Chaerin kaget, kedatangan mantan sahabat yang sudah mengkhianatinya, sungguh mengejutkan. Bukan hanya itu, Nara juga terlihat jauh lebih cantik dan fresh sekarang. Jika di bandingkan dengan terakhir kali Chaerin melihatnya.
“Oh, ada Kim Chaerin bintang kampus, rupanya. Gandengan mu.... Ok juga.” Kata Nara sombong.
Chaerin melihat ke samping, Zein duduk di meja tempat dia bekerja. Menggunakan baju formal namun tak memakai jas, Zein tampak seperti bawahan Charles yang masih mengenakan jas.
“Kamu yang di kirim mamaku? Jangan bicara sembarangan dengan rekan kerjaku...”
“Rekan kerja?” Nara memotong ucapan Charles yang entah apa kelanjutannya. Dengan sombongnya, Nara tertawa seakan dia meremehkan Chaerin. “Yang benar saja, setelah begitu sombong menjadi anaknya pemilik agensi besar di negara kelahiran. Di sini....”
Nara kembali tertawa, merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dari pada Chaerin. “Di negara orang, kamu mengais rejeki menjadi karyawan rendahan? Hahahaha, Kim Chaerin... Di mana gaungmu yang dulu yang sombong?”
Kim Chaerin tak bisa lagi menahan emosi. Dulu dia masih memandang persahabatan pada gadis yang membuat agensinya hampir bangkrut. Tapi sekarang? Setelah berpikir kalau bukan Cuma Jeremy yang tak bermoral.
Ternyata, Nara memang tak cocok di sebut sebagai sahabat. Bahkan, teman pun tak pantas di sematkan padanya.
“Gaungnya akan terus menggema, selama dia bersama ku. Tapi, apa orang sepertimu bisa menaklukkan orangku sekalipun? Jangan mimpi!” Zein menggulung lengan bajunya, dia tak pernah suka sama seorang pengkhianat.
Di tambah lagi, dia sudah menghina istrinya.
“Ow... Takut. Aku bahkan kenal dengan pemilik perusahaan ini. Dia sahabatku, aku tau kalau dia. Chaerin, sudah memanfaatkan Sonia untuk masuk ke perusahaan ini. Dia itu orang t***l, bodoh. Makanya tidak di akui di negaranya. Dan sekarang.... Hmmm!” Nara semakin tidak karuan dalam menilai Chaerin. Jujur, ini sudah membuat seorang Zein marah.
“Teman-teman, maaf aku harus pulang lebih dulu.” Chaerin berpamitan demi menjaga emosi Zein.
Dia tidak ingin, suaminya terlihat menjadi orang buruk di depan bawahannya. Terlebih itu karena dirinya, sungguh tidak bijak sekali.
“Kalian pulang saja semua, tidak usah di lanjut lagi. Masalah proyek ini, biar besok sore saja di kumpul. Aku akan bicara pada investor buat perpanjangan waktu.” Zein masih mempertahankan kewibawaannya di hadapan bawahannya.
Kehadiran Nara, membuat Chaerin sedikit tidak tenang. Biar bagaimanapun dia takut kalau Jeremy. Mengingat keduanya sungguh sangat lengket sebelumnya.
Takut bukan karena masih cinta Jeremy, tapi Chaerin tidak ingin melihatnya lagi. Jeremy adalah cintanya selama tiga tahun, tapi selama itu juga dia sudah berkhianat.
Selain berkhianat, Jeremy dan Nara malah dengan menjijikkannya mengaku kalau Chaerin lah yang menggoda. Menjadi orang ketiga di antara cinta kasih mereka berdua.
Bukan hanya itu, Nara bahkan menambahkan. Chaerin akan menghancurkan karier Nara sebagai artis di bawah naungannya. Kalau tidak mengizinkan Jeremy menjalin hubungan dengannya.
Padahal yang terjadi adalah kebalikannya. Nara dan Jeremy bermain api di belakang mereka. Nara bisa mengenal Jeremy juga karena di kenalkan oleh Chaerin.
Sebagai seorang yang sangat menjunjung tinggi pertemanan, Chaerin bahkan menerima Nara sebagai artis di bawah naungannya.
Mengorbitkan seorang artis di Korea tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, menggunakan koneksi yang di miliki oleh Chaerin. Nara bahkan bisa membintangi sebuah film dan beberapa drama sebagai peran pembantu utama atau tokoh utama.
Hal itu membuatnya berani menggoda Jeremy.
Sungguh, jahat sekali Nara pada Chaerin. Dan, pada saat ketemu lagi, Nara bahkan menertawakan sahabatnya itu.
“Ada aku, jangan takut.” Kata , Zein di dalam mobil menenangkan.
“Yang takut dari dia itu siapa? Aku Cuma berpikir, bagaimana caranya membalas dia.” Jawab Chaerin santai.
“Benarkah?” Zein masih tak percaya.
“Olh-eun.” Jawab Chaerin yakin.
“Jangan maksa pakai bahasa Korea!”
Chaerin diam dan menikmati musik dalam mobil. Semakin difokuskan, Chaerin seperti kenal dengan bahasanya. “Kau bahkan mengkoleksi lagu-lagu BTS, kenapa melarangku pakai bahasa Korea?”
Zein tertawa, dia tidak punya jawaban. Nggak lucu kalau misalnya dia belajar bahasa Korea dari boyband Korea itu. Tapi, biar bagaimana pun juga, Chaerin menghargai keinginan sang suami dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sesampainya di rumah, ternyata sudah tidak ada penghuni yang masih melek. Lampu sudah mati, dan saat ini muncullah ide kotor dari seorang Zein Akbar AnggaAngga.
Grab, tiba-tiba tubuh Chaerin di peluk dari belakang. Chaerin yang awalnya lemas karena kelelahan pun menjadi tegang tiba-tiba.
“Kamu kenapa?” detak jantung Chaerin tak bisa lagi di kondisikan. Detaknya begitu kencang, bahkan dia sendiri menjadi gemetaran seketika.
“Kangen kamu.” Bisik Zein yang tak henti menciumi pipi Chaerin dari belakang.
Geli, tapi Chaerin juga suka. Tapi, meski suka, Chaerin tidak melupakan kalau ada orang selain mereka berdua di rumah besar itu.
“Jangan di sini, nanti ada yang lihat.” Kata Chaerin khawatir namun masih menikmati ciuman itu.
Zein membalikkan posisi menjadi Chaerin menghadapnya, sebelum kembali menciumnya. “Tidak ada, hanya kita berdua....”
Belum selesai berbicara, tiba-tiba lampu menyala. Di sana bukan hanya ada kakek neneknya, tapi Sonia dan Darren juga ada. Sonia membawa kue ulang tahun, sengaja menunggu sahabatnya pulang.
“Wow.... Tidak menyangka, kakakku begitu ganas.” Sonia tak bisa berpendapat setelah menyaksikan langsung bagaimana kakak sepupunya sangat mendominasi.
Chaerin yang di kenal pasti tidak akan mau memulainya. Tapi, kakak sepupu yang selalu di kenal dingin. Berubah saat hanya bersama dengan sahabatnya.
“Ngomong apa kamu. Tapi, kenapa kalian bengong begitu?” tanya Zein mengalihkan perbincangan.
“Hei kakak sepupuku tersayang, jangan bilang kamu bahkan tidak tau tanggal ulang tahun istrimu!” Sonia tampaknya sedikit jengkel melihat Zein yang tidak tau apa-apa soal Chaerin.
“Kau tau, kami hanya sekali ketemu dan ketemu lagi untuk menikah. Bagaimana caranya aku tau semuanya?” mendengar pengakuan Zein, Sonia menyerahkan kue ulang tahun pada Chaerin dan langsung memukuli kakak sepupunya.
“Makanya, kalau nikahin anak orang itu jangan langsung di tinggal. Apalagi di malam pertama, dosa apa aku di kehidupan yang lalu sampai punya sepupu dungu macam keledai ini. Itu anak orang, bukan seonggok sampah di pinggir jalan. Pasti kamu juga tidak tau kalau di malam itu juga dia di usir oleh orang tuanya!” emosi Sonia tak terkendali lagi.
Dia terus memukuli kakak sepupunya meski sudah kesana kemari mencari perlindungan.
“Sudah-sudah. Aku memiliki kamu dan keluarga di sini sekarang sudah cukup. Jangan lagi mengungkit malam sial itu.” Kata Chaerin yang menjadi tempat sembunyi Zein dari Sonia.
“Sayang, maafkan aku saat itu. Aku harus segera menunjukkan bukti nikah kita pada nenek dan kakek. Sebelum perusahaan di berikan pada yayasan.” Jawab Zein jujur.
“Berjanjilah di depan lilin ini, kalau kakak tidak akan pernah sekalipun meninggalkan sahabatku Kim Chaerin.” Kata Sonia yang tau keadaan Chaerin sejak awal.
“Janji.”
“Sonia, Nara di sini.”