Mission: Save Igris

2071 Words
“Mana mungkin si anak emas yang dapat semuanya di atas silver platter ikutan piket juga,” celetuk Heru sambil lalu. Tapi sebelum punggung mereka semakin jauh, Noah menyempatkan diri untuk membalas, “Kamu sebenarnya punya masalah apa sama aku?” “Ha?!” Heru terpancing dan mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Noah, “masih berani tanya? Kamu nggak merasa bersalah?!” Noah mengerucutkan bibirnya sambil mengangkat bahu. “Apa aku harus merasa bersalah karena lahir di keluarga kaya? Salahku kalau aku lebih jago main basket? Salahku juga kalau kamu punya inferiority complex[1] setiap kali berada di dekatku?” Gigi Heru bergemeretak menahan emosi. Ia seakan ingin melompat untuk menyerang Noah kalau saja Steven tidak menahan tangannya dan Igris tak berdiri di depannya. “Sorry Noah, hari ini Heru lagi ada masalah. Emosinya lagi nggak stabil.” Igris mencoba mendamaikan. “Hari ini? Bukannya dia memang selalu ada masalah?” sahut Noah lagi, “aku rasa emosinya nggak stabil juga bukan cuma hari ini aja. Apa kalian yakin teman kalian itu nggak mengidap penyakit gangguan mental?” Noah memutuskan untuk menghadapi Heru tanpa ampun kali ini. Entah kenapa ia merasa semakin kesal dengan Heru yang selalu saja mencari alasan untuk ribut dengannya. Telinga Noah juga sudah panas mendengar segala sindiran-sindiran Heru selama ini. Itu sebabnya Noah tak ingin menghindar lagi. Jika Heru berniat untuk mem-bully Noah di klub basket, Noah harus menyadarkannya bahwa ia sudah salah memilih target. Heru melepaskan diri dari Steven dan bermaksud untuk menerjang Noah. Tapi sayangnya masih ada Igris yang berdiri di depan Heru dan menghalanginya. “Heru! Tenang! Jangan cari masalah! Kamu mau dikeluarkan dari klub?!” Igris yang tubuhnya lebih kecil dari Heru, berusaha sekuat tenaga untuk menahan Heru yang berusaha mendorongnya. Melihat pemandangan itu, Noah dengan santai mengarahkan kamera hp ke arah tiga rekan seangkatan yang sedang berkutat tak jauh di hadapannya itu. “Sedang apa kau?! Singkirkan kamera itu!” teriak Heru lagi. T-shirt yang ia kenakan terlihat melar dan nyaris sobek saking hebatnya Steven dan Igris berusaha menahannya. Tapi Noah tak peduli, ia hanya mendengus menahan tawa tanpa mengalihkan kamera hp dari target. Sikap santai Noah itu sebenarnya sedang berusaha menyembunyikan emosinya, ia sudah muak menghadapi kebencian Heru kepadanya sejak kegiatan klub dimulai. Jika entah bagaimana Steven dan Igris gagal menahan Heru dan Noah harus berkelahi dengannya, Noah sudah memantapkan diri untuk melawan habis-habisan, tak peduli berapa tulang yang akan patah. “Noah, please …” Tiba-tiba suara Steven terdengar memelas. Noah pun menyingkirkan hp dari hadapannya untuk menatap si pemilik suara. Kali ini yang berdiri di posisi Igris adalah Steven, sementara Igris sedang setengah menyeret Heru ke ujung selasar sambil menasehatinya dengan kata-kata yang tak sampai ke telinga Noah. “Sejak awal kan kamu yang lebih dulu nyari masalah sama kami?” kata Steven lagi, masih dengan nada yang memelas. Noah sudah tak mampu menahan tawanya kali ini, ia nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Bentar ... di bagian mana aku nyari masalah sama kalian?” tanyanya kemudian. “Sejak awal kamu selalu …” “Sejak awal aku selalu fokus dengan urusanku sendiri. Kapan aku pernah mengganggu kalian?” sela Noah cepat. “Waktu tes kemampuan klub basket, waktu kalian nyebarin cerita tentang masa-masa SMP-ku, waktu kalian bisik-bisik dan tertawa di belakangku, di bagian mana aku buat kesalahan sama kalian?” Steven terpaku dan terdiam di tempatnya berdiri. Agaknya ia mulai menyadari bahwa memang sejak awal merekalah yang mencari-cari alasan untuk membenci Noah. “Sejak awal kamu selalu bersikap sok hebat!” sambar Heru dari ujung sana, beberapa langkah dari posisi Steven sedang berdiri. “Sok merasa yang paling istimewa. Selalu memandang rendah orang lain. Wajar kalau kamu dibenci! Sifatmu itu bermasalah! Memangnya kamu pikir orang-orang suka berteman denganmu?! Mereka semua itu cuma baik di depanmu aja, di belakangmu semua orang selalu bicara tentang keburukanmu!” Mendadak seperti ada yang mengebor hati Noah dan membuat lubang yang cukup dalam. Kata-kata Heru berhasil merasukinya, seolah menyebarkan racun yang perlahan mulai menimbulkan rasa sakit di balik rongga dadanya. “Kamu tahu, nggak?” Suara Fajar kembali terngiang di benak Noah. “Kapal laut itu mengapung karena nggak ada air yang merembes masuk. Kalau sedikit aja ada celah bocor yang membuat air berhasil masuk, maka hanya tinggal menunggu waktu kapal itu akan tenggelam.” Tangan Noah bergerak mencengkram bajunya sendiri, seolah ingin meredakan rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak dari balik dadanya. Waktu yang selama ini ia lalui bersama geng Zikri … semua canda tawa yang menyenangkan itu … mulai tumpang tindih dengan kenangan masa SMP, saat Raguel dan tim basketnya dulu ternyata diam-diam ... selalu berlomba-lomba bicara tentang semua hal yang mereka benci dari diri Noah. “Jangan biarkan air itu masuk dan menenggelamkanmu. Supaya kamu bisa tetap berlayar sejauh yang kamu mau.” Lagi-lagi … senyuman hangat Fajar yang menyertai kalimat itu, berkelebat di benak Noah. Meski sekujur tubuhnya gemetar menahan emosi yang bercampur baur, Noah berusaha mengesampingkan segala hal negatif dan fokus pada apa yang akan menguatkannya. “Hei …” Noah bergumam pelan memanggil lawan bicaranya, “udah kubilang, kan? Jangan coba-coba nyari kambing hitam kalau kamu punya masalah dengan rasa percaya dirimu.” Noah mulai melangkah untuk memperkecil jaraknya dengan rombongan Heru. “Aku sok hebat? Merasa paling istimewa? Memandang rendah orang lain? Bukannya itu semua cuma ada di kepalamu karena kamu merasa minder dan terintimidasi?” Meski berusaha tenang, tapi tetap saja rasa sakit yang sempat merasukinya tadi membuat napas Noah sesak. Dadanya naik-turun untuk menstabilkan diri. Namun pada akhirnya, Noah harus berteriak untuk melepaskan rasa sesaknya itu. “Kau mau aku melakukan apa, ha?!” bentak Noah keras. Bahkan Steven yang berada paling dekat dengannya pun dibuat tersentak kaget dengan emosi Noah yang tiba-tiba meledak itu. “Kau mau aku bersikap seperti apa untuk melindungi rasa percaya dirimu yang setipis tisu itu?! Apa aku harus pura-pura bodoh di depanmu? Apa aku harus bermuka dua seperti dia supaya bisa berteman baik dengan kalian semua?!” Noah mengarahkan telunjuknya kepada Igris saat kata bermuka dua keluar dari mulutnya. “Kenapa aku harus menyesuaikan diri untuk menyenangkan hati kalian semua?!” sambung Noah lagi, bersamaan dengan memori yang diputar kembali bak sebuah film di dalam kepalanya. Senyum terakhir Fajar sebelum ia ditemukan meninggal keesokan harinya, senyum dan pujian Raguel sebelum Noah tahu bahwa ternyata itu semua palsu, wajah kedua orang tuanya yang selalu mengaku bahwa mereka peduli padahal sebenarnya mereka punya prioritas lain, serta wajah Abi yang pernah menangis dan membenci Noah hanya karena merasa minder dengan dirinya sendiri. “Kenapa aku harus dibuat pusing memikirkan cara untuk disukai padahal akhirnya yang kalian pedulikan itu cuma diri kalian sendiri!” Noah benar-benar berteriak di ujung kalimatnya hingga tenggorokannya terasa sakit. Setelah semua luapan emosi itu, yang terdengar hanya suara napas Noah yang terengah seolah ia baru saja menyelesaikan lari maraton. Noah mengatakan semua itu bukan hanya kepada tiga orang di hadapannya, tapi juga kepada mereka semua yang – secara sadar ataupun tidak – telah terlanjur meninggalkan luka yang cukup membekas di dalam diri Noah. Igris dan yang lainnya tampak sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Sama sekali tak menyangka bahwa sore ini mereka akan menyaksikan seorang Noah keluar dari karakternya yang biasa, untuk pertama kalinya. Tak ada yang pernah mendengar suara Noah berteriak sekeras ini, bahkan tidak saat ia melakukan dunk. Image yang selama ini ditampilkan Noah adalah seorang remaja yang tenang dan tak tergoyahkan, layaknya gunung es yang kokoh di tengah lautan dingin. Keringat Noah bergulir ke dagunya dan menetes di atas lantai selasar. Rasanya terakhir kali Noah membiarkan dirinya lepas kendali seperti ini adalah saat ia menangis di halte kampus malam itu, di hadapan Gilang. Noah mendekap mulutnya sendiri, menyadari bahwa tak seharusnya ia meluapkan emosi dan kehilangan ketenangannya, membuatnya terlihat seperti remaja labil yang gampang diprovokasi. Lalu tanpa mengatakan apapun lagi, Noah berbalik dan setengah berlari meninggalkan tempat itu. Ia bahkan sudah tak peduli lagi, reaksi atau ekspresi apa yang saat ini dibuat oleh Igris dan yang lainnya setelah kejadian di luar dugaan tadi. . Igris baru kembali ke kamar saat Noah sudah menyalakan lampu tidur dan berada di balik selimut. Meski begitu, Igris tahu Noah masih belum tidur. Ia melepas sepatunya dan meletakkan tas di atas tempat tidur sebelum kemudian berdiri di samping tempat tidur Noah. “Noah …,” panggilnya sambil menatap punggung Noah yang sedang berbaring miring menghadap tembok. “Aku sebenarnya tau siapa yang waktu itu ngusilin lokermu,” Igris membuat pengakuan yang tiba-tiba, “aku sempat menyimpan barang buktinya atas permintaan mereka.” Pundak Noah terlihat bergerak naik saat ia menarik napas dalam tanpa membalikkan tubuhnya. “Aku udah tau, kamu kan memang kaki tangannya Heru dan Steven,” balasnya kemudian. “Aku nggak punya pilihan. Awalnya kupikir aku bisa berteman baik denganmu, aku nggak nyangka kamu udah keburu nggak suka duluan sama aku gara-gara pertandingan final kita waktu itu,” ungkap Igris. “Kalau nggak berteman dengan Heru dan Steven, aku nggak punya tempat. Padahal aku butuh orang-orang yang bisa mendukungku selama aku di Cendana.” Noah akhirnya berbalik untuk menatap lawan bicaranya. “Kamu berteman cuma berdasarkan untung dan rugi?” tanyanya tajam. Tapi Igris membalas dengan sebaris kalimat yang paling dibenci Noah, “Orang seperti kamu nggak akan pernah mengerti.” Setelah mendengar kalimat itu, rasanya apa pun yang akan dikatakan Noah tak akan ada gunanya. Akibatnya, Noah jadi malas meladeni omongan Igris lagi. “Terserah kamu mau hidup seperti apa, itu bukan urusanku,” pungkas Noah datar. “Biasanya kalau aku membenci orang, aku milih untuk menghindar atau mengabaikan orang itu selama dia nggak mengangguku. Jadi kuharap kamu dan teman-temanmu juga bisa melakukan hal yang sama. Cendana ini luas, klub basket juga besar, mudah rasanya bagi kalian untuk nggak terlibat denganku.” “Aku nggak benci sama kamu. Sebenarnya, aku cuma …” “Aku nggak peduli. Kamu boleh benci atau nggak, terserah. Pokoknya jangan ganggu aku,” sambar Noah cepat. Igris pun terdiam di tempatnya berdiri, tak bisa menemukan kata-kata yang bisa diucapkan untuk membalas pernyataan Noah. Lampu tidur yang redup membuat Igris tak bisa menangkap ekspresi Noah dengan jelas, begitu juga dengan Noah. Mereka masih saling bertatapan, tapi tetap saja tak berhasil memahami satu sama lain. Tidak dengan kata-kata, tidak juga dengan ekspresi wajah. “Kalau udah paham, mungkin kita bisa mulai dari detik ini. Aku harap kita nggak perlu saling berhadapan lagi, kalau bukan untuk urusan basket atau pelajaran di kelas,” tambah Noah. “Selamat malam,” sambungnya sambil kembali berbalik dan berbaring memunggungi Igris. Selama beberapa saat, tak ada suara dan pergerakan sama sekali dari belakangnya. Noah menduga, Igris masih berdiri di sana dan masih ingin mengatakan sesuatu. Tapi karena Noah sudah menutup pembicaraan seperti itu, Igris tak punya pilihan selain putar balik, lalu mengambil pakaian gantinya sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi. Noah menghempas napas lega karena pembicaraan berakhir tanpa perlu memperpanjang masalah. Namun, tiba-tiba hp Igris berdering dan suara keran air di kamar mandi membuat Igris tak bisa mendengar apapun dari dalam sana. Entah siapa yang menelepon Igris jam segini, Noah tak tahu dan tak mau tahu, tapi panggilan telepon itu mengingatkannya pada malam dimana ia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Igris dan mamanya. Dari pembicaraan malam itu, meski tak tahu detailnya, tapi Noah bisa mengambil kesimpulan bahwa hidup yang dijalani Igris sepertinya tidak mudah. Dia juga memiliki permasalahannya sendiri. Dan tampaknya, berhasil lulus dari Cendana serta menjadi pemain basket pro adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari masalahnya itu. Wajah Fajar lagi-lagi berkelebat di benak Noah, menyadarkannya bahwa apa yang terlihat baik-baik saja dari luar belum tentu baik-baik saja dari dalam. Bukankah Noah sudah berjanji bahwa ia tak akan membiarkan orang di sekitarnya kesulitan hingga terpojok dan menganggap bahwa mati adalah jalan terbaik? Noah kembali mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah Igris pantas untuk diabaikan seperti ini? Hanya beberapa menit setelahnya, Igris keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia baru saja naik ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut, saat Noah tiba-tiba duduk dan menatap Igris yang berada di tempat tidur seberang ruangan itu. “Ada apa?” tanya Igris bingung. “Kamu …,” Noah menatap Igris serius sebelum melanjutkan kalimat tanyanya, “apa kamu pernah mikir untuk lompat dari atap gedung yang tinggi?” . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Inferiority complex atau Kompleks inferioritas adalah kondisi psikologis yang timbul dari rasa tidak cukup atau insecure, cenderung merasa lemah, rendah diri dan tidak memiliki kemampuan serupa atau lebih baik dari orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD