Tim Basket SMA Cendana (3)

1742 Words
Priiiittt …! Terdengar suara peluit yang ditiup Ahsan, menandakan 10 menit pertandingan baru saja berlalu. Semua pemain Tim A dan Tim B kembali ke pinggir lapangan sambil menyeka keringat dan mendengar pengarahan satu orang pemain inti yang bertanggung jawab terhadap masing-masing tim. “Heru, kamu gantikan Hamid di kuarter kedua.” Dari kejauhan, Ahsan memberi instruksi kepada salah seorang anak baru. “Wahyu, kamu yang harus inisiatif mengatur strategi di tim kalian,” tambahnya lagi untuk memperingatkan Wahyu. Sebenarnya, tes kemampuan kali ini bukan hanya untuk anak-anak kelas 10. Ahsan sengaja memberikan kesempatan kepada Yuda dan Wahyu untuk memimpin masing-masing tim. Karena setelah barisan anggota kelas 12 lulus, maka yang tersisa untuk memimpin tim basket Cendana hanyalah senior kelas 11. Itu sebabnya Ahsan juga bermaksud untuk melihat potensi para pemain yang saat ini duduk di kelas 11, karena salah satu dari mereka kemungkinan akan menjadi Kapten berikutnya. Noah, Ello, Bayu dan Heru masih menunggu arahan dari Wahyu untuk kuarter kedua ini, namun senior kelas 11 itu tampaknya tak akan mengatakan apa-apa. “Kak, kita tertinggal 2 poin, berikutnya bagaimana?” tanya Bayu setengah mendesak, karena mereka memang tak punya banyak waktu sebelum kuarter kedua dimulai. Padahal seluruh anggota yang ada di Tim B harus menajamkan pendengaran mereka hanya untuk mendengar pengarahan dari Wahyu; karena suaranya yang nyaris tak terdengar seolah ia hanya bergumam kepada dirinya sendiri. Tapi bahkan setelah bersusah payah fokus untuk mendengarkan Wahyu, mereka malah hanya mendapatkan sebaris kalimat yang tak berarti apa-apa dari senior kelas 11 itu. “Lakukan saja seperti kuarter pertama tadi,” jawab Wahyu dengan tampangnya yang minim ekspresi. Meski begitu, tak ada yang bisa dilakukan oleh anggota Tim B yang berada di bawah pimpinan Wahyu saat ini. Jadi, mereka hanya saling bertukar tatapan bingung antara satu sama lain. Sementara itu, Noah mengerling bench tim A yang berada tak jauh dari mereka. Anggota tim itu, di bawah naungan Yuda, tampak nyaman antara satu sama lain. Yuda juga kelihatannya menyenangkan, ia memberi instruksi dan sesekali masih sempat bercanda dengan adik-adik kelasnya. Tak jarang sesekali terdengar suara tawa mereka. Urat di pelipis Noah mulai menonjol, dan tangannya yang menggenggam botol air minum mineral pun mulai mencengkram erat saking kesalnya. “Kamu, jangan lempar 3 point kalau kamu nggak yakin.” Akhirnya Noah memutuskan untuk buka suara, dan kalimat pertamanya itu ditujukan kepada rekan seangkatan bernama Bayu. Noah mengatakan itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengamatannya, sejak di awal pertandingan tadi Bayu hanya berani shoot dari luar, seolah takut menghadapi defense lawan di dekat ring. “Ha? Kenapa malah kamu yang sok ngatur?!” Bayu kelihatannya tidak senang dengan inisiatif Noah. “Aku cuma ngomong apa yang perlu dilakukan untuk tim.” “Iya, tapi kamu nggak ada hak! Kayak kamu main udah bagus aja.” “Aku main bagus,” balas Noah datar. “Sombong banget anak b******k ini!” Bayu sudah mengulurkan tangannya, siap mencengkram baju Noah. Tapi ia segera dihalangi oleh anak-anak kelas 10 lainnya di tim itu. Wahyu juga berdiri di antara mereka untuk melerai. “Cukup!” Senior kelas 11 itu setengah menghardik. “Kakak juga kalau jadi kapten tim yang benar dong.” Tanpa ampun, Noah juga menegur Wahyu. “Ditanyain strategi no comment, di lapangan juga malah main sendiri. Passing[1] yang benar, jangan asal lempar aja.” Ekspresi Wahyu berubah kaku, rahangnya juga mulai mengetat karena emosi yang berusaha ia tahan. Meski ingin marah, tapi yang dikatakan Noah memang tidak salah. Wahyu tidak menyesuaikan passing-nya dengan anggota tim, ia seolah lupa bahwa saat ini rekan-rekan satu timnya hanya anak-anak baru yang kemampuannya tidak sebanding dengan para pemain inti Cendana. Passing-nya tidak bisa ditangkap oleh Bayu dan yang lain, timing-nya selalu tidak tepat. “Hei, Noah. Kamu udah keterlaluan.” Ello, salah satu senior kelas 11 yang kelihatannya cukup sabar, akhirnya ikut angkat suara karena merasa Noah tak seharusnya mengkritik Wahyu yang lebih senior darinya. “Nggak ada yang salah dengan passing Wahyu…” “Oh ya? Berapa kali kamu berhasil menangkap passing-nya selama 10 menit tadi?” potong Noah tanpa mengetahui bahwa lawan bicaranya itu lebih tua setahun darinya. “Kalau dia memberikan pass padaku, mungkin nggak ada masalah. Tapi akui aja, kalian kesulitan kan menangkap pass-nya?” “Itu karena kami yang lambat.” “Ok. Kalau gitu, untuk kemenangan tim, kalian yang mau tambah kecepatan atau Kak Wahyu yang menyesuaikan timing pass-nya? Pilih.” Kalimat pamungkas Noah itu berhasil membuat semua yang ada di Tim B terdiam. “Seharusnya ini yang kita bicarakan sejak tadi.” Noah menggerutu karena mereka sudah kehabisan waktu. Tepat saat kalimat terakhirnya tadi, peluit pertandingan kembali ditiup, pertanda kuarter kedua akan segera dimulai. Tanpa basa-basi, Noah meninggalkan bench dan langsung melangkah kembali ke lapangan. Sementara aura Wahyu dan yang lainnya tampak suram ketika mereka juga melakukan hal yang sama, tapi dengan langkah gontai. “Kita bikin selisih angkanya dua kali lipat,” seru Yuda kepada timnya. Ia sengaja melakukan itu untuk membakar semangat tim A sekaligus menjatuhkan mental tim B. Dan Noah benci itu. Yuda memberikan pass pertamanya kepada Dirga. Namun baru sekali dribble, bola itu sudah hilang dari tangan Dirga. Noah merebutnya. Ia berlari sendiri ke area pertahanan lawan, saat belum ada satu pemain pun dari Tim A yang sempat kembali menjaga ring mereka. Situasinya sangat mendukung bagi Noah untuk mengeluarkan semua rasa kesalnya setelah jeda tadi. Itu sebabnya ia tidak ragu untuk melompat dan melakukan dunk[2] keras dengan kedua tangannya. Membuat suasana jadi mendadak hening karena suara yang ditimbulkan akibat dunknya bergema sangat keras di aula yang cukup sepi itu. Noah baru saja menyamakan skor kedua tim. Ia lalu menjejak ke lantai dan langsung berlari kembali untuk melakukan defense, diiringi dengan tatapan semua mata yang ada di aula. Tak ada selebrasi dan semacamnya, seolah yang baru saja ia lakukan itu bukan hal yang luar biasa. “Jangan khawatir, dunk itu cuma dua angka! Nggak ada yang istimewa.” Yuda berusaha memberi semangat kepada Tim A sambil sedikit menjatuhkan mental lawan – senior yang satu itu memang ahli dalam hal seperti itu. “Kak, pass saja semua bolanya ke aku,” ujar Noah pada Wahyu. Senior kelas 11 itu tak mengatakan apapun untuk menjawab. Namun, Wahyu sadar betul bahwa memang hanya itu satu-satunya cara jika ingin menang. Karena timing pass-nya masih berantakan, anggota lainnya di Tim B juga tak ada yang secepat Noah. Muklis baru saja melakukan jump shoot[3], tapi tembakannya gagal. Untungnya, rekan sesama anggota Tim A yang bernama David berhasil merebut rebound[4]. Tapi sepertinya ia tak begitu lihai menggiring bola. Wahyu berhasil menepis bola yang ia dribble, sayangnya bola yang lepas itu malah ditangkap Yuda. “Thank you!” serunya kepada Wahyu sebelum kemudian melakukan jump shoot dan masuk. Tim Noah kembali tertinggal 2 angka. Kali ini giliran Tim B yang menyerang, Ello melakukan pass kepada Wahyu dan Wahyu langsung mencari Noah yang ternyata sudah berlari menuju ke area pertahanan lawan. Saat Wahyu memberinya pass, Noah berhasil menangkap bola itu tanpa memperlambat larinya. Dalam sekejap Noah sudah berada di garis free throw, tapi Tim A sudah siap dengan posisi defense mereka. Noah melompat seolah akan melakukan tembakan, tapi tanpa perlu melihat, ia mengoper bola kepada Bayu yang berada di belakangnya. Perkataan Noah beberapa saat tadi kembali terngiang di telinga Bayu; jangan tembak jika tak yakin. Jadi Bayu mencari rekannya untuk melakukan pass, saat itulah ia melihat Noah mengangkat tangannya – dengan punggung yang saling berbenturan dengan seorang pemain Tim A – di area low post[5]. Tanpa pikir panjang, Bayu memberikan pass yang diinginkan Noah. Dalam hati Bayu sempat berpikir, jika Noah gagal, itu akan menjadi kesempatannya untuk membuat Noah mencicipi kata-kata pedasnya sendiri. Noah menangkap pass tinggi dari Bayu hanya dengan satu tangan dan ia langsung melompat di titik itu, memaksakan diri untuk menembak di antara dua pemain lawan, Yuda dan Muklis. Dua orang itu juga melakukan hal yang sama dengan Noah, mereka melompat sambil mengangkat tangan, siap memblok tembakan Noah. Tapi lompatan Noah bukanlah lompatan vertikal, saat ada tangan lawan yang akan memukul bola dari tangannya, Noah menghindar dengan menurunkan kembali bola yang sudah hampir mencapai ring itu. Dan ketika lompatan Yuda dan Muklis mulai turun, Noah masih berada di udara, di sisi yang berlawanan dengan saat ia melompat tadi, lalu … BLUSH! Bola masuk tanpa hambatan. Dua angka pun kembali ditambahkan untuk Tim B. “Woah … reverse lay up[6] yang diawali dengan tipuan. Halus parah.” Juan berdecak kagum dari samping Ahsan yang juga tampak sedang tersenyum lebar. “Dia lompat dari sisi kiri ring, pura-pura mau lay up biasa. Tapi saat masih di udara dia berpindah ke sisi kanan ring dan tembakan dilepas di sana,” tambah Ahsan lagi. “Skill anak itu seperti sudah bermain basket selama puluhan tahun. Dengan tinggi badan yang ideal dan lompatan yang luar biasa, dia itu paket lengkap.” Sementara itu, Bayu hanya bisa terperangah. Tadinya ia sempat sedikit berharap Noah akan gagal. Tapi melihat penampilannya barusan, Bayu tak bisa mencegah rasa kagum yang mulai muncul di dalam dirinya. Wahyu juga tampak puas, ia yang biasanya paling jarang bicara dalam pertandingan, kali ini menepuk-nepukkan tangan untuk memberi semangat kepada Tim B. “Ayo! Ayo! Kita bikin selisih skornya makin lebar!” teriaknya penuh ambisi. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Passing adalah mengoper atau memberikan umpan dengan cara melemparkan bola ke arah rekan satu tim [2] Slam dunk, atau disebut juga dengan istilah dunk, secara harafiah dunk dapat diartikan sebagai "hujaman" atau dapat diartikan "menghujamkan bola basket ke dalam keranjang dari atas ring”. Teknik ini dapat dilakukan dengan satu atau dua tangan. Meski hanya bernilai dua poin, tapi dunk adalah teknik yang populer dan selalu mengundang decak kagum. [3] Jump shot atau tembakan melompat adalah upaya untuk memasukkan bola ke keranjang sambil melompat; biasanya berupa lompatan lurus ke atas. Tipe tembakan ini sering digunakan dan termasuk teknik dasar dalam olahraga basket. [4] Rebound adalah gerakan ketika seorang pemain menangkap atau mendapatkan bola pantul yang ditembakkan oleh pemain lain, tapi gagal masuk ke dalam ring. Rebound terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: Offensive Rebound dan Defensive Rebound. Offensive Rebound terjadi jika pemain mendapatkan bola pantul yang tidak masuk yang ditembak oleh teman, sedangkan Defensive Rebound terjadi jika pemain mendapatkan bola pantul yang tidak berhasil masuk yang ditembak oleh pihak lawan. [5] Low post area adalah wilayah di bawah ring basket baik kiri maupun kanan [6] Reverse lay up adalah teknik lay up yang diakhiri dengan memasukkan bola pada arah berlawanan dari garis lapangan saat memulai serangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD