Bangkitnya jiwa binatang buas di pagi hari

1071 Words
Apartemen yang di berikan oleh Zein tepat berada di gedung seberang kantornya. Chaerin dan neneknya tidak membawa banyak barang. Jadi, pindahan mereka cukup memakan waktu sehari saja. Di dalam apartemen, Chaerin dan nenek sudah di tunggu oleh beberapa asisten rumah tangga. “Selamat datang, nyonya. Pak Zein menugaskan kami untuk melayani kalian berdua.” “Nak, kamu benar ketemu suami kamu?” Neneknya kaget, apartemen yang di masukkinya sangatlah mewah. Sang nenek tidak ingin cucunya mengambil jalan pintas. Hanya karena dia ingin hidup layak dan memanjakannya. “Nenek, benar Chaerin sudah ketemu sama suami. Tapi Chaerin tidak ingin di bawa pulang, takut salah karena adat budaya kita berbeda.” Benar apa yang di katakan Chaerin. Dia yang lahir dan besar di negara oppa, sudah pasti berbeda dengan negara para mas-mas. Asisten mengajak Chaerin ke kamar utama. Menunjukkan apa saja yang sudah di sediakan oleh suaminya. Tapi tunggu, kenapa ada kemeja dan jas di walk in closet dalam kamarnya? “Ini?” tanya Chaerin kaget. “Tuan memang sering menginap di apartemen sini. Jadi baju-baju kerja beliau banyak yang di sini.” Jawab pelayan itu sopan. Benar, tidak mungkin seorang pengusaha itu mau merugi. Ah, niat hati menghindari lelaki itu. Tapi lihatlah sekarang? Sudah seperti masuk dalam perangkapnya orang itu saja. Tidak punya pilihan lain, Chaerin hanya pasrah dalam diam. Melawan, hanya akan membuat dirinya sengsara bersama sang . Hari Sabtu ini berlalu begitu melelahkan, meski tidak banyak membawa barang-barang. Tapi Chaerin tidak membuang waktu begitu saja. Menggunakan kartu yang memang sudah menjadi miliknya. Chaerin mencari kebutuhan yang sudah hampir di tinggalkan karena tidak memiliki uang yang cukup. Tapi sekarang? Chaerin sudah kembali kaya raya. Dia bisa membeli apa saja. “Wah, itu siapa? Chaerin, bukan?” dia adalah resepsionis yang ada di kantor Chaerin bekerja. “Chae, sama siapa kamu?” tanya gadis polos bernama Lulu itu yang tengah berjalan bersama kekasihnya. “Oh, Lulu. Aku sendiri, ini lagi beli barang-barang yang aku butuhkan.” Chaerin membeli beberapa alat makan dan beberapa perabot yang biasanya dia gunakan di Korea. “Kamu beli alat pembuat masker sendiri? Astaga, kenapa enggak beli masker instan saja? Lebih gampang dan banyak yang sudah menggunakan bahan-bahan aman untuk kulit?” Lulu kaget ketika melihat harganya yang hampir sama dengan sebulan gajinya. “Tapi aku sudah terbiasa menggunakan yang alami dari buah-buahan.” Kata Chaerin jujur. “Astaga, Chaerin. Sepertinya kamu harus di ajari hemat deh. Eh, di Korea memang begini semua?” kesadaran Lulu kembali seketika dia melihat sebuah perawatan wajah dari Korea yang harganya selangit. “Tidak juga, hanya saja aku sudah terbiasa. Eoma sudah membiasakan aku dari remaja dengan yang alami.” Kata Chaerin memasukkan beberapa buah ke dalam plastik. “Pantas saja kulitmu mulus seperti p****t bayi. Oh Tuhan, aku iri sama kamu.” Ujar Lulu polos. “Aku bisa membelikan satu buat mu.” Chaerin orangnya memang loyal pada orang yang di anggapnya baik padanya. Seperti Lulu ini yang sejak awal sudah membantunya selama berada di kantor. “Tidak-tidak. Aku takut punya hutang pada orang lain.” Ucapan Lulu seakan menggelitik perut Chaerin. Menggelikan sekali ucapan teman yang baru dia kenal beberapa hari ini. Sejak pertemuan tadi, Lulu dan kekasihnya bergabung dengan Chaerin. Mereka berbelanja dan makan malam bersama hingga akhirnya mereka berpisah. Rasa lelah yang di miliki Chaerin membuat dirinya tidak sadar jika di ranjang sampingnya sudah di isi oleh seseorang. Zein, rupanya malam ini dia tidak pulang ke rumah utama. Mungkin lelaki ini juga menginginkan menjadi seorang suami seutuhnya. *** Malam berlalu sangatlah cepat, Minggu pagi sudah menyapa dua insan yang masih terlelap. Zein pulang tepat di jam makan malam, sehingga dia sempat bertemu dengan nenek. Sedangkan Chaerin, dia pulang hampir tengah malam. Entah keseruan mana yang menahan gadis bersuami ini. Sinar mentari yang berusaha masuk ke dalam kamar yang berada di lantai sepuluh itu. Gorden yang lumayan tebal menutupi tembok kaca di buka menggunakan remot. Chaerin yang masih mengantuk, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik selimut tebal. Zein baru pertama melihat kulit putih dan lembut seperti salju. Bukan hanya lembut, Zein mencubit pipi tembem milik Chaerin. Rasanya kenyal, sudah seperti pangsit rebus yang terakhir ia makan saat di Korea beberapa bulan lalu. “Masih ngantuk.” Rengek Chaerin belum menyadari siapa yang memainkan pipi tembemnya. Zein hanya tersenyum melihat pemandangan paginya. Minggu pagi yang indah, tapi.... Oh tidak, kenapa tubuhnya bereaksi kembali? Sekuat tenaga Zein menahan agar tidak di sadari oleh istrinya. Sekuat tenaga Zein menahan tubuhnya yang semakin sesak. Tiba-tiba suara dering ponsel membangunkan Chaerin sepenuhnya. “Selamat pagi, maaf ponselku membangunkan mu.” Kata Zein melihat istrinya seakan kaget akan keberadaan dirinya. Bibir manyun dengan tatapan mata bak anjing kecil. Membuat tingkat kegemasan Zein bertambah. Masih dalam posisi yang sama, namun Chaerin merasa ada benda kenyal dan lembap mendarat di hidungnya. Sial, pagi ini dia di sadarkan oleh nafas beraroma mint akan setatusnya. Mata Chaerin berkedip-kedip entah apa maksudnya. Tapi dia seperti tersihir untuk tidak melakukan perlawanan apa pun. “Aku ada pekerjaan siang ini, santailah kamu.” Zein bangkit dari tempat tidurnya untuk bersiap. Jam masih menunjukkan di angka tujuh pagi. Zein ingin menggunakan waktunya yang lumayan mepet dengan jam sepuluh untuk berolah raga. Tapi, tangan Zein ternyata di pegang erat oleh wanita yang masih meletakkan kepalanya indah di atas bantal. “Jangan pergi.” Entah dari mana keberanian Chaerin mengatakan dua kata itu. Pagi-pagi sudah menggoda lelaki normal yang sejak tadi menahan diri. Apa Chaerin ingin membangun kuburannya sendiri? Melihat Zein diam membeku, Chaerin segera melepas tangan suaminya. Namun, siapa yang sangka. Jika Zein malah menangkap tangan Chaerin dan membawanya ke atas kepala. “Tunda semua urusanku hari ini.” Kata Zein pada ponsel yang segera di nonaktifkan. Melihat mata Chaerin yang bening, membuat Zein ingin melahap bola mata itu seketika. “Jangan menyesal, aku akan membuatmu lelah seharian ini.” Mata sayu Zein membuat binar mata Chaerin semakin terlihat bening. Dua orang yang sudah di satukan oleh ikatan pernikahan. Namun di pisahkan oleh lautan beberapa bulan yang lalu. Kini mereka berdua tengah di kuasai jiwa binatang buas. Berguling liar di atas tempat tidur, mereka berdua mengabaikan pikiran orang-orang di luar kamar. Bahkan Hendra asisten pribadinya mengetuk pintu hampir sepuluh kali. Hanya mendapat pengabaian saja. “Mungkin mereka butuh waktu seharian. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu nek. Permisi.” Hendra menyerah juga akhirnya. Di dalam kamar memang terjadi pergulatan liar yang tak bisa di ganggu gugat. Bahkan urusan perusahaan pun tak penting lagi bagi Zein.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD