"Maaf nyonya, jangan habiskan waktu dan tenaga anda memohon begitu. Kau membuat kami terlihat buruk. Dengan rasa hormat saya pada anda. Tolong pulanglah dan sampai jumpa di pengadilan." Pernadi mengutarakan keputusannya. Wanita paruh baya itu mendudukkan dirinya di lantai. Tangisnya makin pecah, hatinya hancur membayangkan putranya akan meringkuk dibalik dinginnya jeruji besi. Tak disangka air mata tulus wanita paruh baya itu menyentuh hati seseorang di ruangan itu. Ia melepas tangannya yang di genggam suaminya, melangkah mendekati lalu mengulurkan tangannya. "Tante bangun, bukan kau yang seharusnya berlutut memohon disini. Jangan membuatku buruk." Semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya. "Aku ... akan mencabut laporannya." "Rindu," Pernadi "Rin," Rukaya "Apa maksudmu?" G

