Jam sebelas malam, Chaerin baru sampai di rumah besar Zein. Di sana nenek Zein masih terlihat duduk santai di ruang tamu.
Dari arah belakang, terdengar sedikit keributan di dapur. Itu suara Zein dengan perempuan lain, kenapa neneknya Zein tidak berkomentar apa-apa?
“Chaerin? Kenapa malam sekali pulangnya? Apa kamu menjenguk nenekmu dulu?” Tanya nenek Zein menyapa Chaerin yang masih serius mendengarkan suara yang terasa tidak asing baginya.
“Chaerin?” Nenek Zein mendekati Chaerin karena tidak menjawabnya.
“Oh, maaf nek. Chaerin tadi lembur, banyak kerjaan. Chae ke kamar dulu ya nek, capek.” Kata Chaerin menguatkan diri.
“Kamu sudah makan? Kamu sudah seperti kulit dan tulang saja ini, jangan berpikir untuk diet. Mengerti!” nenek Zein memperingati.
“Iya nek, tadi sudah makan di kantin kantor jam delapan malam dengan teman-teman kantor lainnya.” Jawab Chaerin matanya sudah memerah.
“Kamu ngantuk sekali? Ya sudah sana istirahat dulu, nanti nenek kasih tau Zein untuk menyusulmu.” Lembut, nenek Zein memperlakukan Chaerin seperti tidak ada apa,
Chaerin menaiki tangga dengan mata berkaca-kaca. Baru saja menemukan tempat ternyaman, masa iya dia harus menelan pil pahit pengkhianatan lagi?
Meskipun tidak tau siapa wanitanya sekarang, tapi yang jelas. Chaerin sangat familiar dengan suara gadis yang berada di dapur bersama dengan suaminya.
Lagi-lagi dia harus merasa sesuatu yang tidak nyaman dalam hidupnya. Akankah dia di khianati lagi? Ini bahkan bukan pacaran, tapi pernikahan yang menghancurkan masa depannya.
Chaerin membenamkan diri dalam air hangat penuh busa. Mencoba melupakan masa lalu yang menghantui dirinya.
Meyakinkan diri, bahwa orang yang memeluknya semalaman itu tidak akan seberengsek Jeremy.
Selesai mandi, Chaerin terasa segar kembali. Sudah jam setengah dua belas malam, Zein belum juga kembali ke kamar.
“Bodo amat, ngantuk aku.” Kata Chaerin mencari tempat ternyaman untuk tidur malam.
Zein ternyata sudah kembali ke kamar sejak Chaerin masih di kamar mandi. Dia berada di ruang kerjanya karena ada hal yang mendesak untuk di kerjakan.
Tepat jam dua malam Zein kembali ke tempat tidurnya. Melihat Chaerin sudah terlelap, Zein tak ingin membangunkan istrinya.
Mencium kening, kedua kelopak mata, pipi dan hidung sebagai salam selamat malam. Rupanya Zein masih belum puas juga.
Bibir merah alami milik Chaerin cukup menggoda bagi Zein untuk dilewatkan. Mengecup pun tak terasa puas, hingga kenikmatan sempurna melahapnya.
“Nuruti inginku, bisa enggak tidur lagi aku.” Kata Zein berkata pada dirinya sendiri.
Zein tidur memeluk Chaerin seperti guling bernafas. Hingga pagi menjelang, Chaerin merasa ada lengan besar memeluknya posesif.
“Selamat pagi, cantik.” Sapa Zein dengan suara serak khas bangun tidur.
“Pagi, minggir aku mau siap-siap kerja.” Chaerin tidak bisa menyembunyikan kecewanya.
Zein peka, karena Chaerin tidak biasanya bersifat seperti ini. Biasanya dia penurut dan tak pernah menghindar seperti sekarang.
“Ada masalah apa di kantor, katakanlah.” Kata Zein tak membiarkan Chaerin bangkit dari tempat tidur.
“Tidak ada masalah, minggir aku mau mandi.” Kata Chaerin masih berusaha melepaskan diri dari dekapan Zein.
“Jangan harap aku mau melepaskanmu sebelum kamu berkata jujur.” Zein masih tidak mau melepaskan pelukannya pada Chaerin yang ia peluk di tempat tidur dalam posisi duduk.
“Setahuku, selama seminggu ini tidak ada projek yang deadline nya mendesak. Kenapa kamu lembur semalam?”
“Aku itu hanya karyawan jelata, mana aku tau permainan kalian para kalangan atas. Minggir, aku bisa kena omel atasanku nantinya.” Chaerin masih berusaha melepaskan diri dari Zein.
“Aku atasan di tempatmu kerja, dan kamu atasan ku. Apa yang membuatmu merasa kalau dirimu karyawan jelata? Lagian, dari mana kamu tau kata karyawan jelata?” gemas, Zein mendengar perkataan dari istrinya.
“Tapi kan yang tau hubungan kita, Cuma kita berdua saja di kantor. Sudah sana minggir, aku mau siap-siap.” Masih belum mau menyerah, Chaerin berusaha melepaskan diri dari suaminya.
“Ini kamu yang mau....”
“Iya tuan kaya raya bos besarku yang sangat terhormat. Tapi aku butuh bersiap-siap sekarang. Lihatlah sudah jam setengah delapan, dan aku masuk jam delapan. Aduh, aku gimana?” Chaerin sudah semakin panik setelah melihat jam dinding.
“Biar saja, kamu masuk jam sepuluh. Sama denganku. Aku yang akan membawamu.” Chaerin pasrah, sekuat apa pun dia melawan. Tenaga Zein sangat kuat memeluknya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Terserah kau saja tuan muda yang tampan.” Kata Chaerin pasrah.
“Gadis pintar.”
Jika malam tidak mendapat jatah, maka pagi pun Zein harus mendapatkan apa yang dia tahan sejak semalam.
Chaerin tidak memakai baju tidur yang menggoda sebenarnya. Memakai baju tidur lengan pendek dengan celana panjang, tidaklah menggoda. Memang dasarnya Zein sudah ingin menyentuh Chaerin, jadi baju bukanlah sebuah alasan.
Hari ini, Chaerin benar-benar masuk jam sepuluh pagi. Ini semua karena Zein tidak bisa di ajak kerja sama.
Satu jam mereka berdua menghabiskan waktu pagi. Zein tetap tidak puas untuk bercengkerama pagi yang hangat dengan sang istri.
Kulit putih dan mulusnya seakan memanggil dan mengikat untuk tidak ingin melepaskan diri.
Ah, memang dasar lelaki dingin bernafsu binatang.
“Chaerin?” Lulu melihat Chaerin yang baru saja datang bersama dengan mobil bos pun kaget.
“Sttt, aku tadi kejebak macet. Eh ketemu sama pak Zein, kupingku panas di ceramahi orang itu. Jadi untukmu, stop bertanya kenapa bisa.” Kata Chaerin menunjukkan rasa takut dan sebel bersamaan.
“Ya ampun, kok bisa? Kenapa kamu siang begini? Jelas kamu kena macet.” Kata Lulu juga mengomel.
“Ini semua gara-gara kekasihku yang mematikan alarm. Katanya kasihan aku lembur semalem, jadi dia membiarkan aku tidur sebentar lagi. Eh, pas bangun....”
“Kim Chaerin Akbar Anggara!!” Suara dalam yang menggema membuat yang mendengar merasa bergidik ngeri.
“Mampus!” Chaerin langsung menutup mukanya dengan tas mewah yang baru di belinya bersama Lulu dan buru-buru dia meninggalkan teman ngerumpinya.
Zein sebenarnya ingin sekali tertawa melihat tingkah istrinya. Tapi, dia harus menjaga image di depan bawahannya. Sedangkan Hendra, sebagai asisten Zein sudah tidak kuat menahan tawanya.
“Anda sepertinya sangat menikmati pernikahan ini.” Ucap Hendra pelan.
“Sangat, aku seperti memiliki mainan baru yang bisa aku mainkan kapan pun.”
Mainan? Zein mengartikan Chaerin sebagai mainan? Apa sebenarnya yang ia sebut istri itu? Pekerjaan?
Tidak, semenjak adanya Chaerin di hidup bosnya ini. Zein menjadi orang yang terlihat santai pada pekerjaan. Bahkan dia berubah mengabaikan pekerjaan yang sangat penting di hari minggunya.
Chaerin memasuki ruang kerjanya. Di sana sudah di sambut oleh Santi yang duduk di kursinya dan mengotak-atik komputer miliknya.
“Lancang sekali kamu!” Chaerin sangat marah ketika melihat Santi menduplikat pekerjaan milik Chaerin.
“Kamu pikir, kamu siapa? Mau lebih menonjol dari aku? Jangan harap!” dengan santainya, Santi menghapus draf pekerjaan Chaerin.
Semua sudah ia salin ke flashdisk miliknya. Itu pekerjaan Chaerin semalam. Pekerjaan yang memang di kirim oleh Santi untuk membuat Chaerin lembur.
Proyek yang memang harus di kumpul hari ini, siapa yang sangka jika Santi memanfaatkan keahlian dari Chaerin.
“Gaji sepuluh juta, jangan sampai di sia-siakan perusahaan. Jadi, wajar kalau pekerjaan kamu lebih banyak dari pada yang lain. So, nikmati pekerjaan yang sesuai dengan gajimu!”