"Rafqa maunya sama Dia, Pa. Nggak mau baby sitter yang lain. Sepertinya dia memang cocok sama Ria. Nggak sering tantrum lagi, mau tidur siang dan nggak bolak-balik telepon aku kalau lagi di kantor." Aku masih mendengarkan obrolan Mas Hanif dengan juragan Ginanjar di lantai bawah. Suara mereka terdengar jelas dari kamarku sebab kamar ini memang terletak di samping tangga dan tak kedap suara. Berbeda dengan kamar Mas Rama yang dibuat kedap suara, makanya ada huru-hara apapun kadang dia tak keluar kamar. Pura-pura tak mendengar atau memang tak terdengar. Entah. "Ria kan sudah jadi asisten Rama, Nif. Tahu sendirilah kamu adikmu itu seperti apa. Dia butuh sosok asisten yang nggak terlalu baperan dan pekerja keras seperti Riana itu. Bapak tahu betul bagaimana keluarga Riana, jadi bapak sanga

