Hari Pernikahan

1702 Words
Greisy melirik Eka, "Mana mungkin aku mencintainya, kami saling mengenal belum lama. Dia juga masih bersama dengan wanita yang ia cinta"ucap Greisy Greisy menyangkal bahwa dia mencintai Arthur, padahal dirinya sadar betul bagaimana perasaannya. Ia tau apa yang ada di hatinya. "Gre, sebenarnya kamu adalah pembohong yang baruk tapi orang terdekatmu tidak ada yang menyadarinya."ucap Eka Greisy tersenyum sekilas, Eka menjalankan mobilnya. Di tengah kesunyian tanpa ada percakapan tiba tiba Greisy berbicara menjawab pernyataan Eka tadi. "Karena dari mereka tidak ada yang mengenaliku dengan baik, Ka"ucap Greisy "Tidak ada yang seperti Al, bukan"ucap Eka Greisy meringis, tiba tiba ia teringat nama itu lagi saat Eka menyinggungnya. Apa kabar ya dia. Eka dan Greisy pergi ke sebuah perusahaan. Perusahaan milik Greisy, yang ia bangun sendiri tanpa melibatkan campur tangan keluarga Rodriguez. Perusahaan hasil keringatnya sendiri, bahkan saat masa masa sulit ia tetap berusaha untuk mempertahankan perusahaan ini sampai perusahaan ini berdiri dengan kokoh dan sukses sekarang. Greisy duduk di ruangannya bersama Eka. "Jadi aku dengar kamu mendapat saham perusahaan di Artcher Company"ucap Eka. "Ya begitulah, tapi belum aku tanda tangani. Dokumennya juga masih berada di tangan Arthur."ucap Greisy. "Gre, kamu yakin menikah dengan Arthur. Aku tau kamu mencintainya tapi, mencintai sepihak itu akan menyakitkan"ucap Eka "Aku tidak mencintainya, sudah berapa kali aku bilang"ucap Greisy Eka kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan, ia yakin mengejar Greisy agar mengaku tentang perasaannya tanpa keinginan dari Greisy sendiri seperti menguras air di laut, tidak akan pernah bisa. Sedangkan Arthur ia sudah berada di perusahaannya. Ia kesal bukan main karena tambahan perjanjian yang di utarakan Greisy. Apa Greisy pikir, Arthur akan dengan mudah jatuh cinta padanya. Arthur tidak akan melakukan itu, cinta dan kesetiaannya hanya akan untuk Bella. Bukan untuk Greisy yang akan segera berstatus sebagai istrinya. Arthur berjanji akan membuat Greisy jatuh cinta padanya. Arthur akan membuat Greisy tunduk pada dirinya. Setelah pembuatan surat perjanjian itu, baik Greisy maupun Arthur tidak bertemu ataupun berkomunikasi sama sekali. Mereka sama sama mencoba tidak peduli dengan pernikahan yang semakin dekat. Selain itu Sarah dan juga Charles terus mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan adiknya agar tidak menikah dengan Arthur tanpa sepengetahuan Greisy. Namun, segala jenis cara tersebut tidak bisa membatalkan pernikahan Greisy dan Arthur. Di malam hari sebelum pernikahan, Greisy duduk di ranjangnya menghadap ke arah jendela yang terbuka menatap langit dari dalam. Hari memang cepat, tiba tiba saja besok adalah hari pernikahannya, dan hari ini hari terakhir dia berstatus lajang. Kemarin ia dikejutkan teman temannya dengan acara bridal shower. Dia terus menerus memberikan senyuman palsu selama acara itu. Sedangkan Arthur malam ini mengadakan pesta lajang. Ia mendapat info tersebut karena Victoria menghubunginya. Greisy yang tengah melamun, dikejutkan dengan kedua kakaknya yang tiba tiba duduk di sampingnya. "Astaga kak, mengagetkan. Untung saja aku nggak punya riwayat penyakit jantung."ucap Greisy Sarah tidak menjawab melainkan langsung memeluk Greisy dari samping, dan Charles menggenggam sebelah tangan Greisy. "Eh kenapa ini, apakah kalian sedih karena aku melangkahi kalian dalam pernikahan. Harusnya kalian lebih dulu kan kak, sorry. Kalian sih jomblo ga mau nikah nikah jadi aku duluan deh"ucap Greisy agak tertawa. "Maafin kakak ya, Gre. Kakak berusaha menyelamatkan kamu dari pernikahan ini tapi ternyata kakak nggak bisa"ucap Sarah menangis Greisy tersenyum, "Dih emang pernikahan ini berbahaya kak sampe harus menyelamatkan aku. Stop crying, or I'll cry too"ucap Greisy Sarah mengangguk, mengusap air matanya yang jatuh. Saat menatap wajah cerah adiknya yang seolah tidak terjadi apa apa tapi Sarah tidak buta ia bisa melihat dari mata adiknya bahwa ia memendam banyak luka. "Greisy"panggil Charles "Iya Kakak Luci"goda Greisy Sungguh, Greisy mencoba membuat semuanya baik baik saja. Jikapun ia akan menangis itu nanti saat kedua kakaknya tidak ada di sini. "Kami sayang kamu, Gre. Kami selalu berusaha membuat kamu merasa nyaman di keluargamu sendiri. Tapi, justru keluargamu yang menghancurkanmu sendiri. Gre, maaf kakak tidak menjagamu dengan baik." ucap Charles dengan senyum dipaksakan Greisy memberikan senyum tertulus yang ia punya. Ia tau kedua kakaknya begitu menyayanginya sejak dia kecil, selalu berusaha menjaganya jika ia kembali di mansion ini. Memberikannya rasa aman dan nyaman. "It's okay, Kak. Ini bukan salahmu bukankah aku sudah bilang pernikahan ini bukan kesalahan. Aku baik baik saja, lihatlah aku terus tersenyum aku tidak menangis dan "ucap Greisy Greisy diam sejenak "Aku bahagia"ucap Greisy "Greisy, apapun yang kamu butuhkan di masa depan cari kakak ya Gre. Jika terjadi sesuatu cari kakak, jika kamu terluka cari kakak, dan saat kamu tidak baik baik saja datang ke kakak ya"ucap Sarah Mata Sarah masih berkaca kaca. Ia tidak bisa melihat adiknya pura pura bahagia seperti ini. "Sudah sudah, aku mau tidur, besok hari pernikahanku tidak mungkin aku hadir dengan mata merah dan kantung mata berwarna hitam karena tidak tidur"ucap Greisy Greisy mendorong kedua kakaknya keluar dari kamarnya. "Selamat malam kak" Greisy kemudian menutup pintu, ia terduduk dan bersandar di pintu. Air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya luruh juga. Ia menangis tanpa suara, ia melampiaskannya lewat tangis. Hingga ia tertidur di lantai. Keesokan harinya, Greisy terbangun sudah berada di atas ranjang. Ia melihat sekeliling, ada kedua kakaknya dengan wajah yang cukup khawatir. Dan ada beberapa wanita yang tidak Greisy kenal. "Kalian kenapa?"tanya Greisy Sarah tersenyum, "Gapapa, mandi sana Gre"ucap Sarah Greisy menurut saja, ia ingat hari ini adalah hari pernikahannya. Ia kemudian bergegas untuk mandi. Tidak lucu jika dia terlambat datang di hari pernikahan. "Kak, Greisy nggak bahagia"ucap Sarah Charles mengangguk, ia tadi menemukan Greisy tergeletak di lantai. Ia sempat khawatir adiknya kenapa napa. Tapi ternyata Greisy hanya tidur. Setelah selesai mandi, "Bita, bantu adikku. Gre, kakak tunggu di bawah ya. "ucap Sarah sambil menyeret Charles untuk turun Di mansion keluarga George, Arthur tengah gugup. Ia belum bersiap sama sekali. Arthur memilih turun dari kamarnya. Ia ingin mengambil air lemon untuk menenangkan kegundahan hatinya. Saat di tangga, Arthur berpapasan dengan Edward. Ngomong ngomong tentang Edward, hubungannya dengan Arthur masih dingin. Mereka tidak saling menyapa bahkan mereka berdua berusaha menghindar saat bertemu. "Astaga Arthur kenapa belum bersiap?"tanya Victoria "Aku akan bersiap nanti, lagipula ini masih pagi"ucap Arthur "Pagi apanya ini sudah pukul 9.00 kamu harus pemberkatan pukul 10.00"ucap Victoria. Arthur kemudian kembali naik dan bersiap. Setelah semuanya selesai bersiap, mereka menuju Gereja tempat pemberkatan pernikahan. Arthur dan Greisy akan melakukan pemberkatan di Gereja kemudian di teruskan resepsi pernikahan saat malam harinya. Di sebuah hotel berbintang milik Anna, adik Arthur. Di dalam Gereja sudah penuh dengan para tamu yang di undang untuk hadir dalam pemberkatan. Tamu tamu tersebut terdiri dari keluarga besar dari Arthur dan Greisy serta teman dekat dadi Arthur dan Greisy. Acara akan segera dimulai. Arthur bersama dengan Luis di sampingnya berjalan mengantar Arthur menuju altar. Arthur berdiri dengan tegak di altar sambil menanti calon pengantin wanitanya. Pintu terbuka, menampilkan Greisy denga gaun pernikahan berwarna putih. Arthur terpana, walaupun wajah Greisy masih tertutup veil. Diego menggandeng putri kecilnya mendampinginya menuju altar. Diego kemudian menyerahkan Greisy pada Arthur. Mereka menghadap ke arah pendeta, Victoria dan Cassandra kemudian menyalakan dua buah lilin kecil. Kemudian Arthur dan Greisy menyalakan lilin paling besar yang ada di tengah. Arthur dan Greisy kembali ke posisi semula, dan saat keluarga kedua pengantin sudah menempati posisi masing masing, pemimpin pujian mulai dengan nyanyian dan juga doa pembuka. Setelah usai, pendeta mulai menyampaikan pesan pemberkatan nikah untuk Arthur dan Greisy yang kemudian dilanjutkan dengan pemberkatan nikah. Kemudian pengucapan janji pernikahan antara Arthur dan Greisy. "Saya Alexander Arthur George mengaku di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya mengambil engkau gadis cantik yang tangannya saat ini saya genggam Alexandra Greisy Rodriguez untuk menjadi istri saya. Saya berjanji untuk mengasihimu, menghargaimu, menghiburmu dan menolongmu dalam setiap keadaan, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus" "Saya Alexandra Greisy Rodriguez menerima engkau Alexander Arthur George sebagai suami saya yang sah dan satu satunya. Saya berjanji di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya untuk menghormatimu dalam setiap keadaan dan setiap waktu, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus" Prosesi selanjutnya adalah pemasangan cincin. Sambil memegang cincin nikah pendeta berucap, "Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara berdua, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga dengan mengasihi pasangan tanpa awal juga tanpa akhir" Arthur kemudian memasangkan cicin tersebut ke jari manis Greisy, begitu juga dengan Greisy melakukan hal yang sama. Arthur dan Greisy kemudian agak berlutut dan para hadirin berdiri. Pendeta melakukan pemberkatan, "Hiduplah menurut janjimu, hayatilah tugas dan tanggung jawabmu, dan terimalah berkat Tuhan: Allah, Bapa Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu dalam perwakilan ini akan memberkati kamu dan memenuhi rumah tanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus supaya dalam iman, pengahrapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia selama-lamanya." Arthur dan Greisy saling berhadapan, Arthur kemudian membuka veil yang menutupi wajah Greisy. Arthur memegang kedua tangan Greisy dan memajukan wajahnya. Sedangkan Greisy mulai memundurkan wajahnya memberi isyarat Arthur untuk tidak perlu melakukan sampai sejauh ini. Arthur melepas sebelah pegangan tangannya pada tangan Greisy, beralih memegang tengkuk Greisy dan mencium bibir Greisy sekilas. Para tamu yang hadir bertepuk tangan. Arthur memberikan senyum seringainya pada Greisy dan Greisy hanya menatap Arthur dengan kesal. Edward yang melihat adegan itu di depan matanya, hatinya rasanya terbakar. Prosesi pernikahan dilanjutkan dengan tanda tangan janji nikah, persembahan sulung dan ucapan terimakasih kedua pengantin kepada orang tuanya. Di akhir, pendeta mengumumkan kepada jemaat yang hadir bahwa pasangan suami istri ini telah resmi dan telah diberkati sebagai sepasang suami istri. Setelah semua rangkaian acara di Gereja selesai mereka menuju hotel tempat resepsi pernikahan. Mereka akan langsung beristirahat di sana. Arthur dan Greisy sudah berada di satu mobil. "Akhirnya nikah"ucap Arthur "Kamu sesenang itu karena menikah?"tanya Greisy "Cukup senang"ucap Arthur Arthur kemudian memegang tangan Greisy dengan erat. "Sy, aku belum sempat memujimu. Kamu sangat cantik di hari pernikahan kita. Aku terpesona"ucap Arthur Arthur kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Greisy. "Arthur ingat perjanjian ki-" Arthur meletakkan telunjuknya di bibir Greisy. "Ssttttt"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD