First Match: Successfully Done

1979 Words
Pertandingan berakhir dengan skor 98 – 22 untuk kemenangan Cendana. Sebenarnya kalau buzzer beater yang ditembakkan Ello di ujung pertandingan diakui, mereka bisa dapat tiga digit seperti yang ditargetkan. Tapi sayangnya wasit menyatakan bahwa waktu sudah habis sebelum Ello melompat untuk melakukan shoot terakhir itu. “Coach, sorry ….” Noah menunduk meminta maaf di hadapan Coach Adam, soalnya tadi dia yang dengan percaya diri bilang kalau target tiga digit bisa dicapai. Coach Adam yang berdiri dengan kedua tangan tersimpan di saku celana traningnya, menatap Noah dengan tatapan tegas. Bahkan orang yang melihat pun mengira bahwa Noah sedang dimarahi. “Kok kayaknya Cendana malah kelihatan murung sih? Padahal kan mereka menang,” bisik salah seorang penonton pada temannya. “Mungkin Noah dianggap terlalu over mainnya,” jawab temannya kemudian. “Ha? Over gimana? Pertandingan tadi jadi menghibur ya gara-gara ada dia. Lagian kalau memang dia jago, kenapa dia harus nahan diri?” Komentar orang itu pun hanya dibalas dengan kerdikan bahu sekilas oleh lawan bicaranya. Seiring dengan beranjaknya penonton dari kursi tribun, opini yang beragam pun terdengar dari berbagai arah, tentang pertandingan yang baru saja mereka saksikan. “Cendana main tanpa ampun.” “Padahal lawan udah bisa dipastikan kalah, tapi serangan Cendana sama sekali nggak mengendur.” “Berlebihan, nggak sih? Apa perlu matahin semangat Amal Bakti lebih parah lagi dengan rentetan dunk powerful? Aku ngeliatnya aja sampai nggak tega.” “Hei. Ini pertandingan, kalah dan menang itu biasa. Memangnya harga diri Amal Bakti bisa diselamatkan dengan Cendana sengaja main lembek karena kasihan?” “Ya nggak gitu juga.” Di sela kasak-kusuk penonton yang satu per satu mulai meninggalkan tribun, serta para pemain dari kedua tim yang sudah membereskan barang masing-masing untuk meninggalkan lapangan, Coach Adam menepuk pelan pundak Noah dengan senyuman di wajahnya. “Noah, kamu sudah menetapkan hari ini sebagai standar permainanmu,” ujar lelaki paruh baya itu. “Di pertandingan-pertandingan berikutnya, kamu hanya boleh main sebagus ini atau lebih bagus dari ini. Paham?” Noah menatap sepasang mata di hadapannya itu lekat-lekat. Ada ekspektasi yang sangat tinggi di sana, dan Coach Adam seolah sedang menjejalkan semua itu ke balik rongga d.a.d.a Noah hingga menghimpit paru-parunya … lumayan menyesakkan. Tapi Noah menganggap ini sebagai tantangan, dan ia ingin menjawabnya tanpa ragu. Ia paham Coach Adam hanya ingin mendorongnya untuk terus bergerak maju dari titik ini, ia hanya boleh menjadi lebih baik. Tidak ada lagi jalan mundur. Noah pun akhirnya mengangguk mantap. Meski tak ada suara yang keluar dari bibirnya, tapi bagi Coach Adam, mata Noah sudah cukup berbicara. . Noah baru saja akan mengangkat sebuah tas yang berisikan peralatan medis seperti P3K dan segala macamnya, milik tim Cendana. Tapi Zikri yang masih memegang kamera di tangannya langsung mencegah. “Noah, biar Bayu yang angkat itu,” serunya. “Oh …” Noah meletakkan kembali tas itu dan beralih ke cooler box. Cendana memang selalu membawa sebuah cooler box berwarna senada dengan seragam tim mereka, benda itu digunakan sebagai penyimpanan es batu untuk mengompres para pemain di sela-sela pertandingan. “Sini, biar aku aja.” Hamid lebih cepat menyambar cooler box biru itu dan langsung mengangkatnya. “Noah, kamu santai aja. Kami yang cuma duduk di tribun memang gunanya ya buat bantu-bantu kayak gini. Iya kan, Kak Luna?” kata Hamid lagi. Luna mengangguk sambil menyelempangkan tas berisikan kamera di pundaknya. “Kamu urus aja barang-barangmu sendiri, jangan sampai ada yang ketinggalan,” imbuhnya. Noah berdiri kaku menyaksikan rekan-rekan sesama kelas 10 di tim itu sedang sibuk membantu Luna beres-beres. Sepertinya mereka tak akan mengizinkan Noah membawa apa-apa. Tatapan Noah kemudian berpindah kepada Coach Adam dan para senior yang sudah lebih dulu menuju ke pintu keluar hall, termasuk Igris yang tampak sedang mengobrol dengan Evan sambil berjalan di belakang rombongan. “Kamu ikut aja sana, kalian kan harus lewat zona media[1], kemungkinan kalian akan terhambat di sana. Pasti ada satu atau dua wartawan yang mau wawancara kamu.” Muklis mengibas-ngibaskan tangannya agar Noah meninggalkan mereka dan pergi lebih dulu mengikuti skuad Cendana. “Ka-kalau butuh bantuan, aku ikut beres-beres juga nggak mas …” “Udah ada terlalu banyak orang di sini, kamu nggak dibutuhkan. Syuh! Syuh!” Setengah bercanda, David pun ikut-ikutan mengusir Noah. Sudut mata Noah menangkap Heru dan Steven yang tampak sedang saling bergumam satu sama lain, di sela kegiatan mereka mengutip beberapa sampah botol kosong milik Cendana. Heru mengangguk menyetujui sesuatu yang dikatakan Steven padanya, sambil mengirim tatapan kesal ke arah Noah. Noah menghempas napas sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi lebih dulu. Ia tahu mereka tak begitu butuh bantuannya, lagipula, memang sudah ada lebih banyak orang dibandingkan dengan barang-barang yang harus diangkat dan dibereskan. Jadi tentu saja kalau tidak ada Noah pun mereka akan baik-baik saja. Tapi, ingatan tentang masa lalunya saat di SMP Pelita dulu, membuat Noah merasa kalau ada sesuatu yang harus diperbaiki di dalam dirinya. Tapi ia tidak tahu apa dan bagaimana cara melakukannya. . Di dekat pintu keluar yang akan dilalui para kontingen Liga Rookie, disediakan sebuah zona di mana para wartawan sudah menunggu di belakang standing barrier. Mereka boleh memilih siapa saja yang ingin diwawancarai, dan para atlet ataupun pelatih kontingen juga bebas untuk menerima atau menolak tawaran wawancara tersebut. Saat tim Cendana melewati zona media, Coach Adam berhenti di hadapan salah satu wartawan dan mulai melakukan tanya jawab. Satu per satu anggota skuad Cendana melintas di belakang sang pelatih tanpa memperlambat langkah mereka. Tapi, tentu saja, Kapten Ahsan juga berhenti di satu titik untuk menjawab beberapa pertanyaan wartawan. Sebelumnya, Coach Adam sudah menginstruksikan bahwa hanya Kapten Ahsan yang boleh berhadapan dengan media, sementara yang lainnya diminta untuk tidak berhenti dan langsung menuju ke parkiran bus. Melalui kaca pintu di depan sana, Noah bisa melihat tim Amal Bakti berjalan menuju ke bus mereka yang terparkir. Para wartawan ini pasti baru saja selesai mencecar tim berseragam abu-abu itu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kekalahan menyakitkan yang mereka alami di hari pertama ini. Padahal, Amal Bakti dan Soetomo adalah dua SMA veteran yang memprakarsai Liga Rookie. Melihat salah satu dari dua tim veteran itu pulang dengan pundak lesu dan wajah tertunduk, tentu bukan pemandangan yang menyenangkan. Bruk! Noah yang berjalan cukup jauh tertinggal dari rombongan Cendana, tiba-tiba saja ditabrak oleh seseorang dari belakang. Ia menoleh dan menemukan pemain Amal Bakti nomor 18 yang baru saja menabrakkan jidatnya ke punggung Noah. Noah mengenalinya karena dari 22 pts yang berhasil dikumpulkan Amal bakti tadi, dia mencetak lebih dari separuhnya. “Kamu nggak pa-pa?” tanya Noah pada sosok yang tingginya hanya setengkuk Noah itu. Sekilas Noah melihat nama yang dibordir di seragam trainingnya, Faisal. Pemain Amal Bakti itu harus agak mendongak untuk bisa bertatapan dengan Noah. Di saat itu juga Noah menyadari bahwa matanya terlihat sangat sembab, seolah ia baru saja patah hati dan menangis semalam suntuk. “Ah, sorry, aku tadi agak melamun. Jadi nggak merhatiin jalan.” Suaranya terdengar sengau. Noah mulai menyadari situasinya. Sepertinya dia tertinggal oleh rombongan Amal Bakti yang sudah keluar lebih dulu, mungkin karena sehabis pertandingan tadi dia sibuk menangis sendirian di toilet atau entah di mana. “Tim-mu sudah di luar semua.” Noah menginformasikan dengan nada bicara datarnya yang biasa. “Oh, ya ampun. Kalau gitu aku harus buru-buru nyusul.” Faisal panik dan langsung bergegas melewati Noah. Di saat yang bersamaan, duffel bag-nya – yang ternyata belum terkancing – bertabrakan dengan duffel bag milik Noah, mengakibatkan nyaris seluruh isi tas olahraganya itu berjatuhan ke lantai. Faisal semakin panik mengutip barang-barang miliknya, mulai dari pakaian ganti, finger tape hingga balsem, Noah pun turut membantunya. “Nggak usah panik, nggak mungkin juga kamu ditinggal, kan?” Noah mencoba menenangkan sambil menyerahkan sekeping uang receh yang ikut terjatuh dari dalam tas Faisal tadi. “Thanks,” Faisal mengambil benda itu dari tangan Noah dan memasukkannya ke dalam tas, “iya … tapi aku nggak enak aja sama pelatih dan para senior,” sambungnya sambil lalu memastikan bahwa tasnya sudah terkunci kali ini. “Ya udah. Yuk barengan," ajak Noah kemudian, "atau kalau mau ngindarin zona media, kamu harus putar balik ke hall dan naik ke tribun untuk keluar melalui pintu utama." "Lewat sini aja deh," putus Faisal, meski wajahnya tampak gugup. “Kenapa juga mereka harus bikin zona media pas di pintu keluar gitu? Kayak memang mau maksain kita buat ngeladenin wartawan sebelum ninggalin venue,” gerutunya dongkol. “Ya … sekalian juga supaya sponsor bisa eksis,” sahut Noah sambil mulai melangkah menuju ke area di mana Pelatih dan Kaptennya sedang diwawancarai. Pada satu sisi di belakang standing barrier, area itu dipenuhi wartawan, lalu di sisi lain ada dinding yang dipenuhi dengan berbagai macam logo sponsor. Di antara barrier dan sponsor wall itulah disediakan jalan beralaskan karpet merah yang harus dilalui jika ingin menuju ke parkiran bus. Noah berjalan sambil mulai memeriksa notifikasi di hp yang ia abaikan selama pertandingan tadi, sementara Faisal mengikuti di belakangnya. Ada tiga pesan teratas yang ia lihat dari Lisa, Raka dan Rihan. Seperti biasa, Lisa mengetik pesan dihiasi banyak emoji: “Noah kamu memang selalu luar biasa! Aku gak pernah nyesal nonton pertandinganmu!” Di sisi lain, Raka mengirim pesan: “Kami langsung pulang, ya. Setelah pertandingan kamu pasti perlu waktu sama tim, kan? Weekend nanti jangan lupa pulang, aku traktir buat rayain kemenanganmu.” Noah tak bisa mencegah senyum di wajahnya. “Rayain kemenangan apa? Ini baru pertandingan pertama, jalan menuju kemenangan masih panjang. Dia ngerti nggak sih?” batin Noah. Dan satu lagi dari Rihan: “Noah, bagaimana pertandingannya? Tentang rencana kita, aku hargai banget bantuan kamu. Tapi jujur aja, aku masih agak khawatir.” Setelah membaca pesan dari Rihan, senyum di wajah Noah berangsur hilang. Ia disadarkan kembali, bahwa belum saatnya ia merasa senang. Masih ada hal yang menunggu untuk diselesaikan. Sejak kaki Noah menginjak karpet merah yang membentang di zona media, namanya langsung dipanggil dari berbagai arah. Tapi Noah bahkan tak mengangkat wajahnya dan tetap menatap layar hp sambil melintas di belakang pelatih dan kaptennya. “Noah! Boleh minta komentarnya?” “Noah dan pemain Amal Bakti?” “Halo, pemain nomor 18 Amal Bakti, boleh sebentar?” Faisal berkali-kali menunduk sekilas untuk memohon maaf, mengisyaratkan bahwa ia tak bisa berhenti untuk melakukan wawancara dengan awak media. Sementara Noah terus berjalan menuju ke pintu keluar seolah tak terjadi apa-apa. Hanya ketika ia melihat Vito di antara para wartawan itu, Noah menghentikan langkah dan bicara sambil menatapnya. “Sorry, Pak Vito. Pelatih nggak ngasi izin aku bicara ke media,” ujar Noah mengabaikan suara-suara lain yang terus berusaha meminta perhatiannya. “Oh … gitu, ya?” Agak kecewa, Vito berusaha untuk tetap profesional. Tapi Noah menyapanya di antara semua wartawan, tentu saja Vito tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. “Kalau foto boleh, ya? Kalian berdua, bisa?” Vito menyiapkan kameranya, mengarah kepada Noah dan Faisal. Noah pun menoleh kepada Faisal, menunggu jawabannya. Tapi Faisal yang masih agak bingung, tak langsung menanggapi. Ia malah menatap Noah dan Vito bergantian sebelum akhirnya menunjuk wajahnya sendiri. “Iya, foto aja. Saya nggak akan tanya apa-apa,” tambah Vito lagi. “O-ok ….” Dengan kikuk, Faisal mengiyakan. Noah bergeser agar bisa berdiri lebih dekat dengan Faisal yang terlihat semakin canggung. Walau bagaimanapun, ini pertama kalinya bagi Faisal, difoto setelah pertandingan oleh wartawan – bersebelahan dengan seorang pemain yang sudah cukup dikenal pula. “Jempol,” bisik Noah sambil mengacungkan jempolnya ke arah kamera, “acungin jempol aja biar nggak kelihatan gugup. Agak salah tingkah, Faisal pun mengikuti saran Noah dan ikut mengacungkan jempolnya sambil sedikit beringsut agar bisa berdiri semakin rapat dengan Noah. Vito menghitung mundur mulai dari angka 3 dan … Klik! . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Zona media adalah sebuah area yang dipersiapkan khusus untuk awak media berkumpul menunggu kontingen peserta setelah pertandingan. Para kontingen peserta biasanya akan berjalan melalui zona ini, sementara awak media akan berdiri di balik tali pembatas atau standing barrier di sepanjang zona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD