Kulihat punggung bapak yang mulai menjauh. Doa dan harapan kedua orang tuaku semakin membuatku semangat menjalani pekerjaan ini. Aku yakin ridho kedua orang tua adalah ridhoNya. Semoga aku lebih sabar, telaten dan fokus, seperti pesan Emak tadi pagi.
"Mari saya antar masuk, Mbak. Bapak sudah menunggu," ucapan Pak Agus sedikit mengagetkanku. Aku pun tersenyum tipis lalu mengangguk.
Kuikuti langkah Pak Agus menuju pintu utama yang lebar. Mungkin lebarnya sama seperti lebar kamarku. Benar-benar megah dan mewah rumah ini. Aku benar-benar tak menyangka akan bekerja di rumah sebesar ini. Mobil berderet di garasi yang luas, sudah mirip dealer mobil. Motor pun berjejer di sana. Bagus, bersih, cling dan terlihat baru.
Mendadak aku teringat dengan motor butut bapak. Ya Allah, semoga Pak Ginanjar menepati janjinya untuk memberiku gaji tinggi jika aku bisa sabar menghadapi anak lelakinya, dengan begitu aku bisa segera mengganti motor butut bapak itu dengan motor baru yang layak pakai.
Kasihan bapak jika harus ke pasar atau jualan keliling dengan motornya yang sering mogok di tengah jalan. Pokoknya aku akan membahagiakan bapak dan Emak juga Liana dengan hasil kerjaku nanti.
"Silakan, Mbak." Pak Agus mengajakku ke ruang tengah yang sangat lebar. Berisi barang-barang antik yang kutaksir harganya puluhan juta.
Foto keluarga terpajang di ruang itu. Sedikit mengernyit sebab nggak ada anak kecil di foto itu. Apa mungkin kemarin aku salah dengar ya? Mungkin yang beliau maksud cucu sulung bukan anak sulung. Ah, entah.
"Ibu sedang mengantar Mbak Latifa ke kampus. Mungkin sebentar lagi pulang, Mbak. Kalau bapak masih di toilet. Tunggu di sini sebentar ya?" Pak Agus mempersilakanku duduk di sofa yang begitu empuk. Jauh lebih empuk sofa Budhe Umayah yang hanya sesekali kududuki itu.
"Duduk saja di lantai. Bajumu kotor, kalau duduk di sini nanti ikut kotor juga sofanya. Mana sofa mahal, susah bersihinnya." Kata-kata yang diucapkan budhe Umayah waktu itu kembali terngiang di telinga. Begitu tajam dan menusuk.
"Mbak Riana, maaf sudah lama menunggu ya?" Juragan Ginanjar mendekat dengan senyum lebarnya. Aku sedikit membungkukkan badan saat juragan sampai di samping sofa lalu duduk di atasnya.
"Baru saja, Juragan. Saya yang justru minta maaf karena kata Pak Agus, juragan sudah menunggu dari tadi," balasku kemudian. Juragan Ginanjar sedikit terkekeh lalu memegangi perutnya yang kurasa masih terluka.
"Agus bisa saja, Ri. Saya duduk di sini karena memang nggak ada kerjaan. Masih disuruh istirahat pasca tragedi malam itu. Jadi, bukan semata-mata menunggu kamu. Lihat itu masih jam enam lebih dan kamu tepat waktu. Saya suka itu," ujar juragan lagi.
"Syukurlah kalau begitu, Juragan."
"Langsung saja ya, Ri. Soalnya nanti ada tamu yang datang, jadi saya jelaskan saja apa pekerjaan kamu di sini." Aku kembali mengangguk lalu fokus mendengarkan uraian juragan Ginanjar.
Tak lama kemudian tiga perempuan datang dan berdiri berdampingan tak jauh dari tempat dudukku. Mereka sama-sama tersenyum sembari mengangguk pelan saat tak sengaja bersirobok denganku. Sepertinya semua ramah dan baik. Semoga saja mereka semakin membuatku betah bekerja di sini.
"Jadi, di rumah ini sudah ada tiga asisten rumah tangga, Ri. Yang paling tua itu namanya Bi Lilis. Tugasnya masak dan beberes area dapur. Yang sebelahnya itu Mbak Sri, tugasnya mencuci, menyetrika baju dan bantu Bi Lilis membersihkan lantai satu. Sementara Yuni membersihkan lantai atas. Untuk tukang kebun ada sendiri. Beliau datang seminggu sekali. Nah, untuk tugas kamu hanya mengurus soal Rama saja. Soal baju-bajunya, kamarnya, makan minumnya dan satu lagi kamu juga harus mengawasi dia supaya nggak neko-neko, gimana?" Juragan Ginanjar memberiku waktu untuk berpikir.
Kurasa bukan perkara sulit mengurus satu anak saja. Meski juragan sempat bilang kalau anak itu luar biasa bandel, tapi tak apa. Aku akan berusaha menaklukkannya. Aku pasti bisa. Semua ini kulakukan bukan semata-mata untuk diriku sendiri, tapi untuk emak, bapak dan Liana juga.
"Tenang saja, Ri. Saya akan gaji kamu lima juta sebulan kalau kamu sanggup menjalankan pekerjaan ini dan sabar menghadapi Rama. Bagaimana?" tawar Juragan Ginanjar semakin membuatku berbinar.
Lima juta? Benarkah apa yang kudengar ini? Sungguh, aku tak menyangka akan mendapatkan gaji sebesar itu dalam sebulan. Sampai usiaku delapan belas tahun ini, tak pernah sekalipun kulihat uang sebanyak itu. Jangankan lima juta, lima ratus ribu saja belum pernah.
Sejak lulus sekolah tiga bulan lalu, aku hanya bekerja serabutan saat ada yang butuh tenaga tambahan. Aku nggak mau melamar kerja di toko budhe Umayah, yang ada hanya akan mendapatkan makiannya lagi dan lagi.
Cukup enam tahun bantu-bantu di sana tanpa upah lebih sebab budhe Umayah memang sudah mengurus sekolahku dan Liana. Sekarang setelah lulus, aku merasa sangat bebas dan nggak mau lagi berurusan dengan toko itu. Liana pun kularang ikut bantu-bantu, biar aku saja yang gantian mengurus sekolahnya.
"Gimana, Ri? Apa masih kurang?" Pertanyaan juragan Ginanjar membuatku sedikit terkejut. Gegas menetralkan perasaan lalu mengiyakan tawarannya. Kulihat ke samping, tiga perempuan yang tadi diperkenalkan juragan Ginanjar sebagai asisten rumah tangganya pun sudah pergi dan aku tak menyadarinya.
Lima juta sudah jauh lebih dari cukup buatku yang baru pemula ini. Gaji di toko atau warung makan saja nggak sebanyak itu. Aku yakin Budhe Umayah akan shock saat tahu gajiku sebanyak itu. Aku yang dia bilang tak mungkin mendapatkan gaji tinggi karena cuma lulus SMA, ternyata punya gaji yang melebihi gaji karyawan di tokonya.
"Sudah sangat cukup, Juragan. InsyaAllah saya nggak akan mengecewakan dan berusaha melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin," ujarku kemudian. Juragan Ginanjar kembali manggut-manggut lalu tersenyum lebar ke arahku.
Kuhela napas panjang, bapak dan Emak pasti juga akan kaget saat tahu gajiku sebanyak itu. Aku janji akan menggunakan gajiku nanti sebaik mungkin. Yang penting untuk mereka agar bahagia sebab kebahagiaan mereka adalah salah satu kunci bahagiaku juga.
***