Tim Basket SMA Cendana (2)

1972 Words
Ahsan meminta barisan untuk bubar dan mempersiapkan diri sebelum pertandingan percobaan dilaksanakan. “Sambil stretching, kalian boleh saling memperkenalkan diri satu sama lain. Kalau ada yang mau ditanyakan, silakan tanya saja pada senior kelas 11 dan 12. Mereka akan membantu menjelaskan semua yang perlu kalian ketahui di tim ini,” kata Ahsan lagi. “Noah, ikut tes kemampuan juga?” tanya seorang anggota kelas 11 kepada Noah di pinggir lapangan; saat masing-masing mereka sedang bersiap untuk melakukan pemanasan. “Iya, kan semua anak kelas 10 harus ikut tes ini,” jawab Noah sambil lalu. “Oh … aku kira, karena kamu dan Igris itu siswa undangan, jadi kalian akan otomatis masuk tim inti.” “Ha?!” Kalimat dari anak kelas 11 tadi langsung dipotong oleh Dewa yang kebetulan melintas di belakangnya dan mendengar pembicaraan mereka. “Dirga! Bilang apa kamu tadi?” tanyanya sambil mendekati wajah senior kelas 11 yang ternyata bernama Dirga itu. “Nggak, Kak. Nggak bilang apa-apa.” Dirga langsung menciut di hadapan Dewa yang murka. “Kamu bilang ada anak kelas 10 yang otomatis masuk tim inti?!” Dewa semakin ngotot sampai Dirga yang harus menarik wajahnya ke belakang agar keningnya tak beradu dengan Dewa. “Kalau ada perlakuan istimewa begitu, mau dikemanakan tim inti yang sekarang, hah?! Kamu nggak pernah nganggap aku sama pemain inti yang lain, ya?! Kamu sepele, ya?! Menurutmu kami kurang jago, ha?!” “Bu-bukan gitu maksudku, Kak … maaf.” Dirga menyatukan kedua telapak tangannya sambil menunduk memohon ampun. “Hei, kamu!” Kali ini Dewa mengarahkan amarahnya kepada Noah yang sejak tadi masih melakukan peregangan sebelum berlari mengelilingi lapangan. Noah yang hanya fokus mempersiapkan diri untuk tes kemampuan – seolah di sekililingnya tak terjadi apa-apa – menyahut dengan polos, “Saya, Kak?” Dewa sempat terhenyak sesaat, karena tak menyangka Noah lebih sopan dari kelihatannya. Tapi ia tetap bertahan dengan karakternya. “Jangan kira kamu bakal dapat perlakuan istimewa cuma karena kamu jago main basket di SMP. Aku nggak peduli kamu anak Kelas S, siswa undangan Cendana, MVP Kejurnas dan sebagainya. Di sini, kamu sama aja dengan anak-anak kelas 10 lainnya!” “Ok,” jawab Noah singkat, “… Kak,” tambahnya di ujung agar jawabannya terdengar lebih sopan. Bibir Dewa berkedut kesal. Noah tidak mengatakan apapun untuk menyombongkan diri, dia juga memperlakukan senior dengan sopan. Sangat berbeda dengan perkiraan Dewa. “Be-berapa tinggi badanmu?” Dewa akhirnya menurunkan intonasi suara dan mulai memberikan pertanyaan normal kepada Noah, meski masih terdengar agak canggung. “Sekitar 180an cm,” jawab Noah. “Yang jelas dong, berapa?!” “Aku … saya kurang tahu pasti, soalnya terakhir kali ukur tinggi badan itu pas naik kelas 9.” Dewa punya sense of inferiority jika sudah menyangkut masalah tinggi badan, dia cukup sensitif terkait soal itu. Makanya, menghadapi Noah yang tampak tak begitu peduli dengan angka tinggi badannya, Dewa merasa obrolan ini menjadi tidak berguna. “Ck!” Dewa berdecak kesal sambil menatap jengkel ke arah Noah melalui ekor matanya, ia lalu meninggalkan tempat itu dan mulai menanyakan hal yang sama pada anak kelas 10 lainnya – yang ia anggap punya postur tubuh lebih tinggi darinya. Ahsan menepuk tangannya beberapa kali dengan cukup keras, untuk meminta perhatian. “Semua anak baru, kami beri waktu 1 menit lagi untuk menyelesaikan pemanasan. Kami akan mulai memanggil nama kalian satu per satu. Anggota kelas 11 kumpul di sini sebentar, ada yang ingin kusampaikan.” Mendengar arahan itu, para senior kelas 11 pun berkumpul di salah satu sudut aula, menerima instruksi dari Ahsan. Sementara anggota baru dari kelas 10 mulai berlarian mengelilingi lapangan di dalam aula basket itu. “Tim A, Dirga, Igris, Muklis, David dan Yuda, tolong bantu mereka ya …,” pinta Ahsan pada pemain terakhir yang dipanggilnya, Yuda, salah satu pemain inti Cendana. “Tim B, Ello, Hamid, Noah, Bayu dan Wahyu, aku percayakan mereka padamu …” kali ini Ahsan mengarahkan akhir kalimatnya kepada Wahyu. “Dewa dan Juan, standby aja dulu. Sewaktu-waktu aku akan minta kalian gantikan Wahyu dan Yuda.” Masing-masing nama yang dipanggil Ahsan tadi pun mulai memasuki lapangan dan mengambil posisi masing-masing. Igris tak lagi memasang tampang sok ramah di hadapan Noah, wajahnya mulai terlihat kaku setiap kali bertemu mata dengan roommate-nya itu. Tapi saat ini Noah bahkan tak memikirkan apa-apa selain kemenangan melawan Tim A. Baginya, siapapun yang ada di Tim A – entah itu Igris atau pemain berbakat lainnya – tak ada yang istimewa. Mereka semua lawannya, dan ia akan mengerahkan seluruh energinya untuk menang dari mereka. Hanya beberapa saat setelah pertandingan untuk tes kemampuan dimulai, Kepala Sekolah muncul di pintu aula dengan didampingi Pelatih Utama, Reza Rizki. “Wah … semuanya kelihatan sangat bersemangat, padahal ini baru hari pertama,” ujar Kepala Sekolah sambil menatap ke lapangan, di mana pertandingan antara Tim A dan Tim B sedang berlangsung dalam tes kemampuan itu. “Iya, Pak. Mereka tak punya banyak waktu untuk main-main. Seperti yang Bapak ketahui, kita juga menargetkan gelar juara di Liga Rookie[1] yang sudah akan dimulai kurang dari dua bulan lagi,” sahut Reza di sebelahnya. “Saya menaruh harapan besar untuk liga itu. Karena kita sudah berhasil juara 4 kali berturut-turut, rasanya menang di cabang basket putra pada ajang itu jadi seperti sebuah kewajiban.” Kepala Sekolah berambut putih itu tersenyum puas mengingat bagaimana tim basket putra SMA Cendana mendominasi Liga Rookie setiap tahunnya. “Benar sekali, Pak. Saya setuju,” balas Reza lagi. “Hm … setelah itu, di awal tahun depan juga akan ada SOG (Student Olympic Games)[2], bukan begitu?” tambah Kepala Sekolah lagi. “Benar, Pak. Sama dengan klub yang lain, kami juga akan mempersiapkan pemain terbaik untuk bertanding di SOG. Waktunya memang agak mepet dengan Kejuaraan Nasional yang akan dilaksanakan di akhir tahun nanti – jika tak ada perubahan – tapi mungkin itu malah akan memberikan dampak yang baik buat anak-anak.” Kepala Sekolah mengangguk-angguk pelan, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Apapun hasil dari Liga Rookie nanti, tetap harus diadakan evaluasi. Dengan begitu, kalian bisa melakukan perombakan seperlunya pada skuat yang akan diturunkan untuk Kejurnas dan SOG,” tutur lelaki beruban itu. “Tapi … memang kalau untuk Kejurnas kita masih belum ada harapan, ya?” “Ah … Pak Kepala Sekolah jangan bilang begitu. Saya paham bapak sering dikecewakan karena kita berkali-kali kandas di partai final. Tapi Bapak tenang saja, Kejurnas kali ini sepertinya akan berbeda. Kami sudah mempersiapkan yang terbaik untuk bisa mengangkat trofi juara.” “Iya … tentu saja saya akan selalu mendukung kalian. Selain tim sepak bola, tim basket kita adalah salah satu cabang olahraga yang menjanjikan di sekolah ini. Meskipun belakangan ini, tim renang, voli dan bulu tangkis juga mulai dilirik banyak pencari bakat.” “Sudah sewajarnya, Pak. Cendana memang sudah dikenal selalu bisa menghasilkan atlet-atlet hebat selama beberapa tahun terakhir.” Kepala Sekolah kembali mengangguk-anggukan kepalanya untuk menanggapi perkataan Pelatih Utama tim basket Cendana itu. “Setelah Kejurnas dan SOG, sekitar bulan Maret - April juga akan ada Gubernur Cup[3], ya? Katanya ajang itu sering dijadikan para pelatih profesional untuk mencari hidden gem. Sepertinya kita juga harus tampil baik di turnamen itu.” “Tentu saja, Pak. Kami juga tidak akan melewatkan Gubernur Cup,” sahut Reza. “Apa semua fasilitasnya sudah mencukupi?” tanya Kepala Sekolah yang sepertinya sudah bisa merasakan bahwa topik ini adalah yang paling ditunggu-tunggu oleh Reza. “Tahun ini sepertinya banyak siswa baru yang berminat masuk ke tim basket,” tambah Kepala Sekolah lagi. “Benar, Pak.” Reza menjawab dengan tegas dan bangga. “Kami menerima anggota baru dua kali lebih banyak dari tahun lalu. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena bergabungnya dua siswa undangan dari Kelas S itu.” Wajah Kepala Sekolah tampak berbinar penuh antisipasi. “Oh … anak yang juara di Kejurnas basket j.u.n.i.o.r tahun lalu, dan anak yang jadi MVP, ya? Yang mana mereka?” “Itu, Pak. Yang satu pakai sepatu putih, yang agak kecil itu, namanya Igris. Yang satu lagi namanya Noah. Yang itu, Pak, yang barusan masukin bola.” Reza menjelaskan dengan seksama sambil menunjuk ke dua individu yang diperkenalkannya. “Wah … kelihatannya mereka hebat-hebat ya? Tidak sia-sia kita mengundang mereka ke Cendana. Harapan untuk memenangkan berbagai kejuaraan pun jadi terbuka lebar. Saya menaruh banyak harapan kepada kalian semua.” Kepala Sekolah menepuk-nepuk lengan Reza dengan senyum lebar di wajahnya. “Kuharap prestasi tim basket putri juga bisa mengimbangi apa yang sudah diraih tim basket putra kita.” “Soal itu … saya akan mendiskusikannya lagi dengan Coach Hana.” Sebagai Pelatih Utama, Reza memang bertanggung jawab terhadap tim basket putra dan putri SMA Cendana. Namun, di bawahnya, ia masih punya dua pelatih lagi, yaitu Tri Hana Utami untuk tim putri dan Adam Sanjaya – wali Kelas S – untuk tim putra. “Saya akan berusaha memenuhi harapan Bapak,” tegas Reza meyakinkan. “Ngomong-ngomong, Pak. Mengenai seragam tim dan staff yang baru …” “Oh … iya, soal itu,” sela Kepala Sekolah yang cepat tanggap. “Saya sudah bicarakan dengan bendahara sekolah. Buat saja dulu proposalnya, itu nanti akan langsung diloloskan.” “Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak. Ng … mengenai bus tim putri …” “Sepertinya bus tim putri masih baik-baik saja, tuh.” Kali ini Coach Hana yang menyela. Saat Reza menoleh ke belakangnya, ia menemukan wanita itu, bersama dengan Coach Adam, sedang melangkah mendekatinya di mulut pintu aula. “Oh … Coach Hana, bagaimana anak-anak?” sambut Kepala Sekolah ramah. “Kami masih ingin mengumpulkan anggota baru, Pak. Peminat basket putri masih kurang, para pemain kelas 12 juga sudah banyak yang mengundurkan diri karena ingin fokus dengan ujian kelulusan. Jadi menurut saya, bus yang kami pakai sekarang ini pun sudah lebih dari cukup,” jawab Coach Hana tak kalah ramah. Tapi matanya yang melirik Reza sama sekali tak ada kesan ramah. “Oh … baguslah kalau begitu,” kali ini Kepala Sekolah beralih ke lelaki yang ada di sebelah Coach Hana. “Coach Adam, saya dengar anak-anak kemarin patungan untuk mendekorasi bus baru tim putra, ya?” Beberapa waktu lalu, Ahsan dan anggota tim basket lainnya memang berinisiatif untuk memasang stiker di sekeliling body bus dengan slogan tim basket SMA Cendana; Fight to Win! Dan sepertinya kabar itu sampai ke telinga Kepala Sekolah. “Benar, Pak,” sahut Coach Adam bangga. “Mereka sangat senang karena sekolah membelikan bus baru yang nyaman dan mewah. Bahkan salah satu majalah olahraga mengklaim bahwa bus tim basket SMA Cendana adalah bus yang setara dengan yang digunakan tim profesional. Itu sebabnya anak-anak merasa tak enak jika harus meminta lebih kepada pihak sekolah, untuk hal-hal kecil seperti stiker bus.” Penjelasan Coach Adam memberi kesan seolah anak-anak yang menggunakan biaya sendiri untuk memasang stiker bus baru mereka itu, adalah hal yang biasa dan tak perlu dibesar-besarkan. “Luar biasa, saya sangat bangga dengan anak-anak didik Bapak.” Kali ini Kepala Sekolah menepuk-nepuk pundak Coach Adam dengan bangga. “Terima kasih, Pak Kepala Sekolah,” jawab Coach Adam seadanya. Adegan itu seharusnya sangat sederhana. Tak ada yang aneh dengan seorang Kepala Sekolah yang memuji salah satu staff-nya. Tapi tidak bagi Reza. Ia tampak tak bisa menyembunyikan kekesalannya saat melempar tatapan ke arah Coach Adam, melalui ekor matanya. ___ ___ ___ ___ ___ [1] Liga Rookie adalah kompetisi basket SMA pertama yang akan diselenggarakan di awal semester ganjil, yaitu sekitar bulan September pada tiap tahunnya. Tujuan liga ini adalah untuk mendapatkan posisi tiga besar yang nantinya akan mewakili Provinsi untuk bertanding di ajang Kejuaraan Nasional Basket SMA (Kejurnas) yang biasanya digelar pada akhir tahun. [2] SOG, Student Olympic Games, adalah ajang multi-olahraga untuk pelajar di tingkat nasional yang diselenggarakan dua tahun sekali. [3] Gubernur Cup, adalah liga tahunan yang diadakan khusus untuk pertandingan basket SMA tingkat Provinsi. Turnamen ini lebih terkesan seperti turnamen persahabatan karena tingkat persaingannya tak seketat Liga Rookie dan Kejurnas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD