenakan tracksuit yang sama dengan Noah, tampak sedang berlari kecil dari arah belakang gedung. Beberapa saat ia masih celingukan mencari-cari, hingga akhirnya menemukan Noah di antara para pengunjung booth.
“Noah!” panggilnya sambil kembali berlari kecil untuk menghampiri Noah.
Mendengar seseorang memanggil namanya, Noah pun menoleh dan ekspresinya langsung berubah gugup. Bukan tanpa alasan, karena saat Luna tiba di hadapan Noah, tangannya langsung melayang memukul jidat Noah.
Bukan tepukan yang keras, tapi cukup untuk membuat Lisa bereaksi.
“Hei!” bentak Lisa tak tinggal diam.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] OTW adalah singkatan dari On The Way yang berarti sedang dalam perjalanan.