Entah long pass yang dikirimkan Wahyu itu memang dimaksudkan untuk ditangkap atau tidak, tapi yang pasti, Noah bertekad bahwa ia tidak akan kehilangan bola itu.
Noah menangkap bola yang dilempar Wahyu tepat selangkah lagi sebelum ia melewati garis baseline. Ia hanya sendirian di area lawan, meski Igris dan Yuda tampak sedang berlari untuk menyusul, tapi tentu saja mereka sudah sangat terlambat.
Noah bahkan tak menyadari bahwa ia sedang tersenyum sangat lebar saat ini. Ia lalu membanting bola ke lantai dan melompat tinggi sambil menyambar bola yang sedang melambung di udara itu. Alih-alih mengarahkan bola ke dalam ring, Noah mengoper bola dari tangan kiri ke kanan dengan melewatkan bola di antara kakinya saat ia masih berada di udara, sebelum kemudian menghujamkan bola sekeras-kerasnya ke dalam keranjang.
ZRANK!
Suara yang terdengar saat bola dihujamkan melewati bibir ring, diikuti dengan suara pantulan bola di lantai yang menimbulkan gema.
Noah tidak bergelantungan lama di ring basket, ia segera melompat dan menjejak di lantai dengan dagu yang terangkat menatap ke arah Igris, seolah ingin menyampaikan pesan …
“Aku sendiri bisa mengalahkanmu dan 4 orang lainnya di Tim A.”
Ekspresi wajah Igris membeku dan berangsur kaku, tak ada lagi cengiran yang biasanya selalu melekat di wajahnya.
Sampai beberapa saat yang lalu, suasana aula masih dipenuhi cekikikan dan kekeh anggota tim akibat ulah konyol Zikri tadi.
Tapi kini, seisi aula mendadak hening.
Yang baru saja dilakukan Noah adalah sebuah crossover dunk, jenis dunk yang tingkat kesulitannya cukup tinggi. Tidak. Lupakan soal jenis dan tingkat kesulitan dunk. Melakukan sebuah dunk saja di dalam pertandingan anak SMA itu sudah termasuk di luar kebiasaan.
Ahsan menoleh ke belakangnya, ke arah pintu masuk aula, di mana Coach Adam sedang berada bersama Kepala Sekolah dan dua pelatih lainnya. Kepala Sekolah tampak masih terkagum-kagum membahas penampilan Noah barusan. Tapi Coach Adam memberi tatapan penuh makna kepada Ahsan, dan Ahsan mengangguk paham.
Di kuarter kedua ini saja, Noah sudah memasukkan 3 poin sebanyak 3 kali berturut-turut, ditambah lagi dengan angka-angka lainnya yang ia dapatkan dengan gerakan agresif, seperti dunk itu. Ahsan dan Coach Adam memiliki kekhawatiran yang sama.
Noah masih terlalu muda, mereka harus membendung luapan aksi yang dapat menimbulkan risiko cedera itu.
Saat ini skor Tim A sudah jauh tertinggal, namun Noah tak berhenti sampai di situ. Ia lagi-lagi melempar tembakan 3 angka, meski kali ini posisinya sedang tidak berada di sudut 180 derajat – titik favoritnya untuk melakukan 3 point shoot – tapi ia tetap memaksakan tembakan itu.
Akibatnya, berbeda dengan bola-bola 3 angka yang ia tembakkan sejauh ini, shoot terakhir Noah membentur papan ring dan nyaris gagal. Meski pada akhirnya bola tetap masuk setelah berputar-putar mengelilingi bibir ring, tapi itu bukan pertanda bagus.
Merasa sudah cukup melihat permainan Noah dan Igris, Ahsan pun meniup peluit saat bola mati[1]. Noah dan Igris ditarik keluar lapangan secara bersamaan. Padahal hanya kurang dari dua menit lagi kuarter kedua akan berakhir. Tapi Ahsan tak ingin menunggu lagi.
Meski ekspresi Noah tampak tidak puas, tapi ia tetap meninggalkan lapangan sambil memberikan anggukan kecil kepada pemain dari kelas 10 yang akan menggantikan posisinya di Tim B.
Sejak Noah kembali ke bench, semua mata kembali terpaku kepadanya. Seolah mereka baru saja menyadari bahwa kehebatan pemain muda bernama Diaz Noah Arakha itu bukan hanya sekedar rumor, Noah sudah membuktikannya langsung dalam permainan barusan.
Coach Adam masih merasa bahwa ada banyak hal yang harus diperbaiki dalam permainan Noah, dan meskipun Ahsan juga merasakan hal yang sama, tapi sebagai Kapten tim ia cukup puas.
Ahsan menjadi semakin optimis dan menganggap ini adalah peluang besar untuk bisa mengangkat trofi Kejurnas, bersama dua monster yang baru saja bergabung dengan tim basket putra Cendana.
“Mereka bermain sangat bagus,” komentar Kepala Sekolah.
“Saya setuju, Pak. Kita dapat dua berlian berharga tahun ini,” sambar Reza. “Tapi sebenarnya saya merasa anak yang bernama Igris itu jauh lebih dibutuhkan tim. Dia berbakat dan sifatnya juga baik.”
“Anda bicara seolah sudah kenal lama dengan mereka berdua,” sela Coach Adam, “Noah juga memiliki potensi yang sama – jika tidak lebih baik. Mereka berdua adalah s*****a yang sangat kuat yang akan mendukung permainan tim kita.”
“Tapi … Noah itu …”
“Kurang penurut?”
Reza terdiam setelah Coach Adam menyela untuk melengkapi kalimatnya. “Bukan begitu maksud saya,” elaknya kemudian.
“Saya tahu maksud Pak Reza,” tambah Coach Adam lagi. “Pemain yang sifatnya baik itu adalah pemain yang penurut, kan? Tidak pernah memberontak dan gampang diatur.”
“Kalau dikatakan seperti itu, kedengarannya kan jadi buruk ...”
Kepala Sekolah tertawa pelan untuk menengahi perdebatan kedua lelaki itu. “Menurut dengan pelatih itu baik,” tuturnya kemudian, “tapi terlalu penurut itu tidak baik. Anak-anak juga seharusnya memiliki pendapat dan pandangan sendiri, jika dibatasi dengan tembok-tembok kokoh yang dibuat oleh pelatih, maka mereka tak akan bisa berkembang.”
Coach Adam tersenyum menyetujui, tapi Reza terlihat kesal.
“Dalam pertandingan, ada kalanya kita membutuhkan inisiatif pemain, di luar dari instruksi pelatih.” Kepala Sekolah masih ingin melanjutkan. “Fungsi pelatih itu bukan untuk menutup mata atletnya dan menuntun arah mereka berjalan, fungsi pelatih adalah memberi arahan sementara membiarkan para atletnya tetap membuka mata lebar-lebar, melihat banyaknya kemungkinan dan ruang yang bisa dikembangkan untuk lebih kreatif dan terampil dengan kepercayaan diri yang baik.”
Wah … rasanya Coach Adam ingin bertepuk tangan dan membuat kaligrafi dengan kutipan kata-kata dari Kepala Sekolah barusan.
“Pak Kepala Sekolah, Anda benar-benar orang yang hebat dan bijaksana,” puji Coach Adam kemudian disambut dengan tawa ringan Kepala Sekolah dan tawa terpaksa dari Reza.
.
“Si Noah itu pasti makin besar kepala setelah berhasil pamer tadi!”
Heru mengomel di ruang ganti, tampak tidak puas dengan pertandingan tes kemampuan hari ini. Meski menjadi bagian dari tim yang memenangkan pertandingan tadi, penampilan Heru sangat jauh dari kata memuaskan.
Tak lama setelah Noah dan Igris ditarik keluar lapangan, kuarter kedua pun berakhir. Dan Heru langsung digantikan dengan pemain kelas 10 lainnya saat kuarter ketiga dimulai. Heru merasa belum sempat melakukan apa-apa. Bahkan jika dikalkulasikan, durasi lamanya Heru menyentuh bola tidak sampai 1 menit, selama ia berada di lapangan tadi.
Tentu saja, ia jadi terlihat tak berguna dan tak bisa berbuat banyak karena penampilan Noah yang membuatnya begitu. Wahyu memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Noah, itu sebabnya strategi tim jadi berpusat pada serangan yang dilakukan Noah, dan anggota Tim B lainnya tak bisa berbuat banyak selain men-support permainan Noah.
Makanya sekarang Heru merasa sangat kesal, dan kekesalannya itu sebagian besar diarahkan kepada Noah. Karena ia merasa Noah telah membuatnya kehilangan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.
Sementara Heru sedang misuh-misuh di ruang loker, Noah saat ini sedang tertahan di aula karena harus mendengarkan ceramah dari Coach Adam.
Pelatih itu, bersama dengan Ahsan, menasehatinya untuk lebih menahan diri agar terhindar dari cedera yang tak diinginkan. Tentu saja mereka juga sangat mengagumi kemampuan Noah, tapi akan lebih baik jika Noah bisa sedikit belajar untuk mengontrol dirinya.
"Noah ... aku tahu dunk itu memang mudah bagimu, tapi ... usahakan untuk tidak berlebihan menggunakannya, terutama di dalam pertandingan-pertandingan yang tak begitu penting seperti pertandingan percobaan hari ini. Lagipula, jika terlalu sering digunakan, efek kagetnya juga akan memudar. Lama-lama lawan jadi terbiasa dan dunk-mu jadi tidak bisa lagi digunakan untuk menjatuhkan mental mereka."
Kira-kira seperti itulah wejangan yang diberikan oleh Coach Adam, hingga berhasil membuat Noah merasa bersalah. Ia meminta maaf dan berjanji untuk lebih mengendalikan diri di lapangan.
"Jangan minta maaf," timpal Ahsan sambil mengucek rambut basah Noah, "kamu sama sekali nggak salah. Kami cuma mengkhawatirkanmu. Dalam pertandingan itu ada empat kuarter, banyak hal yang bisa terjadi."
Noah mengangguk dan berterima kasih, sebelum akhirnya ia pamit dari hadapan mereka.
Saat sedang melangkah menuju ke ruang loker, Noah berpapasan dengan punggung Ello, tak jauh di hadapannya. Senior itu tampaknya juga sedang menuju ke ruangan yang sama.
"Kak Ello," sapa Noah sambil berlari kecil untuk menyusulnya.
Ello menoleh, ia agak kaget saat Noah tiba-tiba berada di sebelahnya dan menunduk sambil meminta maaf. Noah mengaku bahwa ia baru saja tahu, ternyata Ello adalah kakak kelasnya.
Padahal selama pertandingan percobaan tadi, Noah berkali-kali menggunakan kata “kamu” pada senior kelas 11 itu, mengira Ello adalah rekan seangkatannya.
Untungnya, Ello menanggapi dengan senyum tenang. Ia menepuk-nepuk pundak Noah dan mengatakan bahwa ia memaklumi Noah.
"Udah nggak usah dipikirin, santai aja. Namanya juga nggak tahu," ujarnya ramah.
Mereka lalu bersama-sama menuju ke ruang loker, dan saat itulah Noah mendengar seseorang sedang mengumpat dan marah-marah sambil sesekali menyebut namanya.
Lalu salah seorang anak kelas 10 bernama Steven, ikut angkat bicara tanpa menyadari bahwa Noah sudah berada di balik pintu.
“Dulu waktu di SMP Pelita, aku pernah satu tim dengannya.” Steven mulai menambahkan pendapatnya tentang Noah, sebagai bentuk dukungan atas kemarahan Heru. “Noah itu sejak dulu memang sombong. Nggak ada yang boleh ngomong buruk soal dia, dia gampang marah. Kami semua harus selalu berhati-hati untuk menjaga mood-nya. Soalnya kalau dia udah ngambek, semua orang di tim bakal kebingungan, bahkan para senior juga. Noah memegang kendali semuanya. Gara-gara dia, pemain lain jadi terkesan nggak bisa main basket.”
“Bukannya itu karena kalian yang memang mainnya nggak bagus?” Noah memutuskan untuk menguak pintu dan menimpali omongan mereka.
Sementara Ello yang berada di sebelahnya tampak panik, berusaha menenangkan dengan memberikan sentuhan pelan pada lengan Noah.
“Apa?! Ngomong apa kamu barusan?!” Heru meninggikan intonasi suaranya, ia menjadi semakin tersinggung dengan sebaris kalimat yang diluncurkan Noah tadi.
“Aku bilang, kalian memang mainnya j.e.l.e.k.” Noah tak gentar memperjelas pernyataannya. “Kalau kalian keberatan aku nyuri spotlight, kenapa kalian nggak main lebih bagus dari aku? Oh iya … kayaknya itu nggak mungkin sih.”
Heru hampir lepas kendali, ia siap membenturkan kepalanya ke kening Noah, jika saja seisi ruangan itu tak mencegahnya. Ada dua orang yang memeganginya dan satu orang yang menghalanginya melayangkan tinju ke wajah Noah.
“Kamu juga ...,” kali ini Noah beralih kepada Steven, “aku ingat dulu sejak masuk tim Pelita, kamu selalu duduk di bangku cadangan, kan?” tambah Noah lagi. Ekspresinya terlihat lebih jengkel ketika ia melihat Steven dibandingkan Heru.
Noah melangkah menyebrangi ruangan untuk langsung menuju ke salah satu loker tempat ia meletakkan tas ransel miliknya yang berisi buku-buku pelajaran. “Daripada sibuk gibah, mending latihan yang benar. Kau bahkan nggak pantas berdiri satu panggung denganku,” ujarnya sambil lalu.
“Kurang.ajar! Kau kira kau siapa, ha?!” Amarah Steven juga ikut tersulut.
“Dia MVP Kejurnas basket j.u.n.i.o.r,” sahut Bayu yang baru saja selesai mengeluarkan barang-barang miliknya dari loker lain.
“Ha?” Steven merasa pernyataan Bayu itu tidak nyambung dengan kemarahannya.
“Ya tadi kamu tanya dia kira dia siapa, kan? Dia itu pemain terbaik di antara semua pemain basket seumuran dia.”
“Gelar MVP itu nggak menjamin kalau dia yang terbaik.”
“Ya udah kalau gitu coba aja kalahin dia, ngapain marah-marah?” balas Bayu sambil lalu menyandang tasnya dan melangkah meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.
"Aku duluan, ya,” pamitnya kepada seisi ruangan. Saat ia berjalan melewati Ello di ambang pintu, Bayu memberi anggukan untuk menyapanya sekaligus berpamitan.
Ruangan berubah hening, hanya terdengar suara-suara yang ditimbulkan saat Noah sedang membereskan barang-barangnya dari loker – anak-anak baru memang belum diberikan loker pribadi dan hanya bisa menggunakan loker kosong yang tak terpakai.
Noah lalu menyandang tasnya dan berjalan kembali menyeberangi ruangan untuk menuju ke pintu keluar, tanpa ada satu orang pun lagi yang membuka suara.
“Kak, aku duluan, ya,” pamit Noah pada Ello yang masih terpaku di mulut pintu.
Nyaris bersamaan dengan berlalunya Noah, Dirga dan beberapa anak kelas 11 lainnya baru keluar dari shower. Mereka langsung bisa merasakan keanehan di ruangan itu saat melihat semua orang membisu, diselimuti suasana dingin dan canggung.
“Ada apa?” tanya Dirga bingung. Tapi tak ada yang menjawabnya.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Bola mati dalam bola basket adalah kondisi bola yang tidak sedang dalam permainan. Bola mati berarti bola hanya boleh dipegang oleh wasit sebelum dimulai kembali.