Aku masih terus mengikuti langkah Mas Hanif ke lantai satu. Ada banyak outlet pakaian dan sepatu di sana. Sesekali aku dan dia sama-sama menoleh ke belakang. Aku khawatir perempuan itu mengikuti kepergian kami. Ternyata kekhawatiranku tak terjadi.Sandra sudah pergi dengan segala emosi yang menyesaki hatinya. "Kita pilih sepatu dulu ya, Ri." Mas Hanif tersenyum tipis lalu mengajakku masuk ke salah satu outlet yang ada di sana. "Ukuran sepatu Rafqa berapa ya, Ri? Kok lupa," tanya Mas Hanif tanpa menoleh sembari memilih sepatu yang ada di display. "Dua puluh enam, Mas." "Oh oke. Ini aja coba, Ri. Bagus nggak di kaki Rafqa," pinta lelaki itu sembari menyodorkan sepatu berwarna hitam kombinasi putih di tangannya padaku. Aku meminta Rafqa untuk diam sejenak, memasangkan sepatu di kakin

