Sasa korban sinetron

1224 Words
Jam setengah delapan, Chaerin sudah sampai di kantor. Lulu juga baru sampai di area kantor, bertepatan dengan Chaerin yang baru turun dari taksi. “Keren sekali hidupmu, Chae? Berangkat kerja naik taksi. Apa rumor gajimu setara kepala bagian itu benar?” Tanya Lulu takjub. “Mungkin lebih, lagian aku juga kan punya tabungan, sayang.” Jawab Chaerin santai sambil menggandeng teman barunya itu. “Aku sangat iri padamu, kalau begitu traktir aku nanti makan siang di cafe depan.” Kata Lulu tak sungkan. “Hmmm, kalau aku ajak benerin rambut, mau gak?” tanya Chaerin memperlihatkan rambut berwarna ungu gelap pada Lulu. “Sial, aku juga mau. Bayarin ya....” “Jangankan bayarin kamu ke salon, cariin kamu sugar Daddy juga kayaknya dia sanggup.” Cibir seseorang yang berpenampilan sama persis seperti Chaerin. Dari ujung rambut hingga ujung kaki sudah sama seperti Chaerin. Bahkan rambut berwarna ungu milik Chaerin juga di tiru oleh gadis itu. Sinta, gadis yang berniat mengalihkan perhatian Zein dengan meniru sepenuhnya Chaerin. Baju kerja yang mungkin baru saja dia beli kemarin di mall. Warna pink soft, membuatnya terlihat seperti Chaerin tepat di hari Senin lalu. Siapa yang menyangka, jika Santi benar-benar mengingat penampilan Chaerin sejak awal bekerja. “Chae, lihat penampilan Santi. Ada keingat sesuatu nggak sih?” Tanya Lulu berbisik. “Lupakan.” Chaerin tersenyum menunjukkan diri tidak peduli. Siapa yang peduli dengan penampilan orang lain? Sedangkan dia saja sudah sangat jengah dengan sekitar. Chaerin teringat park Nara, saat melihat Santi pertama kali. Dia sudah seperti mantan sahabatnya yang merebut kekasih yang di pacarinya selama tiga tahun lalu. “Penampilan kamu, kenapa norak sekali hari ini? Kamu lupa, kalau sudah bekerja di perkantoran?” cibir Santi mengomentari penampilan Chaerin. “Apa yang salah? Celana panjang yang aku kenakan, sepertinya tidak akan merugikan perusahaan. Dan kemeja pastel ku juga membuatku terlihat lebih dewasa. Apa yang salah?” tanya Chaerin. Hari ini Chaerin benar-benar mengenakan baju panjang. Kera baju yang sedikit naik menutupi sebagian leher, menambah aura kedewasaan pada Chaerin. “Pakai kemeja dengan kancing baju hanya setengah. Maksud kamu apa? Mau jual diri?” Santi mengomentari kemeja yang memang hanya di kancing beberapa saja. “Matamu sepertinya memang perlu di bawa ke bengkel deh. Apa kamu tidak melihat inner yang aku pakai? Bahkan menutupi sebagian leherku. Kalaupun aku menggoda lelaki, yang pasti lelaki itu bukan orang sembarangan!” Chaerin segera meninggalkan Santi setelah mendengar bunyi Ting pintu lift terbuka. Jengkel, Santi merasa sudah di hina oleh seorang Chaerin. Padahal dia sudah membeli baju formal seperti milik Chaerin dengan harga yang sangat mahal. Santi bukannya mendapat pujian, tapi dia malah mendapat hinaan. Dasar, gadis tidak peka. Santi sengaja menyenggol Chaerin yang berada di depannya untuk masuk ke ruangannya. Sebenarnya jalanan masih lebar, hanya saja, Santi ingin mencari gara-gara saja pada Chaerin. “Aduh.” Chaerin tersungkur di lantai. “Kamu kenapa?” tanya teman Chaerin yang duduk di sampingnya. “Di seruduk banteng. Sudah, lupakan aku tidak apa-apa.” Kata Chaerin membenarkan bajunya yang sedikit berantakan. “Apa? Banteng? Matamu buta ya?” “Ngerasa? Maaf aku nggak lihat soalnya. Aku pikir banteng yang menabrakku. Habisnya kuat sekali tenaganya.” Apa yang di katakan Chaerin membuat teman-temannya tertawa dalam diam. Tertawa pada saat itu, mungkin akan membangun neraka untuk mereka selama seminggu kedepan. Tidak, lebih baik mencari aman saja. Santi merasa sangat marah, sehingga dia berniat memberikan semua pekerjaan pada Chaerin. Sebisa mungkin dia harus membuat orang yang berani menggoda Zein itu lembur. “Siapa suruh dia melawanku.” Santi mengirim pekerjaan via email untuk Chaerin. Pekerjaan itu deadline Minggu ini, bukan hanya satu, tapi lima. Semua adalah sebuah karikatur yang memerlukan detail yang cukup rumit. Bukan hanya itu, proyek itu tidak memberikan sebuah contoh. Bisa di sebut dengan proyek fantasi. Di jam istirahat, Chaerin hanya meminum s**u dan beberapa camilan diet yang ia bawa. Dimas, salah satu rekan kerja Chaerin merasa kasihan. Dia membawa makan siang untuk Chaerin. Sedangkan Jeki dan Sasa membawakan minuman dan sengaja segera balik ke ruangan sebelum jam makan siang berakhir. “Makan ini dulu, kamu harus makan siang.” Kata Dimas. “Ini minumnya, kami bantu sebisa mungkin.” Kata Sasa memberikan minuman untuk Chaerin dan yang lainnya. “Jangan, aku takut kalian akan mendapat masalah karena aku.” Chaerin mengambil makanan yang di bawa Dimas, namun tidak memberi izin rekannya membantunya. “Kita tanggung bersama.” Sasa, orang yang sepertinya tidak suka pada Chaerin awalnya. Tidak di sangka, kalau dia memiliki hati yang baik juga. “Terima kasih, kalian.” Kata Chaerin terharu. “Kita rekan kerja, kerjaan ku juga tidak sebanyak biasanya. Jadi sudah selesai.” Kata Jeki menunjukkan pekerjaannya. “Ih, dasar sandal jepit itu ya. Sudah menjiplak penampilan Chaerin, eh malah menindas begini. Kalau tidak ada pak Charles juga, dia tidak akan bisa berada di posisi saat ini.” Kata Sasa benar-benar emosi. “Sudahlah, nanti kalau pak Zein tau juga dia kena batunya.” Kata Chaerin santai memakan makanan yang di bawakan Dimas. “Makanan apa ini? Aku baru pertama kali makan sup ayam di campur nasi begini.” Kata Chaerin kagum dengan makanan yang terasa sangat enak di lidahnya. “Ini namanya soto ayam, makannya ya begini enaknya. Di campur nasi. Kalau di pisah, kangen katanya.” Celetuk Dimas membenarkan duduknya di kursi Chaerin. “Ini lebih enak kalo di campur.” Sasa mencampurkan sambal dan menambahkan beberapa perasan jeruk nipis pada kuah soto milik Chaerin. Sesuap, dua suap dan.... Yup Chaerin tidak berhenti makan soto dalam mangkoknya. “Its so perfeck.” Kata Chaerin melahap makanannya. “Syukurlah kalau kau suka.” Dimas mengusap rambut Chaerin. “Lembut.” Batin Dimas yang diam-diam mengagumi Chaerin. Santi kembali ke ruangan setelah Chaerin menghabiskan soto miliknya. Dan ketiga temannya kembali ke mejanya. Sasa, Dimas dan Jeki tidak memiliki pekerjaan lain. Jadi mereka mengerjakan pekerjaan Chaerin yang sudah di bagi sebelumnya. Santi sangat jarang mengecek pekerjaan para bawahannya, jadi mereka berempat mengerjakan proyek itu dengan leluasa. Jam pulang, keempat orang itu masih asyik dengan pekerjaannya. Santi keluar dari ruangan yang bersekat dinding kaca. Membuat Dimas berinisiatif untuk mengemasi barang-barang untuk pulang. “Pekerjaan kalian sudah selesai? Kalau sudah, cepatlah pulang. Perusahaan tidak akan memberikan gaji tambahan untuk lembur.” Kata Santi merasa senang karena Chaerin masih terlihat sibuk dengan proyeknya. “Kami tau,” Sasa menjawab dengan segera mengemas barang-barangnya juga. Siapa yang menyangka, pada saat Santi masuk ke dalam lift, ketiga teman Chaerin pun kembali pada layar komputernya. “Sial sekali orang yang menjadi suaminya nanti.” Cibir Jeki melihat Santi tak suka. “Yang kasihan itu mertua sama saudara iparnya.” Kata Sasa malah bikin bingung. “Kok Merta sama saudara ipar?” Jeki penasaran. “Iya, biasanya kan mertua yang menindas menantu, di bantu sama anak-anaknya yang lain. Kalau punya menantu Bu Santi, pasti Bu Santi yang menindas ibu mertua dan saudara iparnya.” Jawab Sasa dengan polosnya. “Pengalaman?” tanya Dimas. “Hahahaha mana ada, aku kan anak tunggal di keluarga. Belum menikah, pula.” Jawab Sasa santai. “Kok tau hal semacam itu?” Jiwa kepo Jeki memberontak ingin tau. “Aku kan tau di tv. Banyak, tau di filmkan. Ibu mertua yang jahat yang nantinya mati di tabrak truk atau masuk selokan. Begitu karena dia sangat durhaka pada menantunya.” Jawab Sasa menceritakan singkat sinetron yang ia tonton kemarin. “Dasar, korban sinetron.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD