Kini Greisy berdiri di samping mobil Arthur.
“Sy” panggil Arthur saat dirinya mendekat kearah Greisy yang menunduk.
“Sorry aku malah memilih buat menerima perjodohan ini.” Ucap Arthur.
Arthur tau wanita di depannya ini kecewa dengan apa yang telah terjadi.
“Gapapa, mau nolak pun gak bisa juga kan. Anterin ke apartemen ya Thur.” ucap Greisy diangguki Arthur.
Sepanjang perjalanan Greisy hanya diam. Arthur pun bingung untuk mengajak Greisy mengobrol rasanya tidaklah tepat.
Ponsel Greisy berdering, awalnya dia tidak mau menerima panggilan itu karena ia pikir itu dari orang tuanya.
Tapi Arthur membujuknya untuk setidaknya melihat siapa yang menelpon siapa tau penting.
Dan ternyata dugaannya salah, yang menelponnya adalah Sarah. Kakaknya ini pasti tidak akan berhenti menelpon sebelum panggilannya terjawab.
“Hallo, Gre. Kamu dimana? Kok ga ada di rumah? Maid bilang dari siang kamu belum pulang? Dimana dek? Kamu okay kan?”
Sarah khawatir, ia takut jika Mamanya nekat menjodohkan Greisy. Adiknya itu pasti akan sangat terluka, dan yang paling parah Greisy akan pergi tanpa pamit lagi.
“Gre ada urusan, kak. Semua aman tapi malam ini Gre gak pulang ya ada pekerjaan penting yang harus di urus gak akan sempat kalau pulang. Tenang aja tempat tinggal Gre banyak gausah kawatir Gre tidur dimana.” Ucap Greisy
“Yaudah dek, gapapa. Kalo ada apa apa kabarin kakak ya. Kakak khawatir kan gak lucu kalau kamu pergi nggak pamit lagi.”
Sarah yang lega sepertinya Greisy baik baik saja.
“Iya kak, bye.”
Greisy menutup panggilan.
Arthur cukup terkejut dengan sikap Greisy, bagaimana bisa dirinya yang tadinya suara bergetar menahan tangis, suaranya bisa pulih seperti tidak terjadi apapun secara cepat. Apakah selama ia hidup ia terus menyembunyikan rasa sakitnya.
Tingg…
Ponsel Greisy kembali berbunyi, tapi ini bukan notifikasi panggilan melainkan pesan. Yang mengiriminya pesan adalah Charles.
Gre, jangan maksain kerja nanti sakit gara gara kecapekan, Jangan lupa makan malem. Kata Sarah kamu ngga pulang? Sharelok kalo mau minta kakak sama Sarah temenin. Kalau ada apa apa bilang kakak ya. Kalau kamu terluka, capek sama hidup cerita ya Gre jangan di pendam. Kakak akan selalu ada buat Greisy. Greisy harus inget kakak dan Sarah itu sangat menyayangi Greisy. Tujuan utama hidup kakak dan Sarah hanya akan selalu berusaha dan memastikan Greisy bahagia, We love you adik kecilnya kakak❤️
Tulis pesan tersebut.
Greisy tidak membalasnya, dirinya hanya melihat melalui pop-up pesan. Kedua kakaknya ini selalu saja menghawatirkannya.
Sesibuk apapun mereka pasti akan berusaha untuk selalu ada untuknya. Mereka adalah kakak terbaik yang Greisy punya.
Ahirnya mereka sampai di basement apartement, mereka keluar dari mobil Arthur. Mereka kemudian naik menuju lantai dimana unit mereka berada.
Saat sudah di pintu unit Greisy berhenti, kemudian menoleh pada Arthur yang berada di sampingnya.
“Kamu belum makan malam, mau makan malam di tempatku?”tanya Greisy,
Arthur sebenarnya memang lapar, karena dari pagi dirinya tidak makan.
“Apa tidak merepotkan?" tanya Arthur dan Greisy menggeleng sebagai jawaban.
Kemudian Greisy mengajak Arthur masuk, dan mempersilahkannya duduk di ruang tamu apartemennya.
Arthur melepas jas yang melekat pada tubuhnya kemudian membuka dua kancing kemejanya bagian atas dan melipat bagian lengannya sampai siku
Sedangkan Greisy berganti baju di kamar, sedangkan make up nya belum dibersihkan.
Greisy keluar dari kamar dan menuju dapur.
“Kamu ingin makan apa? teriak Greisy dari dapur
“Ada spaghetti?” Jawab Arthur
"Iya"ucap Greisy.
Sebelum memulai memasak, Greisy mengambilkan Arthur minum.
“Mau lemon tea?” tanya Greisy dan Arthur menjawab iya
Greisy mengantar lemon tea buatanya ke ruang tamu.
"Mau ku bantu?"tanya Arthur
"Tidak perlu"ucap Greisy
Setelah itu ia kembali lagi ke dapur. Ia membuat spaghetti carbonarra untuk Arthur.
Tak membutuhkan waktu lama, spaghetti carbonara yang ia buat sudah selesai. Greisy melespas apron nya kemudian membawanya spaghetti tersebut ke ruang makan.
Dia mengahampiri Arthur yang sedang duduk di ruang tamu dan mengajaknya ke ruang makan.
Kemudian mereka berdua makan malam dengan tenang, setelah selesai makan Arthur membantu Greisy untuk membereskan piring.
Walaupun dirinya seorang pengusaha terkenal, Arthur bisa jika hanya untuk mencuci piring.
Selesai mencuci piring, Arthur duduk kembali di ruang tamu diikuti oleh Greisy.
“Maaf membuatmu terjebak dalam perjodohan ini” ucap Arthur saat keheningan itu tercipta.
“Sudah lah jangan meminta maaf, ini bukan salahmu. Jalani saja, mungkin ini memang takdirnya.” Ucap Greisy pasrah.
Mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa melakukan apapun.
“Lalu maaf sebelumnya apa kamu punya pacar?”tanya Arthur
"Tidak"ucap Greisy
"Baiklah"
Mereka diam dengan pikiran masing masing.
Greisy yang masih tidak percaya, hidupnya semenyedihkan ini. Harusnya ia tidak pulang ke sini, maka kejadian ini tidak akan terjadi.
Dia bisa menghabiskan sisa hidupnya untuk menjado relawan. Membantu mereka yang kesulitan tidak malah terjebak ke dalam pernikahan perjodohan.
"Arthur, jika kita menikah aku ingin memohon permintaan padamu"ucap Greisy.
"Apa?"
"Saat aku ingin pergi sebagai relawan, jangan pernah melarangku"ucap Greisy.
"Baik, aku tidak akan pernah melarang kamu melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Sy, kamu masih punya 3 permintaan khusus yang pernah aku janjikan" ucap Arthur
"Perjodohan itu tetap berjalan kan, jadi 3 permintaan itu aku anggap tidak berlaku"ucap Greisy
"Aku akan tetap memberikan 3 permintaan sesuai dengan ucapanku"ucap Arthur
Sedangan di lain tempat, Edward adik Arthur tengah berada di sebuah bar milik temannya,. Ia memesan berbagai macam jenis alkohol untuk sedikit mengurangi beban yang ia rasakan. Dia juga sudah meminumnya beberapa botol. Setelah Greisy dan Arthur pergi tadi, Edward mengikuti pergi membuntuti mereka hingga basement apartemen.
"Ed, tumben ke sini sendirian?"ucap seorang wanita yang menepuk bahu Edward. Edward menoleh ke sumber suara. Dia adalah Emma temannya pemilik bar yang ia datangi
" Oh my God you look really bad, what's wrong with you?" lanjutnya.
Edward tidak menanggapi pertanyaan Emma, dia justru melanjutkan meminum minumannya. Ia minum sambil meneteskan air matanya lalu meletakkan kepalanya di meja bar.
"Ed, are you crying? What happened ?" Emma menyentuh bahu Edward
Entah dorongan dari mana Edward langsung memeluk Emma dengan erat, Menjatuhkan kepalanya ke bahu Emma.
Emma dibuat semakin kebingungan, karena Edward orang yang sulit menangis bahkan cenderung sangat membenci air mata.
Emma merasakan air mata Edward sudah membasahi bahunya.
Emma kemudian mengajak Edward ke ruang pribadinya yang ada di bar itu. Dengan posisi masih saling memeluk Emma membimbing Edward menuju ke ruang pribadinya karena Edward tidak mau melepaskan pelukannya.
Saat sudah berada di ruangannya, Emma mencoba mengurai pelukan Edward, mengambil beberapa helai tisu untuk mengusap air mata Edward.
"Cerita, apa yang bisa bikin seorang John Edward George terlihat begitu berantakan bahkan sampai menangis seperti ini?"ucap Emma.
"Em, dalam hidup gua baru merasakan jatuh cinta sama seseorang dan harus dipatahkan bahkan sebelum gua mengungkapkan."ucap Edward
Jujur saja, hatinya sangatlah sakit melihat orang yang ia cintai ternyata di jodohkan dengan kakaknya dan bahkan dia sudah berpacaran dengan kakaknya sendiri. Tapi mengapa saat dulu saat ditanya dia tidak jujur saja bahwa sudah memiliki pacar.
"Siapa orang itu?"tanya Emma menahan napas
Tanpa sepengetahuan siapapun sebenarnya Emma sudah menyimpan rasa terhadap Edward.
"Gua selalu panggil dia dengan nama Alexa, dia rekan relawan kemanusiaan gua saat itu. Dia istimewa Em, dia spesial, bukan hanya rupanya tapi juga hatinya. Dia bahkan pernah koma karena menyelamatkan anak kecil saat berada di wilayah konflik dia nggak segan mengkorbankan nyawanya."ucap Edward
Emma mencoba tersenyum, bagaimanapun juga dia tidak tega melihat Edward seperti ini.
"Lo bilang belum mengungkapkan kenapa sudah di hancurkan? tanya Emma
"Dia bakal nikah sama Kak Arthur, kakak kandung gua sendiri. Mereka ternyata pacaran, gua rasa tanggal pernikahannya juga sudah di tentukan." ucap Edward merunduk.
"Lo yakin bukan perjodohan? Gak mungkin Alexa pacar Kak Arthur. Bisa aja Kak Arthur berselingkuh atau menjadikan Alexa selingkuhan ?" ucap Emma
Karena beberapa hari yang lalu secara kebetulan melihat Arthur dengan mantan pacarnya. Edward langsung mendongak menatap Emma.
"Maksud lo apa Em?"
"Beberapa hari lalu gua liat Kak Arthur sama mantannya yang aktris itu di bar temen gua dan mereka masuk ruang VVIP lo tau lah di dalam ruang VVIP fasilitasnya ada apa aja. Gua ga mau berprasangka tapi coba lo pikirin deh, Kak Arthur secinta apa sama si jalang itu walaupun dibuat terluka berulang kali Kak Arthur masih nerima Bella. Kayak menurut gua ga makes sense aja kalau Kak Arthur sama Alexa ini tuh pacaran. Daripada galau galau ancur ancuran begini mending lo cari tahu, kasian Alexa kalau asumsi gua bener dan mereka udah nikah tapi Kak Arthur malah main belakang sama Bella. Bersama seseorang yang belum selesai sama masa lalunya itu sangat menyakitkan Ed"ucap Emma
Edward tanpa membalas ucapan Emma langsung pergi begitu saja.
"Gua yakin Alexa orang yang baik sehingga bisa membuat Edward sekacau itu, dia beruntung."ucap Emma saat Edward sudah pergi.
Edward menuju apartemen kakaknya, dengan emosi yang tak tertahankan. Dia tidak akan membiarkan kakaknya menikah dengan orang yang sangat ia cintai.
Saat sudah berada di depan pintu kakaknya, ia menggedor pintu tersebut sangat kencang, namun tidak ada tanda kakaknya akan keluar. Edward mengambil ponselnya dan menelpon kakaknya.
Saat ponsel terhubung, belum sempat Arthur mengucapkan kata, Edward berteriak marah.
"KELUAR LO ANJING"ucap Edward di sambungan telepon
Arthur yang masih berada di unit Greisy pun kaget dengan umpatan adiknya, ia bahkan belum sempat mengucapkan sepatah katapun panggilan tersebut langsung di matikan.
"Sy, aku keluar dulu nanti kita lanjutkan pembahasan tadi. Adikku ada di luar aku akan menemuinya sebentar."pamit Arthur
"Suruh masuk aja, kalian bisa ngoborol di dalam." ucap Greisy
Arthur mengangguk, dan menuju pintu keluar untuk menemui Edward.
Arthur membuka pintu dan melihat Edward yang tepat berada di depan pintu unit apartemennya.
"Ngapain ke sini?"ucap Arthur
Edward langsung menoleh ke sumber suara, tanpa basa basi Edward langsung memberikan pukulan di wajah Arthur hingga membuat Arthur yang tidak siap menerima serangan tersungkur. Bukan hanya sekali pukulan tapi hingga beberapa kali,
"GUA KAKAK LO ANJING"teriak Arthur membuat Edward berhenti memberinya pukulan.
Greisy yang mendengar umpatan Arthur langsung keluar melihat apa yang terjadi.
"Ya Tuhan Arthur"ucap Greisy ia berlari menghampiri Arthur dan membantunya berdiri, ia melihat siapa yang membuat Arthur seperti ini.
Mata mereka beradu pandang,
"Edward?"