“Kita bikin selisih skornya makin lebar!” teriak Wahyu menyemangati timnya.
“Oh ho … ternyata suara Wahyu bisa sebesar itu juga,” seru Dewa yang kini ikut berdiri di sebelah Ahsan sambil tak melepaskan pandangan dari para pemain di lapangan.
Ahsan tersenyum bangga. “Sepertinya kita nggak perlu khawatir dengan masa depan Cendana,” gumamnya dibalas anggukan Juan.
Yuda membawa bola ke tengah lapangan sementara anggotanya mencari posisi masing-masing untuk membuat arah passing Yuda menjadi beragam dan sulit ditebak. Sepertinya mereka memang benar-benar memanfaatkan waktu jeda antar kuarter tadi untuk menyusun strategi, membuat serangan mereka lebih matang dan terarah dibandingkan Tim B.
Detik berikutnya, mereka melakukan passing dengan sangat cepat untuk membuat bingung pertahanan Tim B. Yuda mengoper ke David, David langsung mengirimkan bola ke Muklis di luar garis 3 poin, tapi Muklis tak menembak, ia mengoper kembali ke Yuda dan Yuda langsung memberi operan kepada Igris. Igris menusuk masuk ke area pertahanan Tim B, tapi ia berbalik dan mengembalikan bola kepada David.
David menahan bola beberapa saat karena lawan melakukan penjagaan yang cukup ketat, tapi pada akhirnya Dirga datang menjemput bola dan David melakukan screen[1] untuknya.
Dirga menembakkan bola ke ring, tapi ia gagal. Meski begitu, Igris melompat sangat tinggi untuk menyambut bola yang memantul dari ring tadi dengan telapak tangan terbuka, lalu sambil masih berada di udara ia hanya perlu mendorong bola kembali masuk ke dalam lingkaran dengan ujung jari yang sempat menyentuh bibir ring.
“Woah … alley oop[2] di pertandingan percobaan?!” Dewa berdecak kagum, setengah tak percaya.
“Dapat dari rebound, kan? Lebih ke putback kayaknya. Dan itu tadi termasuk putback dunk[3], bukan sih?” sahut Juan sambil agak mengira-ngira.
“Apapun itu namanya, untuk ukuran tes kemampuan, ini levelnya udah ketinggian,” timpal Ahsan sambil tertawa pelan. “Kalau gaya mainnya begini, apa bisa tahan sampai empat kuarter? Harus kerja keras nih buat meningkatkan stamina.”
Memang tembakan yang dilakukan Igris barusan bisa dikategorikan sebagai dunk, tapi tentu saja itu adalah dunk yang sangat ‘jinak’ jika dibandingkan dengan dunk keras yang dilakukan Noah. Meski begitu, dampaknya cukup besar. Itu seperti penyataan “lo jual gua beli” dari Tim A.
Igris bahkan sempat memberikan senyum kepada Noah sambil berlari menuju ke area pertahanannya. Bukan senyum yang lebar, bukan juga senyum mendengus yang melecehkan, tapi Noah merasa seolah Igris baru saja menyulut api di dalam dirinya.
Sekarang Noah baru ingat kenapa dia begitu tidak menyukai Igris. Akhirnya ia menemukan penyebab di balik kekesalan yang selama ini ia rasakan setiap kali melihat cowok itu.
Noah bukan anak kemarin sore di dunia kompetisi olahraga, ia tak mungkin dendam kepada semua orang yang berhasil mengalahkannya. Tapi Igris berbeda. Igris berhasil meninggalkan rasa pahit yang seolah tak pernah hilang dari lidah Noah.
Saat final Kerjurnas basket j.u.n.i.o.r hari itu, Igris dan timnya tak hanya mengalahkan tim Noah, tapi Igris juga seolah meniru semua jenis serangan yang dilakukan Noah.
Jika Noah melakukan lay up[4] ringan, maka point berikutnya yang didapatkan Igris juga akan dilakukan dengan lay up. Jika Noah melakukan steal dan turnover, maka Igris juga akan melakukan hal yang sama. Jika Noah melakukan tembakan 3 point, Igris juga akan menirunya, bahkan hingga posisi sudut tembakan 3 point yang dilakukan Noah pun ditirukan dengan sempurna oleh Igris.
Tentu saja hal itu sangat menyebalkan bagi Noah. Seolah Igris ingin mengatakan bahwa apapun yang dilakukan Noah di lapangan sama sekali tidak spesial, karena Igris juga bisa melakukan hal yang sama.
Igris secara terang-terangan memprovokasi Noah sepanjang pertandingan final hari itu, bahkan pelatih dan rekan se-tim Igris juga tampak mendukung dan menikmati tindakannya.
Itu sebabnya, meskipun ingin, tapi Noah tak akan pernah bisa melupakan kekesalannya terhadap Igris.
Ahsan meniup peluit untuk pergantian pemain, ia baru saja mengganti Muklis dari Tim A dengan memasukkan Zikri.
Zikri terlihat bersemangat tapi juga gugup, ia bahkan tersandung dengan tali sepatunya sendiri dan nyaris terjatuh saat memasuki lapangan.
Berada dalam satu lapangan dengan idolanya sejak 3 tahun lalu, Noah, membuat perasaannya campur aduk. Ia ingin menampilkan yang terbaik untuk mendapatkan perhatian Kapten dan –tentu saja – juga Noah.
Tapi, di samping itu, ia juga menjadi sangat takut membuat kesalahan.
“Aku main basket bareng Noah. Aku main basket bareng Noah. Aku main basket bareng Noah.” Zikri menggumamkan itu kepada dirinya sendiri, seperti mantra. Dan semua itu terhenti saat sebuah tepukan ringan mendarat di punggungnya.
“Jangan gugup, kita harus bisa hentikan semua serangan mereka. Kamu jaga Noah.”
Kalimat instruksi itu keluar dari mulut Yuda, dan membuat lutut Zikri menjadi semakin gemetar. Ia baru saja diminta untuk menjaga Noah. Bagaimana ia harus melakukannya?
“Zikri! Rebound!”
Terdengar seseorang meneriakkan itu. Tapi saat Zikri mendongak dan menatap ke arah ring. Bola yang ditembakkan barusan itu masuk, dan mereka sama sekali tak perlu melakukan rebound.
“Lari! Balik!” Teriak Yuda lagi kepada timnya.
Lalu bola tiba-tiba saja datang kepada Zikri, ia cukup kaget dan nyaris kehilangan bola itu. Untungnya ia berhasil menguasai bola dan melakukan dribble dengan stabil. Tapi ia kembali dikejutkan dengan apa yang ada di hadapannya.
Noah.
Ia dihadang oleh Noah.
Seketika Zikri membatu dan Noah bisa merebut bola dengan mudah darinya. Semua orang berlari melewati Zikri. Dalam sekejap Tim B sudah balik menyerang dan Tim A harus melakukan penjagaan (defense).
Tim yang dipimpin Wahyu itu pun berhasil melakukan serangan tanpa hambatan, dan melalui tembakan Ello, 2 angka kembali ditambahkan untuk mereka.
Sementara Zikri benar-benar merasa kehilangan arah. Ia baru saja melakukan kesalahan. Ia membiarkan Noah merebut bola yang sedang ia giring.
“Oi.” Seseorang menepuk punggung Zikri saat ia sedang meratapi dirinya sendiri. Zikri tak perlu menoleh ke belakang karena orang yang baru saja memberi tepukan itu sudah berada di sebelahnya.
“Mau main atau nggak?” tanya Noah yang sepertinya juga ditugaskan menjaga Zikri.
Tim B memutuskan untuk melakukan man to man defense; yang mana masing-masing pemain Tim B ditugaskan menjaga dan mengikuti setiap pergerakan satu pemain Tim A.
“Jangan gugup,” nasehat Noah lagi, “anggap aja kamu lagi main di lapangan dekat rumah, bareng teman-temanmu.”
Belum sempat Zikri merespon kalimat Noah, Bayu baru saja berlari sambil menggiring bola melintasi mereka. Sepertinya sudah giliran Tim B untuk menyerang lagi. Noah pun mengabaikan penjagaannya kepada Zikri dan langsung berlari menyusul Bayu, mengambil posisi terbaik untuk menerima operan.
Sejak memasuki lapangan tadi, lutut Zikri memang sudah sangat gemetar. Ditambah lagi dengan sapaan Noah barusan, rasanya tremor Zikri sudah menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia baru saja bicara dan diberi nasehat oleh orang yang membuatnya menjadi tertarik dengan basket.
“YES, SIR!” teriak Zikri keras, sampai-sampai beberapa senior yang berdiri di pinggir lapangan harus menahan tawa melihat semangatnya yang tiba-tiba menggelegar.
Kali ini Zikri gemetar bukan karena gugup ataupun takut, melainkan karena tubuhnya tak bisa membendung gairah yang meluap dari dalam dirinya. Ia tak sabar ingin segera beraksi.
“Semangat yang bagus! Tunjukkan taringmu dan rebut posisi Kak Dewa!” teriak salah seorang dari pinggir lapangan.
“HEI!!!” Dewa langsung berteriak protes, tapi ia hanya disambut dengan tawa dari anggota tim Cendana lainnya.
Noah baru saja mendapatkan operan dan ia membawa bola sebentar, sebelum kemudian mengirimkan bola kepada Wahyu sambil lalu bergerak untuk mengambil posisi di area lawan. Saat sudah berada di corner three[5], Noah mengangkat tangan untuk meminta bola kembali.
Wahyu memberikan bola yang diinginkan Noah, pass-nya sampai dengan baik, dan ketika bola yang ia oper itu menyentuh tangan Noah, seolah bola itu seketika meluncur ke arah ring.
Noah menembak 3 poin dengan sangat cepat dan berhasil masuk dengan mulus. Jangankan melakukan blocking, Tim A bahkan tak sempat melihat pergerakan bola itu.
Yuda bermaksud melakukan serangan balasan dengan cepat, mereka berlari sambil mengoper bola. Namun saat Dirga menggiring bola, Zikri merebutnya dan langsung mengirimkan bola yang berhasil ia curi itu kepada Noah.
Suasana aula mendadak hening.
Seolah ada tanda tanya besar yang tiba-tiba saja muncul menaungi lapangan basket itu. Selama sepersekian detik Noah juga sempat mematung dengan bola yang baru saja dioper Zikri ke tangannya.
“Pfft.”
Noah berusaha menahan tawa saat menyadari bahwa Zikri baru saja melakukan kesalahan, tapi ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Tanpa membuang waktu, ia berlari sendiri ke ring lawan dan memasukkan bola dengan lay up ringan.
“Zikri! Apa yang kau lakukan?!” teriak Yuda frustasi.
Di saat yang bersamaan, seisi aula dipenuhi dengan suara tawa terbahak-bahak dari para senior; suara tawa Dewa yang terdengar paling keras.
“Dia curi bola kawan … ha ha … dan oper ke lawan … pfft … dia oper ke … bhua ha ha ha!” Dewa bahkan tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia tampak memegangi perutnya sendiri karena kesulitan menghentikan tawa.
Wajah Zikri memerah seperti udang rebus. Tapi belum sempat ia membenahi mentalnya, Tim B sudah kembali menyerang setelah Wahyu mendapatkan rebound dari tembakan David yang gagal.
Saat aula masih dipenuhi suara tawa, pertandingan terus berlanjut. Tapi kaki Zikri rasanya seperti menempel di lantai, bahkan ketika orang yang harusnya ia jaga baru saja melintas, seolah berdesing di depan hidungnya.
Noah berlari kencang tanpa bola, menuju ke ring basket milik Tim A untuk menyambut long pass (Operan Panjang/Jauh) yang dikirimkan Wahyu dari dekat ring-nya sendiri.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Tepat setelah mendapatkan rebound, Wahyu bahkan tak menunggu timnya sampai ke area lawan. Ia hanya membuat kontak mata dengan Noah dan Noah langsung paham bahwa Wahyu akan melakukan long pass, kontak mata itu adalah sebuah instruksi agar Noah segera berlari untuk menerima operan jauh itu.
Entah karena Wahyu memang sudah percaya pada kemampuan Noah atau ia hanya ingin sekadar membalas dendam – mengingat saat jeda istirahat tadi Noah sudah “menampar” Wahyu dengan fakta tentang kekurangan dirinya di hadapan anggota Tim B yang lain.
Noah sampai menggeretakkan gigi saat ia dipaksa berlari sekuat tenaga mengejar long pass dari ujung ke ujung yang dikirimkan Wahyu.
Tak ada yang tahu pasti, apakah passing itu memang dimaksudkan untuk ditangkapnya atau tidak, tapi Noah bertekad bahwa ia tidak akan kehilangan bola itu.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Screen adalah upaya memperlambat atau menghalangi gerakan/arah laju lawan tanpa bola dengan memasang badan, tujuannya adalah untuk membebaskan rekan satu tim yang sedang menyerang, dari penjagaan lawan.
[2] Alley oop adalah suatu permainan ofensif saat satu pemain melempar bola ke dekat ring, lalu rekan setim akan melompat, menangkap bola di udara dan menempatkannya ke dalam ring sebelum menyentuh tanah. Alley oop merupakan kombinasi elemen kerja sama tim, passing yang akurat, pemilihan waktu, dan penyelesaian.
[3] Putback dunk atau disebut juga tip dunk, adalah saat pemain mendapatkan bola rebound dari board lawan dan menyelesaikan peluang tersebut langsung dengan dunk, tanpa melakukan dribble atau passing.
[4] Lay up shoot adalah upaya tembakan yang dilakukan dengan melangkah atau berlari ke salah satu sisi ring basket untuk kemudian melompat dan memasukkan bola ke dalam keranjang.
[5] Corner three adalah area tembakan 3 poin yang berada di sudut paling ujung atau pojok luar area perimeter.