Berita Chaerin menantang Santi begitu cepat menyebar. Bahkan, telinga Zein juga segera menerima berita itu dengan jelas.
Kemampuan Chaerin tidak bisa di ragukan lagi. Karena dia seorang mahasiswa terbaik saat kuliah di jurusan desain grafis multimedia dan animasi.
Kalau misalnya dia melawan Santi, bukankah akan mempermalukan perusahaan? Sudah benar Zein memberi harga tinggi berupa gaji pada Chaerin karena bakatnya? Kenapa malah akan bertanding dengan kepala divisinya yang jelas tidak sebanding dengannya?
“Kim Chaerin Akbar Anggara! Apa yang kamu lakukan?” tanya Zein saat menemui Chaerin di salah satu sudut kantor.
“Dua kali aku mendengarmu meneriakkan namanya tidak benar. Apa maksudmu?” Chaerin lebih mempermasalahkan namanya ketimbang pertanyaan Zein.
“Kamu istriku, apa salah aku menyematkan nama ku setelah namamu?” percayalah, Zein mengatakan itu dengan penuh emosi.
Tapi lihatlah wajah Chaerin yang memerah entah kenapa bisa begitu. Zein heran, dia pun mengernyitkan dahinya sebagai tanda dia tidak paham.
“Apa yang kamu pikirkan, sampai wajahmu memerah begitu?” ucapan Zein menyadarkan Chaerin.
“Chagiya, naleul saranghae?” kata Chaerin tiba-tiba langsung menyampirkan tangannya di pundak Zein.
Zein tau artinya, tapi dia masih tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Zein sangat suka bersama dengan Chaerin, tapi dia belum menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta seperti d**a bergetar atau jantung mau copot seperti yang di katakan sepupunya.
“Kak Zein!” sebuah tepukan mengagetkan Zein yang tengah mengungkung Chaerin di depannya.
Secara refleks, Zein menyembunyikan Chaerin di belakang punggungnya karena takut ada yang melihatnya berduaan.
“Sonia?” Zein menyebut nama yang sepertinya tidak asing di telinga Chaerin.
Kim Chaerin yang berada di belakang Zein pun menampakkan diri.
“Chaerin?” Sonia nampak kaget melihat sahabatnya yang beberapa bulan lalu menghilang tiba-tiba. Kini ia temui tepat di depan matanya dan di perusahaan keluarganya.
“Sonia? Apa....?” nada bicara Chaerin tiba-tiba melemah.
Chaerin bisa di bilang memiliki trauma pada hubungan sahabat yang terlalu akrab dengan kekasihnya. Semua ini karena Jeremy dan Park Nara, sahabat yang menikamnya dari belakang.
“Kalian....?” Sonia tidak tau ada hubungan apa dia dengan sepupunya. Tapi ini cukup mengagetkan baginya.
“Dia sepupu iparmu, istriku.” Kaget, Sonia jelas kaget mendengar pengakuan Zein.
Orang gila yang di temui saat pertama kali kencan buta mengajak sahabatnya menikah itu adalah sepupunya? Tidak, ini pasti ada kesalahan. Tidak sekali pun Zein akan melakukan hal itu.
Tapi kenyataannya? Zein meninggalkan Chaerin di malam pertama pernikahan mereka. Bahkan, Chaerin dalam keadaan tidak baik-baik saja saat itu. Di mana kakak kandungnya Kim Ye Joon mengkhianatinya dengan mengakui keberhasilan Chaerin sebagai kompensasi atas kehancuran perusahaan.
Setelah mendengarkan apa yang di akui Zein. Bukan bangga, tapi Sonia malah memukuli kakak sepupunya.
“Tega kamu meninggalkan Chaerin malam itu! Dasar bajjiingan kamu!! Dia hancur hati itu. Dan sekarang kamu mau apa? Mau mengganggu dia? Langkahi dulu mayatku. Ayo Chaerin ikut aku.” Amarah Sonia benar-benar meledak mengingat malam itu.
Bayangan Chaerin datang ke asrama dengan keadaan basah kuyup. Masih segar dalam ingatan Sonia. Zein memang sepupunya, tapi dia mempermainkan hidup sahabatnya yang polos dan baik.
Tarikan tangan Sonia pada Chaerin terasa berat, itu karena Zein tak mengizinkannya. “Lepaskan....! Aku yang akan membawanya pergi dari sini.”
“Sonia, kamu mau bawa Chaerin kemana? Ingat dengan kondisi nenek yang baru saja membaik. Itu semua berkat Chaerin.” Kata Zein tidak mau mengalah.
“Apa...? Nenek tau? Jadi....?” Sonia sedikit merasa lega dan bahagia.
“Iya, yang semalam itu Chaerin. Jadi kalian.... Bagaimana bisa kenal?” tanya Zein heran.
“Dia teman satu kamarku kak. Yang aku ceritakan waktu itu. Aku juga tidak tau kalau hilangnya Chaerin itu ada hubungannya dengan kamu. Aku lega kalau seperti ini.” Jawab Sonia kegirangan.
“Mana ada dia menjemputku, dia itu menindas ku. Aku bahkan baru beberapa Minggu saja pulang ke rumah nenek. Aku ke Indonesia karena nenekku. Eoma memintanya menjemputku, ya setelah kejadian Ye Joon saat itu. Eoma tidak bahagia...” Chaerin menceritakan sekilas bagaimana dia bisa berada di Indonesia saat ini.
“Tidak apa-apa, mau sebesar apa pengaruh Ye Joon. Aku yang akan menghalanginya, aku pelindungmu sekarang.”
“Anak kecil ngerti apa? Kamu di tunggu Darren, udah sana. Nanti ngamuk lagi sama aku.” Sonia adalah tunangan dari salah satu bawahan terpercaya Zein.
Percintaan beda negara itu akhirnya kembali bersama setelah sekian lama. Chaerin kaget kala mendengar nama salah satu atasannya di sebut sebagai kekasih dari sahabatnya.
“Makan siang ini kita harus double date. Tidak boleh tidak!” kata Sonia mendominasi.
“Iya.” Jawab Chaerin merasa bahagia.
Perasaan was-was tadi akhirnya menghilang begitu saja. Bagaimana tidak? Luka yang di torehkan Jeremy sangat dalam.
Pengkhianatan yang tidak akan pernah bisa di lupaka oleh Chaerin begitu saja. Pengkhianatan yang membuat Chaerin tidak ingin menjalin pertemanan dengan siapa pun.
Jam makan siang pun tiba, Zein dan chaerin datang lebih dulu. Mereka berdua memang datang sendiri-sendiri, tapi akhirnya duduk berdua juga.
Sonia sedikit terlambat, itu tidak berarti apa-apa bagi Chaerin seorang yang disiplin. Semua itu karena memang Sonia paling anti yang namanya on time.
“Ok, hanya lima menit. Masih bisa di maklumi.” Kata Chaerin melihat jam tangannya.
“Tutup mulutmu! sekarang kamu harus mentraktir ku. Setelah sekian lama meninggalkanku.” Jawab Sonia duduk di samping Chaerin.
Darren tau kalau bosnya itu memiliki hubungan dengan gadis di sampingnya. Tapi, dengan kekasihnya? Mereka bahkan terlihat sangat akrab sekali.
“Pabo, you sudah kenal anak ini kan? Dia teman sekamar I di Korea.”
Pabo? Seketika Chaerin tertawa mendengar panggilan sayang sahabatnya ini yang tidak biasa.
“Kamu kenapa?” tanya Zein kaget mendengar Chaerin tiba-tiba tertawa.
“Kesambet penghuni cafe mungkin dia.” Jawab Sonia sekenanya.
“Aniyo! Kamu yang jahat. Masa kamu manggil kekasihmu pabo.” Masih dengan tawanya, Chaerin membuat Sonia ikut tertawa.
“Memang apa yang salah? Bukankah itu artinya tampan?” kata Darren terlihat polos.
“Hahahaha pantas si pantaat panci ini manggil kamu pabo. Kamu memang pabo, alias bodoh hahahaha.” Jawab Chaerin dalam tawanya.
Tidak bisa menahan diri, Zein menggetok kepala istrinya dengan sendok. “Hais, sakit.” Chaerin memegangi kepalanya.
“Kamu juga sering panggil aku begitu. Katamu sayang, yang bener mana?” tanya Zein merasa di permainkan.
“Yeobo! Bukan pabo. Yeobo itu sama kayak chagiya.” Wajah Chaerin tiba-tiba langsung memerah. Ini semua karena Zein tersenyum lembut padanya.
“Huek, neg I denger you panggil orang ini Yeobo. Menjijikkan sekali bapak ibu ini. Cukup chagiya kenapa? Menjijikkan!” setiap menyebut kata menjijikkan, Sonia selalu menekan katanya.
“I... I.... You... You... Kaya orang barat saja. Biasa aku kamu saja Lo.” Zein menimpali.
“Emangnya Cuma Livi aja yang boleh I... You? I juga boleh.” Jawab Sonia tak mau kalah.
“Boleh, kalau misalnya bahasa Inggris mu lebih baik dariku.” Bibir tipis berwarna merah mudah yang terlihat sangat manis itu ternyata mengandung racun serangga.
Mulut boleh manis, tapi kata-kata Chaerin benar-benar menusuk.
“Awas ya entar malam, aku tidak akan membiarkan kalian tidur duluan. Ingat, aku di antara kalian sekarang.” Pernyataan Sonia kembali membuat kediaman Darren semakin tak tenang.
Darren memang diam sejak dia datang, itu semua karena dia bingung dengan hubungan bosnya dengan sang pegawai baru ini.
“Enak aja, kamu mau menentang nenek? Makanya cepat nikah juga, biar tau rasanya surga dunia.” Jawab Zein tidak mau kalah.