Liga Rookie: Match Day (2)

1906 Words
“Kamu apa nggak salah pilih SMA?” Anggota Tim Dharmawangsa itu mulai berbisik di sebelah Noah, saat Ketua Panitia Liga sedang menyampaikan kata sambutannya di depan sana. “Ha?” Noah sebenarnya mendengar apa yang ia katakan, tapi ia seakan ingin menantang orang itu untuk mengulanginya lagi. “Kamu apa nggak salah pilih SMA?” Tak disangka cowok yang tinggi badannya menyamai Noah itu mengulangi pertanyaannya tanpa rasa bersalah. “Memangnya aku harus pilih SMA yang gimana?” tanya Noah akhirnya. “Ya tentu saja yang bisa bantu mengembangkan bakatmu. Misalnya Bima Sakti, kamu pasti bisa besar kalau di sekolah itu. Malah pilih Cendana.” “Ada yang salah dengan Cendana?” sambar Noah lagi. “Kalian itu terlalu maksain biar kelihatan elit.” "Oh ..." Noah mengangguk-angguk sambil menatap cowok itu dari ubun-ubun sampai ujung sepatu, “di mana alamat rumahmu?” “Lho? Kenapa tiba-tiba jadi nanya alamat?” “Aku mau kirim cermin yang besar, supaya kamu bisa ngaca.” Mulut anggota tim Dharmawangsa itu merenggang tapi ia tak mampu menemukan kata yang pas untuk membalas Noah. “Ma-maksud kamu elitnya Dharmawangsa itu maksa?!” Saat berhasil mengeluarkan apa yang ingin ia katakan, bagian ujung kalimatnya redam di antara suara para peserta liga yang sudah membubarkan barisan. Tanpa disadari, acara pembukaan telah berakhir. Panitia mengarahkan para peserta agar membubarkan diri karena lapangan akan digunakan untuk pertandingan pertama antara SMA Wahidin dan SMA Global. Seperti para pelatih lainnya, Coach Adam tidak ikut berbaris bersama skuadnya. Ia menunggu acara pembukaan selesai di dekat pintu keluar lapangan. Ahsan menuntun timnya untuk menghampiri Sang Pelatih, lalu bersama-sama menuju ke tribun. Dimana sudah ada beberapa siswa berseragam training Cendana yang mengamankan sebagian kursi di salah satu sisi tribun. Mereka adalah anggota tim basket Cendana yang tidak tergabung dalam skuad, namun mendapat izin khusus dari sekolah untuk ikut ke lokasi pertandingan – karena memang Luna butuh bantuan untuk mengurus segala keperluan tim. Di antara mereka adalah Zikri, yang paling antusias ikut di dalam bus yang sama serta mengenakan seragam training yang sama dengan skuad Cendana. Ia melambaikan tangan dengan semangat agar Coach Adam dan skuad Cendana bisa melihat posisinya bersama Luna dan yang lainnya. Padahal sebenarnya kondisi tribun cukup kosong di hari pertama ini. Soalnya hanya ada dua pertandingan yang akan berlangsung – karena waktu sudah terpakai untuk acara pembukaan – sedangkan hari berikutnya akan diadakan empat pertandingan sekaligus dalam satu hari. Jadi, kemungkinan GOR itu akan ramai dari pagi sampai malam, jika mengingat hebatnya antusias para penonton di setiap tahunnya. Liga Rookie bukan hanya sekadar pertandingan basket antar SMA, tetapi lebih seperti festival. Jika dibandingkan dengan liga basket tingkat pelajar lainnya, Liga Rookie memiliki jumlah partisipan yang paling banyak, karena hampir semua sekolah yang memiliki tim basket pasti ingin tampil di Kejurnas, dan satu-satunya cara bagi mereka untuk bisa mencapai itu adalah dengan berada di Top 3 Liga Rookie di masing-masing wilayahnya. Karena banyaknya peserta, maka pendukung dari masing-masing sekolah akan memenuhi area GOR. Hal itu membuat panitia memanfaatkan keadaan dengan membuat berbagai macam booth atau stand di halaman depan gedung. Mulai dari stand makanan hingga ke berbagai macam stand permainan seperti basketball hoop dan sebagainya. Portal-portal berita pun semakin bersemangat memberitakan perhelatan Liga Rookie setiap tahunnya, tak heran jika bintang-bintang basket tingkat SMA menjadi populer dan memiliki pendukung bahkan dari sekolah lain. “Coach, perlu berapa kamera?” tanya Luna kepada Coach Adam di kursi tribun itu. “Pakai dua saja sepertinya cukup … Zikri!” Coach Adam mengakhiri instruksinya kepada Luna dengan memanggil Zikri yang duduk tiga baris di belakangnya. “Saya, Coach.” Zikri keluar dari barisan kursinya dan menuruni beberapa anak tangga untuk mengampiri Coach Adam. “Selama Liga Rookie, kamu bantu Luna merekam pertandingan, ya?” perintah Coach Adam sambil lalu memberikan tatapan yang langsung dipahami oleh Luna. Cewek itu menyerahkan sebuah kamera ke tangan Zikri. “Kamu bisa pakai kamera ini, kan?” tanyanya kemudian dibalas dengan anggukan penuh semangat oleh Zikri. “Ambil posisi di samping ring yang kanan. Biar Luna rekam di bagian yang kiri. Sisanya Luna akan jelaskan,” terang Coach Adam lagi kepada Zikri. “Siap, Coach!” Zikri terlihat seperti orang yang sudah lama menantikan semua ini. Noah tak begitu mengerti apa yang membuatnya sangat bersemangat. Apa karena ini turnamen pertamanya di SMA? Karena ia menjadi bagian dari tim Cendana? Atau karena bus baru Cendana yang sangat keren? Yang jelas, Zikri tak bisa menyembunyikan senyum lebar di wajahnya saat sedang mengikuti Luna menuju ke sisi tribun yang lain. Ia bahkan sempat mengacungkan jempol kepada Noah yang barusan tadi duduk di sampingnya. Noah sendiri tak tahu apa maksud acungan jempol itu dan bagaimana ia harus membalasnya. “Apa pertandingan pertama ini sangat penting sampai-sampai kita harus menontonnya dan merekam pertandingan dari dua sisi yang berbeda?” Terdengar suara Steven yang bertanya pelan kepada Heru. Biasanya, merekam pertandingan dari berbagai sisi itu penting dilakukan untuk mengamati tim-tim rival, serta memudahkan Cendana untuk menganalisa segala kekurangan dan kelebihan tim sekolah lain. Tapi, sepertinya Steven merasa bahwa SMA Wahidin dan SMA Global yang akan bertanding, bukanlah sebuah ancaman bagi Cendana. Alih-alih Heru, yang menjawab pertanyaan Steven adalah Igris. “SMA Wahidin itu sering membuat kejutan. Banyak yang bilang mereka adalah tim kuda hitam[1] tahun ini. Mereka juga punya satu pemain bagus, tapi aku lupa namanya.” “Kalau SMA Global?” tanya Steven lagi. “SMA Global … setahuku itu SMA Internasional, jadi banyak orang-orang asing di dalamnya. Mungkin itu yang membuat tim mereka gak boleh diremehkan.” Kali ini Yuda yang ikut menjawab karena kebetulan ia duduk tepat di depan mereka. Setelah mendapat jawaban langsung dari seorang senior, Steven menyadari kekeliruannya, bahwa seharusnya ia tak boleh meremehkan tim dari SMA manapun. Kedua tim yang akan bertanding sudah memasuki lapangan dan melakukan pemanasan dengan dribble, lay up dan shoot-shoot ringan. Namun, tatapan mata beberapa penonton dan kontingen yang duduk di tribun tak hanya terfokus pada lapangan basket, tapi juga kepada tim Cendana. Meski mereka hanya duduk dengan tenang di salah satu sisi tribun tanpa membuat keributan, tapi sepertinya Cendana memang cukup menyita perhatian. Bahkan tanpa melihat tulisan Cendana yang melengkung seperti busur di punggung seragam training mereka pun, sebagian penggemar basket SMA pasti sudah mengenali warna seragam SMA Cendana. Itu sebabnya, bukan hanya sesekali mencuri pandang, beberapa orang di tribun seberang bahkan tampak mengarahkan kamera hp mereka ke Cendana. Padahal ada beberapa kontingen dari sekolah lain yang juga memutuskan untuk menonton pertandingan dan duduk berkelompok di tribun, tapi sepertinya mereka tak cukup menarik perhatian jika dibandingkan dengan nama-nama SMA yang cukup dikenal dalam dunia basket tingkat pelajar. “Seniornya kan udah pada lulus, belum tentu mereka sejago tahun lalu,” komentar seseorang tak jauh di belakang Noah. “Iya, setelah ditinggal para senior, kayaknya mereka gak ada apa-apanya kalo bukan karena bintang-bintang SMP yang overrated[2].” “Ngumpulin anak-anak SMP berbakat, memangnya mau bikin kiseki no sedai[3]?” Sekelompok orang terdengar saling menimpali satu sama lain. Tak hanya Noah yang mendengarnya, tapi juga Dewa yang duduk di depan Noah. Dewa tampak cukup tersinggung, ia menoleh ke belakang dan menemukan beberapa orang dengan baju training yang seragam, sedang mengobrol di bagian paling atas tribun sambil menatap ke arah kontingen Cendana. Sesekali mereka terlihat seperti menertawakan sesuatu. Melihat seragam training yang mereka kenakan, tak salah lagi, mereka pasti salah satu tim basket dari sekolah lain yang juga berpartisipasi dalam Liga Rookie tahun ini. “Cendana masih harus diperhitungkan.” Sebuah suara obrolan lainnya yang terdengar cukup ngotot, mengalihkan perhatian Noah dan Dewa. Di barisan kursi tribun paling depan, tak jauh dari rombongan Cendana, ada empat orang mahasiswa yang mengenakan pakaian biasa terdengar sedang mengobrol. Kemungkinan mereka adalah penggemar basket yang datang untuk menonton atau sekadar datang untuk mendukung adiknya yang bertanding hari ini. “Mereka dapat banyak pemain baru yang bagus-bagus,” tambah seorang cowok bertopi baseball. “Iya, kudengar juga gitu,” sahut salah seorang temannya yang berkacamata. “Siapa? Noah? Ah! Anak songong kebanyakan gaya.” Salah seorang dari mereka yang mengenakan kaos putih bereaksi keras saat Noah masuk dalam pembahasan mereka. Nyaris semua anggota Cendana yang mendengar itu meringis sambil mengerling Noah, penasaran dengan reaksinya. Tapi Noah hanya mengerucutkan bibir sambil mengedikkan bahu sekilas, seolah tak terpengaruh dengan omongan tentangnya itu. “Gaya doang selangit, palingan juga di sekolah bego.” Si kaos putih masih melanjutkan julidnya. “Eh … bukannya dia masuk 10 besar nilai tertinggi ujian nasional waktu lulus SMP kemarin?” tukas si kacamata tanpa perlu menyela keras. “Nggak usah nyebar hoax kamu.” “Serius. Google aja sana kalau gak percaya.” Si kaos putih mulai salah tingkah karena ucapannya terbantahkan. “Dia itu paket lengkap. Tajir, good looking, pintar, jago basket,” tambah si kacamata. “Gila sih. Dia manusia bukan?” “Kasihan anak tetangganya, pasti hidupnya bakal dibanding-bandingkan terus dengan Noah.” “Tapi sifatnya buruk,” si kaos putih masih belum menyerah, “lagian … perasaan dia gak jago-jago amat, masih mending Igris.” “Igris si cebol? Yang gaya mainnya gak original dan bisanya cuma niruin orang itu?” Si kacamata langsung menyuarakan ketidaksetujuannya. “Cih! Kayak Noah itu original aja.” “Hei,” cowok bertopi baseball menyela, “kalian ini berdebat cuma gara-gara dua pemain kelas 10. Cendana itu masih punya pemain berbakat yang lain, tahu?!” “Betul. Kalian nggak kenal trio kelas 12 mereka yang masih bertahan di tim?” Seorang lainnya yang sejak tadi tampak fokus mengamati SMA Global dan SMA Wahidin di lapangan, memutuskan untuk ikut angkat bicara. “Jangan salah. Ahsan itu pernah jadi MVP di SOG, dia mantan kapten timnas ju.ni.or juga,” sambung mahasiswa yang tampaknya lebih banyak tahu dibandingkan teman-temannya itu. “Juanda langganan masuk First Team[4], bisa dibilang saat ini cuma center Bima Sakti yang pantas jadi rivalnya. Dewangga pernah dapat double awards, Rookie of the Year[5] sekaligus top score Kejurnas dua tahun lalu. Anak kelas 11 yang namanya Wahyu itu pemain tetap di timnas ju.ni.or sampai tahun lalu. Satu lagi, small forward mereka – aku lupa siapa namanya – dia pernah jadi MVP Kejurnas dan kepilih masuk First Team tahun lalu.” “Yuda!” Tak disangka, dengan keras Yuda menyela rentetan fakta yang disampaikan oleh salah seorang mahasiswa itu, sekadar untuk memberitahukan namanya. Sontak sekelompok mahasiswa yang duduk di barisan paling depan tribun itu pun menoleh, dan harus agak mendongak untuk menemukan asal suara barusan. Hingga kemudian pandangan mereka terhenti pada rombongan Cendana di kursi tribun yang tak jauh di belakang mereka. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Istilah Kuda Hitam sering digunakan untuk menyebutkan sebuah tim dengan kekuatan yang tidak diketahui oleh banyak pihak, tapi kemudian mengejutkan dengan meraih kemenangan atau melakukan lebih baik dari apa yang diharapkan semua orang. [2] Overrated berasal dari dua kata yakni: over dan rated, yang jika diterjemahkan artinya menjadi “dinilai terlalu tinggi.” [3] Kiseki no Sedai secara harfiah artinya Generasi Keajaiban, adalah tim all-star atau kelompok pemain muda berbakat (masing-masing memiliki bakat dan skill unik yang luar biasa) dari SMP Teikō dalam cerita fiksi Jepang berjudul “Kuroko No Basuke”. [4] First Team adalah tim berisikan lima pemain dengan performa luar biasa dan terbaik selama berlaga. Berisikan dua guard, dua forward, dan satu orang center. Biasanya dipilih di setiap akhir Kejurnas. [5] Rookie of the Year adalah penghargaan yang diberikan kepada pemain dengan akumulasi nilai tertinggi, dan diberlakukan kepada pemain yang belum pernah berlaga pada Kejuaraan Basket Nasional maupun liga-liga basket resmi sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD