Bau bidadari surga vs bau naga

1093 Words
Seharian sudah, Zein mengurung Chaerin di hari minggunya. Jangankan berpikir untuk bersenang-senang bersama Lulu seperti kemarin. Bangun dari tempat tidur saja, Chaerin rasaya sudah tidak bertenaga. Satu-satunya yang Chaerin bisa ya hanya tiduran menemani sang suami bekerja. “Masih lelah?” Tanya Zein membelai rambut lembut Chaerin. “Tidak, hanya tak bertenaga saja.” Jawab jujur Chaerin memeluk perut Zein dan menyengsarakan kepalanya di pundak. “Maaf.” Senyum Zein seperti penawar mujarab bagi sakit badan Chaerin. “Aku mau mandi, tapi tidak kuat berjalan. Bisa bantu aku?” sepertinya sifat manja Chaerin kembali lagi. Dia sekarang sudah tidak segan lagi meminta ini itu pada suaminya. Cinta memang belum tumbuh di antara keduanya. Namun kenyamanan, sudah di rasakan oleh keduanya. Zein membatu Chaerin membasuh badan putihnya. Putih, seputih salju berbanding terbalik dengan Zein yang memiliki kulit yang lebih sawo matang khas Indonesia. “Anak kita nanti pasti seperti zebra.” Celetuk Zein sambil membasuh rambut panjang Chaerin. “We?” “Pakai bahasa Indonesia, sayang.” Kata sayang membuat wajah Chaerin memerah. Dulu, dia memang sering memanggil Jeremy dengan sebutan itu. Namun, lelaki yang di pacari selama tiga tahun itu, tidak sekalipun pernah memanggilnya sayang. “Ya, aku akan berusaha.” Keduanya tidak lagi saling bicara, karena bahasa kalbu mereka jauh lebih mudah dipahami satu sama lain. Selesai mandi dan memakai baju, Chaerin berjalan di samping Zein. Pada saat keluar dari walk in closet, mereka sudah di sambut oleh dua orang tua Bangka. “Nenek, kakek!” panggil Zein kaget. “Bagus! Kamu bahkan tidak mengenalkan pada nenek dan kakek cucu menantu ini. Tapi malah pulang ke apartemen dan mematikan ponsel.” Kakek Zein terlihat marah, tapi neneknya terlihat senyum pada Chaerin. “Kamu mau menakuti cucu menantuku? Lihatlah, dia sangat ketakutan. Sedangkan jalan saja harus di papah. Memang dasar lelaki tidak punya perasaan.” Kata nenek Zein membantu Chaerin untuk berjalan ke sofa di mana Kakek Zein duduk. “Itu bukan aku yang melakukannya, tapi cucu nakalmu. Sudah menyembunyikan cucu menantu, tapi membuatnya sengsara seperti ini.” Tak mau di salahkan, Kakek Zein langsung melempar kesalahan pada tersangka utama. “Benar-benar Anam nakal.” Ternyata penyambutan kakek dan nenek Zein sangat hangat pada Chaerin. Bisa di katakan, ini adalah karma baik yang di terima oleh Chaerin dari kehidupan sebelumnya. Setelah Maslah datang bertubi-tubi menghancurkan dirinya. Kali ini, dia merasa kehangatan keluarga yang tidak pernah ia dapatkan di negaranya. “Cantik begini cucu menantuku, masih di sembunyikan dari kami. Sial sekali aku memiliki cucu sepertimu, Zein.” Kata nenek terus menerus menyalahkan Zein. “Bukan mau menyembunyikan, tapi Chaerin memang masih belum mau tinggal di rumah besar. Tidak ada pilihan lain, aku juga harus tinggal di sini.” Kata Zein membela diri. “Apa yang kamu takutkan, nak? Nenek dan kakek hanya tinggal bertiga dengan Zein. Rumah kami sangat besar, kalau harus kami tinggali berdua. Minggu ini hanya ada adik sepupu Zein yang pulang dari Korea. Dia pun mungkin akan mengelola bisnis keluarga yang di tinggalkan orang tuanya.” Ucap sedih nenek yang hampir mendekati satu abad itu. “Zein tidak pernah cerita tentang keluarganya. Aku Cuma takut tidak di terima, karena aku dan kalian berbeda.” Jawab Chaerin malu-malu. “Kami tau adat kalian seperti apa. Tapi, kami sangat kesepian. Kami tidak akan menyalahkan kamu dengan segala adat yang kamu miliki. Jadi, pulanglah.” Bujuk nenek Zein. Chaerin tidak bisa menolak lagi, selain neneknya sudah mendapat tempat tinggal yang layak. Chaerin juga yakin, kalau keluarga Zein baik. “Baiklah.” Bukan Zein saja yang kaget dengan jawaban Chaerin. Tapi nenek dan kakek Zein ikut kaget sekaligus senang. Malam ini adalah malam pertama bagi seorang Chaerin menjadi menantu keluarga kaya raya. Kekayaan Jeremy, tidak ada seujung kuku kotor Zein. Jadi, tidak ada penolakan bagi Chaerin untuk ikut bersama dengan keluarga Zein. Rumah Zein besar bak istana dalam negeri dongeng. Chaerin memang datang dari keluarga kaya, namun, rumahnya tak sebesar dan semegah Zein. Zein membawa Chaerin ke sebuah ruangan yang berada di paling atas rumah megah itu. Satu ruangan hampir memakai satu lantai rumah itu. Tapi tidak, ada sebuah ruangan lagi yang mungkin luas dan besarnya hampir sama. Ruangan itu di buka oleh Zein. Pintu besar bercat putih itu menunjukkan isi di dalam ruangan bak kamar seorang raja dan ratu. Ranjang besar yang berada di sisi tengah yang berhiaskan kelambu berwarna putih dari atas hingga menutupi seluruh ranjang. Kelambu itu di ikat di setiap tiang penyanggah Di keempat sisi tempat tidur. Di salah satu ujung ruangan, terdapat jendela prancis yang Menjulang tinggi hingga ke langit-langit. “Ini bukan rumah, tapi istana!” seru Chaerin kagum. “Rumah ini bisa di katakan istana, kalau kamu mau jadi ratunya.” Ucapan Zein membuat Chaerin tiba-tiba lemas. “Jangan buat aku semakin tergila-gila padamu, tuan kaya raya.” Kata Chaerin bermanja ria pada Zein. “Itu tujuanku.” Satu usapan di hidung sensitif Chaerin, menjadikan gadis itu seperti anjing kecil yang lucu. “Berhenti menatapku begitu, ingin rasanya aku memakanmu.” “Kalau kamu memakan, ku. Aku pastikan berontak dalam perutmu. Perutmu pasti banyak benjolan karena aku meninjumu dari dalam.” Kata Chaerin mengeratkan pelukannya. “Benarkah? Ya sudah, kalau begitu biar aku coba memakanmu.” Canda keduanya tidak membuat dua orang itu terlihat seperti anak Kecil. Tapi keduanya terlihat seperti tengah di mabuk asmara. Ya, biarpun mereka tidak mengakui adanya cinta di antara keduanya. Tapi, setidaknya, mereka mampu menjadikan diri mereka nyaman berada di kapal yang sama. Malam ini tidur Chaerin sangat nyenyak. Di tempat tidur empuk yang sangat besar, di tambah dengan pelukan hangat sang suami. Aduh, sudah seperti suami istri yang menikah karena cinta yang mendalam saja. “Selamat pagi, kamu mau kerja apa enggak hari ini?” bisik Zein pada Chaerin yang masih terlihat menikmati tidur paginya. “Kerja, tapi kita tetap rahasiakan hubungan kita.” Suara serak Chaerin membuat gemas Zein di pagi hari. “Cium dulu kalau gitu.” Zein sudah mendekatkan wajahnya pada Chaerin. Namun secepat mungkin di halau oleh Chaerin. “Masih bau.” “Bau bidadari dari surga, aku tidak keberatan.” Bisik Zein terus menggoda Chaerin. Entah sejak kapan seorang Zein bisa berubah begitu lembut dan menggoda. Padahal kalau di kantor, dia terkenal dengan karakter dingin dan tak pedulinya. Sedangkan Chaerin yang seorang gadis mandiri, selalu bersifat manja dan kekanak-kanakan kalau sudah bertemu dengan orang yang membuatnya nyaman. “Sekarang saja kamu bisa bilang bau bidadari dari surga. Setahun lagi, eh bukan, beberapa bulan lagi juga nyebut bau naga. Sudah jangan gombal lagi, aku mandi duluan kalau begitu, pak bos!” Chaerin berusaha menjauhkan diri dari Zein.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD