Perkara lembur

1122 Words
Semenjak kejadian itu, Chaerin sama sekali tidak berani pulang lebih dulu dari Zein. Kepala divisi kosong, untuk sementara di isi langsung oleh Charles. Chaerin tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Sedangkan Charles, dia takut membuat Chaerin lembur. “Kalian ngerjain apa sih?” Tanya Chaerin pada salah satu rekan kerjanya. “Memang kamu enggak di kasih ini?” Sasa menunjukkan sebuah map yang di minta selesai hari ini juga. “Enggak, bahkan aku tidak sama sekali di kasih kerjaan selama seminggu ini. Aku juga heran.” Jawab Chaerin jujur. “Apa? Ini pasti ada yang tidak beres.” “Apa kamu mikir apa yang aku pikir?” tanya Jeki pada Sasa yang terkenal oon. “Eh, Jeki, janatul jigong. Emang kepalamu itu isi otakku? Dari mana aku tau kamu mikir apa? Ini orang kayaknya mabok kerjaan deh. Udah sono lu minum arak, biar fokus.” Jawab Sasa emosi. “Eh, Sasa sambal terasi mulutmu emang pedes sepedas sambal botol kemasan emang. Aku ngomong begitu, apa kamu juga mikir yang sama dengan ku? Kenapa jadi nyolot si?” Jeki pun jawab tak kalah emosi. “Sudah, kalian berdua. Yang satu enggak punya otak pakek mikir, yang satu suka mikir negatif. Lama-lama kalian aku nikahin juga Lo.” “Ayok.” Jawab keduanya kompak. Dimas yang mengatakan itu pun seketika merasa menyesal. Menepuk dahinya sebagai pelampiasan kebodohannya dalam menghadapi keduanya. “Sudah, aku bantuin kalian. Siniin masing-masing satu map kalian. Jadi kita bisa pulang sama-sama, nanti.” Kata Chaerin menengahi ketiga rekan kerjanya. Keadaan ruangan yang di huni empat orang itu seketika kembali hening. Tanpa mereka tau, Hendra datang bertujuan untuk ngecek keberadaan Chaerin. Seharusnya tidak perlu di lakukan, karena Chaerin tidak mau lagi pulang lebih awal seperti waktu itu. Sedangkan Sonia sudah cukup puas dengan bertemu sahabatnya di rumah. Sebenarnya tidak puas, tapi pekerjaan di dua tempat membuatnya tak bisa pulang lebih awal. Zein melakukan pengecekan sebenarnya ingin mengajak Chaerin pulang bersama. Karena, selama dia menikahi gadis itu. Chaerin sama sekali tidak pernah masuk ke dalam mobilnya. “Nyonya mungkin akan lembur malam ini, saya lihat semua sedang serius dengan layar komputernya.” Lapor Hendra pada Zein. “Panggilkan Charles.” Tidak bisa menyerang Chaerin langsung, Zein menyerang Charles sebagai penanggung jawab divisi animasi. Di ruangan, Charles tengah bersiap untuk pulang yang di temani dengan celotehan sang ibunda menyuruhnya hadir di acara kencan buta. “Oke ma, ini sudah akan bersiap pulang. Suruh nunggu setengah jam lagi kalau memang gadis yang kau gadang-gadang sebagai artis Korea itu mau menikah denganku. Ini perusahaan orang, bukan perusahaanku.” Jawab Charles yang memang sudah bersiap untuk pulang. Setelah mematikan ponselnya, Hendra masuk dengan membawa berita pemanggilan dari Zein. “Kenapa?” tanya Charles tidak bisa santai. “Santai, ini bahkan kurang setengah jam lagi untuk pulang.” Hendra melihat jam di tangannya. “Bos memanggilmu.” Senang, jengkel dan juga bahagia. Zein datang di waktu yang tepat. Dia penyelalegap red ws di kali ini. Panggilan yang cukup membuatnya lega. “Siap.” Jawab Charles senyum. Namun, dalam seketika senyum itu . Mengingat yang memanggil adalah bos besarnya. Apakah ini berhubungan dengan kerja lembur? Terus terang saja, Charles sudah lelah setelah empat hari berturut-turut lembur. Dan hari ini dia ingin pulang cepat, tapi sayangnya sudah di tunggu oleh kencan buta yang memuakkan. “Selamat sore pak.” Charles membuka pintu ruangan Zein, tapi pemilik ruangan tidak ada di tempat. “Kemana lagi sih ni orang? Niat manggil nggak sih?” gerutu Charles. “Niat!” mendengar suara yang tiba-tiba dari belakangnya. Membuat Charles kaget dan jantungnya hampir copot. “Bapak! Ngagetin saja.” koplo “Kamu itu yang ngagetin. Datang-datang ngedumel, buat orang yang dengar jadi risih saja.” Kata Zein berjalan menuju kursi kebesarannya. “Hmm, terserah bapak saja. Ada apa memanggilku ke sini?” tanya Charles hendak duduk di kursi depan meja Zein. “Berdiri! Siapa yang menyuruhmu duduk?” kata Zein tegas. “Siapa yang menyuruh divisi animasi lembur?” Tatapan Zein yang tajam, seolah mampu mengoyak jantung hati Charles. Sedangkan dia ingat kalau tidak sama sekali memberi pekerjaan pada Chaerin selama seminggu ini. “Itu, ada proyek dari salah satu produk yang ingin kita membuat iklan. Dan setahu aku, Chaerin tidak di libatkan. Bagaimana bisa dia lembur?” jawab Charles bingung. “Apa kamu sudah merasa benar, dengan tidak memberi Chaerin pekerjaan?” Zein menggebrak meja kecewa. “Satu proyek kamu kasih pada Chaerin, bisa membuat yang lain tidak akan lembur.” “Dia lulusan terbaik dari universitas ternama di Korea dengan jurusan multimedia dan animasi. Kamu masih meragukan dia? Bahkan kalau pekerjaan dia dengan kamu, jauh lebih baik dia dalam menangani masalah periklanan dan pembuatan film. Karena dia di Korea memiliki perusahaan agensi yang berkecimpung langsung dalam segalanya. Ingat itu baik-baik! Aku tidak akan memberikan gaji besar tanpa tau kemampuannya.” Dari penjelasan singkat Zein, akhirnya Charles mengetahui alasan bosnya ini memberikan gaji yang hampir setara dengan dirinya. Bahkan gaji asistennya saja masih di bawah sepuluh juta, di banding Chaerin yang baru masuk. Ini terdengar tidak adil. “Baik, saya mengerti. Saya akan membantu untuk menyelesaikan hari ini juga.” Charles mengerti dan segera meninggalkan ruangan Zein. Charles menuju ke ruangan divisi yang berada di lantai delapan, dengan menghubungi ibunya. Charles tidak bisa untuk tidak lembur malam ini. Sehingga dia menyuruh pasangan kencan butanya untuk datang ke kantor. Jam menunjuk di angka tujuh malam, pekerjaan sepertinya masih belum menunjukkan tanda-tanda selesai. Charles sudah menyuruh gadis itu datang sejak jam lima, namun tak datang. Charles sudah berpikir, kalau gadis yang di gadang-gadang sebagai artis itu sudah menyerah. Jadi, Charles tidak berharap lagi akan kedatangan gadis itu. Di tengah-tengah pekerjaan yang hampir rampung di jam setengah sembilan malam. Zein datang dengan makanan ringan dan kopi hangat untuk keenam karyawannya. “Waaaahhhh, makanannya datang tepat waktu.” Kata Jeki tak sungkan lagi. “Laper banget apa emang rakus?” celetuk Sasa. “Keduanya, sayang.” Jawab Jeki tak memandang Zein dan Charles yang sudah bengong mendengar karyawannya yang tengah menjalin hubungan. “Sayang-sayang pala kau peyang!” Jawab Sasa jengkel, namun Jeki tak menghiraukan gadis yang selalu beradu mulut dengannya itu. Mengambil sebuah sandwich dan kopi, Jeki si mulut besar pun kembali pada pekerjaannya. Ini yang membuat Zein masih mempertahankan karyawan semacam Jeki dan Sasa. “Capek?” tanya Zein pada Chaerin dengan menyerahkan es kopi padanya. “Capeekk, nanti pijitin ya....” rengek Chaerin pelan. Namun, Charles yang dekat dengan keduanya pun kaget. Di tambah dengan jawaban “IYA” dari Zein yang sama lirihnya membuat Charles tidak percaya dengan pendengarannya. Tak berapa lama, pintu ruangan di ketuk dari luar. Setelah menyilakan masuk, sesosok gadis cantik dan imut masuk ke dalam ruangan. Setiap mata tertuju pada gadis itu, tidak terkecuali Chaerin. “Nara.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD