77

1830 Words

Sinar matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden sutra kamar utama, menyentuh wajah cantik Sena yang masih terlelap. Dengan gerakan perlahan, ia menggeliat kecil, tangannya meraba sisi ranjang yang seharusnya diisi oleh tubuh hangat suaminya. Namun, yang ia temukan hanyalah seprai yang sudah mendingin. Sena membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya. Senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat bagaimana manja dan posesifnya Dialta semalam. "Pasti Mas Alta lagi di ruang gym," gumamnya pelan. Suaranya serak khas orang bangun tidur, namun terdengar sangat bahagia. Sena beranjak dari ranjang, menyeret langkah ringannya menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, membiarkan butiran air itu menghapus sisa-sisa kantuk sekaligus memberikan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD