Apa yang di lakukan Santi sudah keterlaluan, tapi Chaerin tidak peduli dengan itu. Kalau benar apa yang di katakan oleh Zein semalam, maka pengambil keputusan adalah dirinya.
Jangan terima laporan apa pun dari divisi animasi team pertama. Kalau tidak mengatas namakan team.
Itu adalah pesan yang di kirim Chaerin pada Zein. Selain untuk menghentikan Santi, Chaerin juga mencoba menggunakan kuasanya seperti yang di katakan lelaki itu semalam.
Ok!
Hanya itu yang di kirim oleh Zein pada Chaerin. Senyum Chaerin mengembang dan seakan mengejek Santi.
“Aku sangat berterima kasih, kalau kamu juga mau melaporkan pekerjaan ini pada pimpinan. Kalau tidak salah, hari ini adalah batas waktu yang di tentukan. Silakan saja.” Kata Chaerin tersenyum.
Chaerin seperti orang tak memiliki dosa, duduk di sisi sofa tamu di ruangannya. Sedangkan Santi dengan penuh keyakinan menuju ke ruangan Zein di lantai paling atas gedung tersebut.
Chaerin mengatakan A yang ternyata memang itu juga jawaban yang di berikan oleh Zein. Namun, ada sedikit yang berbeda dari cara Zein menghadapi Santi.
“Permisi.” Ucap Santi setelah di izinkan masuk ke dalam ruangan besar bernuansa coklat milik Zein.
“Ya? Ada apa kamu mencariku?” tanya Zein di tengah rapat bersama tiga manager yang ada di bawahnya, termasuk Charles.
“Ini desain animasi yang bapak minta seminggu yang lalu.” Kata Santi sesopan mungkin.
“Bawa sini.” Kata Zein santai membenarkan duduknya. Jarang sekali Zein memperhatikan karyawan yang memberikan pekerjaannya sebelum ini.
Namun, ini kali pertama para manager melihat Zein seakan menerima laporan itu dengan seksama.
Senyum Santi mengembang, dia merasa kalau status dia akan segera naik. Chaerin akan berada di bawah kendalinya. Gaji sepuluh juta yang ia miliki sebentar lagi akan di pangkas habis.
“Apa kamu yakin ini pekerjaanmu?” tanya Zein melihat-lihat hasil pekerjaan itu di layar laptopnya.
“Be... Benar pak, ini saya kerjakan sampai lembur-lembur kemarin.” Kata Santi berbohong.
“Lembur? Kamu memang karyawan yang patut di contoh. Kalau begitu, aku mau kamu kerjakan ulang ini. Aku tidak suka dengan warna-warna yang di suguhkan ini. Terlalu norak,” senyum ramah berubah menjadi dingin di tambah dengan tatapan tajam yang bahkan para manager tidak pernah melihatnya.
Santi segera pergi dari ruangan tersebut setelah menerima flashdisk. Ruangan yang tadinya hangat membuat gerah, tiba-tiba menjadi mencekam.
“Kalian bertiga saya tegaskan. Jangan sekali-kali mengakui pekerjaan orang lain sebagai pekerjaan pribadi. Kalau tidak ingin lengser dari jabatan!” kata Zein memperingatkan.
“Charles, Darren dan kamu Joy, aku peringatkan kalian. Kalian orang-orang pilihanku, bukan naik karena karbitan. Jadi tolong, kalau mau merekrut orang itu, harap di perhatikan. Pendidikan, keahlian atau kemampuannya. Jangan asal memberi jabatan pada orang.” Kata Zein lagi penuh emosi.
“Kalian bertiga, cepat bereskan pekerjaan yang di bawa oleh divisi animasi team satu. Kalau sampai makan siang belum selesai, aku akan memotong bonus tahunan kalian!” Zein membentak dan memukul meja yang sudah jelas dia tidak bersalah.
Ketiga orang itu pun langsung menyusul Santi ke ruangan divisi animasi team satu. Di sana, Santi terlihat tengah mengomel pada para bawahannya, terutama Chaerin.
“Kamu ini bekerjanya bagaimana? Katanya lulusan terbaik di salah satu universitas ternama di Korea. Tapi, kenapa mengerjakan ini saja kamu tidak bisa?” emosi Santi memuncak ketika melihat Chaerin sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat padanya. Bahkan dia hanya berdiri sambil memainkan ponselnya.
“Kamu mendengarkan....”
“Santi, sudah. Sekarang ayo kerjakan saja, jangan banyak mengeluh.” Charles yang tau sifat Zein pun tidak ingin orang yang di bawa itu menyebabkan kesulitan pada dirinya.
Pada saat yang lain sibuk merevisi pekerjaan yang di bawa oleh Santi. Chaerin terlihat hanya memainkan komputernya dengan menggambar sesuatu yang tidak jelas.
Hal itu di lihat oleh Joy dan Darren. Aneh kalau misalnya Chaerin yang memiliki gaji lebih banyak dari Tan yang lainnya. Tapi dia sama sekali tidak memiliki pekerjaan yang mendesak. Ada apa ini?
“Kamu, Chaerin kan? Kenapa tidak membantu revisi?” tanya Joy.
“Buat apa? Bahkan master di laptopku pun sudah di hapus. Kenapa aku yang pusing? Setelah kami berempat lembur sampai tengah malam?” jawab Chaerin santai meminum kopinya.
“Chaerin, apa yang kamu katakan?” Charles tidak terima, Chaerin seakan menyalahkan Santi. “Yang lembur bukan Cuma kamu saja. Cepat....”
Zein Akbar Anggara:
Aku menyuruh revisi, kamu istirahat saja.
Charles melupakan kedekatan Chaerin dengan bos besarnya. Karena Charles tidak melanjutkan ucapannya karena sebuah pesan. Darren langsung mengambil ponsel Chaerin.
Bukan hanya satu pesan yang di baca oleh Darren. Tapi satu pesan yang di kirim oleh Chaerin yang melarang Zein menerima laporan apa pun dari divisinya.
“Apa... Kamu yang mengerjakan ini?” Joy menebak setelah ikut membaca chat tersebut.
“Ya! Bukan Cuma aku, tapi mereka bertiga juga ikut lembur. Dan pak Charles seharusnya tau, siapa yang tidak ikut.” Chaerin dengan angkuhnya mengambil kembali ponselnya dan duduk manis di kursi kerjanya.
Joy baru sadar, di atas Zein sebagai bosnya. Ternyata dia juga memiliki satu bos di atas bosnya, yaitu Kim Chaerin.
“Bawa ini ke pak Zein.” Kata Charles menyerahkan flashdisk yang tidak jadi di revisi.
“Aku tidak mau. Ini pekerjaan kalian, aku tidak akan ikut campur. Permisi saya mau kerja.”
Orang bilang, kalau ada macan yang tengah menyamar menjadi kucing lucu. Lebih baik jangan di usik, kalau tidak ingin menjadi mangsa sang macan. Itu benar adanya, Chaerin yang biasanya terlihat polos dan menyenangkan. Ternyata singa peliharaan sang bos.
Teman-teman Chaerin melihat sedikit sungkan padanya saat ini. Tapi Chaerin? Dia memang seperti biasanya, tapi tampak lebih berhati-hati lagi saat ini.
“Tolonglah kami.”
“Buat apa memohon pada dia? Dia bisa apa? Hanya memiliki penampilan saja, apa patut untuk di pamerkan? Lagian, otak dia itu tidak ada bedanya....”
“Tutup mulutmu. Mau sampai kapan kamu hanya bisa memberiku masalah?” kata Charles kesal pada Santi.
“Bang, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia....” Santi menunjuk ke arah Chaerin. Santi merasa kalau Chaerin menindas dirinya. “Dia itu tidak berguna. Percuma perusahaan membayarnya mahal, gaji tinggi tapi kemampuan rendahan. Tidak....”
Satu tamparan menghentikan ucapan Santi yang terus merendahkan Chaerin. Ini bukan sebuah tamparan tak beralasan. Chaerin sudah muak dengan apa yang di katakan Santi.
“Tunjukkan kemampuanmu kalau memang berada di atasku. Aku menantangmu sekarang. Ada sebuah kompetisi desain animasi yang tengah berjalan. Kalau misalnya kamu menang, aku akan mengundurkan diri. Dan kalau kamu kalah, akui kemampuanku. Jangan hanya bisa menunjukkan gaungmu tanpa hasil!” ucap Chaerin segera meninggalkan ruangan.
“Maaf, aku tidak akan pernah membantumu mulai sekarang. Pak Zein sangat marah karena masalah ini. Aku tidak tau hubungan apa yang di jalin oleh keduanya. Tapi yang jelas, Chaerin memiliki hubungan dengan pak Zein begitu dekat.” Charles segera meninggalkan ruangan tersebut.
Santi orang yang sering di unggulkan olehnya, kali ini dia sungguh kecewa pada gadis itu.