PUJIAN

1203 Words

"Orang-orang udik dan kampungan sepertimu biasa main pelet kan? Hemm ... Biasanya justru yang berpenampilan tertutup seperti ini yang mencurigakan. Pakaiannya memang tertutup, tapi tak menjamin bagus agamanya. Aku nggak sebodoh yang kamu kira!" ucap laki-laki itu sembari melipat tangan ke d**a. Tatapan tajamnya seperti tengah mengintrogasiku. Bola matanya naik turun menyoroti penampilanku detik ini. "Astaghfirullah, lemesnya itu mulut," pekikku lirih saat mendengar tuduhan lelaki itu. "Ngomong apa kamu?!" sentaknya lagi. "Mulutnya lemes, eh." Spontan aku menutup mulut saat keceplosan bicara. Perlahan mendongak lalu buru-buru menunduk saat tak sengaja beradu pandang dengan kedua matanya yang nyalang. Tak membalas ucapanku, monster tampan itu melangkah kembali ke lantai atas begitu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD