Mission: Save Rihan

1958 Words
Foto Noah dan Faisal yang tampak sangat akrab sambil sama-sama mengacungkan jempol mereka, menjadi berita utama kategori olahraga pekan ini. Wajah mereka berdua terpampang di berbagai situs berita olahraga dengan judul artikel yang hampir mirip, seperti: “Enemies on court, friends off court” atau “Sportifitas Membanggakan, Meski Cendana Mengalahkan Amal Bakti dengan Menyakitkan”, dan sejenisnya. “Ini kamu disuruh Coach atau gimana sih?” tanya Zikri penasaran. Ia menunjukkan layar hp-nya kepada Noah di tengah keramaian kantin saat jam istirahat siang. “Kebetulan aja pas keluar venue ketemu dia, terus ada wartawan minta foto.” Noah menyempatkan diri untuk menjelaskan sebelum menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Bayu yang baru saja menyeruput habis s**u kotak di tangannya pun ikut nyeletuk, "Bisa aja si Noah. Habis ngebantai orang malah muncul di berita online sambil rangkulan." “Tapi keren sih,” jemari tangan Said bergerak di layar hp untuk zoom in dan zoom out foto dua pemain basket SMA di artikel itu, “abis ngalahin tim lawan dengan brutal, ada baiknya ngasi kesan yang bagus ke publik.” “Kamu kalau jadi politikus pasti bahaya banget deh kayaknya,” celetuk Hamid disambut dengan tawa dan anggukan setuju yang lainnya. Sebenarnya hari ini Noah sengaja mengajak Rihan untuk makan siang bersama dengannya di kantin, ia ingin membicarakan tentang rencananya untuk mengekspos perundungan yang dilakukan Andi. Tapi tentu saja saat Zikri dan yang lainnya melihat Noah, suara kaki-kaki kursi yang bergesekan dengan lantai langsung terdengar. Tanpa komando, mereka kompak menyediakan kursi di meja yang sama untuk Noah dan teman sekelasnya, Rihan. Said bahkan sampai repot-repot meminta izin ke meja di belakangnya untuk mengambil satu kursi yang tak terpakai. Semua itu mereka lakukan demi bisa tanya-jawab dengan Noah, mengenai artikel di situs berita online yang sedang viral se-Cendana. Sejauh ini, Noah menilai Said sebagai orang yang paling “beracun” dibandingkan teman-temannya yang lain. Dengan kata lain, Said adalah orang berpemikiran out of the box, dan sering mencetuskan ide-ide gila setiap kali mereka berkumpul dan mengobrol di kantin sekolah. Sering kali Noah merasa takjub dengan cara berpikir seorang Said. Itu sebabnya Noah merasa, mungkin, tak ada salahnya membicarakan masalah yang sedang dialami Rihan kepada Said. Siapa tahu dia punya ide yang lebih bagus daripada rencana yang sudah dipikirkan Noah. Minus David dan Muklis yang sedang ada kegiatan lain, saat ini ada 6 orang yang sedang duduk semeja di kantin itu. Sebenarnya Noah tak ingin melibatkan terlalu banyak orang, tapi ia tak tahu bagaimana caranya mengusir rekan-rekan basketnya itu agar ia bisa berdiskusi bertiga saja dengan Said dan Rihan. Beberapa menit berlalu dengan obrolan random tentang pertandingan hari pertama Liga Rookie kemarin, hingga kemudian Bayu dan Hamid pamit lebih dulu karena mereka harus singgah di toko stationery untuk membeli beberapa keperluan alat tulis. Noah mengangguk saat mereka berpamitan. Lalu, ia refleks memindahkan tatapan kepada Zikri yang masih bertahan di kursinya. “Kamu nggak ada urusan apa gitu?” tanya Noah akhirnya. “Ha?” agak bingung, Zikri mengangkat bahu sambil lalu menjawab, “nggak sih. Aku mau langsung balik ke kelas bareng Said.” “Oh …” Noah menatap Rihan kali ini. “Kamu nggak keberatan kalau kita ajak mereka kerja sama, kan?” Kali ini ia melempar pertanyaan kepada Rihan. “Kalau kamu percaya sama mereka, aku nggak mungkin keberatan,” jawab Rihan kemudian. “Ada apa sih?” Zikri tak bisa menyembunyikan rasa penasaran melihat gelagat Rihan yang tampak gelisah. “Gini …,” Noah menarik maju kursinya agar ia bisa lebih dekat ke Said di seberang meja, “aku butuh pendapat kalian …” Sisa jam istirahat itu mereka gunakan untuk membicarakan masalah Rihan dan solusi apa yang sudah dipikirkan oleh Noah. Said terlihat sangat bersemangat untuk berpartisipasi, sementara Zikri tentu saja merasa senang jika ia bisa membantu Noah dan temannya. “Langkah awal, Rihan harus punya teman,” tutur Said beberapa menit kemudian. “Usahakan supaya kamu nggak sendirian. Umumnya bullying itu terjadi pada anak-anak yang terisolasi, jadi kalau bisa, kemana-mana kamu harus berkelompok.” “A-aku nggak punya banyak teman …” “Kalau di Kelas S, ada aku yang bakal nemanin dia. Jadi selama jam pelajaran, jam istirahat dan jam pulang sekolah, aku bisa temanin dia sampai ke ruang klub,” sambar Noah. “Ok. Berarti sekarang tinggal cari teman selama di asrama,” imbuh Said, “Kamu anak asrama Falcon, kan? Kebetulan aku dan Bayu juga di Falcon. Jadi setiap pagi, kita akan berangkat sekolah sama-sama. Gimana?” Rihan mengangguk untuk membalas tawaran Said. “Dengan begitu, Andi cuma bisa ngerjain Rihan selama kegiatan klub. Kita bisa fokus ke aula serbaguna dan ruang klub badminton,” tambah Noah lagi. “Betul.” Said menjentikkan jarinya dengan semangat, merasa bahwa mereka sudah mencapai kesimpulan yang sama. “Berarti kita cuma perlu pasang kamera di tempat-tempat itu. Kalau bisa, setiap kali Andi dan para bully itu ngedatengin kamu, kamu langsung aja nyalain video kamera di hp-mu. Nggak perlu arahin kamera ke muka mereka, bergerak biasa aja, senormal mungkin, supaya mereka nggak curiga kamu lagi ngerekam. Walaupun hasil rekamannya nanti nggak fokus, masih bisa dijadiin bukti.” Noah kembali menjelaskan dan disambut dengan anggukan paham Rihan. “Ngumpulin bukti itu memang jadi masalah terpenting untuk kasus-kasus bullying kayak gini,” Said menambahkan. “Di atas itu semua, kamu harus percaya diri. Tolak permintaan Andi dengan tegas dan berani. Kalau dia minta yang aneh-aneh dan merugikan kamu, tolak aja.” “Satu lagi,” Zikri akhirnya ikut memberi masukan, “kalau ada luka fisik – entah itu cuma goresan atau memar – kamu harus foto. Sekalian juga barang-barangmu yang dirusak, baju robek atau raket patah, difoto dan disimpan aja. Jangan dibuang.” “Tumben bijak,” sindir Said sambil memberi tatapan mengejek dari ujung matanya. “Sepele amat sama teman sendiri,” balas Zikri dengan wajah cemberut. Tapi Said dan Noah hanya tertawa menanggapinya. Rihan juga ingin menikmati diskusi itu, sayangnya ia masih merasa sangat gugup dan hanya bisa tersenyum kaku. . “Hmm …?” Suara Raka terdengar menyahut malas saat Noah meneleponnya dalam perjalanan kembali ke asrama setelah latihan sore. “Jam segini kamu tidur?” sambar Noah langsung. “Nggak, aku lagi baca buku,” balas Raka. “Ha?! Kalau bikin alasan juga yang masuk akal dikit lah.” “Seriusan ini aku lagi baca buku.” “Mana buktinya? Coba ganti ke video call.” Noah memposisikan hp di hadapan wajahnya, siap untuk melihat kemunculan wajah Raka di layar hp itu. Tapi apa yang ia saksikan berikutnya cukup untuk membuatnya kesal. “Kamu lagi di mana?” tanyanya setengah membentak. “Di kamarmu,” jawab Raka yang terlihat sedang selonjoran di tempat tidur Noah dengan sebuah buku di tangannya. Mulut Noah merenggang tapi tak ada kata yang keluar, ia kesal setengah mati. Apalagi saat melihat toples kue kering di meja samping tempat tidur yang sudah terbuka tutupnya. “Jangan coba-coba ambil kueku dan makan di tempat tidurku!” Noah tak peduli lagi, ia berteriak keras ke layar hp di hadapannya, bahkan sampai menghentikan langkah tepat sebelum ia memasuki gerbang asrama. Tapi reaksi Raka malah sangat santai dan dengan perlahan tangannya bergerak meraih kue di dalam toples. “Aku peringatin kamu, ya! Jangan coba-coba!” hardik Noah lagi. Namun perlahan tapi pasti, tangan Raka sudah mengeluarkan satu kue, seolah ingin Noah melihat semuanya dengan jelas. Bak adegan slow motion, Raka bergerak sangat lambat, menggigit kue itu sambil kemudian menggeleng-geleng pelan dengan mata tertutup dan membiarkan Noah menyaksikannya. Sebenarnya Raka tak begitu suka kue kering, alih-alih menikmati camilan itu, ia lebih menikmati tampang kesal Noah yang sedang berada jauh dari rumah dan tak bisa berbuat apa-apa. “Awas aja pas aku pulang nanti, ya! Jangan kabur! Aku bakal …” Noah berhenti di tengah kalimatnya karena ia diingatkan kembali tentang tujuannya menelepon Raka. Ia sedang membutuhkan bantuan saudara kandung satu-satunya itu. Noah pun menarik napas dalam dan menghembusnya perlahan, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke asrama diiringi tawa puas Raka di seberang sana. Tapi Noah berhasil menenangkan diri dan masih sempat mengangguk kepada penjaga asrama yang kebetulan bertemu mata dengannya. “Aku mau pinjam duit,” celetuk Noah langsung, tanpa ba-bi-bu. “Ha?!” Raka menarik punggungnya dari headboard (sandaran tempat tidur), “ini kan masih pertengahan bulan. Tumben uang jajan bulananmu udah habis. Kamu pakai untuk apa aja?” “Aku pakai untuk apa juga bukan urusanmu.” “Bukan urusanku?!” kali ini Raka yang menghardik murka, “coba bilang gitu lagi kalau berani!” Nyali Noah langsung ciut. Sifat Raka memang kekanakan, tapi di saat-saat tertentu ia juga bisa bersikap layaknya seorang kakak. Itu sebabnya Noah dibuat jadi menyeret kata-katanya sendiri, "Ya habisnya …” “Habisnya apa?!” desak Raka lagi. Noah menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. “Ada yang mau aku beli,” ungkapnya kemudian. “Apa? Beli apa?” Noah mulai menimbang-nimbang, apakah ia harus menceritakan semuanya dari awal, bahwa saat ini ia sedang membuat rencana untuk membantu teman sekelasnya yang sedang mengalami perundungan oleh para senior. “Kamu jangan macam-macam, ya …,” Raka yang sudah tak sabar menunggu jawaban dari Noah, kembali mencecar, “kamu nggak terlibat perjudian atau obat- …” “Heh! Enak aja sembarangan nuduh!” sanggah Noah cepat. “Pokoknya weekend nanti aku pulang, aku bakal jelasin semua. Sekarang aku cuma perlu konfirmasi kamu ada uang yang bisa aku pinjam nggak?” “Ya tergantung pinjamnya berapa.” “Ck!” Noah mendecak jengkel. “Ya udah deh nanti kita bahas lagi. Susah ngomong sama kamu,” putus Noah akhirnya. “Apa sih? Nggak jelas.” “Kamu yang nggak jelas! Pokoknya jangan bikin berantakan kamarku! Awas ya, kalau pas aku pulang nanti barang-barangku ada yang berubah posisi, kamarmu juga nggak bakal selamat! Aku bakal temuin semua komik pornomu dan aku tunjukin ke Ayah!" “Woa … woa … bentar, bentar. Nggak perlu sampai kayak gitu juga dong. Itu namanya keterlaluan. Kita bisa omongin baik-baik.” Cengiran di wajah Raka berubah kaku, ia pun mulai menurunkan kakinya dari tempat tidur dan beranjak. “Yang penting kamu pulang aja dulu, nanti kita obrolin lagi, ya?” sambungnya sambil merapikan tempat tidur dan menutup toples kue kering milik Noah. Noah mendengus kesal, meski sebenarnya ia sangat ingin tertawa melihat reaksi panik Raka. “Jangan ada remahan di tempat tidur. Balikin buku yang kamu pinjam ke tempatnya semula. Keluar sekarang dan tutup pintu.” Noah mengakhiri video call itu dengan instruksi tegas sementara Raka hanya bisa menurut pasrah. “Iya, iya … gini amat sih punya adik,” gumamnya sambil agak menggerutu di ujung kalimat. Noah baru saja menyudahi panggilan itu dan menyimpan kembali hp ke saku celana trainingnya, wajah Noah masih penuh senyum saat mengingat kembali obrolannya dengan Raka barusan. Pada akhirnya, kakak laki-lakinya itu emang hampir tidak pernah memenangkan perdebatan dengan Noah. Namun, saat Noah baru saja melangkah di selasar beratapkan tanaman rambat yang menghubungkan antara Asrama Falcon dan Raven, ia melihat Heru, Igris dan Steven berada di ujung selasar, sedang berjalan ke arahnya. Mereka akan saling berpapasan jika tak ada yang putar arah. Tapi tentu saja, Noah merasa tak perlu menghindari mereka. Jadi ia kembali fokus mengutak-atik hp-nya sambil tetap melanjutkan langkah di selasar yang sama. “Hai Noah,” Igris menyapa ramah saat jarak mereka sudah cukup dekat. “Jam segini baru balik, hari ini jadwal kamu piket, ya?” “Iya,” jawab Noah tanpa mengalihkan tatapannya dari layar hp. Mereka sudah saling membelakangi, saat tiba-tiba terdengar suara sinis Heru. “Cih! Mana mungkin si anak emas yang dapat semuanya di atas silver platter[1] ikutan piket juga.” . ___ ___ ___ ___ ___ [1] On a silver platter adalah sebuah idiom yang berarti seseorang bisa mendapatkan sesuatu dengan sangat mudah, tanpa harus bekerja atau berusaha untuk mendapatkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD