Menikah juga

1103 Words
Menikah juga. Kata itu yang terus terbayang-bayang di kepala Darren. Apa sebenarnya hubungan Chaerin dengan Zein? Kalau memang hanya hubungan pacaran, tidak mungkin kalau nenek mereka akan berkomentar. Tapi, kalau memang mereka berdua sudah menikah. Kenapa tidak di publikasikan atau mengadakan pesta besar-besaran? “Mikir apa kamu?” Tanya Charles yang tiba-tiba muncul di ruangan Darren. “Berita Hendra sama pak Zein itu benar, kan?” Tanya Darren polos. Charles memukul kepala sahabat sekaligus rekan kerjanya. “Apa otakmu keblinger? Sampai kamu percaya berita hoax begitu?” Charles tidak habis pikir dengan isi kepala Darren belakangan ini. Apa kepalanya kemasukan batu bara karena kedatangan sang kekasih? “Tapi kan selama ini pak Zein sama sekali tidak terlihat dengan wanita mana pun. Jadi, wajar aku tanya begitu “ jawab Darren. “Kayaknya kamu ini sudah saatnya di rukiah deh, sebelum menjadi sepupu ipar pak bos. Bahaya pikiran kamu ini.” Charles meletakkan pekerjaan di depan Darren sebelum meninggalkan ruangan. Sebenarnya, Charles hampir saja percaya dengan berita bohong itu. Hanya saja dia tidak mengatakan dengan lantang pada siapa pun. Sampai akhirnya seorang gadis cantik berkulit putih, bermata lebar dan senyum seperti kelinci datang ke perusahaan. Dia Kim Chaerin, karyawan baru yang sudah menarik perhatian bosnya semenjak pertama masuk kerja. Chaerin juga seperti mendapat sebuah jalan yang mulus saja sejak mengajukan lamaran. Mungkin memang sudah ada sesuatu sejak lama, hanya saja tidak di umbar. Tapi, kenapa Hendra juga tidak menampik kabar berita tersebut? Dia juga seperti membenarkan dengan hanya tersenyum setiap dia tanya. “Bang, aku mau minta tolong buatin ini dong.” Santi datang tanpa mengetuk pintu, dan itu hal yang paling di benci Charles. Selama ini dia meredam amarah karena mengingat Santi adalah kerabatnya. “Kamu punya sopan santun, tidak sih? Masuk keruangan orang itu harus mengetuk pintu. Jangan asal masuk seperti ke WC umum!” Charles meninggikan suaranya membuat Santi kaget. Pasalnya, Charles tidak sama sekali pernah meninggikan suaranya semenjak dulu. “Abang, apa yang membuatmu menggila seperti ini? Biasanya kamu sama sekali tidak pernah marah padaku, tapi sekarang? Sudah, aku akan mengundurkan diri kalau memang Abang tidak berkenan ada aku di perusahaan ini!” Amarah di balas dengan amarah. Sudah seperti api yang di siram bensin dan di tiup angin. Membesar dengan cepat dan menyebar ke sembarang arah. “Ya, aku tunggu surat pengunduran dirimu.” Charles meninggalkan ruangan dan Santi yang terduduk lemas di lantai. Dia tidak menyangka sama sekali, bagaimana Abang sepupunya ini bisa berubah kejam padanya. Semenjak kehadiran Chaerin, Charles sama sekali tidak pernah marah padanya. Tapi sekarang? Ya, ini pasti karena Chaerin. “Aku pastikan, dia harus keluar dari perusahaan ini. Dia membawa sial pada perusahaan ini. Aku harus menyingkirkan dia!” Santi bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia mengajukan surat pengunduran diri langsung ke Zein. Sebenarnya ini juga aksi pengancaman untuk Charles yang sepertinya berpihak pada Chaerin. “Permisi, pak. Saya mau mengajukan surat pengunduran diri.” Lagi-lagi di kantor Zein ada tiga orang yang selalu ada di sampingnya. Charles, Darren dan Joy. Tanpa mendengar alasan, Zein langsung menandatangani surat pengunduran diri. Santi sudah salah langkah kali ini, Charles bahkan tidak melihatnya. Tiga tahun dia bekerja di perusahaan ini, merasa sia-sia. Charles orang yang membawanya ke perusahaan ini pun tidak memandang tali persaudaraan lagi dengannya. Santi merasa jengkel dan tidak senang. “Apa bapak tidak mau mendengar alasan saya berhenti?” tanya Santi dengan berani. “Itu masalah pribadimu, aku tidak berhak tau. Silakan selesaikan prosesnya dengan bagian HRD. Baik, sampai mana pembahasan kita?” Bertanya pada Zein dan berharap dia akan membelanya? Salah besar, Santi. Kamu sudah menindas istrinya, bagaimana bisa Zein tidak melakukan apa-apa? Dengan mengundurkan diri lebih awal, itu sudah sangat bagus. Dari pada Zein sendiri yang melemparnya dan memberi catatan hitam pada Santi. “Baik, permisi.” Santi keluar dari ruangan yang hening dan mencekam itu. Seketika Joy bertanya. “Apa ini masalah dia dengan Kim Chaerin?” Charles hanya mengangguk. “Itu masalah pribadinya. Dan lagi, aku tidak menghalangi siapa saja yang ingin berkembang di luar perusahaan Anggara. Mungkin, bakatnya tidak bisa berkembang di sini.” Kata Zein sebagai atasan. “Siapa sebenarnya Kim Chaerin?” “Kim Chaerin Akbar Anggara.” Zein langsung memotong ucapan Charles secepat kilat. Akbar Anggara? Apakah dia.... Bos di atas bos besar yang sesungguhnya? Atau bisa di sebut nyonya bos? Zein melanjutkan pembahasan setelah mengatakan nama Kim Chaerin setelah dia nikahi pada ketiga bawahannya langsung. Jam lima sore tepat, Zein tiba di rumah. Dia tidak terlalu banyak berekspektasi, tapi dia malah di kejutkan oleh istri dan sepupunya. Kim Chaerin dan Sonia sudah duduk di ruang tamu dengan baju santainya. Baju itu tidak pernah di perlihatkan Chaerin padanya. “Jam berapa kamu pulang? Kenapa sudah santai di rumah?” tanya Zein kaget saat baru masuk ke dalam rumah. “Kak Zein, jangan kaku pada istri. Lagian, aku yang jemput dia tadi.” Kata Sonia dengan gayanya yang tetap datar. “Tapi dia karyawan biasa di kantor. Untuk saat ini, aku maafkan, tapi lain kali kamu tidak di izinkan sama sekali.” Kata Zein berlalu. “Kak Zein, mendingan kamu pecat Chaerin saja deh. Biar dia kerja di perusahaanku, mulai bulan depan aku sudah aktif di perusahaan. Lagian, aku yang paling tau kemampuan Chaerin, bukan kamu.” Kata Sonia lantang, keberadaan Zein di sepuluh langkah darinya pun masih mendengarnya. Zein berbalik dan berhenti di depan Sonia yang berada di samping Chaerin. “Paling tau kemampuan dia? Memang dia memiliki kemampuan apa selain di kebodohannya yang gampang di tipu kekasih dan sahabatnya? Pikirkan baik-baik!” Zein menarik Chaerin yang tiba-tiba membatu di tempatnya. Bagaimana bisa seorang Zein mengungkap kenyataan yang sudah berusaha di lupakan oleh Chaerin. Air mata Chaerin tiba-tiba menetes dalam diam. Bagaimana bisa dia melupakan alasan dia bisa berada di keluarga kaya raya ini. Kalau bukan karena pengkhianatan dari sahabat dan kekasihnya. Chaerin tidak akan mengalami kerugian yang hampir meruntuhkan agensi milik keluarganya. Dan yang lebih penting, Kim Ye Joon tidak akan mencarikan pengusaha kaya raya seperti Zein untuk menikah. Inilah fakta yang selalu ingin di lupakan oleh Chaerin. Diam dan membatu, sudah seperti hidup tanpa nyawa. Chaerin tidak melawan atau membalas apa pun yang di lakukan oleh Zein padanya. Seperti saat ini, keadaan tak berbusana. Zein menciumnya ganas, namun Chaerin hanya diam saja. “Kenapa kamu diam tidak membalasmu? Apa kamu tidak bernafsu padaku?” tanya Zein seketika sadar akan air mata Chaerin. “Kamu kenapa menangis? Apa aku terlalu keras soal jam pulangmu? Baiklah, kamu bisa pulang kapan saja dan jam berapa saja. Tapi izin padaku dulu, aku menunggumu tadi.” Kata Zein memeluk Chaerin yang ada di bawahnya. Tidak menjawab, Chaerin hanya diam dan tak berbicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD