Liga Rookie: Match Day

1484 Words
Sebuah bus bernuansa biru hitam dengan susunan huruf membentuk kata ‘Fight To Win’ yang mendekorasi bagian samping body bus mewah itu, baru saja memasuki halaman parkir bagian belakang GOR tempat acara pembukaan Liga Rookie akan diadakan. Setelah upacara pembukaan pada hari pertama, akan berlangsung dua match yang sekaligus juga akan memulangkan dua sekolah yang kalah pada match tersebut. Sistem gugur sengaja diterapkan pada Liga Rookie karena banyaknya SMA yang berpartisipasi dalam liga tersebut, demi memperebutkan tiga kuota yang nantinya berhak mewakili provinsi untuk ajang Kejuaraan Basket SMA tingkat Nasional, atau yang lebih sering disebut Kejurnas. Bus tim Cendana yang baru saja terparkir itu terlihat sangat mentereng dibandingkan bus-bus milik SMA lainnya. Sontak kehadiran mereka pun menyita perhatian semua orang yang ada di lokasi itu, termasuk di antaranya para wartawan, kontingen peserta Liga Rookie lainnya, dan juga beberapa penggemar basket yang sengaja menunggu kedatangan peserta liga di area itu, demi bisa melihat langsung para pemain dari SMA favorit mereka. “Itu anak-anak Cendana.” “Gila … levelnya memang beda, ya.” “Juara bertahan Liga Rookie, empat kali berturut-turut.” “Tapi jadi ampas kalau udah di ajang Kejurnas.” “Ampas gimana? Mereka langganan masuk final, tahu?!” “Tapi nggak pernah angkat trofi, selalu kandas di final.” “Namanya juga spesialis Runner Up.” Kasak-kusuk di sekitar tim Cendana mulai terdengar dari berbagai arah di halaman GOR, beberapa di antara kelompok yang bergosip itu pun terlihat mengakhiri kalimat mereka dengan tawa. Untuk tim elit seperti Cendana yang memang selalu mendapatkan banyak perhatian, wajar saja jika perhatian yang banyak tersebut terbagi menjadi opini positif dan negatif. Satu per satu rombongan dari SMA Cendana mulai turun dari bus. Dewa yang lebih dulu keluar dari bus setelah Coach Adam, sengaja berdiri agak jauh agar mereka tak betumpuk di pintu dan menyulitkan Luna bersama para junior mengangkat barang-barang keperluan tim. Saat itulah Dewa mendengar beberapa orang yang berdiri berkelompok tak jauh darinya, saling bertukar gosip tanpa bersusah payah memelankan suara mereka. “Lihat tuh, wartawan mulai sibuk foto-foto.” “Tapi kok kayaknya pada fokus ke anak yang pake sepatu Jordan putih itu, sih?” “Itu MVP yang sempat bikin heboh Kejurnas tingkat SMP tahun lalu, kan?” “Siapa?” “Diaz Noah Arakha. Katanya dari awal muncul, pas dia masih kelas 7, udah jadi pembicaraan di mana-mana,” “Wah … Masuk Cendana dia?” Dewa tak begitu mempedulikan bisik-bisik yang jelas terdengar olehnya, karena bahan gosip mereka masih ramah di telinga. Tapi, ketika suara-suara lain mulai terdengar membicarakan hal yang lebih sensitif dari arah belakangnya, Dewa mulai merasa risi. “Gayanya sombong amat.” “Semua yang dipakainya dari ujung kepala sampai kaki itu barang mahal loh.” “Tukang pamer.” Mereka mengomentari penampilan Noah dan mencari-cari celah untuk mengkritiknya. Ujung tapak sepatu Dewa mulai menepuk-nepuk tanah untuk mengendalikan emosinya. Dewa adalah tipe orang yang sangat loyal terhadap nama baik tim basket Cendana, ia biasanya tak akan membiarkan siapapun menjelek-jelekkan bagian dari tim. Satu per satu anggota Cendana mulai berkumpul di dekatnya termasuk Noah yang tampak tak begitu memedulikan sekitar. Mengenakan topi baseball berwarna biru yang bayangan visor-nya nyaris menutupi setengah wajah, Noah berjalan di belakang rombongan tim Cendana dengan sebelah tangan tersimpan dalam saku celana training sementara tangan lainnya asyik mengutak-atik smartphone. Saat kontingen Cendana berjalan menuju pintu masuk GOR yang memang dikhususkan untuk kontingen peserta dan panitia pertandingan, lensa kamera wartawan masih mengikuti mereka. Bahkan Coach Adam beberapa kali disodorkan alat perekam suara disertai dengan berbagai macam pertanyaan dari para wartawan itu. Tapi ia hanya membalasnya dengan mengucapkan maaf sambil sesekali mengumbar senyum. “Maaf, ya. Kami sedang buru-buru,” tolak Coach Adam sambil tetap berusaha ramah. “Satu atau dua statement saja, Pak.” “Tolong komentarnya untuk Liga Rookie tahun ini. Satu menit saja, Pak.” “Apakah Cendana yakin bisa meraih kemenangan beruntun untuk yang kelima kalinya?” Para wartawan tak menyerah demi bisa mengutip beberapa kata dari Sang Pelatih Cendana untuk bisa dijadikan headline dalam portal berita mereka. “Ahsan! Ahsan!” Coach Adam mengangkat tangannya untuk memanggil Ahsan yang berjalan tak jauh di belakangnya. “Saya, Coach?” Ahsan pun dengan sigap mempercepat langkah dan menghampiri Coach Adam. “Tolong, ini para wartawan dikasi sepatah dua patah kata,” instruksinya kemudian. “Ngomong sama Kapten kami saja, ya.” Lelaki paruh baya itu pun melemparkan urusan meladeni wartawan kepada Ahsan. Semua lensa kamera dan alat perekam suara pun beralih kepada Ahsan yang terpaksa menghentikan langkah dan membiarkan dirinya dikerumuni. “Satu atau dua menit aja cukup,” seru Coach Adam yang sudah hampir melewati mulut pintu masuk. “Jangan lama-lama,” sambungnya sambil lalu. Rombongan tim Cendana mengikuti Coach Adam melewati pintu masuk, menuju ke lapangan basket di mana upacara pembukaan akan dimulai. Saat melewati Ahsan yang dikelilingi wartawan, Yuda cekikikan menggoda Sang Kapten, tapi langsung disambut dengan Dewa yang memukul tengkuknya cukup keras hingga membuatnya meringis sambil mempercepat langkahnya memasuki gedung GOR. Sementara itu, Dewa bersama Juan memutuskan untuk setia menunggu dan menemani Ahsan yang masih harus meladeni para wartawan. Wahyu bersama anggota kelas 11 lainnya – termasuk Evan yang nilai ujiannya berhasil mengungguli Zikri – hanya berjalan cepat mengikuti rombongan di depannya. Mereka seperti sudah terbiasa dengan situasi yang melibatkan para wartawan olahraga itu. Noah mencoba melipir dari belakang Ahsan yang sedang diwawancarai, tapi hanya sekitar dua meter dari pintu masuk GOR, ia dicegat oleh seorang wartawan bersama dengan cameraman-nya. Igris, bersama beberapa anggota kelas 10 lainnya pun ikut terhadang di belakang Noah. “Noah, masih ingat saya?” tanya wartawan yang kira-kira masih seumuran dengan Coach Adam itu. Alis Noah sedikit mengerut, mencoba mengingat-ingat. Tapi tak butuh waktu lama ia menebak ragu, “Pak Vito?” Noah mengingat lelaki berkacamata itu karena ia memang selalu hadir di setiap pertandingan penting yang diikuti Noah sejak SMP, dan hampir di setiap akhir pertandingan dia akan menghampiri Noah. Sekedar untuk menyapa atau kadang juga untuk wawancara dan mengambil foto. “Ah … syukurlah kamu masih mengingatku. Nanti setelah pertandingan, boleh ngobrol sebentar?” tanya Vito tepat saat sudut matanya menangkap sosok Igris yang sedang berusaha mencari celah untuk bisa lebih dulu melewati pintu masuk. “Hei, kamu di Cendana juga?” sapa Vito kemudian pada Igris. Tapi Igris hanya membalas dengan anggukan dan senyum ramah sambil berlalu. “Nggak nyangka, Liga Rookie tahun ini pasti bakal sangat seru.” Mata Vito berbinar penuh semangat. Noah mengangguk seadanya sembari menatap gelisah ke arah teman-temannya yang satu per satu sudah mulai memasuki gedung GOR dan meninggalkannya. Ahsan juga sudah menyelesaikan urusannya dengan para wartawan dan sekarang sedang berjalan – bersama Juan dan Dewa – ke arah Noah yang posisinya memang lebih dekat pintu masuk. “Pak, nanti kita ngobrol lagi, ya. Saya nggak enak sama yang lain,” kata Noah akhirnya. “Oh, tentu saja. Silakan, silakan.” Vito mengambil selangkah ke pinggir agar tak menghalangi pintu masuk yang akan dilalui Noah bersama para seniornya. Trio kelas 12 tim basket Cendana itu pun memberi anggukan sopan saat lewat di hadapan Vito, Noah juga melakukan hal yang sama untuk berpamitan sebelum kemudian ikut melangkah di belakang mereka, menyusul yang lainnya. . Situasi di dalam aula GOR juga kurang lebih sama dengan saat tim Cendana berada di area parkir. Bedanya hanya, yang bekasak-kusuk kali ini adalah sesama peserta Liga Rookie. Di lapangan basket yang merupakan lapangan utama dalam aula itu, para peserta dari masing-masing SMA berbaris satu line di belakang sign board yang bertuliskan nama sekolah mereka masing-masing. Tim Cendana berada di barisan tengah, tepat di hadapan podium yang digunakan para petinggi Liga Rookie untuk memberi kata sambutan sebagai salah satu agenda acara pembukaan hari ini. Di sebelah kanan barisan Tim Cendana, berbaris kontingen yang mengenakan seragam training berwarna merah maroon. Itu adalah Tim SMANSA, nama yang digunakan oleh SMA Negeri 1 di provinsi itu. SMANSA beberapa kali berhasil lolos sampai ke Kejurnas, meski mereka belum pernah tembus 8 besar. Sementara itu, di sebelah kiri Cendana ada barisan SMA Dharmawangsa, yang dikenal dengan sebutan sekolah para anak pejabat. Bisa dilihat dari seragam training bernuansa kuning-hitam-putih yang mereka kenakan, bahkan logo pada duffel bag kontingen Dharmawangsa adalah logo merek yang terkenal mahal, dan semuanya menggunakan duffel bag yang seragam. Seperti tim profesional yang sudah memiliki sponsornya sendiri. Di area parkir tadi, hanya bus Dharmawangsa yang tidak kalah saing dengan bus Cendana. Pokoknya, dari ujung kepala sampai ujung kaki, tim itu terkesan high-class. Sebenarnya, Cendana yang berbaris di sebelah Dharmawangsa juga tidak terlalu kebanting. Hanya saja, jika kemewahan pada Tim Dharmawangsa terlihat menyeluruh, maka Tim Cendana hanya memiliki Noah, Ahsan, Dewa, Wahyu dan Ello yang terlihat classy, sementara penampilan luar anggota lainnya tak banyak meninggalkan kesan. “Ehm.” Salah seorang anggota Tim Dharmawangsa yang berbaris tepat di sebelah Noah berdehem untuk menyita perhatiannya. Orang itu lalu sedikit memiringkan tubuhnya ke dekat Noah untuk berbisik, “Kamu apa nggak salah pilih SMA?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD